Sang Pemilik

Sang Pemilik
Ban 24


__ADS_3

Putri Acalapati sudah berada di kamarnya untuk istirahat. Dia merasa lebih baik. Acalapati baru saja hendak memejamkan mata sayup-sayup telinganya mendengar seorang wanita memohon maaf di bawah sana.


Kaki Acalapati segera turun dari tempat tidur, ia membuka pintu untuk melongokkan kepalanya kebawah hingga matanya terbelalak melihat sosok bibi Zur berlutut di hadapan Ayahnya.


Hatinya bergemuruh, rasa sesak mendominasi. Acalapati berjalan cepat menuruni tangga hingga kemudian berteriak kencang ketika tiba di lantai bawah. "Siapa yang menyuruhmu berlutut di hadapan manusia, Bibi Zur?"


"Ayah ... "


Acalapati tau jika Ayahnya memendam kemarahan luar biasa karena perbuatan Pangeran Lingga. Tetapi itu tidak ada hubungannya dengan Wanita yang tengah mengiba.


"Berdirilah, Bibi Zur."


Sudah malam mengapa wanita ini datang?


"Ayah, tidak bisakah Ayah langsung memberitahu jika ada yang menemui ku?"


"Ayah tidak suka jika mereka hanya mengirim seorang pelayan untuk menjemput mu!" Tuan Aryan mengerang.


Tuan Aryan terseyum tipis pada Acalapati kemudian menatap sinis kembali ke arah Zur.


"Saya datang bukan untuk menjemput Putri Acalapati tetapi untuk memastikan bahwa keadaan Putri Acalapati dalam kondisi baik-baik saja."


"Kau di suruh oleh Lingga?"


Zur benar-benar mampu merasakan aura kemarahan dari Tuan Aryan.


"Kembalilah, katakan pada mereka Putriku tidak kurang satu apapun. Beruntung Karena tuan mu yang kurang ajar itu tidak sempat berhadapan denganku. Jika tidak, bisa aku pastikan dia akan mendapatkan pukulan yang keras dari tanganku sendiri."


Zur hanya menunduk, dia memilih diam seribu bahasa.


Zur terpaku. Bibir wanita itu bungkam. Acalapati sendiri merasakan ke khawatiran Zur. Keputusan Ayahnya tidak bisa diintervensi dengan dirinya memberi pengertian.


Setelah Tuan Aryan memilih pergi beristirahat. Acalapati tidak melakukan hal yang sama, dia justru menghampiri Zur.


Miris dan kasihan yang Acalapati rasakan melihat orang tak tahu apa-apa ikut mendapatkan kemarahan karena keadaannya, tidak seharusnya orang lain ikut cemas bahkan tertekan seperti ini.


"Jangan lagi berlutut di hadapan manusia. Itu tidak dibenarkan."

__ADS_1


"Putri, mohon percaya, bukan Pangeran Lingga yang mengirim saya kemari, melainkan Yang Mulya Permaisuri." Zur masih belum berani mengangkat wajahnya.


"Aku tahu. Sudah malam kau ingin bermalam di Acalapati atau kembali ke istana Jaguar?"


"Saya akan kembali, Putri."


Zur tidak menyangka jika Putri Acalapati yang kerap dikabarkan emosional bisa bicara tenang dan sikapnya juga lembut.


Putri Acalapati segera menyuruh seorang sopir mengantarkan Zur kembali ke Istana Jaguar.


Setelah memastikan mobil yang dinaiki Zur meninggalkan istana Acalapati, wanita itu segera kembali menuju kamarnya.


Apa yang dilakukan Acalapati tak lepas dari pengamatan Pangeran Lingga.


Pangeran Lingga tiba sedikit terlambat dari pada Zur. Dia juga sempat bertemu Zur, dan meminta Zur lebih dulu menemui Tuan Aryan, Pangeran Lingga ingin tau se marah apa Ayah mertuanya. Dan kenyataannya dia memang sudah mengecewakan Tuan Aryan dengan sangat.


Acalapati ingin mengganti pakaiannya karena sedikit tidak nyaman dan terasa lembab. Tadi dia sangat terburu-buru menuruni tangga karena melihat Zur duduk bersimpuh dihadapan Ayahnya.


Dia tadi berlari dan membuatnya sedikit berkeringat. Acalapati memang tidak pernah suka melihat orang merendah seperti itu.


Acalapati baru saja menurunkan gaun tidurnya saat tiba-tiba pintu dibuka dan di tutup dengan terhesa. Acalapati langsung berjengit terkejut dengan kejadian yang tak terduga.


"Siapa yang memberimu izin masuk?" Suara Acalapati terdengar sedikit bergetar, tatapannya dingin seperti mampu membekukan.


Lingga terus menatap Acalapati yang juga sedang menatapnya dengan penuh kebencian.


"Bagaimana kau bisa masuk kedalam kamar ku?" Acalapati mulai marah karena pertanyaannya terus di abaikan.


Lingga bergegas mengambil langkah lebar untuk menghampiri Acalapati yang reflek beringsut mundur. Jantung Acalapati terus berdegup kencang dan perutnya melilit mual karena sangat takut.


"Pergi!" Napas Acalapati berdesis penuh kebencian. Karena rasa takut itu semakin dominan Acalapati tiba-tiba malah jatuh pingsan.


Acalapati langsung di tangkap tubuhnya yang limbung , wanita itu sudah tidak memakai apa-apa di bagian atasnya membuat Pangeran Lingga berulang kali meneguk ludahnya sendiri.


"Harusnya aku tidak membuatmu seperti ini." Gunam Pangeran Lingga.


Setelah membawa tubuh istrinya berbaring di atas kasur Pangeran Lingga bisa melihat dengan jelas berbagai jejak perlakuannya.

__ADS_1


"Aku khawatir, Padamu. Demi Allah aku sangat khawatir."


Pelan-pelan Acalapati mulai bangun sendiri, dia menghirup aroma parfum yang sangat menyengat dari sekujur tubuhnya dan baru sadar jika dia sudah berada di atas kasur. Acalapati segera bangun dengan sigap begitu melihat pakaiannya sudah diganti.


Acalapati merasa belum sempat berganti pakaian saat seseorang tiba-tiba masuk kedalam kamarnya, dan akhirnya dia tak sadarkan diri.


Acalapati merasa sangat tidak nyaman. Dia ingat jika terakhir kali dia sedang berada di dalam kamar hanya dengan Pangeran Lingga. Dia takut pria itu yang telah melucuti tubuhnya dan mengganti seluruh pakaiannya.


Telinga Acalapati samar-samar mendengar suara langkah kaki mendekat dan diapun segera pura-pura kembali memejamkan matanya. Terdengar suara pintu kamarnya yang dibuka.


Tepukan lembut mendarat di punggung tangannya.


"Putri, Saya akan membantu Anda untuk mandi."


Suara Nija membuat Acalapati terpaksa membuka mata.


Acalapati menunggu kehadiran orang lain masuk kedalam kamarnya, tetapi tidak ada.


"Kau sendirian?"


Nija mengangguk, kemudian menatap wajah tuannya.


"Anda mau saya panggilkan pelayan lagi?"


"Bukan begitu." Ada yang kurang pas di hati Acalapati. Tetapi dia juga tidak tahu apa yang mengganjal di hatinya. Mungkin kejadian semalam itu hanya mimpi. Mimpi yang seperti memiliki roh sehingga tampak sangat nyata.


"Tidur anda nyenyak?" Tanya Nija yang malah membuat Acalapati terbatuk.


Pangeran Lingga dan Arimbi akan hidup bahagia sebagai pasangan suami istri dan Acalapati bisa kembali bebas menjadi Putri kerajaan Acalapati sesungguhnya kembali. Tapi kadang untuk memikirkan itu sedikit membuat Acalapati tidak rela. Mungkin karena dia tau jika setelah pernikahannya selesai dengan Lingga, statusnya tak lagi sama, dan dia pasti akan sedikit sulit untuk mendapatkan pasangan.


"Ternyata Anda menggantinya. Saya sudah duga anda tidak menyukai warna merah." Komentar Nija.


"Apa yang sedang kamu bahas, Nija?" Tanya Acalapati.


"Baju dalam Anda, Putri."


Malam sudah larut ketika Pangeran Lingga keluar dari kamar Acalapati yang masih terlelap di atas pembaringan, aroma lembut bercampur manis itu bisa memancing gairahnya, Pangeran Lingga memilih pergi sebelum dia mencampuri kembali istrinya dan membuat Acalapati semakin benci.

__ADS_1


Dia sudah menyeka tubuh sang istri, di peluknya dalam keadaan polos, membuat aromanya tertinggal, setelah merasa puas Pangeran Lingga segera membantu Istrinya berpakaian, dengan pakaian yang baru di ambil dari lemari milik Acalapati.


__ADS_2