Sang Pemilik

Sang Pemilik
Bab 41


__ADS_3

Acalapati membelai wajah Lingga yang sangat dekat dengannya. Lingga tidak berhentinya memandang wajah istrinya yang sedang berhias cantik dengan riasan yang sangat pas. "Jangan memakai riasan seperti ini jika kau ingin kemanapun!"


Lingga menggendong Acalapati ke atas sofa khusus, Pangeran Lingga sudah tidak bisa lagi melawan kecantikan Acalapati yang membuat hatinya tergila-gila.


Di dalam kamarnya, Pangeran Lingga tidak hentinya melakukannya dengan Acalapati. Wajah Acalapati tanpa riasan saja sudah membuat Pangeran Lingga terpana, apalagi dengan sedikit polesan yang sangat pas itu.


Putri Arimbi sangat marah karena Acalapati menarik Lingga dan Restu untuk terus dekat dengan nya. Arimbi sangat kesal semua rencananya berantakan. Amarah dalam dirinya semakin membuatnya membenci Acalapati, dia akan terus menyusun siasat, untuk menjatuhkan Acalapati. Apapun itu.


Dulu segala rencananya terasa mudah, saat Acalapati sendiri yang terus menolak untuk dekat dengan siapapun termasuk Lingga. Terlebih berbagai rumor yang tidak pernah di sangkal oleh Acalapati, dengan mudahnya Arimbi terus memonopoli waktu Lingga agar terus bersamanya dan semakin membenci istri Hindu nya. Tapi kini? Bahkan Lingga seperti tidak perduli dengan Kepercayaan mereka yang berbeda. Arimbi hanya terus berpikir bahwa Acalapati sudah merencanakan untuk melawannya.


Saat itu mengapa Acalapati sangat gemar membuat onar? Mengapa sekarang tidak lagi?


Kesempatan seperti itu bisa di manfaatkan sebaik yang Arimbi bisa, lantas mengapa wanita itu berubah jinak?


Dengan memikirkan hal itu kepala Arimbi serasa mau pecah.


Putri Arimbi menghembuskan napasnya dengan keras. Dia sungguh-sungguh menekan rasa penasarannya. Arimbi tidak bisa menghilangkan perasaan yang mengganggu dalam dirinya, bahwa ada sesuatu yang membuat Acalapati berubah.


Restu didalam kamarnya sedang gelisah. Dia masih terbayang wajah cantik Acalapati. Tidak dipungkiri hatinya bergetar karena itu. Tatapan polos Acalapati yang baru-baru ia sadari membuat Restu merasa dunianya jungkir balik.


Restu kebingungan, terlebih mengingat ucapan Acalapati yang mengatakan dia percaya bahwa hatinya baik.


☘️☘️☘️☘️☘️


Acalapati masih saja berpelukan di dalam selimut bersama Pangeran Lingga. Wajah tampan Lingga, membuatnya ikut terpana. Tapi Acalapati berpikir sesuatu. " Kenapa dia begitu takut untuk menyerahkan hatinya untuk Lingga?" Acalapati tidak sadar jika Lingga juga tengah mengamati wajah nya yang berubah-ubah dengan mata yang terus melihat ke arah suaminya.


"Acalapati, kau memikirkan sesuatu?" Tangan Pangeran Lingga membelai wajah cantik Acalapati.


Acalapati mengeleng, tangan nya menangkap tangan Pangeran Lingga yang masih membelai wajahnya.


Pangeran Lingga kembali mendaratkan bibirnya. Dengan sangat dalam, dia memainkan bibir Acalapati. Perlahan, Lingga melepaskannya." Besok kita akan menyelinap di antara rakyat seperti yang kerap kali kamu lakukan."

__ADS_1


Acalapati melengos. "Aku hanya menyamar, bukan menyelinap." koreksinya cemberut.


Pangeran Lingga terseyum tipis melihat Protes istrinya yang terlihat alami, respon yang selama ini terlalu jarang Lingga saksikan.


"Restu akan terus mengawasi mu selama aku tidak ada, dan Bibi Zur yang akan menyiapkan seluruh kebutuhan mu, jangan pergi kemanapun tanpa Restu atau jika mau kau bisa tunggu diriku, mungkin beberapa hari kedepan aku akan sangat sibuk."


"Hmmmm ..."


"Aku hanya tidak mau kau kesepian selama aku bekerja."


Diam-diam hati Acalapati sedikit lebih lunak karena mulai terbiasa dengan Pangeran Lingga, meskipun dia belum bisa memberikan hatinya pada Lingga, dia sudah mulai bisa menikmati kebersamaan mereka, nyeri dan ketakutan yang selama ini seperti momok menyeramkan diam-diam terkikis dengan perlakuan lembut Lingga di atas ranjang. Lelaki itu menepati janjinya untuk membantu Acalapati keluar dari rasa trauma.


Acalapati kembali melayani hasrat Pangeran Lingga. Mereka kembali lagi meluapkan teriakan kepuasan yang membuat Pangeran Lingga menjadi candu untuk melakukannya kembali. Hingga saat dirinya mendatangi pertemuan pejabat istana, Lingga masih saja membayangkan Acalapati tiada henti.


☘️☘️☘️☘️☘️


Entah apa yang dirasakan Acalapati saat ini. Dia sudah mengorbankan harga diri dan hatinya untuk mengikat dua laki-laki yang saling berhubungan. Dia terus memoles wajahnya dengan warna-warna lembut, dia tidak menghiraukan hatinya yang menolak untuk menyalakan api yang sewaktu waktu bisa ikut membakar dirinya jika salah langkah.


Acalapati mengingat rakyat yang sangat menderita setiap kali dia menuju perkampungan, penderitaan dimana-mana. Menjadi seorang putri penguasa, sejak kecil, ia selalu mendapatkan apapun yang dua inginkan. Di hari ulang tahunnya yang ke delapan tahun dia diajarkan oleh Ayahnya cara menghargai hidup, yaitu dengan cara melihat orang yang berada di bawah mereka. Dari sana hati lembutnya mulai terbentuk.


Zur membuat lamunan Acalapati buyar. "Ada apa, Bi?" tanya Acalapati.


"Restu menunggu Anda, Pangeran meminta Restu untuk menemani Anda menemui rakyat."


"Aku sudah siap!"


"Kenapa Anda tidak menunggu Pangeran Lingga saja?" Zur tidak mampu menahan ke ingin tahuannya.


Zur sebenarnya mulai percaya pada Acalapati. Dia sebenarnya baik. Tapi bawaannya yang menakutkan.


"Aku harus membuat Restu semakin dekat dengan ku, aku ingin dia menaruh hati padaku, dan membuatnya terikat dengan perasaan yang tidak biasa padaku, ku harap kau mengerti, Bibi!" Acalapati memperingati.

__ADS_1


Acalapati terseyum sambil membayangkan Restu. Dia sudah melakukan rencananya untuk segera mendekati Restu.


"Aku akan merubah keadaan ini. Aku sangat yakin ini berhasil. Pangeran akan di nobatkan dengan dan aku akan segera kembali ke Acalapati." batin Acalapati.


"Hamba tidak tahu apa yang Anda rencanakan, tetapi apapun itu hamba yakin keinginan Anda


mulia."


Acalapati terseyum.


"Kau selalu membuatku tenang Bibi. Aku merasa beruntung bisa bertemu dengan mu."


"Hukum Istana Jaguar sangat kejam untuk perselingkuhan, Putri." nasehat Zur.


Acalapati semakin terseyum.


Zur benar. Dia akan menghadapi salah satu penguasa di istana ini. Dia sangat berpengaruh dari siapapun juga. Dia adalah kepercayaan Putra Mahkota. Rumor tentang nya tidak menyukai wanita adalah tidak benar. Acalapati sudah melihat hal yang belum pernah dilihat orang lain tentang sosok Restu.


"Aku akan menerima hukum apapun Bibi, meski hukum penggal kepala sekalipun." Tekat Acalapati.


Zur hanya bisa menelan ludah. Acalapati bukan wanita yang jahat, dia yakin itu. Maka hati Zur terus mendoakan Acalapati agar segala keinginannya terwujud, entah, meski dia tidak tahu apa-apa tentang rencana Acalapati yang berniat membuat dua lelaki hebat itu terikat dengan nya.


###


Mohon maaf author kemarin tidak bisa menulis karena harus ke rumah sakit untuk buka perban, ada insiden sedikit yang membuat author harus istirahat.


hehehe, tetapi syukur sudah baik-baik saja, ini author kembali update untuk kalian yang selalu menanti kelanjutan kisah Acalapati.


Happy reading ❤️❤️❤️


Jaga kesehatan reader...

__ADS_1


Salam sayang dari author..


Jangan lupa jejak cinta untuk author yaaa


__ADS_2