
Kedatangan Lingga dan Acalapati telah di tunggu oleh Yang Mulya Permaisuri di depan gerbang.
Maida rela datang dari istana Muria untuk menunggu bersama Yang Mulya Permaisuri. Ibu dari Putri Arimbi itu terus memprovokasi.
"Menantu Anda tetap tidak berubah, saya sangat kasian pada Pangeran Lingga." mulut beracun Maida terus mengeluarkan bisa.
"Iya Ibu. Putri Acalapati bahkan mempermalukan Pangeran Lingga dengan mengumbar aurat di luar sana, bahkan memaksa Pangeran Lingga menanggalkan pakaian kebesarannya."
Yang Mulya Permaisuri menatap keponakannya. "Putri Acalapati tidak seperti itu."
"Hamba tidak berbohong Yang Mulya, Anda bisa menanyakan kepada beberapa pelayan yang mendengar Putri Acalapati memaksa Pangeran Lingga menanggalkan jubahnya." Putri Arimbi terlihat sangat meyakinkan.
Restu datang membawa berita.
"Jadi mereka akan segera sampai?" ternyata Pangeran Lingga mengirim pesan pada Restu, jika mereka sudah akan sampai di istana.
Atas ide Acalapati, Lingga mengirimkan jadwal kegiatannya pada Restu seperti biasanya, agar Restu tidak curiga dengan mereka yang sudah mengetahui siapa sebenarnya Restu.
Ternyata tidak lama rombongan Lingga benar-benar tiba.
Mata Maida dan Arimbi terbelalak, melihat iring-iringan kendaraan yang mengiringi mobil Pangeran Lingga.
Maida melirik anaknya, melayangkan tatapan protes. Tadinya Arimbi menceritakan bagaimana dia melihat Pangeran Lingga dan Putri Acalapati yang tengah berjalan berdua tanpa pengawal, dengan bumbu-bumbu yang pastinya membuat kekesalan Ibunya memuncak. Karenanya Maida bergegas pergi ke istana Jaguar untuk membuat pernyataan palsu tentang dia yang melihat Pangeran Lingga berjalan di gurun pasir tanpa pengawal atas ajakan Putri Acalapati tentu sebenarnya tidak masalah hal seperti itu. Akan tetapi di saat genting seperti ini tidak seharusnya Lingga menyia-nyiakan kesempatan untuk menghadiri pertemuan untuk membahas waktu penobatan itu. Tentu mendengar cerita dari dua kompor itu membuat Yang Mulya Permaisuri sedikit kesal, tetapi melihat bagaimana saat ini Lingga yang turun dengan begitu banyak ajudan istana membuat Yang Mulya Permaisuri menatap kesal pada Arimbi dan Maida.
"Cerita kalian agaknya terlalu berlebihan." sindirnya.
Apa lagi setelah Yang Mulya Permaisuri juga melihat kehadiran Putri Ana dan Alya di sisi putranya. Sementara Putri Zava berjalan anggun dengan Putri Acalapati yang memakai gamis Abaya yang pernah beliau berikan kepada menantunya itu.
Di atas langit masih ada langit. Sepandai-pandainya Arimbi melakukan persekongkolan, lebih jenius Acalapati mencari solusi.
Setelah tadi mereka kembali dari danau, Acalapati tidak menemukan keberadaan Arimbi. Diam-diam Acalapati menghubungi Restu meminta tolong Restu mengirimkan para ajudan.
Acalapati mengarang Lingga hampir menyakitinya, dan Restu percaya.
__ADS_1
"Ku anggap ini sebagai balasan terimakasih mu karena aku pernah menyelamatkan nyawa mu, aku rela mengorbankan nyawa untuk mu, ku harap kau juga bersedia melindungi kali ini."
Siapa yang bisa berkutik di todong dengan permintaan seperti itu.
Setelah berhasil menghubungi Restu, giliran Pangeran Lingga di minta Acalapati untuk menghubungi ketiga adiknya, untuk diajak piknik ke kebun anggur yang berhasil di budayakan di timur tengah.
Hari masih siang tentu rencana bisa di pikirkan dengan matang.
Acalapati juga meminta kepada Ibunya mengirim beberapa makanan khas Acalapati, untuk mengecoh orang-orang. Dan menyangka mereka tengah kembali dari istana tempatnya di lahirkan.
"Kirim bingkisan itu setelah kami mendatangi kebun anggur, taruh di bagasi mobil saja, agar adik-adiknya Pangeran Lingga juga tidak tahu."
Dan kelicikan Arimbi kini kalah telak.
Ibu Pangeran Lingga langsung menanyakan dari mana mereka pergi.
Acalapati memasang wajah melas, kemudian dia menunduk sedih. Hal yang belum pernah Acalapati lakukan.
"Maaf Ibu, aku hanya merindukan masakan Ibuku sehingga pergi."
"Ibuku membawakan beberapa hadiah, tolong ambil di bagasi mobil, karena cukup banyak bawa pelayan lain."
Wajah Arimbi dan Ibunya pucat pasi melihat berbagai makanan yang di keluarkan dari bagasi mobil, bahkan ada beberapa merk yang hanya di jual belikan di istana Acalapati.
Tatapan tidak suka kembali di layangkan oleh Yang Mulya Permaisuri pada keduanya.
Terlebih mendengar cerita ketiga putrinya jika mereka baru mendatangi kebun anggur dan di jaga ketat oleh para ajudan.
"Tidak apa-apa, Putriku," Ibu Pangeran Lingga mengelus rambut kebiruan menantunya.
"Apakah ada sesuatu yang terjadi, sehingga Ibu perlu menyambut kami?" Pangeran Lingga memang tidak diberi tahu oleh Acalapati jika tadi dia mendapat undangan dari Ibunya. Dan Acalapati juga sudah mengatakan pada Zur agar tidak memberi tahu Yang Mulya Permaisuri jika dia sudah diberi tahu.
Yang Mulya Permaisuri menggeleng, acara telah usai, percuma memberi tahu putranya.
__ADS_1
"Aku lelah Ibu, " si bungsu Putri Ilya merengek.
"Masuklah, dan segera istirahat." Yang Mulya Permaisuri mengutus.
Mereka semua mengangguk dan berlalu masuki Istana.
Bibir Putri Acalapati menyeringai melihat wajah pucat Arimbi dan ibunya.
Buru-buru Acalapati mengirimkan pesan pada Restu agar bisa menemuinya nanti malam. Acalapati mengatakan ingin memberi hadiah lelaki itu sebagai ucapan terimakasih.
"Jangan terlalu dekat dengannya!" Pangeran Lingga meraih ponsel istrinya, pesan yang baru terkirim itu sempat dibaca.
"Ya, tentu." Acalapati menanggapi santai.
Pangeran Lingga mendengus. Tidak tahu mengapa dia begitu kesal jika mengingat kedekatan istrinya dengan Restu.
"Kamu tidak membersihkan diri?" tanya Pangeran Lingga yang melihat Acalapati merangkak ke atas tempat tidur.
"Aku ingin rebahan sebentar."
"Tidak baik menunda waktu membersikan diri, kita dari perjalanan jauh."
"Baiklah," Acalapati urung melakukannya dan hendak menuruti ucapan Lingga, tetapi perutnya tiba-tiba saja terasa kram.
Acalapati meringis dan berdesis membuat Pangeran Lingga khawatir.
"Perutku sakit."
"Duduklah," Pangeran Lingga membimbing Acalapati untuk kembali duduk.
"Jangan bangun seperti itu, cobalah miring dulu baru turun, jadi tidak menyentak." saran Lingga.
"Ya, aku mengerti."
__ADS_1
Acalapati kembali berdiri, tidak lama kemudian Pangeran Lingga terbelalak melihat bekas kasur yang di duduki istrinya meninggalkan bekas merah.
"Kau berdarah?" panik Pangeran Lingga.