
"Apa maksudmu mengantar bibi Zur ke rumah sakit untuk mengantar pakaian Acalapati, memangnya..."
Ucapan Pangeran Lingga di potong oleh Yang Mulya Permaisuri.
"Acalapati syok akibat perbuatan mu, apa yang sudah kamu lakukan memicu trauma nya muncul kembali, bahkan Acalapati ketakutan bertemu dengan orang lain."
"Trauma?" Lingga termangu.
"Sebenarnya semalam saya menemukan ini di bawah jendela." Restu memberikan kwitansi pembayaran biaya rumah sakit.
"Apa ini?" Yang Mulya Permaisuri menerimanya.
"Maaf Yang Mulya, semalam saya lancang memasuki kamar Putri Acalapati karena penasaran. Saya siap di hukum." Restu menekuk lututnya.
"Berdirilah Restu. Temani aku untuk memecahkan masalah ini."
Pangeran Lingga masih membaca kertas berwarna putih itu dengan seksama. "Jikapun dia ada urusan di rumah sakit, mengapa harus dengan cara menyelinap. Dia bisa saja lewat jalur yang semestinya."
"Jawabannya akan kita dapat sebentar lagi."
Dengan kawalan super ketat pasukan khusus menemani ketiganya kerumah sakit tempat Acalapati melarikan anak dari tunawisma tadi malam.
Tiga mobil dengan kaca gelap dan anti peluru sudah terparkir di alamat rumah sakit seperti pada kwitansi yang di temukan Restu.
Yang Mulya Permaisuri di temani dua asisten wanita, di belakang ada Pangeran Lingga, Restu, Jenderal. dan juga para pengawal.
Pintu ruangan terbuka. Yang Mulya Permaisuri langsung meminta keluarga orang yang dirawat di ruangan tersebut menemuinya di sebuah ruangan khusus.
"Jadi mengapa menantuku bisa membawa kalian kesini?" Tanpa ba-bi-bu Yang Mulya Permaisuri langsung menanyai wanita berbaju kumuh dihadapannya.
Wanita paruh baya itu sudah gemetaran karena takut.
"Jawab saja!" Pangeran Lingga juga sudah mulai tidak sabar.
"Saya tidak tau. Kalau yang membantu kami adalah keluarga kerajaan."
"Dia menantuku, istri Pangeran Lingga, kau tidak mengenalnya?" tuding Yang Mulya Permaisuri.
"Mohon maaf Yang Mulya Permaisuri. Wanita itu memakai cadar, kami benar-benar tidak tau. Wanita yang baik hati itu memakai pakaian muslimah."
"Apa?" Yang Mulya Permaisuri dan juga Pangeran Lingga tampak kaget mendengar penjelasan dari wanita yang mereka interogasi.
__ADS_1
Mereka masih ingin mengorek informasi, sayang tidak seberapa lama ponsel Yang Mulya Permaisuri berdering.
"Waalaikumsalam. Ada apa Zur, Putriku baik-baik saja?"
"Yang Mulya Permaisuri, Putri Acalapati dibawa pergi oleh Tuan Aryan dan pasukannya."
"Apa?" Suara bibi Zur cukup keras hingga mampu di dengar oleh semua orang.
Tanpa menunggu waktu, Pangeran Lingga langsung menghadap ibunya.
"Ibu, aku mohon undur diri." Yang Mulya Permaisuri langsung mengangguk.
"Akan ku beritahu pengawal jika Anda akan pergi?" Restu mengejar Lingga yang sudah berjalan terburu-buru di lorong rumah sakit.
"Aku akan pergi sendiri." Pangeran Lingga menolak.
Sampai di kerajaan Acalapati.
Tuan Aryan menurunkan Putri Acalapati di atas pembaringan untuk segera di tangani. Nija wanita yang mengurus Acalapati dari kecil langsung diminta Tuan Aryan untuk Menganti baju Putrinya.
Nija ikut sedih melihat berbagai jejak cengkeraman dan hisapan bibir pria di sekujur tubuh Acalapati. Tidak terasa air mata wanita paruh baya itu menitih.
"Bagaimana jika Ibu Suri sampai tau keadaan putrinya? Beliau akan sangat murka." Nija takut Yang Mulya Ratu Rates Hida akan sangat terpukul melihat keadaan putri semata wayangnya.
Nija menyeka tubuh Acalapati dengan handuk hangat kemudian memberi obat.
"Tahan sebentar Putri, ini sedikit pedih."
Tetapi tidak ada ekspresi apapun saat Nija mengobati memar kebiruan bekas cengkeraman tangan seorang pria hingga pada bibir Acalapati yang robek, sampai akhirnya keheningan merajai.
"Nija," Panggil Putri Acalapati pada pelayan setianya setelah wanita itu sudah selesai mengobati sekujur tubuhnya.
"Ya, Putri?"
"Bukankah seorang pemimpin harus sangat berani membela rakyat. Kenapa harus jadi musuh bagi rakyatnya sendiri? Rakyat miskin karena dia memang ditakdirkan seperti itu. Apa yang salah?"
"Anda benar, Putri." Nija menyisir rambut panjang Acalapati dengan sangat hati-hati. "Anda tidak salah, Anda adalah gadis istimewa."
Mendengar komentar Nija Acalapati hanya tersenyum kecut
Sudah bukan rahasia jika investor besar selalu ingin terlibat dalam kebijakan politik. Lingga juga tidak bisa menerima investasi dengan syarat segera mendapatkan keturunan untuk dianggap layak untuk menggantikan posisi Ayahnya. Karena itu Lingga harus bekerja lebih keras karena saingannya sekarang adalah Pangeran Mujabi dan Muhabbi yang bisa membuat cara kotor dan menjerat investornya untuk memuluskan jalan mendapatkan singgasana.
__ADS_1
Lingga sedang sangat sibuk, dia sangat lelah dan mudah berpikir yang tidak-tidak. Untuk itulah kejadian yang tidak seharusnya itu bisa terjadi.
Lingga pilih langsung menghentikan taksi untuk kembali ke istana agar lebih cepat mengejar Tuan Aryan dari pada menggunakan mobil besar berbodi tebal dengan barisan pengawal.
Sejak kejadian semalam Pangeran Lingga memang belum sempat melihat kondisi Putri Acalapati karena dia sempat ketiduran.
Pangeran Lingga mendapatkan panggilan telepon dari orang istana untuk menginformasikan bahwa pertemuan penting dengan beberapa calon investor akan segera dimulai.
"Tunda pertemuannya untuk besok!" Lingga segera menutup panggilan. Pangeran Lingga memejamkan matanya rapat, hatinya bergemuruh resah.
Putri Acalapati tidak langsung tidur. Dia berjalan menuju jendela kamarnya yang langsung terpusat di halaman istana yang sangat indah dengan taman bunga bermekaran kedua matanya menikmati semilir angin yang menerpanya. Rambutnya yang terurai panjang, bergerak mengikuti hembusan angin. Putri Acalapati menikmatinya.
"Angin sangat beruntung. Mereka bebas bergerak kemanapun mereka mau." Putri Acalapati mengangkat kedua tangannya. Dia mengeluarkan tangannya agar bisa menikmati angin di luar jendela. Putri Acalapati menggerak-gerakkan tangannya mengikuti arah angin menuju. Matanya yang terpejam akhirnya terbuka.
"Aku jiwa yang memiliki dua raga, aku harus kuat."
Putri Acalapati mendapatkan sekilas ingatan. Ingatan indah saat dia pernah menjadi seseorang berkasta biasa. Dia ingat pernah berjuang menurunkan berat badan, tapi Acalapati tidak ingat dia pernah berada di negara mana. Bahkan bahasa yang pernah dia kuasai saat menjadi wanita lain tak lagi mampu ia ucapkan.
"Yang Mulya Rates tiba."
Putri Acalapati segera membalikkan tubuhnya menghadap pintu mendengar Ibunya telah datang.
Yang Mulya Rates sedikit tergesa-gesa saat berjalan menghampiri Putri Acalapati sampai pelukannya sedikit berdampak dan membuat Putri Acalapati sedikit terhuyung.
Tangis Yang Mulya Rates pecah begitu memeluk putrinya. Sebagai seorang Ibu dia begitu kecewa dengan apa yang Pangeran Lingga lakukan terhadap Putri Acalapati.
"Dia pria yang terkenal dengan ketakwaannya, tapi kenapa dia keji seperti Dooty?" Sungut Yang Mulya Rates.
Dooty sendiri adalah kucing besar peliharaan Tuan Aryan, Singa jantan yang memiliki Surai lebat berwarna coklat kehitaman yang membuat Dooty semakin gagah.
"Dia menghukum ku karena aku tertangkap basah sedang memanjat jendela."
"Apa lagi yang sedang kau lakukan, putriku?"
"Aku ingin membantu tunawisma, aku harus melakukannya tanpa pengawalan, aku dan mereka berada, jika mereka tau yang membantu mereka non muslim, aku takut mereka akan menolak." ungkap Acalapati.
"Ibu aku harus kembali pada Pangeran Lingga, jangan biarkan Ayah membuatku bercerai sebelum waktunya tiba."
"Ibu tidak bisa mencegah Ayahmu! Mereka sudah sangat keterlaluan."
"Tapi Ibu .."
__ADS_1
"Terkecuali Pangeran Lingga sendiri yang datang menjemputmu."
"Mana mungkin?" Batin Acalapati menolak untuk berharap lelaki itu akan menjemputnya.