
Apa?"
Pintu di dorong tak sabaran oleh Lingga. Mata hitam malamnya menyorot tajam pada sosok wanita yang masih berlutut di hadapan Ibunya, Yang Mulya Permaisuri.
Yang Mulya Permaisuri dan mantan pelayanan itu segera berpaling ke arah pintu yang sudah terbuka dengan keras.
Mereka memang terkejut dengan kemunculan Pangeran Lingga yang tiba-tiba.
Tanpa di persilahkan, Pangeran Lingga juga segera duduk bergabung.
"Katakan seluruh yang kau tau tentang istri ku! " Pelayanan masih syok dengan kehadiran Pangeran Lingga kini tiba-tiba di perintah untuk bercerita. Tetapi memang tujuannya datang ke istana untuk membongkar kebaikan Putri Acalapati.
"Aku akan tetap ku pemberi pengampunan, asal kau mau berterus-terang. " tegas Pangeran y agar pelayanan itu tidak lagi khawatir. "Jujur lah dulu, aku akan tetap memberimu keringanan."
Pelayanan itu masih belum bisa berucap, dia terlalu bingung untuk memulai ceritanya dari mana tentang Putri Acalapati.
Setelah diberi waktu ketenangan istirahat sejenak, Pangeran Lingga tetap memaksa wanita itu untuk bicara.
Sepanjang waktu wanita itu bercerita. Pangeran Lingga dan Yang Mulya Permaisuri hanya menyimak dengan khusyuk tanpa menyela.
"Ada apa, kau menemui Ibu? "
Setelah Lingga mendengar seluruh cerita wanita itu sampai tuntas, Lingga segera menghubungi Restu. Memintanya untuk membawa wanita itu ke ruang tahanan sementara, Lingga ingin membuktikan seluruh perkataan si wanita yang terdengar sedikit tidak masuk akal.
Kini giliran Lingga yang di mintai keterangan oleh Ibunya perihal tujuan kedatangannya.
"Aku mencari istriku, Ibu."
"Acalapati sedang berada di wahana berkuda. Apa Restu tidak memberitahu dirimu?"
Yang Mulya Permaisuri menatap punggung putranya. Hanya mengeleng pelan melihat kelakuan Pangeran Lingga yang pergi tanpa pamit seperti itu.
Sementara di tempat berkuda Bibi Zur buru-buru menghampiri Putri Acalapati.
"Anda sedang di tunggu Pangeran."
"Bukankah Pangeran Lingga sedang sibuk bersama Putri Arimbi? " Kaget Acalapati.
__ADS_1
Baru saja Acalapati mendengar kabar dari Zur, tidak lama berselang, Restu juga memberi tahu hal yang sama.
🍀🍀🍀🍀🍀🍀
Di dalam kamar yang pintunya sudah tertutup itu hanya tinggal Acalapati dan Lingga yang terus menatap Acalapati dengan tajam. Lingga duduk di bibir ranjang, menatap Acalapati tanpa berkedip.
"Duduk! " Pangeran Lingga memberi perintah.
Meskipun kesal Acalapati tetap berjalan patuh untuk mendekat kemudian ikut menatap Pangeran Lingga. Acalapati ikut duduk dengan patuh. Duduk di hadapan Pangeran Lingga, pria itu terus mengamatinya.
"Bukankah aku sudah melarang mu untuk datang ke lapangan berkuda? Kenapa kau tak sedikitpun mendengarkan ucapan ku?" tanya Lingga.
Pangeran Lingga meraih tangan Istrinya yang tertutup perban. "Aku hanya khawatir, kau masih terluka, jika terjadi sesuatu aku yang tetap harus bertanggung jawab, aku tidak marah. Benar-benar hanya khawatir" tambahnya sedikit melembut.
Acalapati hanya diam, terasa asing ketika kemarahan Lingga justru bermuara pada perhatian lelaki itu pada kondisi nya.
Pangeran Lingga menarik napas panjang kemudian berdiri menghadap Istrinya, tubuhnya condong dan berakhir melabuhkan bibirnya pada kening Acalapati dengan penuh sayang.
Sikap yang tentu saja membuat Acalapati bingung.
"Mana yang gerah?" Tanya Lingga semakin mencondongkan tubuhnya.
Tiba-tiba Lingga berjongkok di samping ranjang dan meniup pipi Acalapati.
"Apa ini membantu?" Tiupan udara yang keluar dari bibir Lingga terasa segar, Acalapati semakin merasakan ada sesuatu yang tidak nyaman.
"Berhenti!" Acalapati sedang gelisah karena perbuatan lelakinya, pria itu seperti tidak berniat melepaskan Acalapati sampai kapanpun.
Baru kali ini Acalapati melihat Pangeran Lingga yang terus mengunjunginya. Pria itu sudah bersih dan harum, rambut di kepalanya masih agak basah seperti baru saja mandi. Sepertinya suasana hati lelaki itu juga sedang baik.
Tanpa di komando Acalapati menunduk. Ia mendaratkan telapak tangan di atas kepala sang suami. Acalapati usap kepala Lingga dengan lembut hingga akhirnya membuat Pangeran Lingga sedikit mengangkat kepala dan mendaratkan di atas pangkuan istrinya.
Acalapati menelan ludah. Mengapa tiba-tiba Lingga begitu manja. Dia biasanya cuek dan selalu bicara singkat, kini mulai menunjukkan sifat aslinya. Pangeran Lingga mulai membenamkan wajah hingga sedikit menekan perut Acalapati. Semua terasa berbeda.
"Lahir kan anak untukku."
Acalapati mematung karena ucapan Lingga. Apa dia tidak salah dengar?
__ADS_1
Pangeran Lingga menangkup kedua pipi Acalapati, sedikit membelai dengan ibu jarinya.
"Aku ingin penerus Jaguar dari mu."
Acalapati untuk beberapa saat diam, tetapi akhirnya menyadari kesalahannya.
"Aku harus bangun," kata Acalapati.
Wajah Lingga merenggut seperti anak kecil yang tidak mau di tinggal oleh ibunya. Membuat Acalapati semakin heran.
"Aku harus pergi," tekan Acalapati sekali lagi.
"Kenapa?" tanya Lingga. Tetapi tak mendapat jawaban dari Acalapati.
"Kenapa?" kata yang sama, tapi terlontar dengan nada yang berbeda. "Bukankah ini masih terlalu terang untuk pergi menyelinap keluar istana?"
Acalapati menelan ludah. Lingga tampaknya mengetahui apa pun yang dia lakukan.
Melihat Acalapati terdiam, senyum itu langsung tersungging di wajah Lingga. Sebuah senyum yang sejujurnya sangat menawan untuk di pandang, tapi Acalapati mengelak hal itu.
"Aku minta maaf sudah salah menilai mu selama ini, aku akan melakukan hal yang sama dengan mu, menemui rakyat diam-diam, dan berjanji akan mendengarkan keluhan mereka."
Acalapati menatap wajah Lingga dan kalimatnya tercekat.
Lingga masih di posisi semula dan masih terus menenggelamkan wajahnya di perut Acalapati, saat kemudian kepalanya kembali menengadah.
"Apa kau percaya takdir?" Tanya Lingga dan Acalapati menunduk untuk menatap suaminya."Sepertinya aku hidup untuk menunggu mu. "Lingga menangkup pipi Acalapati yang lembut dan hangat dengan kedua telapak tangannya. "Kadang aku merasa seperti sudah menunggu mu untuk waktu yang sangat lama."
Ternyata diam-diam Lingga mengingat akan ramalan masa lampau. Apakah benar bahwa Acalapati adalah pendamping yang diramalkan wanita tua itu?
Jika ramalan itu benar, maka Lingga tidak keberatan untuk tetap mempertahankan Acalapati untuk menjadi istrinya satu-satunya.
Lingga baru menarik lembut Acalapati untuk merapat kearahnya, saat tiba-tiba kerukan pintu menyentak kesadaran.
Acalapati langsung berdiri, buru-buru membuka pintu untuk beralibi karena dia benar-benar seperti terhipnotis oleh perlakuan Lingga.
Acalapati mengangkat sebelah alisnya, saat yang berada di depan pintu kamarnya adalah Putri Arimbi dengan wajah basah air mata.
__ADS_1