Sang Pemilik

Sang Pemilik
Bab 18


__ADS_3

Pangeran Lingga segera menyibak selimut dan turun dari tempat tidur. Tangannya segera mengapai jubah yang di gantung di dekat kursi kesayangannya.


Lagi-lagi bayangan masa lalu itu hadir di mimpinya.


Mengingatkan ke beberapa tahun ketika dia masih berusia delapan tahun.


Flashback On


Pangeran Lingga dibawa pergi haji oleh Tuan Aryan bersama ke enam saudaranya. Saat mereka dalam perjalanan menuju Jabal an-Nuur ada seorang wanita berpakaian kusam menarik tangannya.


Pangeran Lingga, tidak marah dia justru memberi wanita itu 10 riyal uang miliknya. Pada jamannya uang segitu sudah cukup banyak. Wanita itupun terseyum. Tetapi tidak mengucapkan terimakasih melainkan mengatakan ramalan tentang masa depan Pangeran Lingga.


"Kau akan menjadi pemimpin di masa depan," Ucap wanita itu pada Pangeran Lingga yang hendak melangkah pergi.


"Kau akan menjadi pemimpin yang hebat, di dampingi oleh wanita yang akan menjadi ratu terbaik pada masanya. Wanita yang berbeda dan lain daripada yang lain. Wanita lemah lembut yang akan memakmurkan rakyat. Sabarlah, Tuhan akan segera mempertemukan kalian meski bukan perjuangan mudah."


Pangeran Lingga yang saat itu masih sangat muda mengganggap ucapan wanita itu adalah doa baik untuknya, sekedar mengaminkan dalam hati dan melangkah menyusul Ayah dan saudara-saudara nya.


Setelah dewasa, dan setelah puluhan tahun berlalu tiba-tiba mimpi itu datang mengingatkan apa yang pernah diramalkan wanita itu terhadap Pangeran Lingga. Tidak hanya sekali melainkan beberapa kali.


Wanita lemah lembut? Itu hanya terlihat dari sifat Arimbi, dan itulah mengapa Pangeran Lingga merasa harus menikahi Arimbi, Wanita yang di gadang akan menjadi pendampingnya memimpin sebuah kepercayaan besar.


Flashback off.


"Aku akan pergi Haji." Pangeran Lingga melangkah keluar kamar mencari keberadaan Restu.


Restu dan Jendral kepercayaan Pangeran Lingga terlihat sedang berbincang saat tiba-tiba Pangeran Lingga menghampiri mereka.


"Salam Pangeran." Salam mereka bersamaan.


"Jendral temani aku berangkat Haji. Restu jaga Putri Acalapati selama aku pergi."


"Tapi Pangeran. Mengapa harus saya yang menjaga Putri Acalapati?" Tentu saja Restu sangat terkejut dengan permintaan Pangeran Lingga yang seolah mementingkan Acalapati.


"Sejak kapan kamu membantah titah ku?" Jawaban menohok Pangeran Lingga membuat Restu hanya bisa menundukkan kepala.

__ADS_1


Restu langsung menunduk dalam. Dia merasa bersalah sudah berani membantah perintah tuannya. "Baiklah, Pangeran."


"Jangan pikirkan aku. Jaga dia seperti kau menjagaku."


Restu langsung memanggil beberapa pengawal setia dan hebat untuk mengawal Pangeran melakukan perjalanan ibadah nya.


Pangeran Lingga sengaja ingin pergi Haji. Dia ingin memohon petunjuk apa gerangan langkah yang akan di ambil. Mengembalikan istri pada orang tuanya dan menikahi gadis lain. Atau tetap merawat Acalapati dan memadu nya.


Seusai kepergian sang Pangeran. Restu melangkah lunglai. Dia berjalan ke dalam ruangan yang dijaga ketat oleh orang kepercayaan Pangeran Lingga, di dalam sana ada wanita yang terbaring lembut dengan cadar tipis di wajahnya.


Wanita itu adalah Putri Acalapati. Sudah tiga bulan lamanya mata itu tak kunjung terbuka.


Restu sudah memakai baju khusus untuk masuk kedalam ruang rawat Acalapati. Wanita itu masih memejamkan mata rapat, setengah wajahnya tertutup kain tipis, kain yang sengaja di pasang oleh Pangeran Lingga agar tidak semua orang bisa menatap wajah putih tanpa cela Acalapati.


☘️☘️☘️☘️☘️☘️


Sekar keluar dari kamar mandi hanya mengunakan handuk yang tidak bisa menutupi seluruh tubuhnya yang terbuka.


Sekar belum menyadari kehadiran sosok lain di dalam kamarnya. Saat dia melepaskan lilitan handuk itu setelah memakai bra, baru saat itu dia menjerit melihat sosok Raden yang menatapnya tak berkedip.


"Sekar, Sekar." Raden juga tak kalah kaget mendengar jeritan Sekar. Menarik dirinya pada kesadaran.


"Sekar tenangkan dirimu." pintanya sedikit khawatir."Sekar, Hai."


Sekar menatap Raden tidak percaya.


"Ini, aku" Raden menelan ludah, sebelum melanjutkan ucapannya."Suami mu."


Sekar meronta dalam pelukan Raden, dan Raden segera melepaskan dekapannya. Sekar segera memakai handuknya kembali yang sempat dia hempasan ke atas tempat tidur.


"Bisa mas keluar dulu?" tanya Sekar sedikit gugup.


Rambut basah Sekar jatuh menjuntai kedepan wajahnya, Sekar kaget. Dengan sigap Raden menyingkirkan dengan jarinya.


"Kenapa aku harus keluar? Apa yang ada padamu adalah milikku."

__ADS_1


Sekar meneguk ludahnya sendiri. Sekar mengira Raden sudah resmi menceraikannya.


"Aku belum menceraikan mu, dan tidak akan pernah melakukannya." Seolah Raden mengerti dengan pemikiran Sekar.


Sekar terkejut. Matanya langsung menatap Raden penuh.


"Tapi aku tidak mau di madu" Suara Sekar lirih, tapi Raden masih bisa mendengarnya.


"Aku tidak akan pernah melakukannya. Hanya kamu, cuma kamu yang akan menjadi istri ku."


Raden memeluk Sekar. Menyalurkan rasa rindunya yang dalam. Sekar tidak membalasnya karena tangannya memegang simpul handuk.


Lama Raden memeluk tubuh Sekar sampai pada bibirnya yang tiba-tiba mengecup leher mulus Sekar. Lama-lama Sekar merintih. Bibir itu terus menyapu kulit Sekar lembut.


Sekar seperti melayang di udara terkena sentuhan lembut tangan yang mulai merabanya. Raden terus memainkan bibirnya dengan sangat berhasrat. Tiba-tiba Raden melepaskannya. Dia memandang wajah Sekar dengan tatapan tajam namun menggetarkan. Jarinya menyentuh kulit Sekar mengikuti bentuknya. Sekar membalas tatapan mata Raden yang dipenuhi cinta untuknya.


"Kau mencintaiku?" Tanya Raden dengan suara beratnya.


"Kau cintaku " Jawab Sekar yang membuat tubuhnya langsung melayang ke udara. Raden mengendongnya untuk segera di bawa ke atas tempat tidur.


"Aku bersumpah akan selalu mencintaimu." Ujar Raden sebelum menyingkirkan handuk yang masih di genggam simpulnya oleh tangan Sekar.


☘️☘️☘️☘️☘️☘️


Restu masih berdiri menghadap ranjang yang di tempati oleh Putri Acalapati. Berjam-jam yang sebenarnya mulai membuatnya jenuh.


Tiba-tiba hewan bersayap berwarna hitam jatuh di wajah Acalapati dan itu di lihat oleh Restu.


Mengikuti nalurinya Restu segera mendekat ke arah Putri Acalapati yang terbaring, dia melihat hewan menyerupai laron itu masuk ke dalam cadar sang Putri.


Restu ingin mengambil hewan itu, dan itu mengharuskannya menyingkap kain penutup wajah tersebut. Restu sedikit menelan salivanya saat melihat wajah di balik cadar itu dengan sangat jelas.


Restu memang pernah melihat kecantikan Putri Acalapati, tetapi tak sedekat ini. Saat sedekat ini kecantikan Acalapati naik berlipat ganda.


Tangan Restu bergetar ketika mengangkat hewan kecil itu dari bawah mata sang Putri, ini tidak pernah terjadi sebelumnya dia membenci Putri Acalapati karena sifatnya yang arogan. Tetapi kini dia melihat dengan kedua matanya sendiri kecantikan Putri Acalapati yang sangat mencengangkan. Rasanya sangat sebanding jika rupa seperti ini berlagak sombong. Wajah Putri Acalapati putih bersih dengan bibir semerah Cherry, hidungnya kecil tapi sangat mancung, dagu lancip dan bulu mata yang indah.

__ADS_1


Hewan itu baru di angkat sekitar jarak tiga sentimeter dari kulit wajah sang Putri ketika mata indah itu akhirnya terbuka.


"Kau ...


__ADS_2