
Mentari sudah kembali bersinar. Sinarnya yang terik tak menembus atap bangunan megah dan mewah di kerajaan Acalapati. Meskipun sinar mentari tak merubah kecerahannya, namun hati seluruh penghuni istana sedang gelap karena duka yang menyelimuti hati mereka.
Di kerajaan Acalapati, kediaman Raja Aryan sedang sangat sibuk. Sudah beberapa hari Putri kerajaan mereka tidak sadarkan diri dan masih belum bangun sampai saat ini.
Sang Ayah yang mendengar sang Putri sempat tidak bernapas merasa sangat sedih. Menunggu dari waktu ke waktu tidak ada kabar yang menghentikan rasa takutnya.
Karena mendengar kabar yang kurang enak Tuan Aryan berniat menjemput putrinya, berniat merawatnya di kediamannya. Meskipun Tuan Aryan menyetujui Pangeran Lingga menikah lagi tetapi sebenarnya hatinya tidak demikian.
Bagaimanapun Putrinya adalah satu-satunya. Meskipun Putrinya sangat nakal, tetapi sebagai orang tua Tuan Aryan tidak pernah mengeluh akan hal itu. Tuan Aryan berpikir kenakalan putrinya mungkin karena dia yang selalu membiasakan sang Putri hidup dalam segala kelebihan. Selain itu, Dia juga sangat memanjakan Putrinya.
Tuan Aryan pergi dengan sebuah harapan. Berharap dia bisa membawa pulang putrinya. Merawatnya, tidak apa-apa Putri Acalapati tidak sadarkan diri asalkan dia berada di sisi keluarganya, bukan berada di tempat yang banyak orang membencinya.
Saat Pangeran Lingga sedang berbicara dengan para penasehat, saat itulah Tuan Aryan tiba.
" Bukan hanya keluarga yang butuh kepastian Pangeran, Karena keluarga pasti percaya dan akan selalu mendukung apapun keputusan yang Pangeran ambil. Tapi mereka semua yang berada dalam tanggung jawab Pangeran juga butuh di yakinkan."
"Ayah masih bertahta Tuan Barka. Itu masih dalam kendali Ayah."
"Ya, tapi masyarakat juga perlu diyakinkan, kekompakan keluarga tetap jadi penilaian untuk diperhatikan. Rumor di luar sana terdengar kurang bagus di telinga masyarakat, ini bisa menjadi celah untuk di manfaatkan oleh musuh -musuh kita untuk menjatuhkan Pangeran"
Restu masuk, dan memberi hormat.
"Mohon izin menyampaikan berita. Tuan Aryan datang untuk bertemu, Pangeran."
Lingga langsung memberi isyarat kepada penasehat untuk menghentikan diskusi mereka. Pangeran Lingga buru-buru menemui tuan Aryan di aula, begitu sampai Lingga segera memberi penghormatan kepada Ayah mertuanya.
Disana sudah ada Tuan Jaguar Ibrahim beserta Ratu utama yang tidak lain adalah Kedua orang tua Pangeran Lingga.
"Aku ingin meminta ijin agar Putri Acalapati kembali tinggal bersama kami. Kami ingin menghabiskan masa tua kami bersamanya." Raut sendu tidak bisa di sembunyikan oleh Tuan Aryan. Tuan Aryan menatap Raja dan Ratu juga Menantunya. Berharap keinginannya tidak dipersulit, lebih baik putrinya pulang bersamanya dari pada akan di madu dengan keadaan yang tidak sadar.
__ADS_1
Pangeran Lingga juga sedang tidak bisa tenang karena belum menemukan alasan apapun untuk mempertahankan Putri Acalapati selain gelar yang wanita itu miliki. Tetapi dia juga sudah berencana meninggalkan wanita itu sebelumnya.
"Putrimu masih menantu kami." Yang Mulya Permaisuri terdengar keberatan dengan permohonan besannya.
"Biarkan dia tinggal bersama kami, kami akan merawatnya dengan baik. Jangan khawatir."
Diam-diam Pangeran Lingga mengendurkan rahangnya. Kedua orang tuanya masih menyayangi gadis keras kepala itu.
Tuan Aryan menemui jalan buntu. Tapi dia sangat tahu banyak orang yang tinggal di istana Jaguar ingin melenyapkan putrinya. Dia akan mencari jalan, untuk tetap membawa putrinya pulang tanpa kekerasan.
☘️☘️☘️☘️☘️
Setelah Raden benar-benar masuk kedalam kamar mandi. Sekar kemudian berjalan ke tempat tidur, berbaring dan menutup matanya untuk berpikir.
Pemilik tubuh asli sangat mencintai Raden. Dia jatuh cinta dengan pria itu sejak pertemuan ketiganya di panti asuhan. Tapi sayang pria itu tidak tertarik padanya, tidak perduli sebesar apa pemilik tubuh asli menyukai dan mencoba menyenangkannya. Raden tetap tidak suka padanya. Bahkan pria itu selalu sibuk dengan Yuana, tanpa menghiraukan kehadiran Sekar sedetikpun.
Beberapa menit kemudian. Tempat tidur di samping Sekar mulai bergerak pelan, Sekar kaget saat melihat Raden ikut merangkak pelan ke atas tempat tidur.
Raden baru saja mandi, harum sabun tercium sangat lembut. Pria itu berbaring di samping Sekar yang tidur memunggunginya dan tiba-tiba mengulurkan lengannya untuk memeluk Sekar yang di pikirnya sudah tidur.
Ini adalah kali pertama Sekar tahu dengan sadar jika Raden mau tidur satu ranjang dengannya. Padahal ini bukan pertama kali mereka tidur dalam satu ranjang. Seharusnya Sekar sudah harus terbiasa dan tidak masalah untuk tidur bersebelahan, karena sebenarnya Raden sudah pernah melakukan hal lebih dari sekedar memeluknya seperti sekarang.
Sekar melepaskan pelukan Raden, terapi Raden semakin mendesakkan tubuhnya untuk merapat. Bahkan pria itu mengendus tengkuk Sekar hingga membuat Sekar merinding.
"Panas!" Sekar kembali ingin menghindar, tapi kali ini Raden malah mencekal kedua tangannya.
"Oh!" Sekar mengeluh, saat pahanya di tindih oleh paha Raden yang seolah menguncinya dengan pergerakan begitu cepat. Bahkan pria itu secepat kilat sudah berada di atasnya. Raden mencondongkan badannya semakin turun.
Suara decakan basah itu membuat Sekar terbelalak.
__ADS_1
'Bugh'
Lutut Sekar menghantam tepat sasaran. Tidak lama setelahnya Raden berteriak kesakitan. Wajah pria itu memerah mungkin Sekar terlalu keras menumbuknya.
Sekar memang terlalu naif dan polos, karena terlalu tegang dan kaget dengan tindakan Raden yang tiba-tiba mengigit lehernya Sekar langsung menaikkan lututnya dengan sekuat tenaga ke bawah pusar Raden. Sekar tidak tahu jika itu tindakan yang sedikit berlebihan, karena buktinya saat ini Raden terduduk menekuk tubuhnya dengan keringat yang sebesar biji jagung.
"Tolong, Sekar!" Raden terlihat sangat menyedihkan.
Sekar ragu ingin mendekat, tetapi melihat raut kesakitan itu tampak nyata Sekar ragu-ragu mendekati Raden.
Wajah Raden memucat, tubuhnya bengkok seperti trenggiling karena menahan sakit pada pusat pusaka miliknya.
Sekar sudah membantunya untuk memperbaiki posisi tetapi Raden terlihat semakin mengkhawatirkan.
"Ini salah mu, kau yang membuatku terkejut!" Sekar malah mengkritik. dan tetap menyalahkan tindakan Raden yang membuatnya reflek melakukan hal itu.
Raden tak mampu menjawabnya. Pria itu sibuk mendesis kesakitan.
Sekar mengigit bibirnya ragu, sebelum akhirnya memutuskan untuk bertanya.
"Apakah perlu ku panggilkan Dokter?"
Melihat Raden yang mengangguk Sekar malah tertegun. Apakah sesakit itu?
"Sekar, tolong" Sekar kaget saat Raden menjatuhkan tubuhnya di atas kasur masih dengan posisi bengkok.
Karena terlalu lama berpikir, Sekar malah lupa memanggil dokter.
"Aku kompres dengan air hangat dulu perutmu" pamitnya pergi untuk mencari air dan handuk.
__ADS_1
Sepertinya akan sulit untuk Sekar memahami apa yang sebenarnya terjadi. Buktinya dia sendiri tidak tau apa yang sebenarnya terpukul telak dengan lututnya.
Raden menatap punggung Sekar yang menjauh darinya. Raden sangat kesakitan, tetapi dia tidak bisa marah.