Sang Pemilik

Sang Pemilik
Bab 51


__ADS_3

Putri Acalapati menggeliat. Namun sesuatu yang melingkar diperutnya membuatnya tertahan. Jantung Putri Acalapati berdetak cepat saat menyadari sebuah tangan kokoh memeluknya dari belakang. Hembusan napas hangat di belakang lehernya menciptakan desiran hebat di dadanya.


Mengapa rasa ini terus berkembang, saat Acalapati sudah siap melepaskan Lingga? Sebuah rasa yang ingin terus di rasakan dan di nikmati setiap mereka bersama.


Perlahan Acalapati memiringkan tubuhnya menghadap Pangeran Lingga. Tanpa Acalapati sadari sebenarnya Pangeran Lingga belum lama bergabung dan baru saja akan terlelap sebelum gerakannya kembali membuat pria itu terjaga.


"Aku akan melepas mu sebentar lagi, berbahagialah Lingga, akan banyak wanita yang mendekatimu saat kau naik tahta dan berpisah dengan ku, ku harap kau jangan salah pilih." Tangan Acalapati hendak menyentuh alis Pangeran Lingga. Namun, urung.


Tanpa sadar sudut mata Acalapati basah. Ternyata perasaannya sudah terikat dengan Suaminya. Meski demikian Acalapati akan tetap melepaskan diri jika Lingga memang menginginkan hal itu.


Pangeran Lingga membuka matanya perlahan, saat itu terjadi Acalapati terperanjat dan langsung bergeser mundur.


Sepasang mata tajam Pangeran Lingga menyorot mata wanita yang tepat berada di hadapannya. Lelaki yang belum pernah di tolak wanita merasa tertantang dengan penolakan istrinya. Dia bertekad akan mengikat wanita itu bagaimanapun caranya.


"Kau pikir aku akan membiarkanmu pergi begitu saja?" mata mereka memaku.


Seperti biasa sosok Pangeran Lingga selalu di selimuti aura yang dominan.


"Jangan terseyum jahat seperti itu! Kau bisa membuat setan iri melihatnya."


"Tidak sopan seorang istri mengatai suaminya setan."


Untuk beberapa saat Meraka masih saling menatap, Acalapati cukup terkesan dengan ucapan Pangeran Lingga yang berkata kak akan membiarkannya pergi begitu saja.


Tak beda jauh dengan perasaan Acalapati. Pangeran Lingga sedang meresapi rasa kebersamaan mereka. Lingga tahu Acalapati keras hati, keras kepala dan entah apa lagi, dia sedang menguji perasaannya, apakah bisa melunakkan hati wanitanya atau justru Acalapati yang membuatnya bertekuk lutut.

__ADS_1


"Jangan pernah berpikir akan meninggalkan ku. Mengerti!" telunjuk Pangeran Lingga menekan kening Acalapati.


Acalapati baru saja akan membantah ucapan Lingga, tetapi Lingga lebih dulu menambahkan.


"Jika kau juga meninggalkan ku, itu berarti lengkap sudah, tidak sahabat, tidak teman kecil bahkan istriku menusukku dari belakang."


Wajah Pangeran Lingga terlihat muram. Oh apa Acalapati melewatkan sesuatu?


"Lingga kau ...


"Aku akan menemukan sahabatku yang asli, aku akan mencarinya semampuku." Mata lingga nanar.


"Kau bicara soal siapa?"


"Restu."


Ada kesedihan di wajah Lingga. Bagaimanapun Restu adalah sahabat dan orang terdekatnya selama ini.


"Aku akan menemukan sahabatku yang sebenarnya." tekad Pangeran Lingga.


Perasaan Acalapati tersentuh, dia melihat binar harapan di mata gelap malam itu, sayang harapan itu akan benar-benar hilang saat Lingga tahu kebenaran yang sesungguhnya.


"Restu sudah meninggal dunia."


Wajah Pangeran Lingga langsung berpaling. Lelaki itu tidak mengatakan apa-apa selain hanya terus menatap. Sampai pada akhirnya Acalapati yang tidak tega mengambilkan ponselnya.

__ADS_1


Setelah beberapa saat mengotak-atik ponsel nya, Acalapati memberikan benda pipih itu pada Pangeran Lingga.


Sebuah foto yang menggambarkan seorang pria meninggal dunia dalam keadaan terikat dan tubuh yang sangat kurus. Meski terlihat sangat asing akan tetapi dari alis dan belahan bibitnya Pangeran Lingga mengenali itu adalah sahabat sejatinya.


"Ya Allah ... !" Pangeran Lingga merintih. Segera setelah itu di peluknya benda pipih itu di atas dadanya.


Air mata kesedihan tidak bisa Lingga sembunyikan.


Bayangan soal kejadian beberapa jam yang lalu kembali berputar di pikirannya.


Pangeran Lingga yang bersembunyi di antara dua guci besar sudah hampir keluar saat tiba-tiba Putri Arimbi keluar dari sayap kiri istana sama seperti yang dilewati Restu.


Putri Arimbi terlihat menghubungi seseorang. Dan tidak lama ternyata Restu datang kembali.


"Jangan terus menghubungi ku, seseorang akan curiga!" meskipun cukup pelan pangeran Lingga masih bisa menyimak pembicaraan mereka.


"Kau benar-benar cerewet, jika aku mau, aku bisa saja membongkar identitas mu yang sebenarnya." Sebuah benda kecil di berikan pada Restu oleh Putri Arimbi. Restu langsung menerimanya dan menyisipkan di balik bajunya.


"Berhenti mengancam ku, yang harus kau pikirkan, bagaimana caranya membuat Lingga terbangun di atas ranjang yang sama dengan mu." Restu palsu mengatur siasat.


"Pastikan nanti malam kau memberikan obat tidur itu. Aku akan menyiapkan segala sesuatunya, tugas mu adalah memastikan Pangeran Lingga minum obat tidurnya."


Dada Pangeran Lingga serasa terhimpit besi yang di panaskan. Sudah terluka karena jepitan tapi juga harus menanggung luka bakar.


Di dalam kekalutan hatinya, kakinya kembali melangkah ke kamar istrinya.

__ADS_1


Dilihatnya Acalapati yang tidur terlelap membuatnya ingin memeluk wanita itu meredam rasa sakit hatinya karena telah di tipu mentah-mentah.


Namun, belum lama memejamkan matanya, Acalapati malah sudah terbangun.


__ADS_2