Sang Pemilik

Sang Pemilik
Ban 43


__ADS_3

Acalapati tidak bisa mencegah detak jantungnya yang langsung memompa lebih cepat karena mendengar ucapan Lingga.


"Kau harus segera bangun, untuk beribadah." ucap Acalapati untuk menutupi kegugupannya.


Lingga tersenyum, dan malah kembali menarik tubuh Acalapati merapat pada tubuhnya.


"Masih ada waktu. " Bisik Lingga yang membuat Acalapati merinding.


Ada waktu apa maksudnya?


Nyes!!!!


Hangat, kedua kulit itu bersentuhan, Membawa sensasi hangat di tubuh keduanya.


Acalapati sudah selesai sembahyang saat Lingga juga baru datang setelah pria itu pamit pergi ke masjid beberapa waktu lalu.


"Aku akan pulang terlambat hari ini." Suara berat Lingga terdengar.


Lingga sudah mengganti pakaiannya saat kembali menghampiri Acalapati yang duduk di bibir ranjang.


"Kau.... " Acalapati pasrah ketika Pangeran Lingga mulai mel*mat bibirnya mendesakkan lidahnya agar Acalapati ikut terbuka.


Bagaimana Acalapati bisa lepas dari pria seperti ini. Pria tampan ini memberinya rasa kecanduan untuk di sentuh. Walau Acalapati tidak tahu seperti apa perasaan Lingga padanya.


Hari ini Lingga meminta Acalapati ikut mengantarkannya pergi bekerja. Meski agak aneh tapi Acalapati menuruti keinginan Lingga mengantarkan pria itu sampai ke mobil.


Restu tidak munafik, dia juga laki-laki dan untuk sekedar melihat tangan Acalapati di genggam oleh Lingga ia merasa tidak tahan. Berbagai pikiran terkutuk kembali memenuhi isi kepala Restu ketika melihat Pangeran Lingga menarik Acalapati merapat ke dadanya.


"Restu, Jaga Putri Acalapati. Hari ini aku pulang terlambat."


Restu hanya membungkuk dan mengatakan kesediaannya. Sementara Acalapati mulai menyusun rencana.


Sambil berjalan kembali ke kamarnya. Acalapati mulai memikirkan lengan Restu yang baru terluka sebelah. Ah, mungkin sedikit melukai pundak lelaki itu rasanya tidak masalah.


"Apa Anda ada rencana keluar istana hari ini? " Ternyata Restu sudah berada di belakang Acalapati.


"Ya, tetapi aku lelah setelah kembali dari Acalapati pagi ini! Bisakah kau menemaniku sore nanti?"


"Tentu, Anda tanggung jawab ku."


Restu tersenyum cemerlang, Diam-diam Acalapati juga menyukai rencananya.


Kembali ke dalam kamarnya, Acalapati segera menghubungi para pemanah jitu yang pernah dia hubungi sebelumnya untuk melukai Restu. Ah, Acalapati memang jenius. Dia yang berbuat dia yang seolah-olah menjadi pahlawan untuk menarik perhatian Restu.

__ADS_1


"Pastikan kau melukai bagian pundaknya." setelah mengatakan itu Acalapati menutup panggilannya.


Zur datang bersama Maty.


Begitu melihat Acalapati. Kucing pesek itu segera turun dari gendongan Zur dan segera bermanja dengan Acalapati.


"Ha, ha, ha... " Acalapati tertawa melihat kucing itu memakai baju.


"Kau terlihat sangat lucu. " komentar Acalapati.


"Kemungkinan Maty sedang mengandung, Putri."


Mata Acalapati terbelalak.


"Benarkah?"


Acalapati ternganga. Oh, padahal baru beberapa hari yang lalu Maty kawin dengan kucing jantan, mengapa bisa hamil secepat itu?


"Benarkah kau hamil? Bagaimana aku bisa melihat kehamilannya? " Acalapati mengelus-elus perut Maty yang masih terlihat rata.


Melihat kepolosan Acalapati, Zur tersenyum. "Kucing hamil muda bisa di tandai dengan membesarnya atau mengeras nya bagian put*ng."


Pupil mata Acalapati membesar. Kini dadanya sendiri yang berdegup kencang. Acalapati menelan ludah. Dia menemukan hal itu pada dirinya sendiri ketika Lingga menyentuhnya? Apakah itu pertanda jika dia hamil?


Gurah rahim memang sering digunakan oleh wanita timur sebagai alternatif untuk mencegah kehamilan, karena lelaki timur tidak suka memakai alat kontrasepsi.


Sejak dulu gurah rahim di percaya sangat efektif untuk mencegah kehamilan. Gurah rahim akan membuat rahim kering agar tidak bisa memproduksi sel telur. Gurah rahim bertujuan untuk membuat wanita kehilangan kesuburan. Tetapi tidak secara permanen, efeknya bisa bervariasi pada setiap orang. Biasanya akan kembali subur jika sudah kembali lancar datang bulan. Bisa sampai satu atau dua tahun.


Rasanya Acalapati ingin menangis mengingat dia sudah di sentuh berkali-kali oleh Lingga dan dia sendiri tidak tahu jika kapan dia masa subur. Acalapati hanya tidak mau hamil secepat ini. Padahal Keluarganya, bahkan Lingga sudah menunggu kabar baik itu. Pernikahan mereka juga sudah lebih setahun.


"Putri tidak apa-apa? " Melihat air mata Acalapati menetes, Zur cemas.


Ditanya seperti itu malah membuat Acalapati terisak-isak.


Zur kelabakan, dia mengira Acalapati sakit. Zur hendak keluar kamar untuk mencari Restu, tapi Acalapati menghentikannya.


"Bibi... "


Zur berpaling dan menghampiri Acalapati.


"Mulai sekarang jangan laporkan apapun yang Bibi lihat pada Restu! " Acalapati menatap Zur yang masih menatapnya khawatir.


"Pangeran Lingga meminta saya untuk selalu melapor pada Restu."

__ADS_1


Acalapati memiringkan kepalanya.


"Ku dengar, Bibi menyayangi Lingga? "


"Saya rela mengabdi pada Pangeran seumur hidup. " jawab Zur tegas.


Bibir Acalapati membentuk senyum. Dia menghapus air mata, kemudian memperlihatkan video yang memperlihatkan Restu sedang bergulat di atas ranjang dengan Arimbi.


"Astaghfirullah! " Pekik Zur. Mata wanita itu hampir terlepas dari rongga nya.


"Bibi bagaimana jika aku hamil? " belum hilang rasa terkejut Zur melihat Video asusila Restu dan Arimbi. Kini wanita itu kembali terkejut dengan ucapan Acalapati.


"Aku belum mau hamil." air mata Acalapati kembali mengalir. "Masih banyak yang harus kulakukan untuk membantu Lingga sebelum penobatan." Acalapati memang sedang khawatir jika dia segera hamil. Karena apa yang akan dia lakukan adalah melawan orang-orang tak punya hati. Jika sampai dia hamil Acalapati pasti akan lemah dan hal itu akan dimanfaatkan oleh para musuh Lingga. Biar bagaimana pun, yang di kandung nya adalah darah daging Lingga.


"Dalam agama kami, kehamilan itu anugrah Putri."


Zur menenangkan. Acalapati masih sesegukan.


"Sudah berapa lama Anda telat? " tanya Zur.


"Aku memang belum pernah telat, tetapi tanda kehamilan itu sudah ada." ungkap Acalapati.


"Anda mual? " tanya Zur yang di jawab gelengan oleh Acalapati.


"Anda sudah pake alat tes kehamilan? " Lagi-lagi Acalapati menggeleng.


"Apa Pangeran Lingga yang menyidam?"


"Aku tidak tahu. "


"Lantas apa yang membuat Putri yakin jika hamil?"


"Bukankah, Bibi bilang Maty hamil karena di lihat dari put*ng nya yang keras? " Zur mengangguk. "Aku juga merasakan itu saat tadi pagi Pangeran Lingga menghisapnya. "


Zur melihat tangan Acalapati yang menangkup gumpalan lembut di dadanya.


Bibir Zur ternganga, sebelum tawa itu menyembur tak tertahankan. Ternyata Acalapati masih se polos itu. Zur benar-benar tidak menyangka. Dan bingung hendak menjelaskan apa untuk meluruskan kesalahan pahaman Acalapati mengenai ucapannya.


Sangat lucu jika Acalapati menyamakan dirinya dengan se ekor kucing.


Acalapati yang melihat Zur tertawa merasa kesal. Zur benar-benar tidak mengerti betapa kacau hatinya.


Zur masih terengah-engah mencoba meredakan tawanya, sedikit kesulitan. Tetapi melihat wajah Acalapati yang cemberut jengkel akhirnya tawa Zur reda juga.

__ADS_1


"Begini, Putri...


__ADS_2