Sang Pemilik

Sang Pemilik
Ban 40


__ADS_3

Hari kembali berlalu. Pagi-pagi sekali Pangeran Lingga sudah meninggal istana.


Lelaki itu sepertinya akan menghadiri acara penting terlihat dari pakaian yang dikenakan.


Setelah memastikan suaminya pergi. Acalapati segera merias dirinya secantik mungkin. Memakai wewangian yang lembut dan enak di hirup.


Zur yang membantunya bersiap. Wanita paruh baya itu terus memperhatikan Acalapati yang bersolek.


"Anda tidak seperti biasanya, Putri?" mata awas Zur menangkap ada sesuatu yang tidak beres.


Acalapati terseyum, tetapi tidak menghentikan tangannya yang masih membubuhkan warna pada pipinya yang sudah merah alami.


"Panggilkan Restu, Bibi! katakan aku ingin di temani jalan-jalan."


"Allah Al-Karim. Anda jangan pernah bermain api!" tegas Zur menasehati.


Acalapati tersenyum, melihat wajah pelayannya yang pucat pasi.


"Lilin tanpa api, tidak akan pernah menyala Bibi, Aku hanya sedang berusaha menyalakan lilin kecil, tenang saja, aku tahu kapan waktunya aku mematikan lilin itu, karena mematikan lilin hanya perlu hembusan angin yang cukup."


Cerdik dan licik sangat beda tipis, jika lawan yang di hadapi licik, maka Acalapati akan melawannya dengan kecerdikannya.


"Anda akan menyakiti banyak orang!" Zur mulai berani meninggikan suaranya.


Acalapati tersenyum manis.


"Aku tidak pernah memaksa siapapun untuk datang dan mengabdi padaku, jika Bibi sudah bosan maka Bibi bisa mengarang cerita apapun tentangku, memotong kaki, mengatakan ke semua orangpun, aku akan mengiyakan tuduhan itu , tanpa menyangkalnya."


Zur berpaling malu, ah, Zur menyesal sudah berpikir yang tidak-tidak, tetapi membiarkan Acalapati bermain api itu tindakan yang tidak benar.


"Apa Anda tertarik dengan Restu." tanya Zur khawatir.


"Aku memang berharap Restu akan tertarik padaku!"


Zur memejamkan matanya.


"Jangan sakiti perasaan Pangeran Lingga, Putri, hamba melihat cinta Dimata Pangeran ketika menatap Anda."


Acalapati acuh dan sama sekali tidak menanggapi ucapan Zur. Hingga akhirnya Zur hanya bisa menuruti keinginan Acalapati yang keras kepala.


☘️☘️☘️☘️☘️


Restu sedang di ganggu oleh Putri Arimbi saat Zur menghampiri mereka.


"Ada apa, Zur?" tanya Restu.

__ADS_1


"Putri Acalapati sedang ingin keluar istana, Pangeran Lingga menitipkan Putri Acalapati kepadamu untuk menjaganya, maka kamu harus ...


"Ya aku tahu!" Restu tidak menunggu Zur menyelesaikan perkataannya, Restu buru-buru melangkah ke aula wanita.


Para pelayan segera menundukkan kepalanya saat melihat Restu datang. Tidak semua orang di izinkan masuk ke aula wanita, hanya Tuan Aryan, Pangeran Lingga, dan Restu yang memiliki akses penuh.


Restu langsung tidak berkedip saat melihat wajah mulus Putri Acalapati yang tidak tertutup cadar, baju yang dikenakan juga cukup tipis untuk seorang Wanita kerajaan yang taat dengan peraturan Agama.


Tetapi untuk menegur. Restu tidak memiliki kuasa.


"Aku keluar dari istana ini bukan sebagai menantu kerajaan Jaguar. Aku ingin membawa namaku sendiri. Aku ingin berkunjung ke tempat yang sudah lama tidak aku kunjungi." Acalapati buru-buru memberi alasan.


Restu hanya mengangguk mengerti.


Mereka benar-benar melakukan perjalanan. Begitu sampai tempat tujuan, Acalapati buru-buru turun dari mobil dan menjauhi para ajudan yang mengawal mereka.


"Restu, katakan pada mereka aku ingin sendiri." pinta Acalapati seperti memohon, mata itu tampak polos dan tulus.


"Itu tidak boleh, Putri."


"Kalau begitu kau saja yang menemaniku!" rajuk Acalapati.


"Kita tidak boleh berduaan, itu melanggar aturan." ucap Restu


Wajah putih Acalapati tampak sedih, wajah halus itu tampak kecewa. Melihat itu Restu tidak sanggup


☘️☘️☘️☘️


Restu tidak menyangka jika Putri Acalapati bisa tahu jika di tengah hutan ada sumber air yang tampak di penuhi orang-orang yang sedang antri mengambil sumber air bersih.


"Air disini sangat segar. Aku sangat berterimakasih kepadamu bisa menemaniku kesini. Aku sangat bahagia." Bisik Acalapati sambil mendekatkan dirinya pada Restu. "Aku akan ikut mengantri. Tetaplah di sisiku, Restu!" Perintah Acalapati yang langsung dilaksanakan Restu. Dia seakan tidak percaya jika hatinya ingin terus menuruti apa yang diminta Acalapati.


Saat sedang mengantri tiba-tiba ada segerombolan orang yang melempari mereka batu. Acalapati spontan memeluk tubuh Restu. "Maafkan aku, aku sudah membahayakan nyawamu Restu."


"Terus peluk erat, aku akan melindungi mu."


Acalapati melotot mendengar perintah Restu kepadanya. Dia semakin mengeratkan ke dua tangannya yang melingkar di tubuh Restu. Wajah Acalapati berada di leher jenjang Restu yang serius membawa Acalapati semakin menjauh kembali ke mobil-mobil yang menunggu mereka.


Restu membawa Acalapati pulang.


"Kejadian ini tolong rahasiakan dari Pangeran Lingga, Restu. Aku tidak ingin karena masalah ini penduduk kehilangan sumber air bersih."


Acalapati tampak memelas. " Aku tidak percaya Lingga mau berbaur dengan masyarakat seperti mu. Aku lebih percaya padamu, aku ingin kau juga melindungi hak rakyat."


"Mengapa?" tiba-tiba suara Restu parau.

__ADS_1


"Karena kau orang baik."


☘️☘️☘️☘️☘️


Ternyata saat Restu dan Acalapati sampai di istana, bersamaan dengan mobil Pangeran Lingga yang juga memasuki istana.


"Kalian dari mana?" tanya Lingga pada Acalapati yang langsung menghampirinya.


Tidak mendapat jawaban dari istrinya, Lingga beralih menatap Restu. "Bukankah aku menyuruhmu istirahat?" giliran Restu yang di tanyai Lingga.


"Putri Acalapati sedang ingin di antar ke pasar." Restu mencari alasan. Sebelum kembali ke istana, dia sudah mewanti-wanti para ajudan untuk tutup mulut


Restu adalah orang terpercaya Lingga, tidak ada yang berani membantah perintahnya.


"Dengan pakaian seperti itu?" Lingga melirik istrinya. Kali ini matanya melotot menyadari sesuatu.


"Dimana penutup wajah mu?" buru-buru Lingga melepas sorban dari atas kepalanya, dan menutupkan di bagian wajah Acalapati.


"Tutup dengan ini." perintahnya.


"Aku gerah, Pangeran." Acalapati cemberut.


Lingga gemas, melihat tingkah istrinya. Lingga juga baru memperhatikan pakaian seperti apa yang sedang Acalapati kenakan.


"Sial," Lingga langsung dibuat emosi karena Istrinya yang nakal"


"Oh,." Acalapati sudah di panggul dengan paksa. kepala wanita itu sudah menggantung menghadap punggung Pangeran Lingga yang kokoh.


Bukan pertama kalinya dia di panggul seperti karung beras, tetapi dia tetap pening.


Tetapi di sela rontaan nya, Acalapati bisa melihat cara pandang Restu padanya.


Diam-diam hatinya terseyum.


Rencananya akan segera berhasil. Sekali tepuk dua nyamuk sekarat.


Di banting di atas kasur, Acalapati tidak protes sama sekali. Dia justru membalas tatapan Lingga yang tampak marah.


"Apa kau mau ku hukum?" Tanya Lingga yang sudah membuang satu persatu pakaiannya sendiri ke sembarang arah.


Lingga benar-benar tidak menduga jika wanita cantik dan sedang berhias semakin cantik itu malah mengangguk.


"Apa kau benar-benar ingin ku hukum?" Pertanyaan ke dua nada nya lebih lembut.


Acalapati menerima apa yang pria itu lakukan, membiarkan suaminya melakukan apa saja. Meski demi kebaikan, tetapi mendekatkan diri pada pria lain itu tetap hal yang keliru. Tetapi konspirasi licik harus tetapi di balas dengan cara cerdik bukan?

__ADS_1


Kata Lingga suami istri itu adalah satu. Mereka harus saling membantu.


Suara erangan Lingga, bercampur dengan suara Maty yang minta dibukakan pintu.


__ADS_2