
Acalapati terseyum saat melihat Putri Arimbi sedang menyelinap masuk kedalam istana.
Acalapati tahu, Arimbi sedang ingin menemui kekasihnya diam-diam.
Acalapati segera meraih ponselnya. Dia menghubungi Restu.
"Assalamualaikum..." ucap Acalapati saat Restu mengangkat teleponnya.
Hening sejenak, Restu tidak segera menjawab salam Acalapati. Mungkin karena kaget.
"Waalaikumsalam warahmatullahi wa barakatuh. Ya, Putri?" Setelah tersadar buru-buru Restu menjawab.
"Bisa kau mengantarkan aku sekarang?"
Senyum Acalapati semakin terkembang melihat Arimbi yang semakin dekat dengan aula tempat Restu berada.
"Saya akan menjemput Putri, sekarang." Restu menjawab.
"Terimakasih, aku sudah berada di dekat gerbang istana, jangan lama-lama." Acalapati segera menutup teleponnya.
Padahal saat ini Acalapati masih berada di dekat aula tempat Restu berada, dia hanya ingin Restu terburu-buru menemuinya supaya tidak menghiraukan kehadiran Arimbi. Lebih tepatnya mengabaikan keberadaan wanita itu.
Dan rencana Acalapati berhasil. Tubuh Arimbi langsung di sisihkan oleh Restu begitu wanita itu mendekat.
"Kau mau kemana?" tanya Arimbi mencekal lengan Restu.
"Kita sedang di dalam istana sekarang." Restu memperingati. Matanya melihat sekitar dengan resah.
"Kau terlihat sangat sibuk beberapa hari ini, aku ingin bicara serius dengan mu!" rajuk Arimbi.
"Tidak sekarang. Putri Acalapati sedang menunggu ku."
"Kenapa kau akhir-akhir ini selalu sibuk dengan wanita pemarah itu?"
"Kita bicara nanti, Arimbi!" Restu menekankan ucapannya.
Restu tidak menghiraukan Arimbi yang bersungut-sungut. Restu buru-buru melangkah ke utara menuju gerbang istana.
Acalapati segera mengirim pesan.
["Bidik dengan benar! Aku akan mendorongnya ke sisi kanan."]
Restu tidak menemukan Acalapati di dekat gerbang istana. Restu merogoh kantong gamisnya untuk meraih ponsel untuk menghubungi Acalapati. Tetapi belum sempat tangannya meraih ponsel, jeritan Acalapati membuatnya berpaling.
"Restu, Awas!! "
Bugh!
"Aggghhhh ... "
"Putri!"
__ADS_1
Talk!
"Aggghhhh ..."
Acalapati ambruk di pelukan hangat Restu.
Dadanya terkena dua anak panah. Restu sendiri meraung kesakitan saat satu anak panah menancap di lengan kanannya.
Ajudan istana lari mendekat.
"Biarkan kami yang mengendong Putri Acalapati,"
Ucapan mereka tidak dihiraukan oleh Restu. Restu sendiri yang mengendong Putri Acalapati dengan panik dan langkah lebar, mengabaikan lengannya sendiri yang bercucuran darah.
Didalam gendongan Restu, bibir Acalapati tertarik keatas. Tentu saja Acalapati tidak terkena panah sungguhan. Itu hanya sandiwara yang sudah ia rencanakan.
Restu berdesis, lengannya semakin sakit dan terasa panas, tetapi Restu lebih mementingkan Acalapati yang telah mengorbankan nyawanya demi menolongnya.
"Kenapa Anda begitu murah hati padaku, Putri?" ucap Restu.
Murah hati gundulmu. batin Acalapati.
"Jika terus seperti ini aku tidak bisa mencegah hati ku untuk menginginkan mu."
Dan itulah yang ku harapkan, Restu. Kau akan ku buat sibuk dengan rasamu padaku, sementara aku akan mencari Sekutu untuk mendukung Lingga di penobatannya nanti.
Suasana di istana Jaguar sedang panas pasca insiden yang menimpa Restu dan Acalapati.
"Aku harus segera mengatakan kehamilan ku, dan menjebak Lingga, Ibu."
"Kau sangat ceroboh!" Ibu dari Arimbi terus memijit-mijit sendiri pelipisnya yang nyeri.
"Semua ini gara-gara Wanita sialan yang terus menempeli Lingga dan Restu." Arimbi semakin menumbuhkan kebencian di hatinya untuk Acalapati.
Arimbi juga harus berpikir keras setelah rencananya menemui Restu tertunda. Acalapati terus mengacaukan semua rencananya.
🍀🍀🍀🍀🍀🍀
Bagai mimpi buruk di siang bolong Lingga mendengar kabar dari orang kepercayaan nya tentang informasi yang terjadi di istana.
"Dada istri Anda terkena dua anak panah, Pangeran. " Jendral melaporkan informasi yang dia dapat dari pelayanan.
Pangeran Lingga sedang mengadakan pertemuan penting dengan beberapa calon investor ketika Jendral berbisik di telinganya.
"Tunda pertemuan untuk hari ini!" Lingga buru-buru keluar dari ruangan meeting.
Lingga pilih langsung turun ke basment untuk mengendarai mobilnya sendiri tanpa ajudannya. Pikirannya kacau karena mendengar kabar Acalapati terluka.
Mengapa Restu tidak becus melindungi wanitanya?
Pangeran Lingga mengendarai mobilnya seperti seorang pembalap, dia bahkan tidak menginjak remnya dan terus menekan gas dengan tekanan yang terus bertambah.
__ADS_1
Begitu sampai di istana, Pangeran Lingga segera masuk kedalam kamar istrinya.
"Kenapa kau tetap keluar istana tanpa penjagaan? "
Pangeran Lingga terdengar marah. Acalapati kaget karena kedatangan Lingga yang tiba-tiba. Acalapati bahkan belum sempat membalut dadanya yang di kabarkan terkena anak panah.
Bahkan setiap penjaga menyaksikan bagaimana bagian dadanya yang berlumuran darah. Pastinya darah yang bukan benar-benar keluar dari tubuhnya.
Mata Acalapati melotot saat tiba-tiba Lingga merobek bajunya tepat di bagian dada hingga kancing-kancing itu menggelinding tak tentu arah.
"Mana lukanya? " tanya Pangeran Lingga sambil memeriksa.
Acalapati yang sudah bertekad akan bersandiwara akhirnya tetap melotot pada pria keji di hadapannya yang tega merobek bajunya dengan tak sabaran.
Acalapati tetap tidak menjawab sampai Pangeran Lingga akhirnya jengkel.
Pangeran Lingga yang kesal langsung mendorong tubuh Acalapati untuk berbaring dan di tekan oleh tubuhnya. Sebenarnya Lingga sedang sangat penat dengan segala urusannya tapi Acalapati malah sengaja malah membuatnya khawatir.
"Aku bersyukur jika tidak ada luka di sekujur tubuhmu." Lingga menghela napas lega. Tangannya yang tertutup sarung tangan masih menjajah, matanya terus mengabsen hingga akhirnya mata mereka bersiborok.
Mata Acalapati terpejam saat Lingga mengelus pipinya.
Pangeran Lingga melepas sarung tangannya. Tangan Lingga teramat dingin menyentuh pipi Acalapati. Membuat Acalapati sedikit kaget, mengindikasikan bahwa pria itu terlalu lama berada di luar ruangan atau justru sedang sangat ketakutan. Tidak tahu kenapa tiba-tiba dadanya berdegup semakin kencang hanya karena di belai dalam keadaan polos.
Perlahan Pangeran Lingga mencondongkan wajahnya, menyatukan kening mereka yang berbeda suhu.
"Kau hangat." bibir Pangeran Lingga sengaja di dekatksn di bibir Acalapati. Tidak ingin kenikmatan itu putus. Acalapati merapat.
"Kau membuatku gila"
🍀🍀🍀🍀
Acalapati bangun seorang diri. Tubuhnya terasa pegal tapi juga ringan. Hari sudah gelap dan dia merasa kehilangan sosok Lingga.
"Aku sangat bersyukur kau tidak terluka sama sekali. Mendengar cerita pelayanan aku hampir gila."
Acalapati mendudukkan dirinya. Saat Lingga muncul di balik pintu.
"Bagaimana bisa kau terus membuatku tidak fokus bekerja seperti ini? " Lingga duduk di tepi kasur dan menyentuh tengkuk Acalapati.
"Tekan nomor ku, kau bisa menghubungi ku kapan saja. Mengapa kau hanya pernah menghubungi ku karena masalah Maty. Aku ini suamimu, dan kau berhak meminta apapun padaku" sadar atau tidak. Lingga sudah seperti suami yang begitu posesif pada istrinya.
"Bagaimana keadaan Restu? " Acalapati merubah topik pembicaraan, dia benar-benar bisa salah sangka dengan perhatian Lingga. Acalapati takut dia akan sulit meninggalkan kerajaan Jaguar nantinya.
"Dia sangat berterima kasih padamu. Dia merasa kau adalah dewi penyelamat. Dia bilang berhutang nyawa untuk kedua kalinya."
"Aku juga kaget saat melihat tubuhku yang baik-baik saja, melihat panah yang tertancap di dada....
" Sttttt .... " Lingga menempelkan telunjuknya di bibir Acalapati. "Kau memang harus tetap baik-baik saja, dan aku tidak mau kau keluar dari kamar selama aku tidak ada. Sekarang aku mulai meragukan kemampuan Restu. Bagaimana mungkin dia justru berlindung pada seorang wanita. "
Acalapati terbelalak mendengar ucapan Lingga. Astaga... Jangan sampai karena kecemburuan Lingga, Acalapati kehilangan kesempatan untuk mendapatkan bukti penghianatan Restu pada istana Jaguar.
__ADS_1
Tapi, benarkah Lingga cemburu?