Sang Pemilik

Sang Pemilik
Episode 60


__ADS_3

Acalapati membiarkan Pangeran Lingga memeluk dan menciumnya dulu. Tidak bisa berbohong, Acalapati juga sangat merindukan momen seperti ini.


"Lingga, aku ..."


"Biarkan seperti ini dulu ...!" perintah Pangeran Lingga.


Pangeran Lingga semakin dibuat sadar jika dia sudah jatuh cinta sedalam-dalamnya pada Istrinya.


Mungkin, Acalapati adalah wanita yang diramalkan peramal tua itu. Seorang yang sangat istimewa untuk Pangeran Lingga.


"Aku sangat mencintaimu, Acalapati! Jangan hukum aku dengan memintaku menjauh, itu sangat menyiksaku, aku salah sudah membuatmu mengandung, tetapi demi Allah, itu adalah berbuah anugerah Tuhan, bukan musibah." bujuk Pangeran Lingga lirih. Ada pendar kekecewaan dimatanya melihat wanita yang mengandung darah dagingnya tak ingin berdekatan dengannya.


Kini Lingga menyadari jika dia telah menikahi wanita baik. Mungkin dulu dia pernah membenci sosok Acalapati, tapi itu semua itu karena terhasut fakta-fakta gila. Terlebih seluruh jiwanya yang terbelenggu bersama ego yang luar biasa, hingga untuk membedakan mana baik dan buruk pun dirinya tak mampu.


"Bawa aku pergi, Lingga. Antarkan aku, bimbing aku, aku ingin anak kita nanti, ikut dengan kepercayaan yang Ayahnya anut." Acalapati melepaskan pelukan Lingga, mengurai pelan tapi bertenaga.


"Aku sudah yakin dengan keputusan ku, aku akan menjadi istri seorang penguasa, sedikit saja cela yang ada pada diriku akan menutupi kebaikanmu selama ini,"


Acalapati menatap pria dihadapannya dengan penuh keyakinan, begitupun hatinya yang kini sudah mantap untuk memeluk agama yang dianut oleh suaminya.


Tuhan memberi hidayah lewat apa saja, dan Acalapati mendapat hidayah dari perjalanan waktu. Yang satu dari jutaan umat yang bisa mendapatkan hal semacam itu.


Belajar alamiah, dari hati seorang muslimah yang sempat di tempati oleh jiwanya. Pikiran keduanya menyatu, tidak hanya raga tapi juga jiwa.


Malam itu menjadi saksi dimana sepasang insan membuat sebuah kesepakatan untuk kembali merajut asa membangun mahligai rumah tangga yang hampir hancur.


Acalapati tak bisa menampik jika Pangeran Lingga telah membangunkan cinta di hatinya. Padahal dulu dia tak ingin kembali pada Pangeran Lingga, mengingat begitu banyak perbedaan mereka, termasuk dari segi kepercayaan.

__ADS_1


Dulu ya dulu. Sekarang ya sekarang. Keputusan seseorang bisa berubah seiring berjalannya waktu. Begitu juga dengan Acalapati dan Pangeran Lingga. Cinta terbalut benci dan kini selimut kebencian itu sudah tersingkap.


Pangeran Lingga benar-benar bisa melihat kebaikan dan ketulusan di hati wanita yang telah ia nikahi.


☘️☘️☘️☘️☘️


Begitu dua kalimat syahadat terucap dari bibir menantunya.


Tuan Jaguar Ibrahim langsung bersujud di lantai. Pria yang bahkan ketika datang ke mesjid dengan di papah, kini kembali sehat bertenaga.


Kebahagiaan bercampur rasa syukur membuat Tuan Jaguar Ibrahim bangkit dari deritanya.


Kehilangan tiga istri, tiga anak, menantu bahkan calon cucunya jelas bukan tekanan mental yang ringan. Tuan Jaguar Ibrahim hampir depresi.


Tetapi keadaannya membaik, ketika mendengar kabar jika Putri Acalapati tengah mengandung, dan kini kebahagiaannya di sempurnakan dengan redanya sang menantu memeluk agamanya. Menjadikan dirinya seiman dan setara. "Allahu Akbar." Jutaan umat Islam bertakbir, menyaksikan tayangan dari beberapa sumber, live yang di siarkan langsung oleh beberapa media.


"Anda mengenal orang itu." Acalapati berbisik lirih dengan dagu yang digunakan untuk menunjuk seseorang.


"Di adalah Paman Baba. Adik tiri Ayah."


Jawaban Pangeran Lingga membuat respon berlebih di dada Acalapati.


Paman? Adik tiri?


Tentu saja Pangeran Lingga mengamati perubahan wajah Acalapati, dan pria itu tahu istrinya tengah tegang. Pangeran Lingga juga memperhatikan bagaimana Acalapati merasa terganggu dengan kehadiran Pamannya.


"Dia orang jahat, aku bisa merasakannya." Acalapati langsung menatap suaminya lekat. Pangeran Lingga juga bisa merasakan keseriusan ucapan istrinya.

__ADS_1


Acalapati menarik tangan Pangeran Lingga dari keramaian, kemudian menceritakan semua yang ia ketahui tentang Lelaki tambun yang ternyata masih kerabat dekat Pangeran Lingga.


"Aku curiga, jika orang itu penyebab anda kehilangan saudara."


Bibir Pangeran Lingga berkedut. Hendak mengatakan sesuatu tetapi urung. Kecurigaan Acalapati masuk akal, tetapi dia juga perlu bukti yang valid.


"Jadi dugaan ku selama ini salah? Ternyata bukan Restu dan Putri Arimbi pelakunya?"


"Siapa yang bilang mereka pelakunya? Mereka hanya terlibat. Tetapi tanpa campur tangan mereka pasti saudara anda akan tetap terbunuh."


Acalapati sangat yakin, Paman Pangeran Lingga lah aktor utamanya, tetapi karena lelaki itu jarang muncul, sehingga cukup mustahil bisa menimbulkan kecurigaan orang-orang.


Acalapati terus menyimpulkan dengan sangat antusias, sementara Pangeran Lingga hanya menjadi pendengar yang baik. Karena saat ini Lingga benar-benar kagum dengan kejelian wanita dihadapannya, karena segala informasi yang disampaikan Acalapati sangat masuk akal.


"Apa anda masih memiliki Paman lagi?"


Pangeran Lingga mengangguk. "Itu Paman dari Ibu, Namanya Mustofa."


Mata Acalapati juga langsung bertemu dengan seseorang yang di tunjuk Pangeran Lingga. Acalapati langsung berpaling tidak ingin melihat.


Pangeran Lingga kaget saat mendapatkan remasan kuat di tangannya.


Saat menoleh pada sang Paman. Dia juga bisa melihat ekspresi Tuan Mustafa. Reflek Pangeran Lingga melingkarkan tangannya di pinggang Acalapati.


"Bawa aku pergi!"


Baru saat itu, Pangeran Lingga sadar, jika Istrinya menangis.

__ADS_1


__ADS_2