
Keduanya masih sama-sama berpeluh dan belum mengenakan apapun di balik kain yang berada di atas tubuh mereka berdua.
Pasangan itu saling berpandangan tanpa sungkan. Lingga juga bukan pria yang mudah di taklukkan, kemauannya harus di turuti, perintahnya harus dipatuhi dan apapun yang dia minta harus diberikan seperti layaknya seorang penguasa. Sama halnya Acalapati yang juga memiliki prinsip yang kuat.
Sebenarnya Pangeran Lingga bukan sosok yang kerap memikirkan perkara wanita, keinginannya menikahi Putri Arimbi terlintas begitu saja, bukan karena hati pribadi, tetapi lebih kepada tugas dan kewajibannya memberikan rakyat seorang pendamping yang berhati lembut. Jadi jika Pangeran Lingga memutuskan untuk menikahi Putri Arimbi untuk dijadikan istri itu artinya dia akan melepaskan istrinya yang lain.
🍀🍀🍀🍀🍀
"Aku ingin memperkenalkan mu pada rakyat." Lingga membelai halus kening Acalapati yang lembab.
"Nanti saja," sanggah Acalapati.
"Kau menolak?" timpal Lingga.
"Anggap saja begitu."
"Tidak bisakah kau patuh pada aturan yang ku buat?"
"Jika kau hanya ingin berdebat denganku, keluarlah! Aku sedang malas meladeni mu."
Lingga kembali mendengus setiap kali Acalapati mengusirnya. Mengapa Acalapati tidak pernah melembutkan hatinya sedikitpun saat sedang bersama suami.
__ADS_1
Acalapati masih meringkuk di atas ranjang setelah Lingga pergi dari kamarnya, emosi lelaki itu sedang naik turun, sehingga Lingga mudah tersinggung karena perkataan Acalapati.
Sebenarnya mudah bagi Lingga mengajak Acalapati menemui rakyat. Tetapi seharusnya Lingga mengatakan 'ayo kita temui rakyat' Bukan dengan kata ingin memperkenalkan.
Setelah mandi dan berpakaian Acalapati mendengar Zur mengetuk pintu kamarnya.
"Masuklah, Bi, " Suara Acalapati sedikit serak.
Zur mendorong pintu kamar yang tidak terkunci dan sebenarnya juga tidak tertutup rapat. Acalapati sedang duduk di ujung ranjang ketika melihat Bibi Zur masuk dengan membawa nampan berisi makanan. Zur langsung meletakkan nampan tersebut di atas meja dan berjalan menghampiri Acalapati untuk dia peluk.
Acalapati adalah wanita baik yang layak untuk dicintai, rasanya sudah tidak penting lagi apa yang dibicarakan publik untuk wanita ini, bagi Zur, Pangeran Lingga sangat beruntung bisa memiliki Putri Acalapati.
Zur memberanikan diri membelai pipi Acalapati yang dingin dan masih lembab karena baru saja usai mandi.
🍀🍀🍀🍀🍀
Senyuman khas Arimbi terbit, Lingga juga turut membalas senyumannya.
"Maaf tadi aku meninggalkan mu, ada hal mendesak yang musti ku urus. "
Arimbi tetap mempertahankan senyuman di bibirnya, meski hati gadis itu tengah terbakar api cemburu. Lingga sudah berdusta perihal kata-katanya tentang hal yang musti di urus, nyatanya jejak hisapan bibir Acalapati melekat di area lehernya.
__ADS_1
Lingga tidak tau jika leher atasnya di penuhi bekas hisapan seseorang. Seseorang yang pandai menyulut api kecemburuan. Bahkan meskipun Lingga sudah mengenakan jubahnya, tanda merah itu tak mampu tersamarkan.
Lingga kembali ke kamar Acalapati setelah berhasil membujuk Putri Arimbi untuk pulang. Rasanya Lingga ingin menghancurkan benda-benda di hadapannya saat menemukan kamar istrinya kosong.
Saat ini Lingga buru-buru menuju aula wanita. Saat Lingga ingin menemui Yang Mulya Permaisuri kakinya berhenti di ambang pintu.
Terdengar suasana seorang wanita yang tengah memohon pengampunan pada ibunya, tangisan wanita itu memilukan, membuat hati Lingga bertanya-tanya kesalahan apa gerangan yang di buat si wanita sehingga membuatnya sangat ketakutan.
"Kau tau, karena ulahmu menantuku di hujat?" Suara Yang Mulya Permaisuri tidak kalah kerasnya dari tangisan si wanita.
"Mohon pengampunan Yang Mulya Permaisuri, Hamba melakukan itu semua karena tergiur oleh upah yang di tawarkan Putri Acalapati. "
Mendengar nama istrinya di sebut, Lingga memasang telinganya, semakin menajamkan pendengarannya.
"Mengapa kau berpikir untuk memotong jarimu sendiri?"
"Karena hamba ingin menyakinkan semua orang bahwa Putri Acalapati jahat. Tetapi setelahnya hamba menyesal Yang Mulya."
"Kenapa kau menyesal?"
"Karena setelah hamba di beri uang oleh Putri Acalapati hamba langsung membuka usaha di pasar tradisional, hamba baru tahu ternyata hampir setiap hari Putri Acalapati datang menyamar sebagai rakyat biasa untuk membantu Masyarakat miskin, memberikan uang atas nama kerajaan dan Pangeran Lingga. Hamba merasa sangat berdosa memfitnah seseorang yang berhati mulia"
__ADS_1
"Apa?"
Pintu di dorong tak sabaran oleh Lingga. Mata hitam malamnya menyorot tajam pada sosok wanita yang masih berlutut di hadapan Yang Mulya Permaisuri.