Sang Pemilik

Sang Pemilik
Bab 45


__ADS_3

Zur yang hendak menyampaikan berita penting pada Putri Acalapati menghentikan langkah kakinya saat melihat Jendral berada di depan kamar tuanya. Itu berarti saat ini Pangeran Lingga sedang bersama sang Putri.


Zur meremas tangannya gelisah. Kabar yang dibawanya sangat penting, dan harus segera Acalapati ketahui.


Zur pergi dan kembali lagi, tetapi masih ada Jendral di sana. Zur mulai khawatir. Ini sudah semakin larut. Bisa-bisa Pangeran Lingga memang akan bermalam di kamar tuannya.


Zur kembali dengan hati yang masih tak tenang. Zur takut terlambat menyampaikan berita yang dia telah ketahui.


☘️☘️☘️☘️


"Kau ...?" Restu memicing melihat kedatangan Arimbi.


"Kau, kenapa kau bisa terluka, ha...? Kau menjadi pahlawan untuk wanita pemarah itu?" tanya Arimbi penuh prasangka.


Restu mendadak merasa muak dengan kekasihnya itu. Dia memiringkan tubuh untuk membelakangi Arimbi.


Bara kemarahan yang berkobar di mata Arimbi seolah tertiup angin hingga menambahkan nyala api. "Jangan bilang kau tertarik pada wanita kasar itu," ucapnya dengan rahang yang terkatup rapat karena menahan amarah yang membakar seluruh jiwanya.


"Tertarik atau tidak, kurasa bukan mu. Mulai saat ini, kukatakan padamu, Arimbi, tolong jangan campuri urusanku. Kau juga belum berhasil membuat Lingga menceraikan Acalapati."


Darah Arimbi yang tadinya memanas mendadak membeku. Apa yang dikatakan Restu? Melarangnya ikut campur? Setelah semua yang dia upayakan selama ini. Arimbi menatap punggung Restu dengan tatapan tidak percaya.


"Tolong tinggalkan aku sendiri" ucap Restu dengan nada datar. "Aku sedang malas berdebat denganmu!"


"Restu, dengarkan aku."


"Aku sedang tidak ingin mendengarkan apapun, aku sedang terluka, Arimbi. Jika suatu waktu ada orang mengecek keadaanku dan menemukan keberadaan mu di dalam kamar ku orang akan segera menjatuhi hukuman rajam untuk kita. Kau tau maksud ku bukan?"

__ADS_1


Arimbi menghela napasnya yang terasa berat, ia memejamkan matanya beberapa saat sebelum berucap. "kita harus bertindak lebih cepat, pikirkan cara untuk menjebak Lingga, karena aku sedang hamil anakmu."


Tubuh Restu menegang kaku.


Di dalam kamar Acalapati. Pangeran Lingga terus saja membuat Istrinya Merinding karena perbuatannya.


Lingga meletakkan satu telapak tangan Acalapati di wajahnya, menekannya dengan mesra, dan beberapa kali menghadiahkan kecupan di sana.


"Aca, aku menginginkan keterbukaan di antara kita dan aku ingin kau setuju."


"Keterbukaan tidak bisa berjalan dalam satu waktu, kita perlu proses," sahut Acalapati menolak usul Lingga.


Acalapati menatap pria yang berada di atasnya. Lingga membalas tatapan mata itu dengan pandangan menenangkan.


"Kau bisa minta apa saja, agar kita bisa melalui proses keterbukaan."


Lingga meletakkan kepalanya di ceruk leher Acalapati, menghirup aroma wanita yang selalu ia rindukan, menyimpan aroma itu kedalam memori otaknya.


Lingga menjauhkan kepalanya dari ceruk leher Acalapati lalu melabuhkan bibirnya pada gumpalan lembut yang tidak terbungkus apapun.


"Lingga... Kau tidak capek?" Acalapati merenggut.


Pangeran Lingga tidak menjawab, ia tetap melakukan yang dia mau. Seolah ia sedang melampiaskan segala kegelisahannya melalui hisapan bibirnya yang menguat. Setelah erangan lolos di bibir istrinya, Lingga berhenti. Ia mengusap sudut bibir Acalapati menggunakan ibu jarinya lalu perlahan mendekat dan mengecupnya. Meski kecupan singkat, tetapi seluruh cintanya seolah tercurah disana.


"Aku tidak akan menggangu mu malam ini." ucap Lingga yang tak dipercayai oleh Acalapati.


Acalapati mengacuhkan ucapan Lingga, karena merasa itu hanya omong kosong.

__ADS_1


Lingga berdehem pelan, setelah sedikit memberi jarak pada istrinya, nyatanya tubuhnya kembali merapat pada tubuh istrinya. Lingga seolah melupakan ucapannya beberapa menit yang lalu.


Sedikit merenggut, Acalapati menatap lengan Pangeran Lingga yang kembali melingkar di pinggang rampingnya. Nyatanya kata 'tidak akan mengganggumu malam ini' itu hanya angin lalu. Acalapati mulai hapal dengan kelakuan suami mesumnya.


Meski kesal sebenarnya Acalapati suka Lingga terus berada di sisinya, karena itu berarti Lingga berada dalam pantauannya.


Dalam suasana kamar yang di sinari cahaya remang-remang, dalam satu kali rengkuhan tubuh Acalapati telah berada di atas tubuh Lingga. Acalapati kembali di tikam oleh suaminya yang ganas dan panas.


Acalapati berusaha melepaskan dirinya dari kunjungan Lingga. "Kau pembohong," rengeknya setengah mati menahan des*hannya.


"Pembohong apa?" Lingga bertanya seolah tidak bersalah.


"Kau sudah janji tidak akan mengganggu ku." protes Acalapati.


"Astaga, aku lupa!" jawab Lingga yang membuat Acalapati memutar jengah bola matanya.


"Menyebalkan!" Acalapati semakin memberontak berusaha melepaskan tubuhnya. Bibir Acalapati mengerucut saat yang ada Lingga malah semakin bersemangat menikamnya. Wajah pria itu terlihat sangat menikmati apa yang sedang mereka lakukan. Diam-diam Acalapati berhenti memberontak, dan mulai melemaskan ototnya agar melemas dan di saat itu terjadi, gelombang kenikmatan itu menggulung dahsyat.


Lingga masih fit, dadanya masih bergemuruh di pelukan hangat Istrinya.


"Jangan menatapku seperti itu! Aku tidak keberatan tinggal di rumah sepanjang hari dan melayani mu di ranjang setiap saat."


Reflek Acalapati mencubit perut Lingga yang berdenyut panas sisa pertempuran mereka, Acalapati kesal dan gemas mendengar ucapan Lingga yang tak di filter. "Kau pikir aku maniak s*x?"


Lingga terkekeh lalu mengecup bibir Acalapati sekilas. "Tidurlah, akan banyak penawaran yang ku berikan untukmu nanti. Penawaran yang tak kalah menariknya"


Acalapati menghembuskan napasnya kesal, ternyata kekonyolan Lingga belum selesai, Acalapati kembali di dera rasa putus asa.

__ADS_1


Lingga yang melihat wajah kesal Acalapati tersenyum samar.


Lingga mulai sadar, hanya di kamar Acalapati lah tempat yang paling mampu membuatnya nyaman dan bersemangat seperti ini. Sementara setelah kakinya melangkah barang selangkah dari kamar ini, bahaya kembali mengintainya. Keselamatannya tergantung takdir baik memihak kepada nya atau tidak.


__ADS_2