Sang Pemilik

Sang Pemilik
Bab 48


__ADS_3

Tidak ada pondasi dalam hubungan mereka. Antara Acalapati dengan Lingga, meskipun mereka sudah setahun lebih menikah. Selama Acalapati mampu mengamankan posisi Lingga sebagai Putra mahkota, dia tidak perduli apa yang pria itu perbuat di belakangnya.


Sayangnya, sikapnya yang tenang bak danau tanpa gelombang itu kini berubah seperti lautan yang berombak. Semua karena Lingga yang menghadirkan rasa lain di hatinya.


☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️


Restu meraba dalam hatinya.


Mengapa dia merasakan kesakitan ketika melihat Acalapati sedih?


Mengapa dia merasa cemburu ketika Acalapati sedang bersama Lingga?


Sebelumnya dia mengira perasaan ini mungkin hanya ilusi. Namun, dia tidak bisa menipu dirinya sendiri lagi sekarang.


Ia baru dekat dengan Acalapati beberapa kali. Namun, mengapa dia memiliki perasaan yang begitu rumit tentangnya?


Putri, Anda ...?"


Acalapati mengusap rahang tegas Restu untuk di tangkup dan di usap mesra.


"Bagaimana dengan Aku." Sudah seperti wanita penggoda yang sedang merayu pelangg*n. Acalapati sama sekali tidak perduli.


"Katakan dengan jelas, Putri!" tuntut Restu.


Acalapati menggeleng keras kepala, membuat Restu gemas.


"Benarkah Anda memiliki perasaan padaku?" wajah Restu tampak berbinar.


"Hiks, hiks ... " Putri Acalapati malah kembali menangis di tanya seperti itu.


"Oh, Putri ...!"


Untuk Acalapati sendiri, baginya Restu itu hanyalah sekelebat awan yang berlalu, sementara Dia dan Lingga memang ditakdirkan untuk bersama.

__ADS_1


Perasaan manis itu mengalir tanpa bisa di cegah.


Setelah dengan tenang mengatur perasaannya, Acalapati menatap pria dihadapannya. Pria itu harus menanggung konsekuensi karena membohongi lelakinya!


Acalapati merasa itu benar-benar tanggung jawabnya, terlebih ketika dia terbangun dari koma itu, Lingga telah merawatnya dengan teliti. Sebagai seorang Pangeran kerajaan, dia telah mengesampingkan statusnya untuk melakukan banyak hal untuknya dan Acalapati bersyukur karena itu.


Hampir semua orang mengatakan bahwa dia seharusnya tidak bangun dari koma. Berbeda dengan Lingga yang terus percaya jika Acalapati akan kembali membuka mata. Karena itu, dia berjanji akan menjaga dan melindungi, bahkan mempertaruhkan nyawanya untuk lelaki itu, jika diperlukan.


Restu meraih jemari lentik Putri Acalapati yang mengelus rahangnya untuk di genggam, hatinya bergetar hanya karena melakukan hal itu. Acalapati sendiri sama sekali tidak menolak, dan justru menyandarkan kepalanya di dada bidang Restu.


Putri Arimbi sedang gelisah, dirinya terus mondar-mandir, Kedatangan Zur semakin membuatnya tak tenang. Karena Arimbi tahu Zur adalah pelayanan Acalapati.


"Ada apa kau menemui ku? " ketus Arimbi.


Acalapati memang tidak pernah kehabisan akal untuk membuat musuhnya gelisah, dia terus mencekoki Arimbi dengan kobaran api yang menyala- nyala.


"Maaf Putri, aku kira kamar ini kosong, karena baru saja aku melihat seseorang yang mirip Anda masuk kedalam kamar Restu."


Jika di pikir logika. Tidak mungkin Zur masuk kekamar kosong. Tetapi ketika sedang banyak pikiran, kepintaran itu kadang tertinggal di belakang.


"Saya tidak berbohong, karena saya melihatnya dengan mata kepala saya sendiri." Api itu terus di sapu angin sehingga kobaran nya semakin besar.


Restu menolak Arimbi berada di dalam kamarnya, dan Pria itu justru mendatangkan wanita lain? Brengsek!


Putri Arimbi langsung keluar dari kamar untuk mendatangi Restu di dalam kamarnya sendiri. Zur juga ikut mengekor untuk membuat telinga Putri Arimbi semakin panas.


"Jangan-jangan Restu sedang memesan seorang wanita malam untuk mengurusnya. "


Benar-benar terkutuk! Hati Arimbi semakin berkobar.


"Mustahil Restu melakukan itu. " bantah Arimbi cepat.


Tiba-tiba pintu kamar Restu di ketuk tidak sabaran.

__ADS_1


Restu dan Acalapati langsung bangkit dari tempatnya duduk.


Putri Arimbi langsung melotot menemukan Putri Acalapati berada di kamar kekasihnya.


"Apa yang Anda lakukan di sini? " tanya Arimbi ketus dan terlihat sekali amarah di matanya.


Acalapati menaikkan satu alisnya.


"Harusnya pertayaan itu lebih cocok untuk mu!? Bukankah Pangeran Lingga melarang mu menginjakkan kakimu di istana Jaguar sebulan lamanya? "


"Kau bercanda? " Arimbi seperti masih belum percaya dengan pertanyaan Acalapati, wanita itu ternyata tau banyak tentangnya.


"Berbeda dengan mu, yang sedang dalam masa hukuman, aku lebih berhak menemui Restu karena suamiku sudah menitipkan aku padanya! " Sindiran sekaligus cibiran itu membuat darah Arimbi mendidih.


Kebencian Acalapati ternyata juga tidak kalah berkobar-kobar dari kecemburuan Arimbi. Sungguh Acalapati ingin segera menghukum kedua manusia bejat ini dengan hukuman seberat-beratnya.


'Tunggu pembalasan ku! ' Gemas Acalapati dalam hatinya.


🍀🍀🍀🍀🍀🍀


Lingga yang terjebak dengan ketiga Adik-adiknya akhirnya merasa bebas ketika Putri Ilya mengajak kedua saudaranya yang lain untuk pergi ke aula wanita untuk menikmati jamuan teh bersama.


Sama halnya dengan Pangeran Lingga, Para Putri Tuan Aryan juga tidak bisa pergi sembarangan, semua harus melalui protokol pengamanan khusus yang sangat ketat.


Skenario Pangeran Lingga untuk membuat adiknya segera pergi telah berhasil, kini Lingga bebas menyusul istrinya ke kamar Restu.


Saat sampai di depan kamar Restu, suara keributan itu membuat langkah Pangeran Lingga berhenti tepat di ambang pintu.


"Bersama siapa istri ku di dalam. " Pangeran Lingga bertanya pada Zur.


"Didalam ada Putri Arimbi juga, Pangeran. "


"Apa?" Sama halnya dengan Restu, Pangeran Lingga kaget mendengar Arimbi berani melanggar peraturan nya.

__ADS_1


" Seret keluar wanita itu hingga depan gerbang. Pastikan dia tidak muncul sampai satu bulan kedepan. "Perintah Lingga pada Zur dan beberapa pengawalnya.


__ADS_2