
Acalapati baru akan menjawab komentar Lingga saat dengan tidak tau tempatnya, Pangeran Lingga justru malah memangg*t bibir Acalapati penuh minat.
Tentu saja perbuatan yang mendadak itu membuat Acalapati blank tidak mampu merespon, kesempatan itu malah di manfaatkan Lingga untuk semakin mendesakkan lidahnya.
"Pangeran ... "
Pangeran Lingga tersenyum kecil, tidak jauh dari tempatnya berpelukan, Lingga melihat Arimbi sedang membuntuti mereka.
Wanita itu benar-benar.
Pangeran Lingga sengaja semakin merapatkan pelukannya, kemudian saat ciuman mereka terlepas, Lingga membisikkan informasi pada Acalapati.
Putri Acalapati berdecak kesal, mengapa wanita itu begitu keras kepala mengejar Lingga? Tidak hanya licik, wanita itu juga sangat kejam. Acalapati tidak boleh lengah, sewaktu-waktu seekor ular bisa mematuk jika merasa terancam. Dan Putri Acalapati adalah ancaman terberat Arimbi untuk mendapatkan Pangeran Lingga.
"Bagaimana?" Di sela pelukannya, Lingga bertanya langkah apa yang harus mereka ambil untuk menghindari Arimbi.
"Anda bisa memintanya bergabung, jika berkenan." Tetapi Acalapati malah menyindir.
Putri Acalapati tiba-tiba mendapatkan sekilas ingatan, hanya sekilas. Ketika dia pernah berada di tubuh wanita lain. Wanita gemuk yang di buatnya kurus dalam waktu beberapa bulan, Wanita malang yang dibuatnya mendapatkan cinta suaminya. Itu benar. Acalapati pernah mengalami hal itu. Bukan mimpi, itu seperti pengalaman yang tidak bisa di lupakan, tetapi juga tidak bisa di ingat secara utuh.
"Jangan bicara seperti itu. Aku sedang ingin berdua saja" ucapan Lingga menarik kembali Acalapati dari lamunannya.
"Ada apa?" melihat Acalapati yang diam Pangeran Lingga kembali bertanya.
"Kalau begitu, pura-pura tidak melihat saja!" Acalapati memberi ide.
Pangeran Lingga terseyum tipis seraya mengangguk tanda menyetujui ide istrinya. Pangeran Lingga benar-benar merasa telah di bodohi oleh sepupunya yang terlihat lemah lembut, tetapi ternyata itu hanya topeng.
Acalapati sendiri sebenarnya belum ada ide. Tetapi mengingat Arimbi tengah mengandung, wanita itu pasti tidak kuat terlalu lama berjalan, alhasil Acalapati terus menarik tangan Pangeran Lingga ke arah timur, dimana ada penyewaan kuda.
"Bagaimana jika kita berkuda? Di tengah gurun sana ada danau yang sangat bagus untuk mengambil foto,"
Mata Pangeran Lingga memicing, mungkin merasa heran bagaimana Acalapati bisa tahu banyak tentang tempat tersembunyi di lingkungan istana Jaguar.
__ADS_1
Lingga tidak tahu jika sejak dulu istrinya memang pemberontak, Acalapati pandai menyamar, pandai menyusup bahkan sebenarnya pandai mencuri, seperti yang tengah ia lakukan saat ini. Yaitu mencuri hati Pangeran Lingga.
"Jangan bilang, Anda tidak bisa berkuda, Pangeran!" Acalapati mencibir.
"Menunggangi istri liar saja aku mampu, apa lagi hanya seekor kuda jantan!" ledek Pangeran Lingga yang membuat mata Acalapati membulat.
Pangeran Lingga terkekeh lalu meninggalkan Acalapati untuk segera mendekati jajaran kuda jantan yang disewakan.
"Aku ingin yang ini!"Acalapati mengusap kepala kuda yang berwarna hitam dengan warna putih di bagian hidungnya.
"Kita sewa satu kuda saja," Pangeran Lingga memberi tahu.
"Aku ingin sendiri."
"Uangnya tidak cukup!" bohong Lingga.
Tentu saja mata Acalapati mendelik, bisa-bisanya Lingga keluar istana sejauh ini tanpa bekal yang cukup.
"Ba-bagaimana dengan bekal minumannya?" ucap Acalapati khawatir.
"Kau yang mengajakku keluar mendadak seperti ini, harusnya kau yang mempersiapkan segala kemungkinan, termasuk bekal. Tanpa ajudan aku biasa memang seperti itu." imbuh Lingga.
Acalapati mencibir, tentu saja dia hampir melupakan siapa jati diri pria tersebut. Pangeran Lingga terbiasa mengunakan kekuatan dan kekuasaan kemanapun pergi, mana mungkin mengerti kehidupan orang biasa seperti ini.
Acalapati salah sangka. Pangeran Lingga membawa bekal uang yang cukup, bukan karena tidak membawa bekal yang cukup sehingga tidak mampu menyewa dua kuda, Pangeran Lingga hanya ingin berkuda berdua dengan sang istri.
Saat sibuk dengan pikirannya sendiri Acalapati tidak menyadari bahwa Pangeran Lingga sudah siap dengan celana berkuda.
Lingga segera melompat ke atas kuda. Lengan Acalapati langsung ditarik dan pinggangnya di rampas. Setiap pasang mata melihat takjub. Semua orang ikut bertepuk tangan dengan aksi pemuda yang menghebohkan.
"Mereka pasangan yang serasi." puji salah satu wanita yang ikut melihat tontonan dadakan.
Biarpun mereka mengunakan masker dan topi, tapi kecantikan dan ketampanan tidak bisa di sembunyikan secara utuh.
__ADS_1
Putri Arimbi menggemeretakkan giginya, rasa kesal menjalar hingga dada. pemandangan barusan membuatnya emosi. Kemana Restu? Kenapa membiarkan Lingga bebas keluar istana tanpa pengawalan.
Sementara Restu sedang kepayahan mencari keberadaan Pangeran Lingga dan Putri Acalapati. Istana Jaguar sedang heboh karena kedua orang itu tidak ada dan tidak di ketahui pergi kemana? Hanya kesaksian penjaga jika melihat Putri Acalapati di bawa Pangeran Lingga untuk pergi keluar, tapi mereka sama sekali tidak tahu tujuan keduanya.
"Apa kau tidak memberi tahu yang ku perintahkan, Zur?" Yang Mulya Permaisuri mulai cemas, karena Lingga dan Acalapati tak kunjung tiba. Jika Acalapati memang tidak pernah mau hadir. Tetapi kehadiran Lingga sangat di butuhkan.
Zur menunduk. "Mohon maaf, Yang Mulya Permaisuri, Hamba tidak sempat bertemu dengan Pangeran Lingga dan Putri Acalapati." Ternyata Zur berani melakukan kebohongan Deni Acalapati.
Kecemasan Yang Mulya Permaisuri semakin menjadi.
Sementara di tengah gurun Pangeran Lingga dan Acalapati sedang menikmati kedekatan. Lingga menghentakkan tangannya yang memegang tali kemudi kuda, hingga berlari kencang. Acalapati menikmati perjalanan sambil terus di peluk erat di jerat kuat oleh Lingga.
Dengan hentakan tangan yang kuat, Pangeran Lingga membuat kuda segera berlari kencang. Pangeran Lingga terus mengendarai kudanya dengan tangan satu. Sementara, tangan satunya memeluk tubuh Acalapati dengan kencang, menjaga agar Acalapati tidak terjatuh.
"Hiya ... "
Dia semakin menghentikan tali kemudi kudanya yang berlari semakin kencang.
Setelah mendekati danau, Pangeran Lingga menarik tali kemudinya, membuat lari kuda berkurang dan Segera melompat turun ketika sampai di pinggir pagar. Acalapati masih di atas kuda saat Pangeran Lingga menuntun kudanya untuk di ikat talinya di pagar pembatas danau.
Di pinggir danau di bangun gazebo yang tampak begitu luas. Pangeran Lingga menuju Acalapati. Dia mengulurkan tangannya. Acalapati menerimanya dengan tebaran senyuman. Kini tubuh mereka sudah Acalapati sudah berada didalam dekapan Lingga.
"Sangat indah." puji Acalapati begitu mereka sampai di tepi danau. Angin gurun cukup panas tetapi di musim seperti sekarang lebih terasa dingin.
"Kau sering kesini?" tanya Lingga melihat wajah Acalapati yang begitu damai.
Putri Acalapati menolehkan wajahnya dan menatap wajah Pangeran Lingga. "Aku pernah ke sini beberapa tahun yang lalu."
Itu artinya sebelum menikah.
"Setiap di situasi seperti ini, tiba-tiba aku tidak ingin pulang." Acalapati bicara jujur, menjadi Putri kerajaan dengan pola hidup yang serba di atur itu membosankan.
"Kadang aku juga berpikir hal yang sama." Pangeran Lingga ikut mengutarakan isi hatinya.
__ADS_1
Setelah hubungan mereka sangat intens, nampaknya kedekatan emosional dan perasaan tidak bisa ikut di cegah. Mereka sudah bersama siang dan malam , tentu gemuruh cinta itu mulai muncul di permukaan.
"Bawa aku kabur bersamamu!"