Sang Pemilik

Sang Pemilik
Bab 61


__ADS_3

"Apa Anda masih memiliki seorang Paman lagi?"


Pangeran Lingga mengangguk. "Itu Paman dari Ibu, namanya Mustofa."


Mata Acalapati juga langsung bertemu dengan seseorang yang di tunjuk Pangeran Lingga. Acalapati langsung berpaling tidak ingin melihat.


Pangeran Lingga kaget saat mendapatkan remasan kuat di tangannya.


Saat menoleh pada sang Paman. Dia juga bisa melihat ekspresi Tuan Mustafa. Reflek Pangeran Lingga melingkarkan tangannya di pinggang Acalapati.


"Bawa aku pergi!"


Baru saat itu Pangeran Lingga sadar, jika Istrinya menangis.


Pangeran Lingga memang sedikit lamban dalam menanggapi, membuat Istrinya tidak sabar. Acalapati buru-buru turun dari undakan tangga. Karena terlalu gugup dan panik Acalapati jadi kurang berhati-hati, kakinya tergelincir dan tubuhnya terhempas jatuh.


Acalapati terhempas begitu kuat. Acalapati meringis kesakitan. Pangeran Lingga langsung melompat dari atas untuk menolong.


"Sakit ...! " rintih Acalapati yang merasakan perutnya kejang.


Pangeran Lingga segera membopong tubuh Acalapati, segera berteriak untuk memanggil ambulance.


Acalapati masih terus merintih, perutnya kejang hebat. Pangeran Lingga ikut bersimbah darah. Acalapati mengalami pendarahan hebat karena perutnya tak berhenti mengejang.


"Ini sakit ... "


Pangeran Lingga terlalu syok, dan masih belum mampu membuka suaranya. Pangeran Lingga sangat tidak tega melihat istrinya seperti itu.


Acalapati segera di tangani. Dokter yang tadi sudah melakukan pemeriksaan awal kembali memanggil Pangeran Lingga.


"Kau akan baik-baik saja. " Lingga mencium dahi Acalapati.


Pangeran Lingga meninggalkan Acalapati bersama perawat sementara Pangeran Lingga keluar sebentar untuk berbicara pada dokter.


Pangeran Lingga sudah tidak sanggup berpikir apa lagi ketika dia juga mendengar suara Acalapati yang berteriak dari dalam kamar.


Bibi Zur, Yang Mulya Ratu dan Tuan Jaguar Ibrahim langsung ikut lemas, khawatir jika harapan mereka semua akan kembali hancur.


"Kami akan berusaha semaksimal mungkin Pangeran, istri dan calon anak Anda harus segera ditolong. "


Sang dokter buru-buru pergi untuk mengambil tindakan. Tuan Jaguar Ibrahim tidak sanggup untuk menyaksikan kepedihannya sendiri apa lagi melihat kondisi Lingga. Tubuh Tuan Jaguar Ibrahim serasa membeku tidak bisa bergerak.


"Bagaimana dengan bayiku? " tanya Acalapati pada dokter yang terus melakukan tindakan. Acalapati tiba-tiba ketakutan, dia tidak ingin kehilangan bayinya. Janin yang kehadirannya saja mampu membuat banyak orang tersenyum dan mendoakan kebaikan Istana Jaguar kedepannya. Acalapati tidak sanggup jika semuanya tiba-tiba terenggut.


"Aku tidak mau kehilangan bagiku. " Acalapati semakin panik tapi Pangeran Lingga tidak ada.

__ADS_1


"Pangeran Lingga ... ! " Acalapati kembali menjerit.


Akhirnya Pangeran Lingga tetap tidak tahan untuk menerobos masuk dan memeluk istrinya.


Acalapati tetap menangis seperti anak kecil meskipun suaminya sudah mendekapnya erat.


Lingga cuma bisa memeluk Acalapati dan membisikan do'a.


"Aku bersamamu. "


Lingga terus menciumi Acalapati, mereka benar-benar bersama dalam momen yang sulit untuk dilewati. Acalapati terus memeluk suaminya, tidak ingin melepaskan meski rasa sakitnya perlahan mereda.


Benar-benar suatu keajaiban. Mengingat sebanyak apa darah yang sudah keluar dari tubuh Acalapati. Tetapi hasil USG mengatakan semuanya baik-baik saja.


Kenyataan yang sangat membahagiakan, mengingat sebesar apa keinginan Tuan Jaguar Ibrahim untuk segera menimang cucu kembali, setelah begitu banyak kehilangan.


Lingga langsung memeluk Acalapati untuk dia dekap. "Aku bersyukur kau dan anak kita baik-baik saja. " tegas Lingga.


Acalapati mengerjap agar dapat mendongak menatap suaminya.


"Kalian segalanya bagiku. Aku benar-benar mencintaimu."


Untuk beberapa saat rasanya Acalapati masih belum percaya dengan ucapan Pangeran Lingga tapi tiba-tiba matanya tertuju pada jubah putih Pangeran Lingga yang masih penuh noda merah, membuatnya menyadari Pangeran Lingga tidak pernah meninggalkan rumah sakit meski hanya untuk berganti pakaian.


"Pria yang mencintaimu tidak akan pernah meninggalkanmu seperti apapun kondisinya. "


Terkadang ujian memang datang untuk memberitahu sekuat apa cinta diantara pasangan.


****


Seseorang yang punya trauma di masa lalu itu susah untuk sembuh. Dia sulit percaya kalau dekat dengan seseorang, dia takut pada ingatan yang sudah terkunci dan tercemar dengan masa lalu yang pernah dilaluinya. Intinya seseorang yang punya trauma di masa lalu, cuma butuh di yakinkan bahwa semua akan baik-baik saja.


"Aku sendiri yang akan menghukum penjahat itu."


Acalapati masih syok tidak bergerak dan tidak tahu sebenarnya dia sedang bahagia atau harus bersedih. Ternyata Tuan Jaguar Ibrahim tidak pandang bulu, beliau tetap akan menghukum saudara iparnya sendiri jika terbukti bersalah.


"Ayah ... "


Mata Acalapati berkaca-kaca. Selama ini dia tidak pernah menunjukkan kelembutan hatinya pada siapapun termasuk pada Tuan Jaguar Ibrahim dan Yang Mulya Permaisuri. Tetapi mereka tetap memperlakukannya dengan lembut.


"Jangan cemaskan apapun, Putriku. " Tuan Jaguar Ibrahim mendekati Acalapati kemudian menyentuh perutnya.


Tuan Jaguar Ibrahim mengangkat dagu Acalapati agar mau menatapnya. "Kau putri kami, jantung kerajaan, kenyamanan mu adalah prioritas utama."


Acalapati langsung menghambur ke pelukan Tuan Jaguar Ibrahim, meluapkan perasaan lega yang tak terkira.

__ADS_1


Setangguh apapun penampilannya selama ini, nyatanya Acalapati juga hanyalah seorang anak gadis yang ingin bersandar pada dada kokoh seorang Ayah. Kini semuanya terwujud. Ia memiliki sosok suami yang selalu memprioritaskan dirinya, dia menjadi calon Ibu, dan mendapatkan kepercayaan masyarakat Jaguar.


Meski Acalapati harus hidup dilingkungan yang berbeda dari segi budaya dan kepercayaan, tapi selama ini Acalapati tidak merasa kesulitan.


Terlebih kini statusnya benar-benar telah menjadi seorang ratu dari sebuah kerajaan.


Sebenarnya manusia memang tidak bisa hidup semau dia sendiri dengan mengatasnamakan hak asasi, faktanya tetap harus ada batasan untuk melangkah agar tetap berada di jalan yang baik. Ibarat pagar di tepi jurang, batas itu harus ada untuk menjaga manusia sendiri agar tidak terperosok. Pemahamannya kurang lebih seperti itu, dan Acalapati tau itulah cara adat dan budaya seorang muslim.


Acalapati telah menjatuhkan pilihannya, memilih menganut kepercayaan sang suami. Pangeran Lingga pasti tidak akan mengijinkan istrinya berteman dengan laki-laki lain. Berbeda jika Acalapati masih memeluk agama kepercayaannya.


Menjadi seorang ratu, adalah sebuah predikat yang pastinya juga akan berat untuk di sangga oleh Acalapati, tapi dia sudah memilih jalan hidupnya, dan memilih menjadi seorang mualaf, mendampingi Pangeran Lingga yang sudah resmi di nobatkan.


Hidup memang pilihan. Acalapati sadar akan tanggung jawab serta perannya, sadar bagaimana harus menempatkan diri sebagai istri seorang pria berkedudukan.


Mungkin cukup berat bagi Tuan Aryan dan Ratu Rates melihat putrinya pindah keyakinan, tetapi bagaimanapun Pangeran Lingga jauh lebih berhak atas Acalapati.


Hidup dilingkungan istana bisa jadi seperti meja perjudian. Sebuah perputaran yang tidak bisa diduga. Kadang bisa membawa kemenangan besar, tapi lebih sering merenggut banyak taruhan. Jika sebuah kemenangan terletak pada siapa yang paling terakhir bertepuk tangan, maka roda permainan mereka mungkin baru saja akan mulai berputar.


Acalapati sedang meringkuk di dalam pelukan suaminya, saat tiba-tiba dia merasakan kembali terbangun di tubuh orang lain.


Dadanya terasa dihisap kuat dengan satunya lagi yang di tarik-tarik kecil. Tidak sakit tapi terasa asing. Matanya mengerjap dan menemukan seorang bayi mungil meringkuk di dekapannya, bibirnya menempel pada gumpalan dadanya yang lembut, menghisap kuat nutrisi dari sana, satu tangan mungilnya memainkan gumpalan lembut satunya.


Acalapati melihat dengan jelas lelaki yang terlelap di sampingnya dengan mata terpejam rapat dan bibir sedikit terbuka.


Senyumnya merekah bisa melihat kebahagiaan keluarga Sekar, tangan kekar Raden melingkar di pinggang Sekar yang sedang menyusui.


Dia menyaksikan keharmonisan keluarga modern itu, tetapi Acalapati tidak tertarik untuk kembali menepati tubuh Sekar. Apapun yang terjadi Acalapati ingin hidup mendampingi Pangeran Lingga, membersamai pria berkedudukan itu dalam suka maupun duka.


"Jangan pernah lupakan aku yang pernah berapa di dalam tubuhmu dan kita pernah berjuang bersama. " gunam Acalapati sambil kembali memejamkan mata.


Sebuah kecupan basah membangunkannya, Acalapati segera tersenyum melihat Pangeran Lingga telah siap dengan peci dan jubahnya.


"Maaf aku membangunkan mu, aku khawatir kamu akan menangis lagi jika aku hilang dari tempat tidur seperti kemarin."


Sejak usia kehamilannya memasuki enam bulan, Acalapati suka menangis tiba-tiba jika terbangun tanpa ada Pangeran Lingga di sisinya. Meski hanya pergi untuk beribadah ke masjid.


"Aku mencintaimu Pangeran Lingga. " ucap Acalapati dengan begitu santai, ciuman Lingga masih begitu terasa. Acalapati kembali memajukan bibirnya untuk dicium.


Lingga juga tidak keberatan kembali mencium istrinya.


"Jika aku sedang bermimpi, aku sedang tidak ingin bangun.. " Gunam Pangeran Lingga di atas puncak kepala istrinya yang baru dihirup dengan tarikan napas dalam. Tangannya mengusap lembut perut Acalapati yang membulat, jenis kelamin buah hati mereka sudah di ketahui, yaitu laki-laki. Membuat kebahagiaan mereka terasa semakin pekat, di tambah Acalapati yang mampu menemukan orang-orang yang terlibat dalam skandal pembunuhan Restu dan keluarga istana lainnya.


"Miliki aku Pangeran Lingga. "


"Akan tiba waktu subuh."

__ADS_1


"Sebentar saja." rayu Acalapati yang membuat iman Lingga runtuh seketika.


End.


__ADS_2