
Yuana sengaja menekan ekspresi wajahnya yang sangat tertarik dengan penawaran mengiurkan dan memasang ekspresi wajah sendu.
Tiba-tiba hatinya gamang dan mencelos.
"Jika aku menerima tawaran Nenek, itu berarti sama saja aku menjual kesetiaan dan cintaku." wajah Yuana terlihat tak berdaya. Sebelum kembali melanjutkan pengakuannya.
"Kami sudah melewati banyak hal, bahkan__"Setelah berhenti sejenak, dia tetap berkata dengan menyedihkan, "Kami sudah sangat dekat. Saya harap keadaan kami bisa membuka restu Nenek."
Jeda yang sengaja dilakukan itu seolah memiliki makna yang dalam, tentu saja Yuana melakukan dengan tujuan.
Aura wajah Fury mengelap. Alasan yang di ucapkan oleh Yuana bisa dimengerti olehnya dan itu sangat melukai harga diri keluarganya.
"Benarkah?" Fury mencibir. "Saya sangat jeli dalam memilih seseorang yang layak mendampingi Raden, karena pria itu memang buta dalam persoalan wanita."
Yuana memalingkan pandangan dari Fury, dia merasa seperti baru saja di tampar dengan sangat telak.
Fury membuka tas mahalnya dan mengeluarkan ponsel pintarnya untuk menghubungi seseorang. Dan ketika sebuah nama di sebut oleh mulut tua itu Yuana menggigil ketakutan.
Setelah memarkirkan mobilnya, Raden mengikuti langkah Sekar yang memasuki rumah. Raden baru ingin berbicara sesuatu ketika ponselnya tiba-tiba bergetar.
Raden mencerna ucapan sang Nenek. Buru-buru Raden pergi dari rumah bahkan tanpa mengucapkan sepatah katapun untuk Sekar.
Raden jadi was-was saat sang Nenek memintanya segera datang ke sebuah tempat makan yang bahkan baru saja di tinggalkannya. Pikiran Raden menemukan ada hal yang tidak beres.
Apa Nenek tau bahwa dia baru saja bertemu dengan Yuana? Ah, sial! Hatinya khawatir terus menerus sampai dirinya tiba di alamat yang di tuju.
Raden memejamkan matanya menikmati penyesalan yang tanpa permisi masuk kedalam hatinya.Saat matanya menatap sosok dua orang yang sedang duduk berhadapan. Raden menyalahkan diri sendiri mengapa tidak lebih hati-hati. Harusnya dia tau Neneknya akan terus mengawasi pergerakannya. Jika sudah seperti ini Raden merasa kembali melukai hati wanita kesayangannya itu.
"Duduk!" Nada perintah itu terdengar tegas. Begitu Raden sudah sampai dimana Fury dan Yuana tengah duduk. Raden tau Neneknya sedang kecewa dan marah.
Yuana sudah bergetar di tempatnya duduk. Dia sadar jika dia baru saja menggali kuburannya sendiri.
Fury memang bukan lawan yang sebanding. Wanita tua itu penuh rencana dan memang sangat tegas.
__ADS_1
"Sampai matipun Nenek tidak akan pernah memberi restu pada hubungan kalian. Tetapi semua sudah terjadi, untuk itu Nenek akan membiarkan kalian menikah"
Aura takut di wajah Yuana langsung memudar di gantikan binar bahagia yang kentara. Sementara Raden malah diam tanpa ekspresi.
"Raden, kau sudah melakukan kesalahan dengan tetap berhubungan diam-diam dengan wanita ini. Untuk itu seluruh harta yang ku miliki akan ku serahkan keseluruhannya kepada Sekar."
"Apa?" mata Yuana seperti akan lepas dari rongga nya. Yuana kaget dan merasa kagok juga tidak tenang. Tangan yang mengenggam ponsel pun terlepas, benda pipih itu pun terjatuh di lantai.
Apa artinya Raden tanpa harta kekayaan Fury?
Fury meninggalkan keduanya setelah mengatakan keputusannya. Meninggalkan dua anak manusia yang tiba-tiba kehilangan kekuatan untuk sekedar bicara.
Cukup lama hening. Hingga Raden berdiri.
"Aku sedikit lelah, aku pergi dulu"
"Ya, pergilah," kata-kata itu terucap lembut dari mulut Yuana, memberi kesan bahwa dia menyakiti diri sendiri.
Tangan Raden masih memegang gagang pintu. Dia tak kalah kagetnya dengan Sekar.
Dahi Sekar mengernyit. "Kamu? Kenapa kamu pulang?" Tanya Sekar.
Raden menetralkan detak jantungnya. Dilihatnya Sekar mengenakan pakaian tidur yang berbahan sutra. Karena kain itu menerawang Raden bisa melihat sesuatu yang tersembunyi. Dan sepertinya Sekar memang sedang tidak memakai apa-apa di balik piyama tidurnya.
Mata Raden berkilat. Sepersekian detik Sekar menyadari sesuatu. Dengan gerakan secepat cahaya Sekar langsung menutup pintu kamarnya membuat Raden terhuyung kebelakang dan jatuh mengenaskan.
'Bugh!'
Raden meringis dengan dramatis.
Rasa ingin tahu manusia memang tinggi. Semakin mereka tidak tahu, semakin mereka merasa penasaran. Semakin mereka merasa penasaran, semakin banyak spekulasi yang akan muncul!
Itu juga yang sedang tengah dirasakan Raden. Semakin lama dia dibuat semakin penasaran dengan perubahan istrinya. Wanita itu terlihat semakin menarik setiap harinya.
__ADS_1
Bahkan Raden dibuat lupa oleh ancaman Neneknya hanya karena melihat Sekar yang .... Indah.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
Dokter kembali menghela napas. "Pangeran Lingga, apakah anda pernah berpikir untuk menyerah? Obat-obatan yang digunakan Putri Acalapati di impor dari luar negeri, tidak hanya mahal tetapi sulit didapat, sedangkan tidak ada kepastian dari pengobatan ini"
Tatapan Pangeran Lingga menyorot pada seorang gadis yang terbaring di dalam keadaan koma. "Istri saya masih hidup, bagaimana saya bisa menyerah? Uang bukan masalah untuk saya, saya percaya pada keajaiban Tuhan." Pangeran Lingga menarik napas dalam-dalam. "Teruslah berikan perawatan yang terbaik. Temukan cara untuk membuat Putri Acalapati bangun dari tidur panjangnya."
Dokter itu mendengarkan. Dia hanya bisa mencibir dalam hati. Untuk apa melakukan banyak hal untuk orang yang memiliki perangai buruk?
Kedua orang tua Pangeran Lingga mulai cemas. Sudah hampir dua pekan Pangeran Lingga mengabaikan tugas-tugasnya. Merawat Putri Acalapati tidak bisa di gunakan sebagai alasan. Karena gadis itu sama sekali tidak berharga di mata semua orang.
Dimata semua orang Kematian akan lebih baik bagi Putri Acalapati yang kejam. Ataukah ini justru hukuman yang setimpal untuk wanita sombong yang sudah menyakiti banyak orang.
☘️☘️☘️☘️☘️
Akibat dorongan yang tiba-tiba, Raden jatuh mengenaskan di lantai. Tetapi bukannya marah pria itu malah tersenyum.
"Sekar, Buka pintu!"
Sekar kesal begitu suara Raden terdengar. Mengapa pria itu malah pulang? Biasanya Raden akan menghabiskan waktu bersama kekasih hatinya, tanpa sedikitpun memiliki waktu untuk pulang.
Andai Sekar memiliki tempat yang lain untuk pulang. Tau siapa orang tuanya dan dimana mereka tinggal. Pasti Sekar tidak akan sedih dan takut akan terlunta-lunta ketika bercerai dari Raden.
Sekar tau pantiasuhan tempatnya tinggal dulu kini hanya tinggal kenangan. Sebuah bangunan Mega proyek telah menggusur panti tempatnya dulu di besarkan.
"Sekar, aku mau mandi."
Dengan malas Sekar membuka pintu.
Ketika pintu kamar terbuka Raden masih melihat Sekar yang masih mengenakan baju sutranya yang jatuh lembut membalut lekuk tubuhnya yang bohay, hanya saja sesuatu yang di dalam sudah terbungkus dengan penutupnya.
Raden melirik istrinya. Wanita itu masih bersikap dingin seperti bongkahan es batu. Entah kemana Sekar yang selalu murah senyum. Namun Raden justru tertarik dengan sikap Sekar yang seperti ini.
__ADS_1