
Hari berkabung itu semestinya tiga bulan lamanya. Maka dengan itu, penobatan Pangeran Lingga pun harus tertunda.
Benar-benar rencana yang luar biasa. Entah siapa musuh dalam Istana Jaguar, tapi yang jelas orang itu sengaja membunuh anggota keluarga kerajaan, bermaksud untuk menunda waktu penobatan Pangeran Lingga.
Pangeran Lingga belum mendapatkan kabar akurat dari segala penyelidikan yang tengah ia lakukan. Entahlah!
Sepertinya ada orang dalam yang membuat penyelidikan itu terus menerus gagal, seolah jalan di tempat, sama sekali tidak ada kemajuan.
"Kau harus bertindak, Lingga!" suara Tuan Jaguar Ibrahim memenuhi ruangan. "Mereka membunuh saudaramu!" Diantara mereka yang berduka, tetap Tuan Jaguar Ibrahim yang histeris. Meskipun sudah beberapa hari berlalu, dia sampai sekarang masih harus mendapatkan infus dan bantuan oksigen untuk bernapas karena kondisinya benar-benar sangat buruk. Yang Mulya Permaisuri terus mendampingi tanpa lelah.
Pemberitaan kematian, ke tujuh anggota kerajaan dan di tambah calon bayi langsung memenuhi berbagai media. Banyak simpati yang datang dari berbagai kalangan.
Dalam kondisi buruknya Tuan Jaguar Ibrahim sendiri ikut mengangkat tandunya dan menurunkan tubuh anak-anaknya ke tempat peristirahatan terakhirnya. Mereka dimakamkan di makam anggota kerajaan, untuk para selir di pisah lokasinya.
Kala itu, Putri Acalapati hanya bisa menyaksikan dari siaran langsung televisi karena Pangeran Lingga tidak mengizinkannya untuk keluar. Sebagian orang kuno berpikir, Acalapati adalah sumber bencana, atau di sebut juga wanita pembawa sial.
Meski begitu, Pangeran Lingga tidak membiarkan Acalapati memikirkan perkataan orang, tidak boleh merasa terpuruk. Meski sebenarnya Acalapati memang sedang merasa buruk, karena nyata dia tahu kematian mereka semua karena terbunuh, tapi sampai sekarang dia belum mampu menuntut keadilan untuk mereka.
Malam ini Pangeran Lingga berniat pergi ke Mataram, tetapi hati Acalapati tidak mengizinkannya.
"Aku berjanji ini hanya sebentar. Aku ingin menemui Putri Arimbi karena ada yang ingin kami bahas."
Acalapati menyapukan ujung hidungnya ke dagu suaminya untuk membujuk, kemudian turun untuk menciumi dadanya yang hangat dan harum.
"Oh, Aca .... "
Acalapati masih menekuni aksinya.
"Baiklah, aku tidak jadi pergi."
__ADS_1
Akhirnya Pangeran Lingga menyerah dan Acalapati langsung menengadah untuk terseyum dan kembali mencium.
"Jangan mengeluh karena kau yang minta."
Tubuh Acalapati di angkat untuk Lingga gendong seperti anak kecil yang juga langsung melingkarkan kaki di pinggangnya. Lingga juga mengangkat Acalapati yang memekik geli oleh sapuan janggut dan rahang kasar suaminya yang terus menciuminya.
Kadang Lingga merasa lucu melihat tingkah mereka seperti ini, tetapi dia juga selalu ingin begitu.
****
Putri Arimbi mengerjapkan mata perlahan sambil mengedarkan matanya ke sekeliling ruangan. Ia langsung terbangun ketika kesadarannya telah pulih. Harusnya ia berada di sisi Pangeran Lingga dan menciptakan suasana panas. Tapi tiba-tiba ia sudah tertidur lelap di kamarnya bersama Restu tanpa ia sadari. Apa yang terjadi semalam?
"Apa-apaan Kalian?" Nada marah itu langsung terdengar sangat lantang.
Belum pulih dari keterkejutannya, pintu sudah terlepas dari engsel nya.
Putri Arimbi masih syok, karena ini tidak sesuai rencananya. Bagaimana bisa senjata makan tuan seperti ini?
Tetapi tidak ada yang mendengar kan. Bagi pezina yang ketahuan, hukumannya sangatlah berat.
Putri Arimbi menyambar apa saja untuk menutupi tubuh polosnya, sebelum tubuhnya di seret paksa untuk di adili di istana Jaguar. Demikian juga Restu, yang masih tak bisa berkutik sama sekali. Restu hanya nurut ketika lengannya di seret oleh ketiga pria bertubuh kekar.
Sampai di istana Jaguar. Arimbi dan Restu di seret si hadapan semua orang, seolah sengaja di pertontonkan.
Putri Arimbi terus berusaha meronta dan berteriak tapi tidak siapapun dari pengawal-pengawal bertubuh besar itu yang perduli apa lagi berbelas kasih.
"Pangeran Lingga .... Tolong!!" Arimbi terus berteriak, tetapi Pangeran Lingga tidak mendengarnya.
"Yang Mulya Permaisuri!!!"
__ADS_1
"Pangeran ... !!"
Restu dan Arimbi di adili di lapangan. Karena jika di dalam istana, mereka tidak bisa di satukan, aturan istana tidak membolehkan laki-laki dan perempuan bercampur baur.
"Tidak!" Arimbi menjerit saat rambutnya di Jambak oleh para pengawal wanita yang tubuhnya begitu besar layaknya seorang pria. Lutut Arimbi sudah terluka karena goresan lantai dan sudah mulai lelah untuk terus berteriak.
Dia sudah hampir limbung, saat tiba-tiba Pangeran Lingga datang bersama seorang dokter wanita.
Hati Putri Arimbi berbunga-bunga. Merasa pembelaan akan segera datang untuknya. Sayangnya, hal itu tidak sesuai dugaan, dengan langkah Pangeran Lingga berhenti, bersamaan pula bibir pria itu berucap.
"Lakukan pemeriksaan, dia benar-benar hamil atau tidak?" titah Pangeran Lingga yang seketika membuat tubuh Arimbi lemas tak bertenaga.
Dari jarak yang lumayan jauh. Ada sepasang mata tengah menyaksikan apa yang sedang terjadi. Dia adalah Acalapati. Yang terus menikmati tontonan geratis yang sebenarnya hasil dari upayanya.
Cukup sudah kebebasan yang mereka dapatkan, mata dibayar dengan mata, nyawa dengan nyawa. Acalapati tidak ingin ada lagi korban jiwa, cukup sudah. Diam-diam Acalapati meminta Ayahnya mengirimkan pasukannya, mudah bagi orang yang hendak menyamar di lingkungan istana, karena pria dan wanita wajahnya tidak terlihat terang-terangan.
"Ini bukan akhir, tapi ini adalah awal peperangan." Gunam Putri Acalapati lirih.
#####
Maaf sekali ya reader...
Beberapa hari ini Novel Sang Pemilik tidak update.
Kemarin-kemarin author sedang sibuk banget, jadi tidak sempat update.
Musim hujan reader..
jaga kesehatan ya..
__ADS_1
Happy reading ❤️❤️❤️