
Hal mulia yang dilakukan oleh Putri Acalapati adalah bersedia menikah dengan Pangeran Lingga Mahasura. Walau sebenarnya hati kecilnya menolak perjodohan itu karena perkataan Pangeran Lingga yang menyinggung harga dirinya.
Hari pernikahan mereka tiba. Pernikahan megah yang sudah di atur oleh kedua penguasa membuat setiap bibir berdecak kagum, setiap mata terpesona dengan keindahan dan kemegahan resepsi pernikahan Pangeran Lingga dan Putri Acalapati.
Tetapi kesuraman justru melingkupi hati sepasang anak manusia yang menjadi titik pandangan semua orang yang hadir.
Putri Acalapati dengan tatapan angkuhnya tidak sedetikpun sudi menatap mata lelaki yang baru saja mengikatnya dengan ritual pernikahan. Begitu juga Pangeran Lingga yang terlihat masa bodoh dengan kehadiran Putri Acalapati di sampingnya. Mata hitam kelam milik Pangeran Lingga terus menatap teduh pada sosok wanita yang masih memiliki gelar sepupu dengannya. Gadis manis yang bernama Arimbi yang terlihat menyedihkan di tengah pesta megah nan menawan.
Putri Acalapati merasa jengah, dia merasa lelaki disampingnya begitu menyebalkan. Terang-terangan Pangeran Lingga memperlihatkan keperduliannya terhadap wanita lain, sementara ada dia yang masih berdiri di sampingnya.
Putri Acalapati lebih murka saat dia mengetahui bahwa Pangeran Lingga tidak mau satu kamar tidur dengannya. Amarah Putri Acalapati tak terelakkan. Dia bersumpah tidak akan melembutkan hatinya pada Pangeran Lingga, dia menanamkan rasa benci dihatinya untuk pria yang membuatnya jatuh cinta pada pandangan pertama. Dia akan pergi meninggalkan Lelaki itu ketika Pangeran Lingga sudah naik tahta, dan akan pergi dalam keadaaan sama, sampai waktunya tiba.
Sekar membekap mulutnya saat memory itu menghantam ingatannya. Dia menyadari bahwa dia memang pernah hidup menjadi Putri Acalapati, Sekar menangis, kehidupannya tidak berubah, tidak menjadi Putri Acalapati ataupun menjadi Sekar dia tetap terjebak dalam pernikahan tanpa cinta. Bedanya jika Putri Acalapati mau menikah dengan Pangeran Lingga karena berniat melindungi lelaki itu, sementara Sekar mau menikah dengan Raden karena menyenangkan hati Neneknya.
"Sekar, sepertinya kita harus pergi ke rumah sakit"
Raden tidak bisa menutupi kekhawatirannya, melihat Sekar yang menangis tersedu-sedu membuat pikiranya berkecamuk, Sekar sakit. itu yang ada di benaknya.
Sekar juga tidak bisa mengatakan apa-apa. Hatinya sakit, dia butuh pelampiasan, bahkan sampai dia di bawa kerumah sakit oleh Raden Sekar masih menangis walaupun hanya tersisa Isak lirih.
"Dokter apa ini semua ada hubungannya dengan diet yang dijalani istri saya?"
Puluhan kali Sekar mendengar pertanyaan Raden pada Dokter yang sedang memeriksa tekanan darah nya. Sekar tau jika Raden benar-benar merasa khawatir padanya. Tapi untuk apa jika sebentar lagi mereka bukan siapa-siapa.
"Tolong Dokter. Beri istri saya nasehat agar tidak memaksakan diri untuk menurunkan berat badan!" Raden seperti anak kecil yang merengek pada ibunya.
"Tenang Pak. Ibu Sekar hanya kelelahan" Dokter wanita itu menghampiri Raden yang sedari tadi mengoceh. "Setelah ini Ibu bisa beristirahat di rumah!"
Pulang dari rumah sakit, Raden membawa Sekar kembali kerumah mereka, sebelumnya dia juga sudah memberi kabar kepada Fury bahwa mereka akan langsung pulang supaya Sekar langsung bisa beristirahat.
__ADS_1
Sepanjang perjalanan Sekar tengelam dalam pikirannya sendiri. Raden hanya mencuri pandang sambil menyetir mobilnya.
Sampai dirumah. Sekar juga langsung masuk kamar untuk tidur. Tidak ingin membahas apapun pada Raden.
Raden menatap layar ponselnya yang menampilkan puluhan panggilan tak terjawab. Nama Yuana tertera di sana.
Raden memang sudah berjanji akan segera menemui Yuana setelah makan malam. Tetapi saat ini rasa enggan tiba-tiba saja membelenggu.
Meletakkan ponselnya, Raden memilih menyusul Sekar yang terlelap di atas tempat tidur, perlahan Raden merebahkan tubuhnya di samping Sekar, sedikit bergeser untuk merapatkan tubuhnya ke samping wanita yang sejak tadi membuatnya gelisah.
Cantik
Raden melihat Sekar begitu cantik di saat terlelap tidur, bibir Sekar begitu ranum sangat memikat untuk di sentuh.
"Sekar" tiba-tiba seluruh tubuh Raden memanas, bagaimanapun dia dan Sekar sudah terikat dalam hubungan yang sakral, penyatuan mereka bukanlah sebuah dosa.
"Hmmm ..."
"Oh ..." sebuah lenguhan lembut terlepas dari bibirnya dengan kelopak mata yang masih terpejam.
Sekar menjerit sampai napasnya tersengal-sengal, jantungnya ikut berdenyut kencang. Sekar terbangun dengan basah keringat serta linglung ketika melihat dia hanya seorang diri.
Sepertinya Raden memilih pergi menemui Yuana dari pada menemaninya yang notabene nya masih istrinya.
Sekat tersenyum kecut, kecantikan pasti akan lebih memikat para pria.
Sekar segera meraih gumpalan selimut yang kusut berantakan, kemudian di merentangkan nya dengan bantuan kaki, menjulur hingga mata kaki sampai bagian dada.
Hari sudah terang benderang ketika Sekar membuka matanya. Sekar segera turun dari ranjang untuk melihat keluar jendela. Ternyata belum terlalu siang, semua masih tampak sepi tanpa kegiatan.
__ADS_1
Sekar tidak mau memikirkan Raden yang tidak mungkin perduli pada gadis seperti dirinya.
Sekar pergi ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya terlebih dahulu, mengambil handuk yang tersedia di rak samping wastafel tidak sengaja melihat pantulan dirinya di cermin dia terkejut saat menemukan jejak kemerahan di sekitar lehernya, mencoba meraba itu tidak seperti ruam atau semacam gigitan serangga, buru-buru Sekar melepas pakaiannya untuk memeriksa seluruh tubuhnya, berpikir jika dia mungkin alergi sesuatu. Sekar semakin terkejut saat menemukan hal yang sama di pangkal pahanya, tapi itu lebih seperti lebam. Sekar tidak ingat kapan pahanya terbentur sampai ada lebam seperti itu. tetapi bisa jadi itu kejadiannya waktu semalam dia mimisan dan di larikan ke rumah sakit.
Tetapi mengapa lebam itu tidak menimbulkan rasa sakit saat di sentuh?
Selesai mandi dan berpakaian, Sekar segera keluar dari kamar. Baru saja Sekar menuruni anak tangga dia sudah melihat Raden yang baru saja masuk kedalam rumah.
Brengsek!
Sekar menyembunyikan kekesalannya pada lelaki itu. Bagaimana tidak kesal jika memiliki suami yang lebih mementingkan wanita lain ketimbang istrinya. Apakah Sekar cemburu?
Sekar hanya marah karena merasa keberadaannya sama sekali tidak di hargai.
" Kamu membutuhkan sesuatu?" tanya Raden dengan nada tegas.
"Aku lapar" tidak mau bertele-tele Sekar langsung berterus terang.
Sekar tidak tau jika Raden tidak pernah benar-benar pergi dari rumah seperti dalam pikirannya.
"Makanan sudah tersedia. Ayo"
Sekar malah bengong mendengar Raden mengajak nya makan dengan santai.
Uluran tangan Raden tidak segera di sambut oleh Sekar membuat Raden kembali menoleh kearah wanitanya.
"Apa kau membutuhkan sesuatu yang lain juga?"
Sekar masih berdiri kaku seperti batu arca. "Bisakah kau membeli racun serangga? Aku rasa banyak serangga yang menjadi penghuni kamar, mereka meninggalkan banyak jejak di tubuhku"
__ADS_1
Kini giliran Raden yang mematung mendengar perkataan Sekar.