Sang Pemilik

Sang Pemilik
Bab 25


__ADS_3

Putri Acalapati duduk dihadapan Ibunya.


"Lingga menitipkan permintaan maafnya kepada Ibu. Dia ingin melakukannya kepadamu tapi kamu sedang tidak dalam kondisi baik."


"Jadi semalam Pangeran Lingga sungguh datang?"


"Ya, dia sangat mengkhawatirkan keadaan mu, dia menyesali apa yang sudah terjadi, dia segera meninggalkan Acalapati karena ada masalah di istana Jaguar."


"Ibu memaafkannya?"


"Yang dikatakan Lingga benar, kamu sudah dia nikahi dengan keyakinannya, untuk berpisah harusnya memenuhi syarat dari ketentuan agama yang di anut oleh Lingga."


"Bagaimana dengan Ayah?"


"Sekeras apapun hati Ayahmu, dia hanya ingin yang terbaik untukmu."


"Jadi Ibu, aku harus bagaimana?"


"Turuti apa yang kamu inginkan. Jika kamu merasa perpisahan lebih baik Ibu akan tetap mendukungmu, tapi Putri. Ketika Pangeran Lingga memilihmu untuk menjadi istrinya dia pasti mengharapkan suatu kebaikan darimu."


Yang Mulya Rates menatap kepergian putrinya dengan senyuman. Melihat bagaimana Lingga rela memohon untuk membawa Putri Acalapati untuk pulang bersamanya. Yang Mulya Rates yakin bahwa sejak malam itu Lingga sudah menaruh hati pada Acalapati


Yang Mulya Rates langsung meninggalkan aula wanita dan pergi menemui Tuan Aryan.


"Aku sudah salah. Aku tidak mungkin akan membuka hatiku untuknya," Acalapati masih terus merenung dengan hatinya sendiri.


Nija dari kejauhan, berhenti melangkah ketika melihat Putri Acalapati hanya diam terpaku dengan busur panah di tangannya dan tidak segera membidik tepat sasaran. Nija segera mendekati Putri Acalapati. Dia harus memberi tau perihal penting.


Nija diam di belakang, setelah Acalapati menurunkan busur panahnya Nija baru membuka suaranya.


"Anda sepertinya kurang sehat. Bagaimana jika anda beristirahat. Biar saya membantu memijit."

__ADS_1


Acalapati perlahan menolehkan kepalanya. Dia menatap Nija. "Apa aku terlihat tidak sehat?"


"Maaf jika saya salah Putri." jawab Nija sambil menundukkan kepalanya.


☘️☘️☘️☘️☘️


Tidak ada pelayan yang boleh mendekati kamar Putri Acalapati selain Bibi Zur. Restu menemui Zur atas perintah Pangeran Lingga. Dia memerintahkan Restu agar selalu memberikan pelayanan terbaik untuk Putri Acalapati begitu dia kembali.Tidak boleh ada pelayan lain yang boleh mendekati Putri Acalapati, Pangeran Lingga ingin menghentikan rumor tentang kekejaman istrinya.


Restu senang. Restu mempersiapkan keperluan Putri Acalapati lewat Bibi Zur. Bibi Zur juga sangat tidak keberatan jika akan menjadi pelayan setia Putri Acalapati, melihat kejadian kemarin Zur merasa ada yang salah dengan rumor yang beredar.


"Kenapa kau bersemangat sekali dengan ini? Apa kau mulai menyukainya?" Restu merasakan sesuatu yang aneh dengan sikap Zur, dia biasanya akan mendumel ketika menyangkut urusan yang bersangkutan dengan Putri Acalapati, tetapi ini justru sebaliknya. Sepertinya Restu harus segera mencari tau apa yang membuat Zur berubah?


Di istana Jaguar sebagain orang tengah sibuk mempersiapkan segala sesuatu untuk menyambut kedatangan Putri Acalapati. Sebagian juga sibuk menyusun rencana untuk menggagalkan pelantikan Pangeran Lingga. Sistem dunia memang seperti itu, semua berjalan berlainan arah.


Zur kaget melihat kedatangan Putri Acalapati yang tiba-tiba. Bukankah baru saja direncanakan untuk menjemput sang Putri setelah usai sholat Jum'at?


Zur sangat menyayangi Pangeran Lingga, dia tidak rela jika Pangeran Lingga menikahi Arimbi. Meski wanita itu tampak lemah lembut, tetapi Zur merasa itu hanya sebuah kepura-puraan. Kini dengan gila Zur malah berdoa Putri Acalapati bisa benar-benar jatuh cinta pada suaminya.


Zur baru saja akan menyambut kedatangan Acalapati saat dari arah berlawanan Putri Arimbi juga masuk kedalam istana dan berpapasan dengan Putri Acalapati.


Acalapati berjalan acuh tanpa menghiraukan siapapun yang berpapasan dengannya. Tetapi itu sepertinya mengusik ketenangan Putri Arimbi.


"Aku adalah Putri Arimbi, sepupu kesayangan Pangeran Lingga. Ingatlah, jika hanya diriku yang akan menjadi ratu dalam istana ini." Penegasan yang Arimbi berikan sama sekali tidak membuat Acalapati menghentikan langkahnya.


"Kau sebentar lagi akan dibuang. Lingga tidak pernah suka dengan wanita kasar seperti mu"


Acalapati masih menarik napasnya untuk membuatnya sedikit segar kembali. Acalapati sangat tertekan menghadapi apa yang setiap hari dia terima. Rasa trauma itu terus menghantuinya. Bagaimanapun juga, dia hanya seorang wanita.


"Aku akan membuat rakyat memihak ku."


"Jika hanya melihat kubangan air saja kau sudah sangat takut akan terkena kotor jika pakaian yang kau kenakan itu sampai masuk kedalamnya, bagaimana dengan rakyat yang tidak hanya kotor tempatnya bermukim tetapi juga fisiknya? Kau yakin tidak akan jijik?"

__ADS_1


Setelah lama hanya diam akhirnya Acalapati buka suara.


"Apa maksudmu?"


"Ratu adalah milik rakyat, jadi harus bisa merakyat."


"Omongan mu sangat berbanding terbalik dengan sikap mu yang gemar menyakiti orang." tuding Arimbi.


"Aku tidak berbicara tentang ku, aku bicara tentang seorang pemimpin, lebih tepatnya menjadi istri penguasa harus bisa mengemban tanggung jawab."


Arimbi tertawa, tawa yang seolah-olah menghina Acalapati.


"Kau iri karena Pangeran Lingga lebih memilihku bukan? Kasian kau akan menjadi wanita yang terbuang."


Kini tawa Acalapati yang terdengar.


"Bersama Pangeran Lingga ataupun tidak, Aku sudah di takdirkan untuk menjadi seorang penguasa."


Arimbi langsung bungkam mendengar ucapan Putri Acalapati. Kenyataannya Acalapati memang Putri kerajaan. Kekayaan kerajaan Acalapati juga tak kalah dengan kerajaan Jaguar. Bahkan mungkin lebih.


Sejak kembali ke istana Jaguar Pangeran Lingga tidak bisa memejamkan kedua matanya. Dia sudah tidak sabar untuk menjemput sang istri. Dia ingin sekali melihat bagaimana kecantikan itu mampu menyihirnya, membuatnya lupa akan kekejaman si pemilik rupa. Semalam dia semakin terpana. Di dalam kamarnya sendiri dia sangat tidak tenang. Akhirnya dia memilih melihat persiapan penyambutan Putri Acalapati sebelum dia akan pergi membawa kembali istrinya.


Pangeran Lingga tidak bergeming di lorong yang akan membawanya pada pintu terakhir menuju kamar Putri Acalapati. Di sana dia melihat dua wanita yang sangat dikenalnya sedang berdiri bersisihan, terdengar tawa dari istrinya dan ucapan menohok yang di ucapkan Acalapati pada Arimbi.


"Kau menghina asal usul ku?" Arimbi berdesis penuh amarah.


Acalapati tidak menjawab dan memilih melanjutkan langkah kakinya. 'Benar kata Ibu menjadi orang baik adalah musuh banyak orang.' batin Acalapati.


Merasa kesal pertanyaan tidak di jawab. Arimbi akan menghampiri Acalapati, tetap Zur yang melihatnya segera menghadang.


"Maaf Putri Arimbi, Anda sudah di tunggu Yang Mulya Permaisuri di aula."

__ADS_1


Pangeran Lingga masih memperhatikan Acalapati yang tak sedikitpun menolehkan kepalanya, dia tetap berdiri dan menatap lurus kedepan, kain halus menutupi wajah cantiknya, meski dia beda keyakinan sepertinya belum pernah wanita itu meminta apapun tentang ritual keagamaannya atau kepercayaannya. Termasuk Acalapati yang tak banyak mengatakan apapun tentang apa yang dia percayai.


Pangeran Lingga tersadar dari lamunannya. Bagaimana bisa Acalapati sudah disini?Sementara dia belum menjemputnya?


__ADS_2