
Pangeran Lingga datang ke istana Muria, setelah usai menghadiri rapat eklusif, Putri Arimbi tiba-tiba memintanya untuk mengantar pulang, padahal bisa saja Arimbi meminta kepada yang lain mengantarkannya, tetapi dia memilih menunggu Lingga.
"Ibu berharap Anda singgah sebentar." Ucap Arimbi dengan senyum manis.
Karena tidak ingin di anggap kurang sopan Lingga ikut masuk kedalam istana Muria.
Ibu dari Putri Arimbi terkejut melihat Arimbi sedang berjalan memasuki istana. Dia langsung memanggil Pangeran Lingga untuk bergabung.
"Kemarilah. Pangeran, Bibi rindu."
Pangeran Lingga tidak bisa menolak tawaran Bibinya. Arimbi ikut bergabung duduk dengan mereka.
"Bagaimana kabarmu, Pangeran?" basa-basi itu di tanggapi dengan senyum dan jawaban singkat oleh Lingga.
Obrolan ringan tiba-tiba saja memberat.
"Jika Putri Acalapati tidak segera mengandung dalam tempo empat bulan, kau tetap bisa memilih istri senior yang lain." Ibu Arimbi melirik kearah putrinya.
"Bukankah kalian dekat? Kalian terlihat sangat serasi." ujarnya lagi mulai mempromosikan Arimbi.
"Pangeran, setahun bukan waktu yang pendek bagi rakyat, seharusnya kabar calon penerus sudah ada, Kami sangat tau keadaan nya, tetapi bagaimana dengan masyarakat? Kau tetap bisa kembali memilih wanita yang lebih baik, dan pastinya seiman."
Semua orang berpikir jika Lingga tidak akan Sudi menyentuh istrinya yang non muslim se cantik apapun wanita itu pernikahan mereka hanya sandiwara politik.
"Banyak yang tidak menyukai jika penerus kerajaan Jaguar terlahir dari wanita bar-bar. Bibi juga harus menyetujui anggapan itu." provokasi terus di bisikkan oleh Ibu Arimbi.
"Bibi, Kami sedang mengusahakan agar penerus kerajaan Jaguar segera hadir. Tolong doakan." Maida Ibu Arimbi langsung bungkam tidak bisa bicara mendengar ucapan Pangeran Lingga.
Tetapi dalam hati dia tetap mempercayai jika yang di ucapkan Lingga adalah upaya lelaki itu menyelamatkan nama pernikahan mereka.Ya hanya seperti itu.
☘️☘️☘️☘️☘️
Pangeran Lingga baru saja tiba di istana Jaguar saat mendengar berita dari Restu.
Segalanya lancar dan Lingga sudah memerintahkan apa saja yang esok harus di kerjakan oleh Restu.
"Apa hari ini dia tidak berulah?" Tanya Pangeran Lingga.
__ADS_1
Restu segera paham 'dia' yang dimaksud Pangeran Lingga adalah Putri Acalapati.
"Hari ini saya mendengar Putri pergi ke dapur istana untuk memasak, Koki dapur mengatakan tangan Putri terkena bara api saat ingin membuat makanan yang dia inginkan, jadi Putri tidak lama berada di dapur." jelas Restu yang membuat Lingga termenung.
"Apa parah?"
"Maaf Pangeran, Putri Acalapati tidak mau di lihat siapapun, dan melihat Zur yang selalu menemaninya saya pikir tidak terlalu parah."
Dalam hati Pangeran Lingga berdecak kesal, ceroboh sekali pergi ke area dapur, sebagai anak semata wayang sudah pasti Tuan Aryan melimpahkan segalanya, mana mungkin putri manja seperti Acalapati bisa memasak. Lingga pikir mungkin luka bakar itu tak seberapa, atau mungkin justru sangat kecil hanya terkena hawa panas bukan bara sesungguhnya.
"Terimakasih, kau boleh beristirahat."
Restu membungkuk sebentar dan pamit undur diri.
Pangeran Lingga melangkah menuju kamar istrinya, saat di depan pintu dia bertemu Zur.
"Bagaimana dengan lukanya?" tanya Pangeran Lingga langsung.
"Maaf Pangeran, Putri Acalapati tidak ingin saya melihat lukanya." Jawaban Zur membuat hari Pangeran Lingga semakin lega.
Putri Acalapati sedang menatap jendela dengan sendu saat Pangeran Lingga masuk kedalam kamar.
Lingga segera mandi untuk menghilangkan keringat yang menempel di tubuhnya. Tiga puluh menit kemudian Lingga keluar dari bilik kamar mandi, keduanya masih membisu, tapi lingga menemukan pakaiannya sudah berada di atas tempat tidur.
Lingga melirik istrinya yang tak acuh, tetapi ternyata wanita itu mau menyiapkan kebutuhannya.
Sebenarnya Acalapati juga tidak tau mengapa dia malah mau menyiapkan pakaian lelaki itu, padahal sebelumnya dia ingin marah saat tau sebagian lemarinya di isi oleh pakaian pria itu. Tapi yang terjadi malah sebaliknya.
Saat tadi dia melihat Lingga masuk kamar mandi, dia seperti pernah mendapatkan kilasan wanita yang tengah menyiapkan pakaian untuk laki-laki yang tinggal saru rumah. Entah kilasan apa,? tetapi dia merasa dia pernah berbuat seperti itu.
Lingga sudah memakai pakaian yang disiapkan Acalapati saat melihat Acalapati menyimpan tangan kanannya di balik punggung
"Ku dengar tanganmu terluka?" Tanyanya kemudian, saat dia mendaratkan bokongnya di atas kasur.
"Iya, dan karena ini aku tidak bisa keluar malam ini, di tambah sekarang kau tinggal di kamar ini. Dasar menyebalkan." Jawaban yang ingin sekali Acalapati berikan pada Lingga, sayang dia tidak mengatakannya.
Bukannya menjawab, Acalapati malah beringsut mundur, semakin menyembunyikan tangannya.
__ADS_1
Lingga menyipitkan kedua matanya.
Lingga berpikir jemari itu pasti luka sedikit. Mungkin hanya satu sentimeter, tapi wanita itu sudah bertindak seakan ibu jarinya menghilang sampai di sembunyikan seperti itu.
Lingga menarik napas. Ia juga tidak rela jika jemari lentik dan putih kemerahan itu sampai melepuh.
"Duduk di sini," Lingga menepuk bibir tempat tidur. "Coba saya lihat," kata Lingga, mencoba meraih tangan kanan yang di sembunyikan Acalapati di balik punggung.
"Tidak apa-apa, hanya merah saja." Acalapati ngeles dan masih bersikeras untuk menyembunyikan tangannya.
"Akuu mau lihat." Lingga sudah berlutut di depan Acalapati untuk melihat jemari istrinya.
"Kemarikan! Ini perintah." Lingga tetap lebih dominan.
Lingga mendongak untuk melihat wanita yang keras kepala itu.
Lingga berdecak dan menarik paksa tangan Acalapati dan saat itu Acalapati langsung memekik tertahan.
Lingga tercekat melihat kain yang melilit telapak tangan putih itu, dia harap-harap cemas melonggarkan lilitan kain itu dengan hati bergemuruh, dia berdoa itu hanya luka kecil.
Sementara Acalapati sedang menahan nyeri yang teramat sangat, sentakan Lingga terlalu tiba-tiba yang membuat tangannya yang terluka seperti di kuliti. Sangking sakitnya dia mengigit bibirnya kuat-kuat. Tetapi tak disangka air matanya malah jatuh ke bawah mengenai tangan Lingga.
Doble kaget untuk Lingga. Bagaimana tidak mendongak mendapati istrinya menangis, menunduk melihat luka bakar yang cukup parah. punggung tangannya tampak lembab , tengahnya seperti menghitam dan pinggiran luka itu berwarna putih.
"Apa-apaan ini?"
Acalapati kaget melihat reaksi Lingga, jantungnya berdebar karena teriakan pria itu. Lingga langsung berdiri dan berkacak pinggang.
"Pelayan!!!" Kali ini teriakan lingga tak kalah keras.
Zur muncul dengan tergopoh-gopoh.
"Ya, Pangeran!"
Kemarahan Pangeran Lingga begitu kentara membuat diam-diam Zur merasa ketakutan. Menduga-duga Acalapati sudah membuat lelaki ini tersinggung.
"Kau ku tugaskan untuk menjaga istriku, bukan? Kenapa istri ku bisa terluka separah itu? Apa gunanya puluhan bahkan ratusan pelayan jika menyiapkan makanan untuk istri ku saja tidak becus?"
__ADS_1
Zur kaget. Lebih kaget lagi Acalapati yang mendengar Lingga beberapa kali menekankan dia sebagai istri.