Sang Pemilik

Sang Pemilik
Bab 13


__ADS_3

"Mengapa Pangeran Lingga justru menolak ketika Tuan Aryan datang untuk menjemput wanita kasar itu? "


Suara Arimbi terdengar menggelegar di kediaman miliknya. Berita tentang kedatangan Ayah dari Putri Acalapati sudah sampai di telinganya. Dia kesal karena ada rumor yang mengatakan Pangeran Lingga akan terus merawat istrinya itu hingga sembuh. Mendengar rumor itu, Arimbi merasakan emosi berputar di kepalanya ketika desas-desus jika Pangeran Lingga tidak akan menikahinya.


"Kau harus menemui Lingga, dengarkan dulu penjelasannya, kau tidak bisa terlihat keras kepala saat berada di hadapannya buat Lingga bersimpati padamu"


Mendapat dukungan dari ibunya Arimbi tersenyum puas.


Di istana Jaguar, Yang Mulya ratu utama menasehati putra nya.


Meskipun Pangeran Lingga tidak mencintai istrinya tetapi jika boleh jujur dia memiliki kepedulian melebihi rasa perduli nya terhadap saudarinya pada Putri Acalapati. Bisa jadi karena status. Dan juga Pangeran Lingga adalah pria berhati lembut.


"Lingga, apa yang ingin hatimu putuskan. Ibu akan mendukungmu. Katakan saja disertai dengan alasan yang logis dan masuk akal. Ibu akan mendukung keputusanmu jika hal itu baik untukmu dan juga untuk banyak orang."


Pangeran Lingga kembali memperhatikan Putri Acalapati yang masih terbaring lemah. Dia tidak seperti orang sakit melainkan seperti Putri tidur dalam cerita dongeng dan Putri Acalapati adalah Putri tidur yang sesungguhnya.


"Aku akan datang ke istana Acalapati Ibu, menyampaikan niatku secara langsung pada Ayah dan ibu mertua, aku sudah menganggap mereka seperti Ayah dan Ibu sendiri, Ayah mertua juga begitu banyak membantuku dalam banyak hal, termasuk dukungan politik yang tidak bisa semua orang lakukan."


Setelah menjawab dan memberi alasan kuat pada Yang Mulya ratu utama. Pangeran Lingga segera pamit undur diri pada ibunya. Pangeran Lingga memang sudah mulai belajar mengambil tanggung jawab Ayahnya. Pangeran Lingga akan memimpin sidang dewan eksklusif kerajaan, dia harus bisa mendapatkan lebih banyak dukungan. Untuk membawa misi yang jauh lebih baik untuk kemajuan mereka di masa depan. Meskipun tau jika saudaranya yang terlahir dari Selir ketiga saat ini juga sedang berjuang mengejar posisinya untuk menjadi pengganti Tuan Aryan. Terlebih saat ini Adiknya yang lain juga sudah menikah dan akan segera memiliki seorang anak, pastinya persaingan mereka juga akan semakin sengit untuk menggalang dukungan dewan serta publik.


Di belahan bumi yang lain seorang wanita masih belum bisa tenang saat seorang Dokter laki-laki memeriksa kondisi Pria yang baru saja dia lukai tanpa sengaja. Sudah hampir larut saat Dokter akhirnya selesai memeriksa Raden dan Sekar yang memang menunggunya segera berdiri.


"Keadaannya cukup mengkhawatirkan." Dokter langsung berkata demikian.


"Apa maksudnya?" Sekar terkejut tapi masih agak bingung ketika menyipitkan sudut mata untuk menatap dokter laki-laki itu dengan lebih serius.


"Harus memakai trik khusus untuk membuatnya merespon, untuk beberapa hari kedepan mungkin dia tidak bisa berdiri sempurna, tetapi jangan khawatir bisa terus di rangsang agar segera pulih kembali."


"Apa separah itu?"Sekarang Sekar jadi gugup. Dia juga sedikit berpikir apakah tendangannya berpengaruh pada kelumpuhan kaki pria itu sampai berdiri saja tidak bisa sempurna?


" Salah satu telurnya hampir meletus" Gunam dokter yang bisa di dengar oleh Sekar.

__ADS_1


"Apa?"


"Perlakuan dengan lembut, itu bisa membantu pemulihannya, kasian sepertinya kalian juga masih pengantin baru."


Oh, otak Sekar jelas tidak menjangkau ke arah tujuan perkataan dokter. Karena pemikiran mereka yang terluka itu berbeda.


"Apa aku perlu membeli tongkat baru untuk membantu pemulihannya?"


Dokter melotot mendengar pertanyaan Sekar.


"Anda akan berselingkuh?"


Kini giliran Sekar yang melotot ganti. Apa hubungannya beli tongkat baru dengan selingkuh?


"Tongkat suami anda masih bisa di gunakan. Anda hanya perlu memperlakukannya dengan lembut sebelum bermain" Dokter langsung memberi peringatkan pada istri pasien.


"Apa dia juga sudah pernah memiliki tongkat sebelumnya?"


"Apakah anda benar-benar istri dari pasien?" dokter mulai ragu.


"Ya," Jawaban Sekar yang lesu membuat dokter menghela napas.


"Saya tau yang anda khawatirkan, tetapi tongkat suami anda masih bisa di selamatkan. Setidaknya ukurannya masih bisa berkembang 15,9 sentimeter."


Dokter berusaha menahan senyumnya saat menatap ekspresi istri pasiennya yang bingung sementara jari wanita itu melakukan pengukuran pada udara.


Setelah cukup lama akhirnya mata Sekar terbelalak. Gadis itu mengepalkan tangan dan langsung menatap tajam dokter di hadapannya.


"Terus terang saja! Tongkat apa yang sebenarnya anda bicarakan pada ku dokter? "


Tentu saja dokter hendro kaget dengan respon wanita di hadapannya. Sementara Sekar juga terus mengumpat dalam hati sambil terus memikirkan 15,9 sentimeter meski tahu jika hal itu adalah bayangan sesat.

__ADS_1


"Sial" Sekar masih terus mengumpat meski dokter sudah benar-benar pergi. Kini Sekar masuk kedalam kamar di mana ada Raden yang berbaring dengan wajah sedikit pucat. Di sampingnya ada wanita yang tidak lain adalah Fury.


Raden melihat kehadiran Sekar. Hatinya yakin jika perasaannya sudah terpaut pada gadis itu meskipun terlalu enggan untuk mengakuinya terang-terangan, karena sikap Sekar yang sekarang justru menganggap dirinya musuh.


"Turunkan tangan mu dari sana, kau membuat otak suci ku terkontaminasi"


Raden kaget dengan teguran Sekar. Tetapi tetap menuruti keinginan wanita itu untuk mengangkat tangannya dari bawah pusar.


Tidak hanya Raden. Fury pun tidak menyangka jika cucu menantunya berubah begitu banyak


"Ini sakit, Sekar"


Sekar merasakan telinganya terbakar mendengar suara menyedihkan dari Raden.


Pria sialan!


"Sekar" Sekar yang hendak pergi kembali menatap Raden. Hanya matanya yang seolah bertanya 'apa?'


"Temani aku tidur!" Sekar ingin merobek mulut pria itu dengan tangannya sendiri tetapi tidak bisa, karena dia harus mati-matian menahan emosinya di hadapan wanita yang baru saja kaget mendengar bentakannya pada Raden.


Emosi. Satu sikap yang begitu sulit untuk Sekar hilangkan pada dirinya. Walaupun pemilik tubuh asli memiliki kesabaran yang tiada batas tetapi Sekar tidak bisa secara langsung menerapkannya, untuk mengendalikan emosi yang ada dalam dirinya Sekar hanya berusaha untuk tidak mengeluarkan suaranya agar dia bisa mengontrol perkataannya yang jika lolos pasti terdengar menyakitkan bagi orang lain.


Fury berdiri dengan tongkatnya berjalan mendekati Sekar. Tangan tuanya mengelus puncak kepala gadis itu. Senyum tulus juga Fury berikan untuk cucu menantunya, terlihat tanpa amarah sedikitpun meski Sekar sudah melukai sang cucu bahkan membentaknya dengan kasar.


"Nenek pulang dulu, Titip Raden ya Sekar, kamu bisa memotong tongkat saktinya jika dia terus mengganggu mu"


Telinga Sekar langsung panas mendengar kata tongkat lagi. Otaknya langsung membayangkan ke ukuran 15,9 sentimeter yang di ucapkan dokter.


Kepolosannya membuatnya sibuk menerka perkiraan yang seharusnya tidak untuk di pikirkan. Tapi 15,9 sentimeter itu ukuran saat Raden sakit, apa jika Raden dalam keadaan sehat tongkat itu bisa lebih besar 20 sentimeter misalnya?


Sekar segera memukul kepalanya sendiri. lama-lama dia bisa sinting dengan segala angan kotornya.

__ADS_1


__ADS_2