Sang Pemilik

Sang Pemilik
Bab 19


__ADS_3

"Kau ... " Mata Acalapati menatap seseorang yang berada dekat dengannya. Sementara Restu malah masih betah menatap wajah yang membuatnya hampir kehilangan kesadaran. Setelah sadar dari lamunannya, Restu segera bergerak mundur.


Restu masih menatap tajam wanita di hadapannya. Dia tidak mengerti dengan apa yang dia lakukan tanpa sadar."Hah, maafkan aku!" Restu langsung menundukkan kepalanya.


"Tolong bantu aku" Acalapati mengulurkan tangannya.


Restu tidak bergeming di tempatnya. Bagaimana dia bisa bersentuhan dengan seorang wanita, sementara itu adalah larangan keras di istana.


"Maaf, aku akan memanggil Pelayan untuk membantu mu." Restu bergegas keluar.


Restu mengelengkan kepalanya resah. "Ada apa dengan jantung ku." tanyanya dalam hati.


Wajah ketakutan Restu tak luput dari pengamatan Acalapati. Dia jadi bingung, ada apa dengan orang kepercayaan Pangeran Lingga?


Acalapati mencoba duduk, tetapi tidak bisa, dia yang sudah menjatuhkan punggungnya kembali, segera di datangi beberapa tim medis.


"Bagaimana perasaan Anda?" Dokter wanita yang menanganinya tampak antusias.


Raut wajah yang semula natural berubah dingin seketika saat beberapa orang berbondong mengelilinginya.


"Apa yang terjadi pada ku?" matanya memejam erat, hanya hembusan napasnya yang lebih teratur.


Kabar sadarnya Putri Acalapati begitu cepat tersebar. Tetapi Pangeran Lingga justru belum tau.


Restu menjadi orang yang paling gelisah setelah mendengar kabar bahwa Putri Acalapati sembuh tanpa cela. Dia jadi takut wanita itu akan kembali menyusahkan dan terus membuat ulah seperti yang sudah-sudah.


Seperti perintah Pangeran. Restu lah yang mengawal Putri Acalapati kemanapun wanita itu akan pergi. Hal yang sudah seperti mimpi buruk bagi Restu.


Tuan Aryan dan Yang Mulya ratu utama Acalapati langsung datang begitu mendengar Putri mereka telah terbangun dari tidur panjangnya.


"Beri hormat kepada Raja dan Ratu Acalapati" Teriak Restu begitu kedua orang tua Putri Acalapati sudah mendekat di pintu kamar Acalapati.


Yang Mulya ratu utama memberikan senyum manis kepada semua yang berada di kamar putrinya, sementara Tuan Aryan sudah langsung memeluk tubuh Acalapati dengan begitu bahagia.


"Tinggalkan kami" Titah Acalapati pada orang-orang yang berkerumun.


Semua langsung membubarkan diri, begitu orang-orang keluar Restu langsung masuk.


"Maaf, saya di tugaskan untuk menjaga Putri Acalapati selama Pangeran Lingga pergi berhaji"


"Lakukan tugas mu sebagaimana mestinya" tutur Tuan Aryan yang sama sekali tidak keberatan dengan kehadiran Restu.


"Ibu setiap hari akan pergi ke pura keluarga untuk memuja Hyang Widhi dan leluhur. Demi memohon kesembuhan mu." Yang Mulya ratu utama yang memiliki nama Rates Hida mengecup kening putrinya.

__ADS_1


"Ayah sangat takut jika kamu benar-benar tidak akan pernah membuka mata."


Rintihan kedua orangtuanya hanya di dengar oleh Acalapati, tanpa sedikitpun Acalapati menanggapi. Sebenarnya dia masih bingung, orang mengatakan dia koma selama tiga bulan, tetapi dia merasa selalu ada selama ini. Tapi entah dimana?


"Apa masih ada yang sakit?"


Acalapati mengeleng.


"Istirahatlah nak, Ibu dan Ayah akan kembali melihatmu."


Setelah kedua orang tuanya pergi. Putri Acalapati duduk bersandar.


"Aku ingin kekamar ku!" ucapnya melirik Restu.


"Saya akan panggilkan pelayanan." Restu akan balik badan.


"Apa tidak bisa kau sendiri yang mengantarku? Katamu Pangeran sendiri yang memintamu menjagaku, bagaimana jika pelayan akan menyakitiku?"


"Peraturan di istana wanita tidak boleh bersentuhan dengan seorang pria tanpa ikatan. Anda adalah Putri kerajaan, sangat tidak pantas jika saya menyentuh Anda."


"Baiklah-baiklah, berhenti bicara, kalau kau tidak mau aku bisa melakukannya sendiri."


Dasar keras kepala. Tangan Restu mengepal sebelum langkahnya mendekati tempat tidur Acalapati.


Alis Restu menukik tajam. Melihat Acalapati yang hanya diam. Ini sangat jarang terjadi ketika Acalapati tidak meledak-ledak mendengar ada orang yang berani membicarakan dirinya.


Sampai dikamar Acalapati menatap Restu.


"Apa kamu akan benar-benar menjagaku di dalam kamar seperti ini?"


"Iya" satu kata itu cukup membuat Acalapati mengerti.


"Kapan Pangeran Lingga pulang?"


"Sekitar 12 hari."


Putri Acalapati membulatkan bibirnya.


☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️


Sudah Satu pekan Putri Acalapati sadarkan diri, tetapi belum sekalipun wanita itu berulah. Perkataannya memang ketus, tetapi tidak se kejam rumor selama ini. Dia juga terus mengenakan penutup wajah nya meskipun tidur.


Restu berpikir itu mungkin karena dirinya yang berada di sekitar wanita itu.

__ADS_1


Malam kedelapan. Setelah jamuan makan malam tiba-tiba Restu tidak bisa menahan kantuknya. Dia tertidur di depan kamar Acalapati.


Saat terbangun dia sudah tidur lebih dua jam. Dan saat dia hendak mencuci mukanya. Dia mendengar suara aneh dari arah kamar Putri Acalapati.


Pintu itu ternyata di kunci dari dalam. Restu sudah beberapa kali mengeruk sama sekali tidak ada jawaban.


Restu segera meminta dua orang penjaga berotot besar mendobrak pintu kamar Acalapati.


Kamar itu kosong. Tidak ada siapa-siapa disana. Jendela kamar sedikit terbuka. Dan yang membuat mata Restu menyipit. Ada kain panjang yang menjuntai ke bawah atap yang lebih rendah.


"Putri Acalapati sedang ke kamar mandi. Bereskan semua kekacauan ini" perintah Restu pada dua penjaga itu.


Setelah pintu kembali tertutup rapat. Restu pergi dari depan kamar Putri Acalapati dan mulai mencari keberadaan wanita itu.


"Rahasia apa yang sebenarnya wanita itu sembunyikan."


Sudah hampir satu jam Restu tidak juga mendapatkan petunjuk. Hingga saat dirinya hendak menuju gerbang keluar. Matanya menangkap bayangan hitam yang mengendap-endap.


"Kena kau!"


Restu terus mengikuti bayangan lincah itu dengan langkah gesit dan tanpa menimbulkan suara, sampai pada pembatas pagar, bayangan itu terlihat memanjat naik dan akhirnya Restu bisa melihat seseorang berpakaian serba hitam masuk kedalam kamar Putri Acalapati melalui jendela.


"Kau ternyata lebih mengerikan dari pada yang selama ini orang pikirkan."


'Puk' bunyi jendela telah tertutup. Restu sibuk mengatur napasnya. Sebelum dia mencoba mengetuk pintu.


"Ada apa?"


Restu terkejut saat Putri Acalapati membuka pintu kamarnya tanpa mengganti pakaiannya terlebih dahulu.


"Anda tidak boleh keluar istana tanpa pengawalan. Putri."


Putri Acalapati mengangkat wajahnya.


"Aku sedang ingin makan kurma yang jatuh dari pohonnya. Tidak bisa ku wakilkan karena aku benar-benar ingin memungut kurma itu dengan tanganku sendiri, dan aku tidak bisa menunggu persiapan pengawal."


Putri Acalapati menjawab dengan tenang, telunjuknya mengarah pada plastik putih yang masih berada di dekat jendela.


Restu masuk dan memeriksa isinya, dan benar menemukan kurma yang seberapa bagian buahnya terdapat pasir menempel di sana, seperti baru di pungut dari bawah pohon.


"Kenapa wanita ini aneh sekali, kurma kwalitas nomor satu saja ada di sini mengapa harus hasil mungut?" Benak Restu dipenuhi tanda tanya.


"MasyaAllah ... Pangeran Lingga sudah tiba." Terdengar kegaduhan di luar istana.

__ADS_1


__ADS_2