
Acalapati sadar jika dia hidup di dunia yang kejam, berpusat pada kekuatan juga kekuasaan. Pernikahan dengan Lingga adalah pilihannya. Dulu dia tidak mengenal cinta, tetapi seiring bersama, benih-benih cinta itu mulai hadir.
Pernah masuk kedalam tubuh seorang wanita lemah yang mati karena adanya jebakan dari orang yang mengincar suaminya, lantas mampu memenangkan hati suami wanita itu dan dia kembali ke dalam tubuhnya sendiri.
Perjalanan waktu yang tak semua orang pernah mengalaminya, setiap kali penyatuan tubuhnya dengan Lingga, Acalapati seperti mendapatkan memori-memori indah akhir dari perjalannya menjadi orang asing. Seorang wanita yang tubuhnya pernah menampung raganya.
Acalapati, dulu adalah seorang pembangkang tapi jenius, menjadi istri yang tak dianggap dari seorang Pangeran tidak membuatnya risau. Dia menikah karena tujuan, begitu juga sebaliknya. Tapi jika hati sudah terpaut, bagaimana semua bisa mudah?
Dia tidak akan mau terbuang dan dirampas semua kekuasaannya. Acalapati tidak mau hanya diam dan termenung di dalam kesepian. Dia bukan seorang pecundang. Lingga miliknya, begitu juga dengan gelar calon permaisuri dari sang penguasa.
Acalapati tidak akan membiarkan kebiadaban semakin merajalela.
Darahnya mendidih membayangkan dia harus merelakan Lingga untuk wanita yang hanya mengincar kekuasaan. Nyatanya Acalapati sangat tahu jika Arimbi bukan wanita yang tulus, dan untuk saat ini dia yang akan menyadarkan Lingga, membuka lebar-lebar mata lelaki itu untuk melihat pada kebenaran.
Pangeran Lingga yang sedang bahagia karena ciuman Acalapati langsung membawa Acalapati ke atas ranjang. Menjatuhkan tubuh Acalapati ke atas ranjang sampai agak terhempas keras karena sudah telanjur besar keinginannya.
Acalapati membiarkan Lingga menyentuhnya dimana-mana, meresapi rasa yang hadir dan mulai menjalar hingga kalbu.
"Oh ... " Acalapati melenguh manja untuk menarik perhatian Lingga.
Lingga mendaratkan bibirnya di bibir Acalapati. Perlahan, Acalapati membalasnya. Kedua bibir mereka akhirnya bersatu. Lingga semakin mengeratkan pelukannya. Lingga senang Acalapati memejamkan matanya, menikmati setiap momen yang ia ciptakan.
Acalapati perlahan melepaskan bibirnya. Dia menata Pangeran Lingga yang masih saja menderu.
Acalapati tidak memungkiri jika Pangeran . Lingga sangat tampan. Selama ini Pangeran Lingga hanya menunjukkan sikap dingin pada siapapun. Tapi, ternyata jiwa pelindungnya terhadap orang yang disayanginya sangat mengagumkan.
Pangeran Lingga sangat terkejut melihat wajah Putri Acalapati melihatnya dengan terseyum ke arahnya.
Diam-diam Pangeran Lingga mengagumi senyuman itu, menyimpannya ke dalam angannya agar bisa terus ia nikmati ketika jauh.
__ADS_1
"Pangeran Lingga, Keluarga besar Putri Arimbi tiba di istana." Teriakan dari luar pintu memutus momen kebahagiaan mereka.
Menghela napas berat, Lingga menjauh dari istrinya untuk membuka pintu, namun baru beberapa langkah berjalan Pangeran Lingga membalikkan tubuhnya. Dia melihat gamis Istrinya yang berantakan akibat dirinya. Pangeran Lingga kembali mendekatinya. Dia membenarkannya. Tidak ada Lingga yang acuh dan dingin, dia begitu perduli. Tidak seperti yang sudah-sudah menikmati tubuh Acalapati dengan liar dan tidak terkendali, kini Lingga jauh lebih lembut dan begitu posesif.
☘️☘️☘️☘️☘️
Saat membuka matanya. Restu melihat kesetiaan sudut ruangan. Dia sedikit kecewa saat menyadari hanya ada dia seorang diri di dalam kamar. Tidak ada wanita yang sudah menyelamatkan nyawanya.
Restu masih saja terbayang wajah Putri Acalapati yang sangat cantik dan indah. Restu mencengkeram dadanya yang tiba-tiba bergetar karena memikirkan Acalapati.
Restu diam terpaku, melihat Acalapati yang sangat indah bagaikan cahaya bulan di malam hari menghiasi langit gelap. Hatinya benar-benar terpesona. Restu menatap ke atas meja, hanya ada obat-obatan dan makanan. Restu mencari sesuatu. Sesuatu yang tiba-tiba ingin ia hirup aromanya. Restu mencari cadar Putri Acalapati yang di gunakan wanita itu untuk membalut lengannya yang terkoyak.
Tidak menemukan benda yang yang di cari Restu memutuskan keluar dari kamarnya. Restu merasa sehat, dia benar-benar bersemangat untuk menemukan cadar sang Putri.
"Di mana cadar itu? Siapa yang sudah mengambilnya?" Gunam Restu dengan langkah lebar.
Restu yang akan menuju kamar Pangeran Lingga menghentikan langkahnya saat menyadari kehadiran Putri Acalapati.
Restu sambil sedikit menunduk mengarahkan tangannya, agar Acalapati berjalan melewatinya. Kebencian di hati Restu semakin sirna saat mendengar pertanyaan Acalapati.
"Bagaimana keadaan mu? Aku benar-benar khawatir dengan musuh yang semakin berani, beruntung aku membiarkan darah mu mengalir dahulu sebelum ku tutup kuat, karena ternyata dugaan ku benar jika di anak panah itu sudah di bubuhi sesuatu. Meski hanya obat tidur, tapi ku pikir itu sangat berbahaya jika dosisnya besar." tanya Acalapati kepada Restu yang masih saja setia berjalan dibelakangnya.
Hati kuat Restu rapuh bergetar. Napasnya bergelora. Ke dua telapak tangannya mengepal, menahan hatinya yang berbunga-bunga.
Acalapati tidak mengumbar apapun, pada siapapun. Ketertarikan Restu padanya murni dari hati lelaki itu. Namun agaknya jika itu benar-benar terjadi dan Restu berani mengakui. Akan terjadi perang perasaan.
"Ternyata kamu di sini?"
Pangeran Lingga mencari Istrinya yang tiba-tiba hilang dari kamarnya.
__ADS_1
"Restu, sebaiknya kau istirahat, lukamu baru saja di obati." Nasehat Pangeran Lingga.
"Ah, kepalaku."
"Putri!"
"Acalapati!"
Mereka berjalan beriringan. Tiba-tiba Acalapati akan pingsan.
Dengan sigap Lingga menangkapnya, tangannya bersentuhan dengan tangan Restu yang juga ikut menangkap tubuh Acalapati agar tidak jatuh.
Lingga sempat melirik Restu sekilas. Sebelum mengendong Acalapati dengan cepat hingga sampai kedalam kamarnya.
"Kepalaku pusing." keluh Putri Acalapati saat Lingga akan menurunkan tubuhnya di ranjang.
Acalapati masih berada di dekapan Lingga. Dia menarik leher Lingga, hingga bibirnya menempel di kulitnya.
Acalapati mendekatkan wajahnya hingga menempel di wajah Lingga yang hanya diam namun menerimanya.
"Jangan sekarang!" bisik Lingga berdesis. Tiba-tiba Lingga merasa malu karena ternyata Restu ikut masuk kedalam kamar Acalapati.
Lingga senang dengan apa yang dilakukan Acalapati. Tapi menyadari mereka tidak berada di waktu yang tepat.
"Keluarlah, Restu!"
Restu tergagap karena perintah itu. Dia juga ikut terbawa suasana tadi, dan malah melihat hal yang tidak seharusnya.
"Jangan kira aku tidak tahu jika kau suka memperhatikan suamiku!" Acalapati mengejek dalam hatinya, pura-pura tidak melihat seseorang yang sudah mencak-mencak karena cemburu hingga membanting teropongnya.
__ADS_1