Sang Pemilik

Sang Pemilik
Bab 21


__ADS_3

"Katakan pada Putri Acalapati aku ingin bertemu." Yang Mulya ratu utama, Ibu Pangeran Lingga memerintahkan Bibi Zur, orang yang sangat dipercayainya.


"Baik Yang Mulya."


Bibi Zur, melangkah mundur dari hadapan Yang Mulya Permaisuri, kemudian berbalik setelah mencapai pintu keluar.


Untuk sampai pada kamar Putri Acalapati, Zur harus turun beberapa lantai.


Di depan pintu kamar Putri Acalapati sungguh sangat berbeda. Tidak seperti Putri yang lainnya. Tidak ada seorang pelayan pun yang berjaga-jaga di depan pintu kamarnya untuk melayani ketika sang Putri membutuhkan sesuatu, hanya dua bodyguard yang menjaga pintunya.


"Aku ingin menemui Putri Acalapati atas perintah Yang Mulya Permaisuri." Kedua bodyguard jelas tau siapa yang datang. Zur sudah puluhan tahun bekerja di istana Jaguar.


Suara ketukan pintu membuat gerakan tangan Acalapati berhenti. Dia meletakkan kuas kecil yang ada di tangannya dan meraih penutup wajah untuk segera di ikat di belakang kepala dan segara pergi membuka pintu.


"Salam Putri, besok Yang Mulya Permaisuri ingin anda menghadiri jamuan makan malam."


Acalapati memang tidak pernah basa-basi, dia langsung berbalik badan dan menutup pintu ketika Zur sudah menyampaikan tujuan menemuinya.


"Dasar Sombong." Desis Zur pada pintu yang sudah tertutup rapat.


Pangeran Lingga masih belum kembali ke istana Jaguar, setelah selesai melukis Acalapati berjalan mendekati jendela untuk kembali mengamati halaman istana Jaguar. Beberapa keluarga istana dan dewan eksekutif kerajaan sudah mulai berpergian. Itu tandanya waktu menyelinap akan segera dimulai.


Hari mulai gelap, buru-buru Acalapati menyambar tudung kepala dan tidak lupa memakai cadar, dia kembali menjulurkan lain panjang untuk turun dari lantai tiga istana Jaguar. Ada satu pohon Bidara yang cukup menjulang menjadi tempat berpijak setiap kali Acalapati melakukan perjalanan malamnya.


Malam ini Acalapati ingin ke pasar tradisional yang dipenuhi oleh puluhan tunawisma. Acalapati berjalan dengan percaya diri karena Acalapati ahlinya dalam menyelinap.


Acalapati sudah sering keliling istana Jaguar dan banyak mengamati, dia sudah hapal masing-masing pintu serta lorongnya. Dia juga tau pintu mana-mana saja lebih longgar untuk dia lalui.


Acalapati keluar dari halaman belakang istana kemudian melompati pagar tanaman. Acalapati juga langsung tembus ke halaman samping istana. Acalapati segera berjalan cepat menyebrangi taman tersebut dan menuju pepohonan rindang untuk sampai di halaman parkir.


Sudah larut malam ketika akhirnya Pangeran Lingga tiba. Lingga langsung mendatangi kamar Acalapati karena dia ingin bicara serius dengan istrinya itu.


"Pergilah beristirahat." ucapnya pada Restu yang masih setia di sampingnya.


Restu mengangguk, akan tetapi belum beranjak. Pintu kamar yang di ketuk tak kunjung terbuka.


"Apakah dia sudah tidur?" batin lingga.


"Apa dia kembali keluar istana?" batin Restu.


Lingga menghela napas, dia benar-benar ingin bicara serius dengan Acalapati.


"Ketuk lebih keras!" perintahnya sudah dilaksanakan tetapi tetap tidak ada sahutan dari dalam.

__ADS_1


"Mungkin dia kembali keluar istana." Celetukan Restu membuat kening Lingga berkerut.


Mendapat tatapan tajam dari Pangeran akhirnya Restu menceritakan tentang kejadian semalam.


"Dobrak pintunya."


Pintu terbuka dengan sangat lebar. Ternyata kamar benar-benar kosong.


"Dia benar-benar tidak pantas menjadi seorang Ibu negara." desis Pangeran Lingga penuh amarah.


"Suruh pelayanan membereskan benda-benda miliknya, besok aku sendiri yang mengantarkannya ke istana Acalapati."


Lingga keluar dari kamar Acalapati dengan amarah berkobar.


Seorang wanita sedang duduk berjongkok ikut menempelkan lututnya di lantai berpasir.


"Sejak kapan dia demam? Kenapa tidak segera di obati?" Tanya Acalapati pada seorang Ibu yang terus menangis karena keadaan putri kecilnya yang sangat lemah.


"Kami tidak punya uang." jawab sang wanita dengan tubuh bergetar.


Sekeliling mereka dipenuhi manusia, tetapi keadaan mereka sama. Mereka hanya bergantian memangku atau sekedar mengendong anak itu untuk meredam tangis.


Dibalik cadar hitam itu bibir Acalapati tertutup rapat.


Acalapati membawa anak itu ke rumah sakit, kebijakan pemerintah sangat-sangat membuatnya frustasi. Bagaimana mungkin pasien yang dibawa harus ada penjamin sebelum di tangani.


"Semoga kelak kau jadi pemimpin yang bijaksana dan pro rakyat kecil." Putri Acalapati bergumam lirih.


Dia benar-benar tidak tahan melihat penderitaan rakyat. Sementara yang kaya semakin kaya.


Karena terlalu lama menunggu proses penanganan si kecil yang di tolong nya, membuat Putri Acalapati lupa waktu. Dia baru sadar hari akan segera pagi kala mendengar ayam berkokok dari rumah beratapkan daun kurma yang dia lewati.


"Dari mana saja kau?"


Acalapati yang baru saja menapaki lantai kamarnya langsung berjingkat dan berbalik badan.


Ternyata Pangeran Lingga sudah duduk di atas tempat tidur milik Acalapati.


Ada kemarahan yang sulit untuk Lingga padamkan ketika melihat istrinya sangat tidak patuh.


"Kenapa kau selalu bikin ulah? " bentakan itu tak mampu Lingga tahan.


Lingga memiliki sifat dominan yang bukan cuma ingin di akui asistensinya sebagai pria, tetapi juga harus dipatuhi sebagai seorang suami.

__ADS_1


"Oh," Tubuh Acalapati di dorong dan dia sedang tidak siap. Acalapati memberontak di tindih pria yang sedang gemas dan sedang gelap mata karena murka.


"Sakit "


"Ini hukuman untuk ketidak patuhanmu!"


Terlepas dari segala sifat penyayang yang sering Lingga tunjukkan. Lingga juga pecemburu yang sangat buruk, melihat istrinya memanjat jendela untuk keluar istana membuat pikirannya kacau, dia berpikir hal yang tidak menyenangkan.


"Kau milikku!" Pangeran Lingga berdesis di atas telinga Acalapati."Patuhi aku sebagai suamimu"


"Aku tidak mau Lingga ... Argh kau menyakitiku."


Acalapati yang sudah kelelahan akhirnya pasrah. Semua terjadi begitu saja. Mahkota itu direnggut dengan paksaan, Acalapati merintih dengan sakit luar dalam.


Sifat asli seorang pria terhadap wanita memang tidak selalu dapat di lihat sekilas dari wujudnya luarnya. Tidak perduli siapapun pria itu. Entah itu petinggi besar, seorang yang dianggap cerdas, atau orang yang di anggap orang suci sekalipun bisa saja memiliki sifat tersembunyi ketika dihadapkan dengan rasa cemburu pada seorang wanita. Tidak terbatas pada lingkungan budaya, karena memang bisa terjadi di manapun, bahkan dari masa ke masa. Faktanya, dari peradaban belum maju hingga hari ini masyarakat sudah sering mendengar berbagai tindak kekerasan dari orang-orang yang sangat tidak terduga.


Pangeran Lingga meninggalkan Putri Acalapati dalam kondisi mengenaskan. Dia telungkup di pembaringan dengan baju yang sudah robek dimana-mana.


"kurung dia di dalam kamar, suruh seseorang untuk mematikan akses jendela." Ucap Lingga sebelum meninggalkan kamar Putri Acalapati.


Begitu langkah pangeran sudah tidak terlihat. Restu muncul dari balik tembok. Tadi dia sengaja menunggu kepulangan Acalapati, awalnya dia mengikuti nya untuk di tanyai di dalam kamarnya nanti. Terapi begitu dia sampai di lorong dia bertemu dengan jendral yang datang untuk mengawal Pangeran.


Restu tau akan ada hal besar terjadi. Akhirnya dia rela menunggu begitu lama.


Saat pintu kamar Acalapati akan di kunci Restu datang melangkah.


"Pangeran memintaku mengambilkan jubahnya yang ketinggalan." katanya tegas yang langsung di percayai bodyguard penjaga pintu kamar Acalapati.


Restu melangkah pelan memasuki kamar Acalapati, di sana dia melihat bahu mulus sang putri terbuka, ada berbagai bercak merah di kulit mulus itu, di bawah lantai ada tetesan darah.


Restu terenyuh. Dia tidak pernah melihat Pangeran Lingga Setega ini sebelumnya.


Restu melangkah mendekat, melanggar peraturan istana untuk tidak bersetubuh dengan seorang wanita.


Restu menunduk dan mengangkat tubuh Acalapati untuk segera dibaringkan lembut di atas kasur.


"Akan ku panggilkan pelayan untuk membantumu mandi." ucapnya yang tak dihiraukan oleh Acalapati.


Acalapati tidak menyangka orang yang dikiranya Lingga ternyata Restu. Acalapati berpikir Lingga kembali karena sesuatu ternyata justru pria lain yang melihatnya dalam keadaan tidak pantas.


Restu akan berlalu, tetapi matanya melihat kertas yang terjatuh tidak jauh dari jendela. Restu mengambilnya dan memasukkan kedalam kantong.


"Kwitansi rumah sakit?"

__ADS_1


__ADS_2