Sang Pemilik

Sang Pemilik
Bab 42


__ADS_3

Restu menikmati setiap langkah yang di habiskan bersama Acalapati untuk menyusuri pemukiman penduduk yang sangat sederhana. Atap-atap rumah itu dari daun kurma, beberapa anyaman di sekitar dinding banyak yang sudah berlobang.


Sangat tidak aman pemukiman-pemukiman itu. Saat ini memang Restu tidak dapat melihat kecantikan Putri Acalapati, karena wanita itu menjelma menjadi wanita muslimah yang taat.


Cadar menutupi sebagian wajahnya, hijab terulur hingga menutupi telapak tangan dan gamis hitam kelam yang menjuntai hingga menutup mata kaki.


"Kau bisa memberikan uang pribadimu atas nama kerajaan." Ucapan Acalapati membuat Restu menghentikan langkahnya.


Acalapati terseyum di balik cadar. Seperti memberi penawar pada racun yang sudah di tebar, Restu akan sangat sulit melakukannya.


"Lihatlah," Acalapati menunjuk anak kecil yang menangis meminta makan, sebutir kurma tidak mampu meredakan rasa laparnya. Sedangkan untuk membeli roti gandum orang tuanya tidak memiliki uang.


"Aku miris melihat ini semua, Pangeran Lingga benar-benar tidak pantas untuk di nobatkan, dia tidak memiliki hati." Acalapati terus memprovokasi.


Diam-diam Acalapati melihat senyum kecil terbit di bibir Restu. Lelaki itu segera mengeluarkan harta yang ia bawa untuk di berikan pada mereka secukupnya.


Acalapati terus tersenyum di balik cadarnya. Hingga akhir mereka harus segera kembali ke istana.


"Antarkan aku ke Acalapati, aku akan meminta Pangeran Lingga menjemputmu nanti." ucap Acalapati di persimpangan jalan.


Restu ingin protes, tetapi tiba-tiba Acalapati menyentuh tangannya.


"Aku sangat lelah, Aku hanya ingin beristirahat." Restu kehilangan kata-kata. Terlebih setelah itu Acalapati segera melepas cadar nya. Mata wanita itu begitu polos, saat ini memang tidak secara langsung mereka bersentuhan, Acalapati sedang memakai sarung tangan untuk menutupi tangannya yang lentik.


Karena tidak bisa menolak pesona Acalapati, Restu akhirnya mengantarkan Acalapati ke Istana Acalapati.


Sampai di Acalapati mereka di rambut ramah. Restu juga langsung di giring untuk diberikan jamuan.


"Jangan khawatir, ini semua makanan halal yang di masak di wadah dan alat masak yang baru."


Yang Mulya Rates menemui Restu, benar-benar membuat Restu merasa tersentuh atas sambutan ramah seisi Istana.


"Ibu dimana Ayah? " Acalapati sudah bermanja pada ibunya.


Tak bisa di pungkiri itu menarik perhatian Restu. Acalapati tampak berbeda saat di istananya sendiri.


Pakaian Muslimah yang di ke nakannya sudah di lepas di mobil, tidak mungkin dia pulang dengan pakaian seperti itu.


Yang Mulya Rates terus melihat cara Restu melihat putrinya, Ibu Acalapati menangkap sesuatu yang tidak beres.

__ADS_1


Setelah Restu sudah pulang. Yang Mulya Rates membawa putrinya ke ruang rahasia.


"Bisa Ibu tau soal tujuanmu membawanya kemari?" Tanya Yang Mulya Rates.


"Hanya ingin membuatnya terkesan." Jawab Acalapati.


"Jelaskan dengan benar, Putri! " tegas Yang Mulya Rates.


Acalapati meminum tehnya sebelum merebahkan kepalanya di pangkuan sang Ibu.


"Aku sedang menjauhkan pengacau dari hidup Lingga, Ibu. "


Yang Mulya Rates kaget. "Bukankah dia orang kepercayaan Lingga?"


"Ibu benar, selain orang kepercayaan Lingga dan seluruh Istana Jaguar. Restu juga musuh dalam selimut." papar Acalapati.


"Oh, " Kaget Yang Mulya Rates sekali lagi.


"Dia bersekongkol untuk menjatuhkan Lingga. Ibu tahu? Restu adalah kekasih Putri Arimbi yang akan di nikahi Lingga."


Kaget bertubi-tubi bagi yang Mulya Rates hari ini.


Acalapati meunjukkan satu rekanan yang membuat Yang Mulya Rates termangu, dan syok berat.


Musuh terbesar Lingga adalah orang-orang terdekatnya sendiri.


Usai bercerita dengan Sang Ibu. Acalapati pergi ke kamarnya. Di istana Acalapati segalanya bisa Acalapati dapatkan.


Dia masuk ke ruang spa, berendam dengan ramuan rempah yang membuat tubuhnya harum sepanjang hari. Ditemani para pelayan yang ikut memijit kepalanya.


Acalapati memang wanita realistis. Tetapi dia juga belum menerima jika seorang penguasa boleh memiliki beberapa wanita.


Acalapati benar-benar tidak mau dimadu. Tetapi dia juga tidak bisa berbuat apa-apa jika nanti Pangeran Lingga tetap ingin menikahi wanita lain, meskipun bukan Arimbi. Bahkan Ayah Pangeran Lingga sendiri memiliki empat istri.


Acalapati sudah selesai berpakaian saat pintu kamarnya di ketuk.


Setelah membenarkan bajunya, Acalapati meminta orang itu untuk masuk. Saat pintu terbuka, ternyata Pangeran Lingga yang datang.


Acalapati berkedip ling lung. Bukankah dia belum mengabari Pangeran Lingga jika dia disini?

__ADS_1


"Anda tahu saya di sini?" Acalapati tidak menyangka Lingga menyusulnya secepat ini.


"Aku menghubungi Restu dua jam yang lalu." Oke terjawab sudah bagaimana Lingga bisa tahu keberadaannya.


Pangeran Lingga masih menggunakan pakaian yang sama, seperti tadi pagi yang hendak keluar dari istana, sepertinya lelaki itu belum sempat mengganti pakaiannya.


"Akan ku siapkan air mandi." Acalapati pamit, tetapi tangannya di tarik oleh Lingga.


"Aku belum ingin mandi." bisik Lingga di tengkuk. Yang membuat bulu kuduk Acalapati berdiri.


"Kau, mau apa?" tanya Acalapati mencoba melepaskan rengkuhan lengan kekar Lingga.


"Kau sangat harum. " Pangeran Lingga mengendus leher jenjang Acalapati.


Acalapati mencoba berkelit, tetapi kalah tenaga dengan Lingga.


"Aku sangat lelah." ungkapan Lingga yang langsung membuat Acalapati berhenti meronta.


Sebenarnya Acalapati agak kesal tapi dia tidak bicara lagi.


Lingga terus bergerak melucuti pakaian Acalapati.


"A'oo... ! " Tiba-tiba Acalapati memekik karena perbuatan Lingga.


"Aduh! " Acalapati kembali memekik karena kali ini dia tidak hanya di hisap tapi juga di gigit.


Sebenarnya Pangeran Lingga sedang sangat gemas pada Istrinya. Sepanjang pertemuan dengan dewan istana, pikirannya terus menerus memikirkan Acalapati, dia bahkan tidak bisa konsentrasi dengan apapun yang dia kerjakan. Saat hendak buru-buru pulang, Lingga justru mendapatkan kabar jika istrinya tidak pulang ke istana Jaguar. Karenanya Lingga yang sudah sangat lelah tetap menyusul Acalapati.


"Aca ... " Lingga memanggilnya agar tetap terjaga.


Napas mereka mulai memburu berkejaran. Kedua kaki Acalapati sudah berada di antara kedua bahu suaminya. Acalapati yakin mereka pasti terdengar sangat gaduh.


"Lingga .... " Acalapati berteriak kencang, membuat kedua sudut bibir Lingga tertarik ke atas.


Lingga segera membawa Acalapati berguling dan memeluknya erat, memeluk nya hingga menunggu debar jantungnya mereda.


🍀🍀🍀🍀🍀🍀


Acalapati bangun di pagi hari dengan tubuh yang terasa lemas, tapi dia malu jika harus mengeluh karena hal seperti itu. Acalapati menoleh. Pria yang membuatnya merasa seperti sekarang masih tidur telungkup di sampingnya, lengan pria itu memeluknya erat. Mereka masih sama-sama polos tak terbungkus.

__ADS_1


Seorang pria bisa berubah menjadi sosok asing jika sedang hanyut gairah, keras dan terus ingin menyerang tanpa henti.


Pangeran Lingga tiba-tiba mengangkat kepalanya. Tangannya terulur membelai pipi Acalapati yang hangat dengan tatapan teduh. "Terimakasih"


__ADS_2