
Hari berlalu, pelan-pelan Sekar bisa menerima takdirnya. Walau kadang dia masih berharap semua ini hanya mimpi panjang, tapi dia tetap berusaha menjalani hidup dengan Raga barunya.
Sekar berusaha menggali kenangan tentang kehidupan Sekar sebelum ini tetapi tidak bisa, rasanya di dalam pikirannya itu kosong, semakin hari bayangan kehidupan sebelumnya juga kian memudar memaksa Sekar bangkit menjadi dirinya yang sekarang.
"Turun tujuh kilogram, waw ini sangat drastis" Dokter Ana kembali mengunjungi Sekar untuk memantau program dietnya.
Tidak hanya soal program dietnya, penurunan berat badan Sekar juga dipicu karena beban pikiran yang membuatnya cepat kehilangan berat badan.
Sekar banyak belajar dengan dokter Ana, bahkan soal cara mengelola sebuah usaha. Ya mau tidak mau Sekar harus mulai mempersiapkan diri, Raden akan segera menceraikannya, sementara Sekar sendiri tidak bisa mengingat apapun tentang kehidupannya sebelum kecelakaan, kegiatan apa yang wanita itu lakukan, atau memiliki pengalaman apa? Sekar benar-benar tidak menemukan ingatan apapun. Selain kilasan tragedi yang membuatnya kecelakaan. Satu kemajuan yang Sekar dapatkan di kehidupan barunya, Sekar mampu meredam setiap amarah yang akan berkobar. Sekar semakin bisa mengendalikan diri, menekan emosinya dan juga tempramental buruknya.
"Nenek meminta kita datang untuk makan malam" Sekar melihat kedatangan suaminya, tidak menanggapi ucapan Raden Sekar memilih memberikan lembaran kertas yang pernah Yuana sodorkan padanya.
"Sudah ku tandatangani"
Raden melirik kertas tersebut dan tidak langsung menerimanya, sampai Sekar meletakkan di atas meja di dekatnya berdiri.
"Aku akan segera pergi, kau bisa langsung menikahi kekasih mu" ucap Sekar hendak berpaling masuk ke bilik kamar mandi.
"Karena ini kamu bersikeras untuk diet?" Raden terlihat seperti keberatan dengan keputusan Sekar. Tapi bukankah pria itu ingin Sekar menyetujui pernikahan nya bersama Yuana?
Sekar mengalihkan pandangannya dan urung pergi ke kamar mandi.
"Yang aku lakukan sama sekali tidak ada hubungannya dengan lampiran itu, aku hanya merasa badanku terlalu berat jika harus bekerja keras diluar sana"
__ADS_1
"Kau tau aku memberimu kompensasi yang cukup besar, kau tidak perlu bekerja keras di luar sana!"
Sekar yang sekarang jelas tidak tau menahu tentang itu. Untuk itu Sekar tetap diam, saat ini Sekar terlihat lebih cantik, pipinya yang biasanya chubby kini menirus membuat hidungnya terlihat lebih mancung, di tambah pakaian yang di gunakan nya sedikit kedodoran membuat Sekar tampak lebih menawan. Entah sejak kapan bulu mata Sekar tampak begitu lentik dan lebat, saat seperti ini justru mata Raden bisa melihatnya, dan lagi bibir Sekar yang kecil tapi penuh itu mengapa tampak begitu mengoda Raden saat ini?
"Kita bahas ini nanti, Nenek mengundang kita makan malam." Raden kembali mengatakan tujuannya datang menemui Sekar.
"Raden, bisa aku bertanya sesuatu padamu?"
"Ya, silahkan"
"Apakah sebelum menikahi ku kamu mengenalku cukup lama?"
Raden menatap istrinya sekilas dan menggelengkan kepalanya. Kenyataannya Raden mengenal Sekar karena pertemuan tidak sengaja, Sekar menggagalkan upaya perampokan yang akan menimpa Raden, gadis itu memukuli para preman yang hendak merampas harta Raden dengan keranjang belanja miliknya yang terbuat dari rotan.
Pertemuan pertama yang dan sekali tidak berkesan di hati Raden, karena wanita yang menolong hanya gadis bertubuh gemuk yang penampilannya sangat sederhana. Pertemuan keduanya Sekar ternyata kembali menjadi Hero, Sekar membatu sang Nenek yang terjatuh dari kursi roda saat Sekar kala itu menjadi seorang kurir makanan.
Melihat kebaikan dan kepolosan Sekar. Raden ingin memanfaatkan peluang itu untuk menyenangkan hati Neneknya, Niat awalnya memang menikahi Sekar untuk sementara, sebelum akhirnya benar-benar menikahi kekasih hatinya. Namun seiring berjalannya waktu perhatian dan ketulusan Sekar pelan-pelan membuat hati Raden melemah.
Diam-diam Raden mulai memperhatikan Sekar. kegemukan Sekar yang awalnya membuatnya tak nyaman, seiring waktu tampak biasa, bahkan Raden seolah terbiasa dengan ukuran tubuh Sekar yang tambah hari terlihat lucu dimatanya.
Raden kerap tersenyum manis ketika mengingat mereka yang jalan berdua dengan Sekar di sampingnya, mereka terlihat seperti angka sepuluh, satu menjulang dan salah satunya tampak bundar seperti angka nol. Karena terbiasa akhirnya timbul rasa nyaman.
"Aku akan datang, dan ini akan menjadi pertemuan terakhir ku dengan Nenek."
__ADS_1
Ucapan Sekar menyentil relung hati Raden. Ada sesuatu yang membuatnya benci mendengar kata pertemuan terakhir, apakah Sekar benar-benar akan pergi dari hidupnya?
"Kita tidak harus bercerai!" Entah sejak kapan Raden menjadi tamak.
Sekar menerbitkan senyum mengejeknya, ayolah jiwanya tetaplah Acalapati. Wanita yang tidak suka direndahkan dan selalu ingin dipuja. Baginya Raden bukanlah pria yang se kaya dan se tampan Pangeran Lingga, sekelas Pangeran Lingga saja dia tak mau dimadu apalagi sekelas Raden yang hanya pengusaha tanah biasa. Big no!
"Kau pikir kau siapa?" Dan, kemurkaannya muncul di permukaan, Sekar menatap lawan bicaranya tajam, marah karena merasa di rendahkan.
Raden kaget dengan reaksi Sekar. Untuk pertama kalinya Sekar berani meninggikan suara padanya, tidak hanya itu bahkan kini telunjuk Sekar mengarah tepat ke biji mata Raden.
"Singkirkan pikiran egois mu itu!" Hardiknya pada Raden yang speechless.
Sampai pada Sekar benar-benar masuk kedalam kamar mandi, Raden belum juga membuka suaranya, terlalu kaget dengan pembawaan Sekar yang tampak garang.
Raden meninggalkan Sekar berniat akan menjemput istrinya itu saat akan pergi menghadiri undangan makan malam dengan sang Nenek. Raden tak tahu jika Sekar tidak akan mau menunggunya, Sekar sudah menyusun rencana akan datang bersama Dokter Ana, dan membongkar kebusukan Raden selama ini di hadapan Fury. Setidaknya Sekar ingin angkat kaki dari keluarga Raden dengan nama baiknya.
Yuana berbaring di atas pangkuan Raden yang sibuk memeriksa laptopnya, Raden memilih pergi ke rumah Yuana sambil menunggu waktu makan malam tiba. Pria berkumis tipis itu tampak begitu serius melihat layar laptopnya, padahal pikirannya saat ini berkelana.
Raden belum memberitahu pada kekasihnya jika Sekar sudah menyetujui pernikahan mereka, ada keraguan di hati Raden saat melihat sikap Sekar belakang ini. Ada daya tarik tersendiri di diri Sekar, sikap tegas dan perubahan wanita itu belakangan ini mengusik sisi lain di hati Raden.
"Mas, kau harus segera menikahi ku. Usiaku sudah makin bertambah, kita harus segera menikah dan merencanakan program hamil mengingat aku dan kamu sudah tidak muda lagi"
Ucapan Yuana, membuat Raden terpaku. Raden sadar dia tidak bisa meninggalkan Yuana karena sejak lama mereka bersama, mereka sudah puluhan tahun kenal dan saling menyayangi.
__ADS_1
"Na, kita bahas ini nanti ya, Mas selesaikan pekerjaan dulu"
Rasa bersalah merasuk ke dalam hati Raden. Sudah terlambat jika dia ingin meninggalkan Yuana, Yuana wanita yang selama ini telah menemaninya dari remaja sampai seperti sekarang. Tetapi ada sebagian hatinya yang juga tidak rela meninggalkan Sekar, wanita yang baru beberapa minggu menjadi istri sekaligus wanita kesayangan sang Nenek.