
Untuk pertama kali dalam hidupnya. Putri Acalapati bangun tidur bersama seorang pria di sampingnya, tidak hanya bersisihan tetapi lengan milik Pangeran Lingga melingkar dengan erat di pinggang rampingnya yang tertutup kain sutra.
Sebenarnya Pangeran Lingga sendiri sudah terbangun lebih dahulu ketika mendengar kumandang adzan tetapi segera menutup matanya kembali ketika merasakan pergerakan dari Acalapati.
"Kamu sudah bangun?" karena sama sekali tidak ada suara apapun akhirnya Lingga mengalah. Dia bisa benar-benar ketinggalan waktu shalat.
"Kapan Kamu menikahi Putri Arimbi?"
"Kenapa tanya begitu?" Katakan kamu tidak rela aku menikah lagi.
Putri Acalapati menggeleng. "Enggak, aku cuma tanya."
Untuk beberapa detik, keheningan memeluk dua insan itu.
"Acalapati," Panggil Lingga lirih memecah kesunyian.
"Ya?"
"Kamu setuju aku menikah dengan Putri Arimbi?" Tanya Lingga menatap wajah putih bersih dihadapannya.
Acalapati menelan ludah. "Apa hak ku melarang mu? Agama mu mengizinkan, dan kau bisa tetap melakukannya dengan atau tanpa persetujuanku."
Lingga sedikit kecewa mendengar perkataan Acalapati yang tidak seperti harapannya.
"Aku kasih saran." Ucap Acalapati memberanikan diri menatap wajah pria yang telah menyentuhnya dimana-mana. "Jangan terkecoh dengan wajah lemah lembut dan senyum manis. Kandang kita merasa simpati pada seseorang yang terlihat lemah, manis dan memikat. Setiap orang menyimpan sisi gelapnya masing-masing, aku melihat wanita yang sedang kau perjuangkan tidak selembut yang kau tahu."
Kata-kata itu menyentak Lingga. Apa makna di balik peringatan Acalapati? Kenapa istrinya ini begitu banyak teka-teki? Kenapa tidak terus terang jika memang dia keberatan Jika Arimbi menjadi madunya?
Dua pasang mata kini kembali terpaku dalam hening. Kejadian beberapa waktu terakhir sangat nyata membuat mereka dekat, sebenarnya sudah cukup untuk menyatukan dua hati. Akan tetapi, keinginan Lingga menikahi Putri Arimbi seolah membuat batas nyata.
__ADS_1
Pangeran Lingga harus mengakui, Istrinya sangat cantik. Tingginya sedang saja, namun tubuh itu terlihat padat dan gesit. Matanya indah dan cemerlang. Hidungnya kecil tapi mancung. Diluar semua itu yang paling menarik adalah bibirnya yang ranum kemerahan dan sedikit penuh. Ditambah lagi rambutnya yang panjang tergerai indah sungguh paduan yang sangat menggemaskan.
"Aku akan pikirkan saran yang kau berikan. Aku akan pergi shalat berjamaah dulu."
Acalapati mengangguk. Dia tau apa maksud Pangeran Lingga.
Pelan-pelan Acalapati mulai bangun sendiri, dia menghirup wangi parfum Pangeran Lingga melekat pada dirinya dan dia baru sadar jika rambutnya masih agak lembab, pakaiannya sudah diganti. Ternyata kejadian yang lalu terulang lagi, mungkinkah Pangeran Lingga yang melakukannya? Tiba-tiba bulu kuduk Acalapati merinding Ternyata pria itu sudah terlalu sering melihatnya tanpa sehelai benangpun.
Saat kembali dari mesjid. Pangeran Lingga segera mengganti pakaiannya dengan jubah putih bersihnya, memakai sorban Hitam, luarannya memakai bisht hitam yang sangat mewah, pakaian yang digunakan saat menghadiri acara penting sebagai petunjuk status sosial dan kedudukan.
"Aku akan banyak urusan. Kau baik-baik dirumah " Terdengar ramah dan lembut pesan yang Pangeran Lingga sampaikan pada Putri Acalapati yang tetap acuh.
"Kau boleh keluar, Zur akan mengawasi mu." Pangeran Lingga sudah sempat melangkah beberapa jengkal saat tubuhnya kembali berputar dan menghampiri Acalapati."Jangan lupakan cadarmu jika kau keluar dari aula wanita." Kain tipis itu di letakkan di pangkuan Acalapati yang masih tak bergeming."Jangan bertindak sesuka hatimu, setiap yang kau perbuat itu akan menyeret namaku. Jangan membuatku marah" Bisik Lingga dari belakang telinga Putri Acalapati.
"Aku akan menghilangkan trauma itu dengan caraku. Aku janji. Kau hanya milikku! Hanya aku yang boleh menyentuhmu seperti ini."
Sepertinya Pangeran Lingga benar-benar tidak rela meninggalkan istri yang masih sangat ingin di sentuh dimana-mana, bukan Acalapati yang menginginkannya melainkan sang pria yang mulai terbakar gairah karena perbuatannya sendiri.
"Sebut namaku!" Titahnya tak ingin di bantah.
Acalapati hanya melirik acuh. Pangeran Lingga mencekal dagu Acalapati untuk di hadapkan kearahnya. "Sebut namaku dengan bibirmu ini." Ibu jari Pangeran Lingga mengusap belahan bibir Putri Acalapati.
Melihat tatapan tajam istrinya menyentak kesadaran Lingga. Acalapati mau melayaninya bukan karena ingin atau bahkan kerelaan. Wanita dihadapannya ini mau menerima kehendaknya karena sebatas mengugurkan kewajiban bahkan mungkin terpaksa.
Salahkah jika seperti itu? Kenyataannya Acalapati memang di jamah saat belum siap bahkan bisa dikatakan di renggut secara paksa.
Cekalan tangan Lingga pada dagu Acalapati melemah, dia menatap nanar wanita yang masih setia tak bergeming.
"Aku pergi." Setelahnya Pangeran Lingga memilih benar-benar pergi.
__ADS_1
Ternyata Restu sudah menunggunya di pintu kamar yang tidak ditempatinya semalam.
"Salam Pangeran, Saya mencari Anda dan menunggu Anda."
"Ah, aku lupa memberitahumu jika semalam aku ada hal khusus." Jawab Lingga meringis merasa kasian pada Restu yang sudah pasti lelah menunggunya.
"Saya ingin melaporkan sesuatu."
"Hmmmm..."
"Semalam saya sudah meminta orang-orang menjaga pintu gerbang dengan ketat, mereka juga berjaga di pagar istana, tetapi sepertinya semalam Putri Acalapati tidak membuat ulah dengan menyelinap seperti biasanya. Bahkan saya yang menunggu di bawah pohon Bidara sampai ketiduran tidak melihat tanda-tanda Putri Acalapati Keluar atau masuk." Laporan panjang lebar dari Restu tidak ditanggapi se antusias biasanya. Restu justru melihat garis senyum di bibir Pangeran Lingga.
Mengapa dia tersenyum?
"Pangeran?"
Dia benar-benar terseyum?
Restu tidak tau jika alasan Putri Acalapati tidak menyelinap kemanapun karena ulah sang Pangeran sendiri, Pria itu tega memenjarakan istrinya dalam kukungannya, bahkan memeluknya hingga pagi hari.
☘️☘️☘️☘️☘️☘️
"Rakyat Menginginkan Pangeran Lingga memiliki calon penerus terlebih dahulu sebelum di Lantik. Pikiran masyarakat di racuni dengan kata-kata keji orang tak bertanggung jawab." Penasehat utama menyampaikan kabar terkini.
"Pangeran harus membuktikan bahwasanya pernikahan Antara pria muslim dan wanita non muslim bukan sebuah rekayasa untuk memperluas kekuasaan." tambahnya yang di tanggapi Helaan napas panjang oleh Yang Mulya Permaisuri.
Di aula Yang Mulya Permaisuri sedang membahas mengenai desas-desus komentar masyarakat. Masyarakat menuntut Pangeran Lingga untuk mendapatkan calon penerus sebelum penobatan.
"Kita hanya perlu membuktikan pada masyarakat bahwa pernikahan Pangeran Lingga dan Putri Acalapati bukan rekayasa. Dengan cara Pangeran harus membuat Istrinya hamil, rakyat tidak akan berani menghina agama Putri Acalapati ketika penerus kerajaan sudah bersemayam di rahim Putri Acalapati."
__ADS_1
"Aku akan membicarakannya dengan Lingga. Bukankah sebelumnya di sejarah Hindia ini pernah terjadi? Raja Jalal juga menikahi wanita non muslim. Meskipun Sampai tutup usia mereka tetap beda kepercayaan. Namun pada akhirnya Ratu beragama Hindu bisa memiliki gelar Mariam Uz Zamani, bahkan dia juga mendapat gelar yang secara harfiah berarti karunia Allah yaitu Gelar Nimat Begum. Kun Fayakun!" Jawaban Yang Mulya Permaisuri berikan sangat jelas tergambar keyakinan Yang Mulya Permaisuri pada Putri Acalapati.
Kini Tergantung pada garis takdir bagaimana Lingga dan Acalapati di satukan atas nama tanggung jawab dan juga cinta.