Sang Pemilik

Sang Pemilik
Bab 32


__ADS_3

Baru saja Pangeran Lingga pikirkan. Ternyata Putri Arimbi saat ini sedang mencarinya dan menunggunya di taman istana.


Lingga sedang tidak ingin meninggalkan istrinya, tetapi dia harus. Arimbi bukan cuma sepupu untuknya, tetapi mereka juga sudah dekat sejak lama. Bisa di bilang mereka tumbuh kembang bersama.


"Oh, maaf jika aku mengganggu, Pangeran." Putri Arimbi menunduk sungkan. Seolah menampakkan rasa tidak enak sudah datang di waktu yang kurang tepat.


"Tidak menggangu." Pangeran Lingga menghela napasnya. "Mengapa kau ingin menemui ku?" tanyanya setelah itu.


Malu-malu Arimbi mengangkat wajahnya, kemudian raut lembutnya berubah sendu.


"Ibu ingin aku menanyakan perihal hubungan kita, Pangeran. Ibu menanyakan kapan kiranya Pangeran datang untuk melamar ku."


Lingga tersentak mendengar ucapan Arimbi. Perihal rencananya menikahi Arimbi belum pernah Lingga bahas sebelumnya pada Arimbi, itu hanya rencana yang belum pasti. Tapi kenapa Arimbi justru terkesan mengharapkan seperti itu?


Entah apa yang dipikirkan Arimbi karena tiba-tiba dia meraih telapak tangan Lingga untuk di cium.


"Aku tidak keberatan walau jadi istri kedua Pangeran Lingga ..."


Sama sekali tidak pernah dipikirkan Lingga untuk beristri lebih dari satu, meskipun di timur tengah pria berpunya bebas memiliki istri dua, tiga bahkan empat. Tapi Pangeran Lingga tidak ingin.


Arimbi berpikir Lingga akan tergiur dengan kepasrahan wanita yang sedang bersedia untuk melayaninya. Arimbi pikir seorang pria juga tidak akan mungkin menolak kenikmatan tubuh wanita yang di cintainya.


"Aku benar-benar mencintaimu Pangeran Lingga." Wajah sayu itu terlihat sangat mengharap.


Lingga tidak bergeming.


Tanpa sadar tangan Lingga masih berada di dalam genggaman tangan Arimbi, mereka seperti bermesraan di taman istana di sore hari. Terlihat romantis.


"Arimbi, Dengar." Pangeran Lingga menyentuh pundak sepupunya, setelah cukup lama diam. "Kita saling kenal, kau bukan orang lain bagiku, kau tau jika aku tidak ingin memiliki istri lebih dari satu." Pangeran Lingga mengeleng, "Aku tak akan menikahi mu dan menjadikan kau yang ke dua, jika aku ingin menikah lagi akan ku lepaskan yang sudah seharusnya."


Senyum di bibir Arimbi merekah. Dia baper mendengar ucapan Lingga, dia lebih bahagia. Dan dia yakin Lingga akan lebih memilihnya ketimbang Putri yang beda keyakinan dengan sang Pangeran. Arimbi merasa menang telak.

__ADS_1


"Itu artinya Anda akan segera menceraikan Putri Acalapati?" Tanya Arimbi antusias.


"Apa kau ingin menceraikan ku?" Belum sempat Lingga menjawab, sebuah suara membuatnya kaget. Kepala Lingga dan Arimbi menoleh serempak.


Acalapati sudah berdiri di belakang kursi yang mereka duduki. Dengan tangan yang dilipat di depan dada. Matanya tajam menyorot Arimbi dan Lingga yang duduk berdekatan.


"Apa gunanya peraturan jika untuk di langgar seperti ini? Bukankah kalian bukan mahram?" Acalapati terseyum miring."Untuk apa aula wanita dan pria dipisah jika kalian bisa bebas seperti ini?Harusnya pemimpin menjadi contoh yang baik, bukan sebaliknya." Sindir Acalapati telak.


"Jaga cara bicaramu. Kau harus tau dengan siapa berbicara?" Arimbi berdiri dari duduknya dan langsung mencecar Acalapati.


Acalapati berdecak, kemudian menatap Lingga.


"Siapa aku bagi mu?" Tanya Acalapati menyeringai. Kain tipis yang menutup sebagian wajahnya ia lepas kemudian dia menunjukkan senyum nya yang manisnya melebihi gula.


"Jangan lepaskan cadarmu!" instruksi Lingga. Bahkan pria itu tidak menjawab pertanyaan Acalapati sebelumnya.


"Agama ku, tidak melarangnya." timpal Acalapati.


"Aku yang melarang mu! Sebagai istri kau harus mematuhi suamimu."


Acalapati berjalan meninggalkan keduanya.


"Kau ingin kemana?" teriak Pangeran Lingga pada Acalapati yang malah melenggang dengan santai menanggalkan kain penutup wajahnya.


"Menemui Restu, aku ingin pergi berkuda."


Mendengar jawaban Acalapati. Pangeran Lingga berjalan dengan langkah berderap. Tidak ada yang dia inginkan melebihi keinginannya untuk menangkap istrinya yang berani ingin menemui laki-laki lain terang-terangan.


Putri Arimbi yang di tinggalkan begitu saja ingin marah. Tetapi dia terus menahannya, menjaga intonasi suaranya agar tetap lembut memanggil-manggil Pangeran Lingga, tetapi sama sekali tidak di dengar oleh sang empu.


"Arrrgggghhhhh!!" Arimbi mengeram seperti seekor harimau. Hatinya berkobar, dia benar-benar di tinggalkan di tengah taman sendirian oleh Lingga, pria itu lebih memilih mengejar istrinya yang sok itu.

__ADS_1


Langkah Pangeran Lingga yang lebar mampu mengejar langkah Acalapati, pergelangan tangan Acalapati yang tidak terluka di tangkapnya, kemudian Pangeran Lingga berdiri di hadapan Acalapati untuk menghalangi langkah wanita itu.


Acalapati hanya mengikuti langkah Lingga yang mengenggam tangannya untuk di tarik seperti anak balita. Acalapati pasrah mau di bawa kemanapun. Untuk beberapa saat mereka benar-benar terlihat seperti pasangan normal pada umumnya. Andai mereka menikah memang karena cinta, sayang pernikahan mereka tak lebih hanya karena tujuan masing-masing. Meskipun jika mau menelaah lebih jauh, tujuan satu sama lain itu memiliki persamaan dan mungkin bisa menyatu jika keduanya mau saling terbuka.


Tangan Acalapati masih terus di genggam dan mereka hampir sampai pada Tempat yang tadi Lingga duduki bersama Arimbi.


"Pangeran ...!" Tiba-tiba terdengar suara yang menyapa Lingga.


Acalapati segera berpaling dan ternyata itu Restu yang terlihat baru datang dari perjalanan.


"Putri," Kelihatan sekali jika Restu tidak bisa menyembunyikan kekagumannya.


"Ya," Acalapati sengaja menanggapi dengan ramah.


Untung Restu cukup tahu diri dan segera permisi undur diri.


Acalapati baru saja akan mencegah Restu, tetapi Pangeran Lingga lebih dulu mengangkat tubuhnya dan mengendongnya seperti memanggul karung beras.


Putri Arimbi sedang tidak bisa mengendalikan emosinya yang terus memanas justru melihat Pangeran Lingga melintas begitu saja, tanpa menyapanya sambil membopong Acalapati.


Acalapati sudah sangat malas menghadapi keanehan Lingga, sudah tidak perduli lagi bagaimana dia digendong dan di bawa kembali pulang.


Begitu sampai di dalam kamar, Pangeran Lingga langsung mendorong Acalapati keatas ranjang dan langsung menciuminya sedikit kasar. Dia hanya pria yang sudah teramat kesal dengan ketidak patuhan istrinya, di tambah melihat tatapan kekaguman yang terpancar di mata Restu membuatnya terbakar api cemburu. Dan Acalapati adalah wanita yang bisa mengusiknya dengan tingkahnya yang membuatnya cemburu luar biasa.


Acalapati tau pria itu sedang marah, dia sama sekali tidak takut, karena dia sengaja membuat pria ini marah dan menghukumnya ketimbang membiarkan wanita licik seperti Arimbi memiliki kesempatan untuk menjalankan rencananya.


Lingga menyusul naik keatas ranjang, menarik kaki Acalapati dengan gerakan tiba-tiba sampai Acalapati terperosot dan terbanting untuk segera diterkam.


"Oh!" Acalapati kaget tapi tidak menolak diciumi, Acalapati malah mengaitkan kaki ke pinggang suaminya.


Tindakan Acalapati membuat Lingga kaget, tetapi pria itu bahagia setelahnya, setidaknya dia tidak harus menunggu hingga malam. Lingga merasa menang.

__ADS_1


Sementara Acalapati juga merasa menang atas Lingga. Karena dia bisa menguasai Lingga dan melupakan keberadaan Arimbi.


Tetap aku pemenangnya


__ADS_2