Sang Pemilik

Sang Pemilik
Bab 26


__ADS_3

Putri Acalapati menghentikan langkahnya ketika sampai di pintu kamar. Dia membalikkan badan menatap semua yang ada di sekitarnya, termasuk pada Putri Arimbi yang menatapnya dengan penuh kebencian.


Zur membuka pintu untuk Putri Acalapati. Dia ikut marah karena mengetahui Putri Arimbi terlihat jelas sangat mendambakan kekuasaan.


"Mulai hari ini saya adalah asisten pribadi Anda. Anda bisa membuang saya berkali-kali, tetapi saya sudah bersumpah akan tetap setia melayani Anda."


Acalapati tidak bergeming. Tetapi tidak juga menolak Zur. Wanita itu sudah pernah melihatnya dalam keadaan jauh lebih buruk. Sepertinya memberi kesempatan pada pelayan senior ini bukan ide buruk.


Zur terseyum sambil membuka ikatan rambut Acalapati hingga rambutnya yang indah terurai sempurna.


"Saya akan membantu Anda membersihkan diri." Zur baru membuka kain tipis yang menggantung di wajah Putri Acalapati ketika Pangeran Lingga menyerobot masuk.


Begitu melihat kedatangan Pangeran Lingga Zur segera berdiri mengucapkan salam. Acalapati juga melihat Lelaki itu membalas salam pelayanannya dengan ramah. Zur langsung pamit undur diri untuk meninggalkan Putri Acalapati berdua dengan Pangeran Lingga.


Pangeran Lingga begitu menawan dengan jubah putih serta sorban di kepalanya.


"Aku melihatmu, dan aku datang untuk memastikan."


Ternyata Pangeran Lingga tidak pandai meminta maaf dengan terus terang. Jadi malah kalimat tak berguna itu yang justru keluar dari bibirnya.


Putri Acalapati masih berdiri kaku, mungkin karena dia belum sepenuhnya siap di lihat secara terang-terangan seperti itu oleh Pangeran Lingga. Selama ini meskipun mereka bertemu tidak pernah dalam keadaan sedekat ini.


Siapapun akan berdecak kagum melihat kecantikan Putri Acalapati.


Diam-diam Pangeran Lingga menikmati suasana yang terjadi, perempuan yang sudah ia sentuh ini sangat cantik, rambut kecoklatan dan kulitnya begitu putih, hingga ujung-ujung jemarinya tampak kemerahan. Begitu pula pembuluh - pembuluh darah terlihat membayang di pipinya.


"Apa kau takut padaku?


"Tidak!" Jawaban spontan itu membuat Putri Acalapati meremas gaunnya.


Pangeran Lingga semakin mendekat membuat Putri Acalapati reflek mundur.


"Kau, Ingin apa?" Putri Acalapati mulai takut, luapan alami dari tubuhnya yang pernah tersakiti oleh lelaki di hadapannya.

__ADS_1


Pangeran Lingga tau tentang trauma itu dan dia ingin menyembuhkan dengan caranya.


Putri Acalapati masih terdiam melihat Pangeran Lingga melepas sorban dari atas kepalanya, jubahnya juga di tanggalkan tanpa rasa malu.


"Temani aku berendam." Tubuh Pangeran Lingga condong ke depan, meraih jemari Putri Acalapati dengan lembut.


"Aku tidak mau." Tolak Putri Acalapati yang tak berpengaruh terhadap keinginan pria di hadapannya, dengan sekali sentakan tubuhnya sudah di panggul seperti karung beras untuk segera di bawa kedalam kamar mandi.


"Ao." Acalapati memekik saat tubuhnya di masukkan kedalam Jacuzzi yang berisi air rempah yang sangat harum.


Diam-diam Pangeran Lingga merasa geli melihat ekspresi wajah istrinya yang seperti tengah di siksa, padahal dia hanya ingin memandikan wanita itu.


Putri Acalapati terbelalak saat melihat Pangeran Lingga ikut masuk Kedalam Jacuzzi. Mereka sudah duduk berhadapan di masing-masing sudut Jacuzzi.


"Kau tidak merasa aneh berendam dengan pakaian lengkap seperti itu?" Tanya Pangeran Lingga mulai mengikis jarak.


"Aku benar-benar bisa membuatmu terlempar dari Jacuzzi ini jika kau berbuat kurang ajar!" ancam Putri Acalapati yang tak sedikitpun membuat Pangeran Lingga takut.


"Lakukan sesukamu, aku juga akan melakukan hal yang Kusuka. Jangan malu." Lingga berbisik dan merapatkan pinggulnya.


Acalapati di sentuh lagi dan langsung dilucuti tanpa ampun.


Acalapati spontan menggeliat tapi segera Lingga tangkap dan di sentuh.


Semua yang tengah dilakukan oleh Pangeran Lingga terasa asing bagi Acalapati, dia tidak tau pria bisa berprilaku seperti ini.


Acalapati sudah nyaris pingsan ketika Pangeran Lingga memeluknya dengan lengan gemetar sambil terus dia ciumi. Lingga membaringkan tubuh istrinya di atas kasur meskipun tubuh itu masih basah. Terapi ala suami pasti bisa menyembuhkan trauma.


"Katakan apa yang membuatmu takut hmm? Bagian mana yang disentuh oleh keparat itu?" bisik Lingga menekan emosi mengingat istrinya pernah dilecehkan hingga menimbulkan rasa trauma.


Acalapati tidak menjawab. Ia tunduk menahan nyeri dengan wajah berkerut dan desisan keluar dari mulut. Kedua tangannya menekan keras gumpalan lembut di dadanya seolah menunjukkan itulah sumber masalahnya.


Ketika Acalapati terbangun, Zur terlihat sudah duduk di samping ranjang, menjaga Acalapati dengan membawa makanan.

__ADS_1


"Pangeran Lingga meminta saya menemani Putri makan dan menganti seprai."


Sambil menikmati makanan yang diberikan Zur, Acalapati mengedarkan pandangan ke seisi ruang. Ruang itu di tata dengan sangat baik juga ventilasi yang cukup.


"Pangeran Lingga merubah kamar Anda supaya Anda merasa aman."


"Kemana dia?" Tanya Acalapati mengenai keberadaan Lingga.


"Pangeran harus segera pergi karena harus memimpin sebuah rapat yang sangat penting. Beliau berpesan agar Putri istirahat yang cukup."


Sore ini karena Lingga tidak jadi pergi ke istana Acalapati menjemput istrinya, Tuan Aryan memintanya memimpin sidang dewan eksekutif kerajaan. Sidang yang nantinya bakal sangat menentukan dukungan untuk Pangeran agar di anggap layak untuk segera dinobatkan.


"Siapkan semua berkas dan data yang dibutuhkan hari ini."


Pangeran Lingga langsung menghubungi Restu.


Lingkungan istana selalu penuh intrik dan konspirasi licik yang keji, dari masa ke masa tidak pernah berubah, dan itu terjadi di kerajaan manapun dan di negara manapun. Tidak pernah berubah seperti warisan turun-temurun.


☘️☘️☘️☘️☘️


Putri Acalapati meraba bibirnya dan teringat lagi dengan ciuman lembut Pangeran Lingga tadi. Pria itu sudah pergi dan belum kembali tetapi jejak bibirnya masih belum hilang.


Acalapati baru selesai mandi, dia sudah bersih dan sangat harum untuk bersiap tidur. Ketika keluar dari kamar mandi Acalapati terkejut melihat kehadiran Pangeran Lingga di kamarnya.


Acalapati memang belum tahu jika Pangeran Lingga sudah memindahkan semua barangnya ke kamar ini. Acalapati hanya tau ini kamar pribadinya.


Putri Acalapati benar-benar tidak menyangka jika tiba-tiba Pangeran Lingga menarik turun handuk yang melilit tubuhnya, kini bibir hangat pria itu sudah menghisap seperti lintah dimana saja


.Tidak ada yang bisa Acalapati lakukan selain menggumpati pria itu dalam hati. Kenapa Lingga seperti tidak puas membuat gambar abstrak di seluruh tubuh Acalapati? pria itu kini juga gemar mengajari wanita polos dengan pelajaran sesat dan kotor.


Acalapati benar-benar di polosi di hadapan seorang pria, Lingga sedang menciptakan kesenangannya sendiri, melakukan hal apa saja pada tanah subur yang siap di semai benih.


"Kau boleh menggigit ku jika masih terasa sakit." Ucap Lingga sebelum membawa tubuh mulus tanpa cela istrinya telungkup untuk segera di tenggelami.

__ADS_1


__ADS_2