Sang Pemilik

Sang Pemilik
Bab 37


__ADS_3

Malam itu Putri Acalapati dibuat takjub oleh pengetahuan Pangeran Lingga tentang kucing peliharaannya. Tidak begitu lama setelah berteriak kesakitan, Mary benar-benar berguling-guling ke enakan seperti kata Lingga. Bahkan tidak lama kucing pesek itu jatuh tertidur dengan lelap di samping kucing jantan hitam yang sengaja di jodohkan sebagai pasangan bertempur nya.


Hampir menjelang subuh Acalapati baru memejamkan mata.


Setelah melakukan sembahyang, dia sudah tidak bisa kembali tidur. Kegaduhan di luar kamarnya membuatnya lebih peka dan segera ingin tahu apa yang terjadi di luar kamarnya.


Saat Acalapati hendak melangkah keluar kamar, bersamaan dengan itu, Zur masuk.


"Anda jangan keluar kamar, Putri." larang Zur menutup pintu.


"Ada Apa?" tanya Acalapati.


"Sekitar empat jam yang lalu, seorang pelayan di temukan meninggal dunia dengan tujuh anak panah menusuk tubuhnya, tubuh pelayan itu langsung menghitam."


Putri Acalapati diam mendengarkan.


"Pangeran akan segera pulang. Dia berpesan agar Putri tidak memakan makanan apapun dari dapur istana dan jangan membiarkan orang lain masuk kedalam kamar Putri."


Tidak lama kemudian Yang Mulya Permaisuri langsung ikut masuk kedalam kamar Putri Acalapati.


"Kau tidak apa-apa?"


Putri Acalapati yang tidak tau jika Ibu mertuanya akan berkunjung sedikit tidak siap dan gugup. Acalapati langsung berdiri menyambut kedatangan Ibu mertuanya.


"Ya, saya tidak apa-apa, Ibu."


Yang Mulya Permaisuri juga langsung memeluk menantunya dengan sayang.


"Ibu dengar, panah itu di tujukan untuk mu, Lingga terus berpesan agar kamu tidak keluar kamar sampai pelakunya tertangkap."


"Aku benar-benar tidak apa-apa Ibu."


"Pelayan yang mati itu di temukan terpanah di bawah pohon bidara. Saksi mata mengatakan tujuh orang berpakaian hitam itu berdiri terus menatap kamar lama mu."


"Oh," Acalapati tidak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya.


Musuhnya makin berani, ingin membunuhnya di tempat terbuka, meskipun dengan cara keji seperti itu. Mendengar tubuh si pelayan menghitam jelas anak panah itu mengandung racun, yang mungkin mematikan.


"Zur, yang akan memasakkan makanan untuk mu." Yang Mulya Permaisuri mengelus rambut panjang Acalapati.


"Saya akan mengurus diri saya sendiri, Ibu."


Penolakan Acalapati bukan hal yang baru bagi Ibu dari Pangeran Lingga. Sudah terlalu sering dan tidak lagi membuatnya tersinggung.

__ADS_1


"Tangan mu masih sakit."


"Anda tidak perlu khawatir. Saya baik-baik saja."


Yang Mulya Permaisuri mengangguk dan mencium Acalapati sebelum berpamitan keluar karena harus mendampingi suaminya ke istana Mataram. Untuk mengantikan pekerjaan Lingga, yang tiba-tiba ingin pulang.


Soal kejadian semalam, baru para pelayan, Pangeran Lingga dan Yang Mulya Permaisuri yang tahu, untuk Ayah Pangeran Lingga belum di beri tahu. Karena Lingga melarangnya, dan akan mengupas tuntas kasus ini.


Maty segera keluar dari kandangnya saat Acalapati menyiapkan makanan yang sesuai seperti jadwal sarapan kucing gembul berhidung mancung kedalam kesayangan Lingga, begitu keluar dari kandang Maty langsung bermanja di kali Acalapati.


"Jangan begini, ini membuatku geli." Tegur Acalapati yang memang kegelian dengan tingkah Maty yang terus mengitari kali Acalapati dengan tubuhnya yang berbulu panjang.


'Meong'


'Meong'


Acalapati sedikit kerepotan karena adanya Maty tapi juga bersyukur karena secara tidak langsung kehadiran Maty sudah menjauhkannya semalam dari bahaya. Ternyata tidak hanya pemiliknya yang bisa melindungi Acalapati, kucingnya pun bisa.


Pagi itu akhirnya Acalapati bermain dengan Maty di dalam kamarnya. Lama-lama kehadiran Maty bisa mengikis rasa jenuh yang dirasakan Acalapati, Maty sangat lembut dan juga tidak nakal seperti yang di kabarkan Zur padanya.


"Anda benar-benar bisa menangani Maty, saya sangat kagum melihatnya." komentar Zur sambil meletakkan makanan yang sudah dibuatnya sendiri.


"Ya, dia tidak rewel. Kenapa Bibi tetap memasakkan ku, aku benar-benar bisa masak sendiri." protes Acalapati.


Acalapati memang melupakan Pangeran Lingga pernah sangat marah karena telapak tangannya yang terluka. Ah, benar. Bahkan lukanya sampai sekarang belum sembuh.


"Terima kasih." Ucapan itu bukan hal baru untuk Zur setelah mengetahui kelembutan hati Acalapati. Terima kasih yang di ucapkan Acalapati seperti bagian dari wanita itu yang sebenarnya, yaitu rendah hati dan tidak sombong.


☘️☘️☘️☘️


Setelah hampir dua hari tidak keluar kamar akhirnya hari ini Putri Acalapati di jemput oleh Restu.


Pria itu membawakan pakaian untuk di kenakan Acalapati, pakaian yang serupa di pakai ke tiga adik Pangeran Lingga.


Bahkan sangking cueknya Acalapati, nama ketiga adik Lingga saja dia tidak tahu, Acalapati tidak mau tahu karena ketiganya juga membenci nya karena rumor.


Acalapati langsung memakainya dan ikut Restu yang di utus Lingga menjemputnya.


"Maty tidak di bawa?" tanya Acalapati saat mereka berbelok ke sayap kanan istana.


"Maty tidak mau di sentuh oleh, Putri Zeva, Ana dan Ilya." ungkap Restu.


"Siapa mereka?" tanya Acalapati polos.

__ADS_1


"Anda tidak tau?" kaget Restu.


Mereka memang berjalan beriringan agar orang tidak curiga jika yang berjalan di samping Restu adalah Acalapati.


Saat ini Lingga harus waspada, dan mencari tau siapa yang mengincar nyawa istri nya, jika tertangkap lingga tak akan memberi ampun.


Sengaja Acalapati di beri pakaian yang sama dengan yang sering dikenakan ke tiga adik Lingga supaya orang istana terkecoh jika Restu sedang bersama salah satu adik kandung Lingga yang tidak perlu di lenyap kan.


Melihat gelengan kepala Acalapati membuat Restu benar-benar tidak habis pikir. Bagaimana bisa sudah satu tahun lebih Acalapati menjadi keluarga Jaguar, tetapi tidak kenal dengan ketiga Adik suaminya.


Kalau di ingat-ingat memang setiap ada acara apapun, dan perkumpulan apapun, Acalapati akan tetap berada di kamarnya dan tidak pernah mau menghadiri acara yang di adakan di istana Jaguar. Tetapi jika sampai tidak tahu nama adik kandung suami apa itu tidak terlalu.


"Saya khawatir jika Anda juga tidak mengenali saya." Restu sedikit melambatkan jalannya.


Acalapati sama sekali tidak berniat menjawab. Dia sedang merasa ada seseorang yang mengikuti mereka.


Acalapati juga memiliki kepekaan yang luar biasa, tidak hanya pandai dalam memanah, Acalapati juga pandai membaca situasi.


"Bisa lingkarkan tangan mu ke pinggang ku?"


Meskipun sambil berbisik, tetapi ucapan Acalapati sangat jelas di dengar Restu.


"Saya tidak bisa, itu melanggar atu... "


Belum selesai Restu menjawab, Acalapati sudah lebih dulu memeluk pinggang Restu dengan tangan kirinya yang tidak terluka.


"Jangan lurus!! belok dan segera merapat dengan pilar." Bisikan kedua membuat Restu sadar sesuatu.


"Lihat bayangan itu." Bisik Acalapati lagi membuat Restu menatap pilar di hadapannya yang ada cahaya matahari, samar-samar ada terlihat pergerakan orang yang mencurigakan.


Restu meraih pinggang Acalapati rapat, dan segera mengikuti arahan Acalapati untuk belok dan merapat ke pilar, saat dia berbelok dan merapat di pilar.


Langkah di belakang sana terhenti.


"Ternyata itu Restu dan kekasihnya. Sial." Suara itu cukup jelas di telinga Acalapati dan Restu yang tajam.


Dari yang terlihat apa yang di lakukan oleh Restu dan Acalapati adalah hal yang tampak mesum. meski sebenarnya mereka sedang menghindari jika sewaktu-waktu lawan membidik mereka.


☘️☘️☘️☘️☘️


Pangeran Lingga menunggu dengan tidak sabar dikamar. Baru beberapa menit rasanya sudah ingin menyusul Restu yang pergi menjemput istrinya.


Pangeran Lingga tidak tahu apa yang harus Acalapati hadapi untuk sampai di kamarnya, dia harus terlihat seperti wanita penggoda.

__ADS_1


__ADS_2