Sang Pemilik

Sang Pemilik
Bab 22


__ADS_3

Pangeran Lingga segera menghubungi Ibunya untuk mengirim pelayan setia Yang Mulya Permaisuri untuk mengurus Acalapati.


Pangeran Lingga menatap kepergian Restu dengan kening berlipat. Sebenarnya Pangeran Lingga akan langsung meninggalkan kamar Putri Acalapati tetapi ada bayangan yang mendekati kamar istri nya ketika dia menjauh. Pangeran Lingga bisa melihat itu dari pilar menjulang tempatnya hendak berbelok.


Restu melangkah memasuki kamar Putri Acalapati tidak lama setelah dia pergi, hanya sebentar dan keluar membawa jubah milik Pangeran Lingga.


Lingga tau bukan jubah itu tujuan awal orang kepercayaannya itu. Tetapi biarlah esok saja dia akan bertanya.


Orang yang diminta datang oleh Restu tidak berani masuk kedalam kamar Acalapati, sampai pada saat bibi Zur datang.


Pelayan setia Yang Mulya Permaisuri terkejut saat mendapat perintah dari tuannya untuk datang merawat Putri Acalapati. Tetapi dia tidak bisa membantah. Dengan hati yang terus mencibir dia mulai melangkah menuju kamar wanita pembuat onar itu.


"Sakit apa dia?" tanyanya sinis pada bodyguard yang hanya mengelengkan kepala.


'Tadi saja berlaku sombong, sekarang dia butuh juga bantuan ku' Zur masih saja terus mencibir dalam hati sampai pada saat pintu berwarna emas itu terbuka.


Zur kaget, kamar mewah itu sangat berantakan, saat melihat tubuh wanita yang dibencinya meringkuk bak janin dengan tubuh sepenuhnya tertutup kain , Zur segera meminta para pelayan lainnya keluar.


Zur menutup pintu. Dia sama sekali tidak menyukai istri Putra mahkota, tetapi melihat keadaannya saat ini, dia yang juga merupakan seorang Ibu hatinya tersentuh.


Zur melihat tetesan darah dilantai, tubuh yang tertutup kain sutra itu tampak tenang.


'Apakah harus memaksa seperti ini?' batin Zur merasa tak tega.


Dia yang mula-mula kesal diminta mengurus Acalapati, kini bersyukur karena dia yang melihat keganasan sang Pangeran, mencegah gosip yang akan menjatuhkan nama putra Permaisuri.


"Salam Putri, saya diminta oleh Yang Mulya Permaisuri untuk membantu anda mandi."


Tidak ada jawaban meski Zur sudah menunggu beberapa menit.


Sementara di dalam kamarnya, Pangeran Lingga sedang menyesali apa yang sudah dia perbuat, Lingga sedang berdiri di bawah kucuran air shower, kepalanya menunduk menatap sisa darah yang menempel di pangkal pahanya.


"Apa yang sudah aku lakukan?" dia berdesis kesal pada diri sendiri.


Setelah mandi dengan cepat, Lingga segera berpakaian. Lingga memegangi pelipisnya dengan telunjuk tangan seakan benar-benar pusing dengan kekacauan yang telah ia perbuat. Ekspresi muram tampak menghiasi wajah tampan milik Pangeran Lingga.


Dia benar-benar tidak menyangka akan berbuat se kejam itu. Dia sampai kehilangan kesabaran, pikirannya sudah tertutup dengan rasa kesal karena wanita itu terus membuat ulah.

__ADS_1


Zur masih menunggu wanita di atas kasur itu bergerak, tetapi sampai lakinya pegal-pegal Acalapati tidak bergerak sedikitpun.


Zur kembali kehilangan kesabaran dia akhirnya memilih untuk membereskan beberapa barang yang berserakan, saat dia menunduk dia melihat kaki Acalapati saling mengerat menandakan wanita itu menahan sesuatu.


"Putri ..." Zur segera membuka tubuh Acalapati yang terbungkus sutra, ia kaget saat melihat Acalapati mengigit bibirnya kuat sampai darah mengalir pun dengan air mata yang sudah membasahi bagian wajahnya.


"Astagfirullah." Dia beristighfar dan langsung membantu Acalapati duduk.


Zur terenyuh. Hatinya ikut sedih melihat berbagai jejak kemerahan di area yang terbuka di tubuh Acalapati. Zur menduga Pangeran Lingga memang sedang marah saat melakukan hubungan terhadap istrinya. Tetapi untuk yang pertama tidak bisakah lelaki memperlakukan wanita dengan lembut? Sedang dengan perlakuan lembut saja di masuki pertama kali akan tetap meninggalkan rasa sakit apalagi dengan cara kasar seperti ini.


"Lepaskan gigitan anda Tuan Putri." Zur mencoba tetapi tidak bisa."Tolong anda menyakiti diri sendiri. Kadang laki-laki bisa agak kasar jika suasana hatinya sedang tidak baik." Zur coba mengajak Acalapati bicara agar lebih rileks."Padahal wanita hanya bisa disentuh dengan cara lembut."


Zur masih mencoba mengajak Acalapati bicara, sampai pada saat bibir itu bisa melepaskan gigitannya. Tetapi tidak lama Acalapati malah jatuh tak sadarkan diri.


Belum pernah terjadi sebelumnya, istana di buat sibuk di waktu seperti saat ini. Jam di dinding masih menunjukkan waktu dua dini hari, tetapi di depan pintu kamar Acalapati sudah dipenuhi orang-orang yang ingin tau apa yang menimpa Putri jahat itu lagi.


Lingga yang baru akan memejamkan matanya kembali meraih ponselnya yang bergetar.


Kakinya tidak lagi melangkah, melainkan berlari menuju kamar yang beberapa jam lalu di tinggalkannya.


'Brak'


"Ibu."


"Apa yang sudah kamu lakukan, Lingga?" Bentak Yang Mulya Permaisuri.


"Kau memaksanya? Dia istrimu bukan pelacur!" Yang Mulya Permaisuri ber sungut-sungut. Dia sangat marah dengan apa yang sudah diperbuat Lingga.


"Ibu, aku hanya mengambil hak ku." Ujar lingga membela diri.


Lingga tidak melihat keberadaan Acalapati. Apakah wanita itu yang mengadu pada Yang Mulya Permaisuri?


"Kau menyakitinya, kau merusaknya dan kau membuatnya terluka."


"Itu tidak benar Ibu, dia sudah berani keluar istana, aku hanya ingin menertibkannya."


"Saat ini juga tinggalkan Istana Jaguar." ucap Yang Mulya Permaisuri tegas.

__ADS_1


"Apa,?" Kaget Lingga.


"Jangan tunjukkan wajahmu di hadapan Ibu, sampai Putri Acalapati sembuh."


'Sembuh?' Batin lingga bertanya.


Lingga menemui Restu langsung ketika keluar dari kamar Acalapati.


"Wanita itu benar-benar." sungut Lingga begitu masuk kedalam kamar Restu.


"Kau dari mana?" Tanyanya melihat Restu yang baru saja melepas jaket.


"Mengantarkan Zur membawa baju Putri Acalapati ke rumah sakit."


"Apa?" Kaget Pangeran Lingga.


Acalapati yang sedang meringkuk di atas pembaringan langsung berjingkat bangun dengan waspada saat Zur membuka pintu ruang dimana dia di rawat.


Zur ikut heran dengan reflek Acalapati yang tampak berlebihan. Tetapi dia sudah tau keadaan wanita itu yang sebenarnya.


"Ada trauma yang belum sembuh, mungkin ada yang pernah terjadi di masa lalu, dia menyembunyikannya, dan trauma itu muncul kembali bersamaan dengan kejadian yang dialaminya. Itu yang membuat pasien sampai pada keadaan seperti ini."


Zur mengingat perkataan Dokter. Dia jadi tidak tega pada Acalapati.


"Maaf mengejutkan anda Putri, saya tadang untuk membawakan baju ganti."


Zur segera keluar dari ruangan, saat berbalik dia kaget melihat Tuan Aryan dan para pengawalnya.


"Katakan pada mereka, kami yang menjemput putri kami."


"Ini bencana, ini tidak boleh terjadi." Jerit Zur dalam hati.


Zur berlari kearah parkiran, tetapi tidak menemukan mobil Restu.


"Subhanallah, Subhanallah." Zur terus menepuk dadanya. Berharap rasa gugupnya mereda.


Helikopter milik kerajaan Acalapati sudah melakukan pendaratan di Heliport Rumah sakit tempat Putri Acalapati di larikan.

__ADS_1


Tuan Aryan sudah mengendong tubuh putrinya kedalam rangkulan kokohnya, sama sekali tidak membutuhkan kursi roda. Dengan tangannya sendiri Tuan Aryan membawa Acalapati yang sangat memprihatikan.


"Maafkan Ayah sudah membawa mu ke lembah mengerikan, Ayah sendiri yang akan mengurus perpisahan kalian."


__ADS_2