
Mereka kembali ke istana setelah hampir empat jam berada di sekitar masyarakat miskin.
"Bibi, apapun yang Bibi ketahui hari ini jangan ada yang tahu, ini rahasia kita berdua. "
Senyum di bibir Zur meredup seketika.
"Kenapa Putri bernaung dibawah nama tercela?"
Mendengar pertanyaan Zur, Acalapati akhirnya menceritakan tujuannya.
☘️☘️☘️☘️☘️
Menyelinap masuk istana lebih mudah di Banding menyelinap keluar, Zur benar-benar mendapatkan pengalaman yang luar biasa hari ini, bersama Putri Acalapati yang pernah dibencinya.
"Biar saya antar Putri Acalapati ke ruang spa, untuk merilekskan tubuh dan juga menyegarkan kembali aura wajah Putri." Tutur Zur yang di turuti saja oleh Acalapati.
Karena mereka kembali lebih cepat dari perkiraan, jadi Acalapati akhirnya tidak perlu berbohong pada Pangeran Lingga. Acalapati tidak tau sebenarnya Pangeran Lingga tengah menunggunya.
Setelah berendam kurang lebih setengah jam, Acalapati segera di bantu berpakaian oleh Zur. " Saya antarkan sampai kamar Putri."
Mereka baru saja berjalan beberapa langkah saat dari arah sayap kanan istana Restu menghampiri.
"Pangeran Lingga mencari Anda, Putri." lapor Restu.
"Putri Acalapati baru berendam." jawab Zur, mewakili Acalapati.
Restu melirik Zur, terasa asing melihat Zur dan Acalapati tampak akrab.
"Jangan menatapku seperti itu, Restu." Tegur Zur pada orang kepercayaan Pangeran Lingga.
Restu membuang muka di ingatkan seperti itu, dia memilih pamit pergi setelahnya.
"Bibi pergilah, aku akan kembali sendiri."
Zur tidak bisa memaksa Acalapati, dia ingin berbuat baik untuk wanita ini sekarang, wanita yang mengatasnamakan kerajaan Jaguar dalam melakukan kebaikan-kebaikan yang dia perbuat.
Berbeda kepercayaan tidak menghalanginya berbuat baik. Begitu mulia hatinya, tidak memakai identitas asli karena takut menyinggung seorang muslim yang dibantu nya.
__ADS_1
Di dalam kamar Pangeran Lingga yang sudah lama menunggu kedatangan Acalapati mulai tidak sabar. Dia ikut mondar-mandir. Lingga sudah mandi, sudah harum dan siap menghadapi istrinya.
Pangeran Lingga kehabisan kesabaran ingin langsung mencari keberadaan istrinya langkahnya tegas meraih pintu, tapi baru saja tangannya ingin menarik gagang pintu, pintu terlebih dahulu di dorong dari luar.
Pangeran Lingga melihat wajah istrinya yang tertutup kain tipis dan rambutnya yang tergerai indah, Pangeran Lingga memberi jalan masuk untuk Isterinya, Acalapati juga langsung menutup pintu saat sampai di dalam.
Pangeran Lingga menghirup aroma manis, lembut, dan sensual. Sangat mampu untuk membangunkan kelenjar gairah pria dewasa.
"Oh!" Acalapati kaget tapi tidak menolak ketika diciumi.
Sebenarnya Pangeran Lingga sudah sangat kesal karena sudah sejak kemarin tidak menyentuh istrinya dan masih disuruh menunggu seperti orang bodoh.
"Pangeran..."
Acalapati memiliki suami yang sangat kuat mengajaknya bercinta, meski rasanya sudah tidak sakit lagi dan di isi berulangkali tapi Acalapati masih belum nyaman.
"Sebut namaku!" Di setiap kesempatan Pangeran Lingga selalu meminta Acalapati untuk menyebut namanya, namun tidak pernah di hiraukan oleh Acalapati.
"Ao ..." Acalapati memekik lagi saat tangannya yang sakit tidak sengaja tertindih.
"Pintu belum ku kunci."
"Hemm ..." Pangeran Lingga cuma melenguh.
"Ini masih sore," Acalapati kembali mengingatkan.
Acalapati bergegas bangun dari sofa tapi justru Lingga langsung menangkap pinggangnya dengan cekatan untuk dia angkat dan di bawa keatas tempat tidur.
"Sebut namaku, Acalapati,"
Sebenarnya Acalapati tidak ingin menghiraukannya tapi ternyata Lingga terus membelainya, menggoda dan membujuk Acalapati agar me lembut.
Acalapati semakin di tindih. Acalapati merasa sedang diserang serempak di atas, di bawah, dan sekujur tubuhnya, hingga tidak bisa dipilah lagi dari mana sumbernya.
Acalapati runtuh oleh serangan bertubi-tubi, dia memekik lirih saat Lingga mengigit daun telinganya.
Lingga suka memperhatikan Acalapati yang sedang bergerak dan Acalapati juga bisa merasakan bagaimana pria itu bisa sangat mempengaruhinya seperti ini, tatapan yang sangat intim. "Aku tidak akan melepaskan mu sampai kau menyebut namaku." Sebuah ancaman tegas di bisikkan Lingga di telinganya
__ADS_1
Konyol sekali, Saat seperti ini pentingkah Acalapati harus menyebut namanya. Tetapi mungkin dia benar-benar bisa mati lemas jika tidak menuruti keinginan Lingga.
Lingga terus menciumi nya, tidak memberi kesempatan untuk Acalapati memberontak.
"Lingga," lirih Acalapati yang praktis menghentikan perbuatan Lingga.
Acalapati membiarkan pinggangnya ditarik untuk dicium.
"Terima kasih, terima kasih untuk semuanya," Bisik Pangeran Lingga di dekat daun telinga Acalapati.
"Kita bisa melakukannya nanti malam." Acalapati memberikan penawaran.
"Kau istri ku, aku boleh menyentuh mu kapan saja." sanggah Lingga.
"Tapi aku baru saja berendam, dan masih belum ingin mandi lagi." Acalapati mencari alasan yang masuk akal.
Pangeran Lingga membelai pipi Acalapati yang hangat dengan tatapan teduh. "Baiklah," ucapnya sambil masih menggosok-gosok lembut pipi Acalapati. Pangeran Lingga sadar jika dia bisa agak berlebihan untuk Acalapati tapi istrinya akan segera terbiasa dengan dirinya.
"Bagaimana rasanya?" Lingga bertanya, "Apa kau sudah menyukaiku?"
Acalapati bingung dengan pertanyaan Lingga, lelaki itu menanyakan suka dalam artian apa?
"Aku menyukaimu, Acalapati." Pangeran Lingga kembali bergulir untuk setengah menaungi tubuh Acalapati yang sedang berbaring." Aku menyukai saat kita seperti ini."Pangeran Lingga tidak keberatan mengakuinya.
Pangeran Lingga mulai menelusuri bagian tubuh Acalapati. "Tidak perduli banyak orang yang tidak menyukaimu, karena yang terpenting aku menyukaimu!" tegas Lingga.
Acalapati tidak bodoh. Dia paham maksud Pangeran Lingga dan sejak awal Acalapati juga sudah meyakinkan dirinya dengan mantap jika ia akan tetap berjuang untuk pria ini dengan segala resiko, bahkan meski hasil akhirnya kebahagiaan Lingga bukan bersamanya.
"Kau dari mana?"Ingga menjauhkan diri dan langsung bertanya.
"Aku dari ruang spa." Acalapati membiarkan tubuhnya tetap di atas tempat tidur, entah mengapa dia begitu nyaman berbaring , terasa nyaman dan menghanyutkan.
Diam-diam Pangeran Lingga terseyum tipis melihat istrinya memejamkan mata. Acalapati tidak lagi risi dengan keberadaannya, bahkan wanita itu tidak lagi sungkan membiarkan wajahnya bebas di perhatikan oleh dirinya.
Tiba-tiba Lingga tersentak. Apakah setelah semua yang wanita itu berikan padanya, dia masih ingin menikahi sepupunya? Timbul keraguan di hati Lingga, saat ini bukan persoalan tentang keturunan atau tahta. Akan tetapi ini sudah menyangkut hati dan perasaannya.
Lingga tidak menemukan kekurangan apapun dari istrinya, Acalapati yang keras kepala dan terkenal tempramental bahkan tidak pernah menolaknya sebagai seorang suami, bahkan sekadar membahas apa yang telah ia renggut pun tidak wanita itu lakukan.
__ADS_1