Sang Pemilik

Sang Pemilik
Bab 14


__ADS_3

Tiga hari sudah Raden tidak pergi bekerja. Sekar masih menemani pria itu dengan ogah-ogahan, bukan tanpa alasan karena sejak tau Raden sakit, Yuana dengan tidak tahu diri terus datang untuk memberi perhatian palsu pada Raden.


Sekar muak, dan jengah dengan perilaku dua manusia itu yang terus membuatnya kesal.


Mereka seperti sengaja mengumbar kemesraan, tidak perduli meski ada Sekar atau asisten rumah tangga di sekitar mereka.


Seperti pagi ini. Yuana dengan tidak tahu malu sudah duduk di samping Raden. Sengaja melayani Raden sarapan seperti selayaknya istri idaman.


"Minggu depan aku akan menikah, Yuana akan tinggal disini bersama kita." suara Raden memecah keheningan. Sekar tidak perduli, lagian rumah ini juga bukan miliknya, Raden berhak berbuat apa saja.


"Ingat Sekar, jangan berani-berani kamu membocorkan pernikahan kami" ancam Yuana sengit.


Sekali lagi Sekar tampak tidak perduli, hanya saja Sekar merasa kasihan pada pemilik tubuh asli. Kenapa lelaki itu membuatnya sesakit ini? Sekar tidak pernah mengemis untuk dicintai, dia hanya ingin dihargai. Setidaknya sebagai wanita yang telah di ikat dengan janji suci.


Sekar meninggalkan piringnya yang masih utuh tak menggubris Raden yang mencoba memanggilnya.


"Bi..." Sekar melenggang ke dapur dan langsung meneguk segelas air putih.


Sekar ingat jika wanita yang membantu mengerjakan pekerjaan rumah tangganya ini pernah mengungkapkan jika ia merasa kasihan pada Sekar. Kenapa Sekar bisa terjebak di dalam pernikahan yang tidak sehat. Begitu kiranya ungkap sang asisten rumah tangga. Padahal sebenarnya sebuah pernikahan itu tidaklah salah. Pernikahan adalah sebuah ikatan suci yang harus di hormati dan dijaga.


Namun, bisakah rumah tangga menjadi lebih baik , sementara nahkodanya selama ini enggan berlayar? Begitu juga awak kapal yang enggan untuk berlabuh lebih jauh ke tengah samudera.


Sekar sendiri sedikit terusik dengan perkataan Raden. Seberapa persen lelaki itu serius ingin menikah lagi? Melalui pandangannya Raden bukan pria se egois itu, buktinya Raden selalu berusaha berbakti. Tapi hati seseorang siapa yang tahu?


Jika Raden benar-benar akan menikah lagi, pasti akan ada pihak tersakiti, terutama Nenek Fury. Sang Nenek pasti akan sangat terpukul jika mengetahui cucu kebanggaannya melakukan kebohongan besar. Meskipun Raden meminta Sekar menyembunyikan pernikahan keduanya, akan tetapi. Sepintar-pintarnya bangkai ditutupi, baunya tetap tercium juga.


Ayo Sekar berpikir.


Sekar buru-buru masuk kedalam kamar, melewati dua manusia laknat itu dengan acuh.


Dia butuh waktu untuk berpikir, meraih ponsel pintarnya, Sekar mencari tahu kiat-kiat menjadi istri yang baik.


Sekar tenggelam dalam bacaan yang di carinya.


Cara mempertahankan biduk rumah tangga yang goyah adalah dengan cara bertahan. Mencoba memegang kendali semuanya. Bersikap layaknya istri yang selalu ada itu penting.


"Mustahil" Sekar meremas rambutnya. Masih dengan mata tertuju pada latar ponsel.


Yang benar saja Sekar harus begitu? Mana mungkin. Dia dan Raden sudah dipisahkan oleh jarak tak kasat mata. Meski mereka suami istri.

__ADS_1


Tetapi tidak ada salahnya mencoba. Jika tidak dimulai, Maka dia tidak akan tahu hasil akhirnya.


"Sial"


Berkali-kali Sekar mengumpat karena tidak tau harus benar-benar berperilaku sebagaimana seorang istri menyiapkan segala keperluan Raden, sarapan, pakaian, dan lain-lain.


Benak Sekar berpikir. Rumah tangganya masih seumur jagung, sudah seharusnya dia mempertahankan. Demi wanita tua yang menyayanginya, demi harga dirinya yang ingin di injak-injak wanita lain. Sepertinya dia harus mengetuk pintu langit dengan doa-doa dan sudah seharusnya menjalani hidupnya selayaknya Sekar istri Raden.


"Jika boleh memilih, aku lebih suka membunuh dua manusia bodoh itu!" Masih sempat-sempatnya Sekar memaki meskipun dia sudah bertekad untuk menjalani kehidupan Sekar yang sebenarnya.


Sekar menghela napasnya. Kali ini dia mengetik hal lain di kolom pencarian google. 'Cara Menarik Perhatian Suami'


Dan muncullah yang di carinya.


1.Coba Pahami Bahasa Cinta dari Suami.



Jangan Membandingkan Pernikahan dengan Orang Lain.


Cobalah Merawat Penampilan Diri Kita.


Berhenti Mengomel dan Perhatikan Keluhannya.


Jangan Mengabaikan Suami.


Buat Sedikit Kejutan.


Kirimkan Pesan yang Menggoda.



Sekar mengacak rambutnya frustasi. Dia sepertinya benar-benar akan putus asa karena keputusannya sendiri. Haruskah dia melakukan hal memalukan seperti itu?


Tapi dia Sekar. Gadis yang tidak memiliki siapa-siapa selain suami laknatnya dan Nenek Fury.


Raden yang sudah selesai sarapan dari tadi mulai khawatir dengan kondisi Sekar, karena Sekar pergi ke kamarnya sebelum sarapan dan ini sudah hampir empat jam Sekar belum juga keluar.


"Bi, antarkan sarapan Sekar ke kamarnya" pinta Raden pada asisten rumah tangganya.

__ADS_1


"Biar aja sih Mas, dia punya kaki untuk berjalan ke meja makan!" Yuana protes melihat Raden yang menaruh perhatian terhadap Sekar.


"Sekar istri ku dan masih tanggung jawab ku." Raden menatap Yuana tajam. Seolah tidak suka dengan ucapan Yuana.


Yuana menciut, buru-buru dia menutup mulutnya rapat meskipun di bawah meja tangannya terkepal kuat.


Wanita paruh baya itu buru-buru melakukan perintah Raden. Mengambilkan kentang rebus, tempe rebus dan juga beberapa potong buah apel dan pepaya.


"Kenapa tidak pakai nasi?" Raden langsung memprotes.


"Mba Sekar tidak sarapan nasi, Mas. Makan siang saja baru makan nasi, itupun nasi merah."


Raden tertegun mendengar ucapan asisten rumah tangganya. Terkejut. Karena selama ini dia selalu melihat Sekar yang makan dalam porsi jubung seperti kuli bangunan. Pantas saja wanita itu cepat kehilangan berat badannya.


"Ayam gorengnya?"


"Mba Sekar tidak makan makanan yang digoreng, dan hari ini bibi tidak bikin ayam tim"


Raden benar-benar merasa telah ketinggalan banyak hal tentang Sekar.


Karena tidak ingin terlihat semakin bodoh di depan asisten rumah tangganya Raden mengambil alih nampan yang hendak di bawa ke kamar Sekar.


"Aku aja yang antarkan."


Tidak ada bantahan. Bibi langsung mengangguk dan berlalu ke dapur.


Yuana baru ingin membuka mulutnya untuk memprotes, tapi langsung diam saat mendengar ucapan Raden.


"Na, kamu pulang dulu ya, aku harus membujuk Sekar agar dia setuju merahasiakan rencana pernikahan kita dari Nenek."


Yuana terpaksa mengangguk. Dia memang tidak mau jika Fury benar-benar akan mencoret nama Raden dari ahli waris. Dia butuh harta, tidak cuma Raden.


"Aku pulang" Yuana mencium pipi Raden dengan raut pasrah. Raden juga sempat mengelus lembut puncak kepala kekasihnya, meskipun semakin hari Raden merasa perasaannya terhadap Yuana terasa hambar.


Raden membawa nampan berisi makanan yang akan di antarkan ke kamar Sekar. Namun belum sampai kakinya melangkah lebih jauh dari meja makan, Sekar sudah terlihat menuruni tangga.


Mau mengulas senyum saja Sekar harus perang batin. Tetapi pada akhirnya dia bisa juga menerbitkan senyum manis.


"Mas mau kemana?" tanya Sekar lembut, yang hampir saja membuat Raden melepaskan nampan di tangannya.

__ADS_1


__ADS_2