Sang Pemilik

Sang Pemilik
Bab 15


__ADS_3

Mau mengulas senyum saja Sekar harus perang batin. Tetapi pada akhirnya dia bisa juga menerbitkan senyum manis.


"Mas, mau kemana?" Tanya Sekar lembut, yang hampir saja membuat Raden melepaskan nampan di tangannya.


Tidak hanya terdengar lembut nadanya, namun juga sopan cara bertanya nya, di tambah senyum manis menghiasai bibir wanita yang sudah berhari-hari berprilaku dingin dan berbicara ketus itu membuat Raden terhenyak.


Sekar masih mempertahankan senyum manis di bibirnya sampai langkah kakinya semakin mendekat kepada Raden.


"Mas, mau kemana?"


Tengkuk Raden merinding, pria itu masih tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.


Sekar tampak manis dengan mengunakan baju terusan berwarna salem, rambutnya di cepol asal dengan anak rambut yang dibiarkan melintasi daun telinganya, biasanya segalanya begitu praktis ketika melihat Sekar tanpa melibatkan perasaan. Tapi kali ini Raden benar-benar seperti hilang akal.


Raden berpikir keras, bagaimana Sekar bisa berubah cantik seperti sekarang ini? Pesonanya sama sekali tidak mungkin bisa di abaikan. Bahkan, seolah membuat hidupnya seperti jungkir balik.


Raden tersentak saat tangan gemuk Sekar yang kini menjadi lentik memegang lengannya.


"Mas?" Sekar hanya memastikan apakah Raden benar-benar tidak mendengar pertanyaannya, karena sudah dua kali pertanyaannya tak di jawab.


Melihat Raden yang tersentak Sekar tau bahwa pria itu benar-benar tidak mendengar pertanyaannya.


"Eh, iya?"


"Aku dari tadi tanya, mas mau kemana?" Sekar memperbanyak stok kesabaran.


"Antar makanan untuk kamu."


"Untuk ku?" praktis Sekar juga kaget. Tumben? Pikirnya.


Sekar mengedarkan pandangannya mencari keberadaan Yuana, tapi nihil. Sepertinya wanita itu sudah pergi.


"Yuana aku suruh pulang!" Seperti mengerti apa yang Sekar cari, Raden memberitahu lebih dulu.


"Terimakasih, Mas." Karena enggan berdebat dan malas banyak berkata manis Sekar memilih memberikan ucapan pamungkas.


"Ini mau dimakan dimana?" Sekar ikut melihat ke arah nampan yang Raden bawa.


"Di meja makan saja."


Sekar mendampingi Raden yang membawa sarapannya yang sudah terlambat ke meja makan. Setelah mereka duduk berdampingan, Sekar langsung memakan makanan itu tanpa protes. Sepanjang Sekar makan Raden terus memperhatikan wanita itu, di lihat dengan matanya yang terang-terangan. Tetapi Sekar tidak perduli, jika Raden simpati itu lebih bagus.


Usai makan, Sekar langsung dibawa Raden ke ruang baca. Sekar duduk di sofa berwarna abu-abu tua sementara Raden langsung mengeluarkan sebuah map merah yang Sekar kenali. Map yang berisi surat perjanjian mereka.

__ADS_1


"Di surat perjanjian ini kita memang akan bercerai setelah satu tahun menikah, dan aku akan menikahi Yuana di tahun yang sama, tapi karena memikirkan usia Yuana yang tidak bisa menunggu lebih lama aku minta maaf harus mengubah isi perjanjiannya."


"Egois, tolol, bego." sederet cacian itu ingin Sekar semburkan pada Raden, sayang, sekarang Sekar sudah sedikit pandai meredam emosinya.


"Apa Yuana sakit parah, Mas?"


"Bukan begitu, hanya saja dia khawatir terlambat melewati masa produktif, lebih tepatnya takut melewati masa suburnya, mengingat kini usianya sudah memasuki tiga puluh enam tahun."


Sekar mangut-mangut. "Jika itu yang mas Raden kehendaki aku bisa apa?"


Debar di dalam dada Raden menggila begitu mendengar Sekar menyebut namanya.


"Sekar, Maaf" Raden mengenggam tangan Sekar, dan Sekar tidak menolaknya. Sekar yang di genggam jemarinya juga merasakan debaran aneh di dadanya.


"Kau tidak harus pergi, jika kau mau menerima Yuana."


Tamparan 200 kali pun rasanya belum puas. Sekar ingin sekali menampar mulut Raden yang lemes kayak kaleng rombeng. Apa pria itu sudah tidak waras?


"Aku masih memiliki waktu enam hari kedepan untuk menghabiskan waktu bersama mas Raden, akan ku manfaatkan sebaik mungkin, aku ingin menjadi istri yang baik di sisa kebersamaan kita." Sekar tersenyum hangat.


Kini giliran Raden yang menatap tidak percaya.


"Sekar, kamu tidak mau menerima Yuana sebagai saudara? kalian bisa sama-sama menjadi istri ku?"


Sekar mengeleng. "Aku akan membantu menyembunyikan status kalian dari Nenek, aku juga akan menemani mas Raden ketika Nenek mengundang kita ke acara makan-makan, tetapi untuk di madu aku tidak mau mas. Maaf!" Sekar menunduk, menyembunyikan air mata yang tiba-tiba jatuh.


'Aku menangis?' Bahkan Sekar sendiri kaget merasakan pipinya basah.


Raden merasa sedih mendengar keputusan Sekar. Rasa tidak rela merongrong hatinya. Saat Sekar memilih menarik diri dia merasa ada yang kosong di bagian hatinya. Terlebih kini Raden melihat Sekar yang menangis karenanya.


"Sekar ..."


Tangan Raden terulur untuk menarik wajah Sekar lembut agar menatapnya. Raden menghapus air mata Sekar yang melintasi pipi wanita itu.


"Aku sangat mencintai Yuana, kami sudah sangat lama menjalin hubungan. Aku salah menarik mu kedalam masalah. Maaf, mintalah sesuatu agar kamu bisa memaafkan ku, Sekar." tatapan Raden nanar. Hatinya seperti di cubit tak kasat mata melihat wanita menangis di hadapannya.


Setelah cukup lama diam, Sekar sudah mulai tenang.


Raden melihat Sekar yang duduk berpangku tangan di hadapannya, tatapannya jatuh terpaku kearah bibir yang tampak menggoda. Tanpa bisa di cegah secara naluri tubuhnya condong kedepan dan mempertemukan bibir mereka.


Raden seolah melupakan pernah mendapatkan tendangan maut dari Sekar, karena Raden benar-benar tidak mampu membendung arus listrik di tubuhnya.


Kecupan basah itu semakin membuat Raden hanyut. Sekarang Sekar juga sudah ikut memejamkan matanya. Ini adalah kebahagiaan untuk Sekar, karena sejak menikah dia mendambakan sentuhan dari suaminya.

__ADS_1


"Bernapas, Sekar!" Buru-buru Raden melepaskan ciumannya saat sadar bahwa istrinya tidak bernapas.


Napas Sekar ter-sendal-sendal begitu Raden memberi jeda ciuman mereka.


"Maaf," suara Sekar bergetar. Dia sendiri bingung kenapa dia sangat gugup?


Baik pemilik tubuh, ataupun jiwa yang menempatinya memang masih sangat polos, ini pengalaman pertama yang sangat mengejutkan.


Raden ingin kembali melabuhkan bibirnya, tetapi suara bel rumah membuatnya urung.


"Sial!"


Raden mengumpat. Sekar menghela napas lega. Raden membelai lembut bibir Sekar sebelum berlalu melihat siapa tamu yang mengacau kesenangannya.


"Nenek?" Raut kesal Raden berubah seketika setelah melihat Fury lah yang datang.


"Kenapa lama sekali?" Protes wanita yang sudah membesarkan Raden itu.


"Maaf Nek, aku sedang di ruang baca bersama Sekar."


Fury melewati Raden, melenggang masuk dengan tongkat kesayangannya.


"Sekar," suaranya memang tidak terlalu nyaring, tetapi Sekar tetap bisa mendengar.


Sekar keluar dari ruang baca dan segera menghampiri suara yang memanggilnya.


Bibir Fury berkedut, sebelum sudut bibirnya tertarik keatas dengan sempurna.


"Cucuku sangat cantik, Nenek hampir saja tidak mengenalimu"


Tangan tua Fury di rentangkan, Sekar yang paham langsung mendekat dan langsung memeluk tubuh wanita yang memang tulus menyayanginya.


"Sum. Packing kan barang-barang Sekar, aku akan membawanya berlibur."


"Baik, Nyonya besar." Dari arah dapur asisten rumah tangga Raden menyahut, dan langsung mengerjakan perintah Fury.


"Nek, mau dibawa kemana istri ku?"


Oh, tidak. Raden hanya memiliki waktu bersama istrinya enam hari dan sekarang Neneknya malah mau membawa Sekar.


"Nenek mau membawa Sekar ke tanah kelahiran mu, berlibur disana beberapa minggu."


Beberapa Minggu?

__ADS_1


__ADS_2