Sang Skenario Cinta

Sang Skenario Cinta
Lulus


__ADS_3

Arya menyelimuti Aqila yang sedang tertidur. Meninggalkan pesan di ponsel Qila, dan segera mengunci pintu. Arya melajukan motornya dengan kecepatan tinggi.


Ia akan pulang ke rumah sebentar untuk mengambil mobil dan kembali menjemput Aqila. Arya takut kalau kena hujan lagi kekasihnya akan demam atau sakit.


Tidak sampai satu jam, Arya sudah kembali di tempat di mana Bela di tinggal tadi. Ia kemudian membangunkan Aqila yang masih tertidur.


"Sayang, bangunlah. Kita pulang yuk." Ajak Arya.


"Oh, iya sekarang sudah sore banget. Ayo Bang, nanti Mama khawatir." Jawab Bela.


Arya menuntun pujaan hatinya tersebut keluar dari rumah. Membawa Aqila menuju mobilnya. Namun karena belum di jelaskan, terlihat Aqila seperti terkejut.


"Bang, Kok ada mobil disini? Motor Abang kemana?" Tanya Aqila.


"Abang tidak mau kamu kehujanan dan tambah sakit sayang. Makanya Abang tadi cepat ambil mobil di rumah." Jawab Arya.


"Oh, terimakasih sudah perhatian sama Qila Bang." Kata Aqila tersenyum.


"Baiklah, sayang ku." Jawab Arya pendek.


Matahari hampir menyembunyikan wajahnya dari titik koordinat di mana sepasang kekasih tersebut berada. Ia telah bergeser untuk menyinari makhluk di belahan bumi yang lain.


Arya dengan pelan membantu sang kekasih berdiri dan menuju mobil yang telah siap di luar rumah. Mereka meninggalkan daerah persawahan sekitar pukul 6.00 WIB, saat suasana hampir sedikit gelap.


Dalam perjalanan, Arya sengaja tidak mengajak Qila ngobrol lebih banyak. Ia ingin pujaan hatinya bisa beristirahat walaupun sejenak. Hanya memberikan selimut berupa kain bali yang kelihatan tipis tetapi sangat lembut dan nyaman di pakai.


Qila yang masih terasa lemas menerima saja saat Arya menyelimuti tubuhnya. Ia duduk di samping Arya yang sedang fokus dengan kemudinya. Kursi mobil sengaja agak di rebahkan agar Aqila bisa sedikit rebahan.


Hampir sejam mereka telah tiba di depan rumah kediaman Aqila. Arya telah duluan turun dan membuka pintu mobil untuk Aqila. Mama Tita sudah keluar sedari tadi saat mendengar suara mobil berhenti depan rumahnya.


"Tan, tolong tadi Qila sedikit kecapekan." Kata Arya seraya menyalami Mama Tita.


"Hem, kenapa anak Mama? Sakit lagi sayang?" Selidik Mama Tita.


"Enggak Ma, hanya kecapekan. Qila nggak apa-apa kok." Jawab Aqila.

__ADS_1


Aqila merasakan kepala sedikit pusing. Tapi hal itu tidak terlalu di rasakannya, karena memang dari kecil tensi darahnya selalu rendah. "Mungkin darah Qila turun lagi." Pikirnya dalam hati.


Ia tetap menemani Arya duduk di sofa ruang tamu. Sementara tidak berapa lama Mama Tita sudah datang dengan membawa segelas teh dan segelas susu hangat untuk Aqila.


Mama Tita tidak lupa menyuguhkan dia toples yang berisi makanan ringan. Meletakan di meja kecil di depan Aqila dan Arya.


"Silahkan di minum Nak Arya." Kata Mama Tita.


"Terima kasih Tante. Maaf jika telah membuat Qila kecapekan hari ini." Kata Arya merasa bersalah.


"Tidak apa-apa Nak, justru selalu di dalam rumah membuat Qila semakin stres. Bukankah sakit pikiran lebih berbahaya dari sakit fisik?" Kata Mama Tita.


"Iya Bang, biasa saja." Kata Aqila.


"Terima kasih Tante." Jawab Arya.


"Ma, tolong ambilkan obat tambah darah Qila." Pinta Qila kepada Mamanya.


"Baik sayang." Jawab Mama Tita.


Setelah merasa sudah lega melihat kesehatan kekasihnya semakin membaik. Arya segera berpamitan untuk pulang ke rumah.


Mama Tita mengantar Arya sampai depan pintu rumah. Sedangkan Aqila sengaja di minta Arya untuk tidak mengantarkannya ke depan. Ia takut kekasihnya tersebut kembali kecapekan dan sakit.


Setelah punggung mobil yang di kendarai Arya tidak terlihat lagi. Mama Tita membopong Qila masuk ke dalam kamar untuk beristirahat.


***


Sebulan telah berlalu, hari ini adalah hari di mana Arya akan melepas almamaternya. Ia akan mengenakan toga dengan gagah. Tidak lupa ia ingin mengundang kekasihnya untuk datang ke acara hari bersejarah bagi dirinya.


Arya tidak lupa akan mengucapkan terimakasih kepada kekasihnya tersebut, walaupun nanti dirinya akan di panggil ke podium sebagai mahasiswa yang terlama berkuliah di universitas ini. Arya tetap bangga pada keberhasilannya.


Segera mengambil ponsel dan menelepon Qila. Setelah ngobrol singkat, Qila ingin datang sendiri tanpa jemputan dengan naik taksi online. Arya pun mengiyakan, karena memang jadwalnya sangat padat.


Hari ini, orang tua Arya datang ke acara wisuda putra mereka. Arya juga sudah mengatakan pada kedua orang tuanya, ingin mengenalkan seorang gadis pengisi hatinya dan penolongnya belum lama ini.

__ADS_1


Waktu terus bergeser, semua wisudawan dan wisudawati telah selesai satu persatu di panggil ke depan. Mahasiswa termuda, tertinggi IPK dan mahasiswa dengan masa kuliah terlama juga sudah menyampaikan rasa harunya. Mewakili semua teman-teman.


Arya dengan cepat mengajak kedua orang tuanya berfoto, karena momen inilah yang sudah sangat lama mereka tunggu. Selesai berfoto bersama kedua orang tuanya, Arya mengingat Aqila, "Mungkin Aqila sudah lama menunggu di luar ruangan." Pikir Arya dalam hati.


Ia juga mengajak Papi Mami nya, untuk keluar bersama. Mereka ingin menemui keluarga besar yang sengaja di undang datang, untuk menyaksikan moment bersejarah putra mereka.


Sebelum bergabung dengan rombongan keluarga besar, Arya menyelinap untuk menelpon Aqila. Ia tidak mungkin mencari Aqila di tengah keramaian di semua sudut aula kampus.


Setelah menelepon, Arya menemui Qila sedang duduk sendirian di sebuah kursi taman tidak yang ada di sekitar aula.


"Ayo sayang, kita bergabung bersama Mami dan Papi. Mereka sudah menunggu di sana." Kata Arya.


"Iya Bang, selamat ya. Sekarang Abang sudah lulus dan bergelar sarjana." Kata Aqila dengan air mata di tahannya.


"Iya sayang, terimakasih. Tapi kan semua ini untuk masa depan kita, jangan menangis. Kamu merasa tidak yakin ya? Abang bisa lulus?" Tanya Arya.


"Hem, iya. Ini untuk Abang." Kata Aqila.


Ia menyerahkan sebuah kotak kecil kepada Arya. Ia memberikan kado, bukan bunga atau boneka mengenakan toga. Melainkan sebuah pulpen limited edition yang sengaja di pesannya jauh hari.


"Kenapa pulpen sayang? Ini pasti mahal, soalnya pulpen ini yang sangat di inginkan prof. Edward kemarin." Kata Arya terharu.


Ia tidak menyangka Aqila memberikan kado yang sangat mahal, bagi mereka yang belum bekerja seperti sekarang. Ia juga terharu atas perjuangan Aqila mendapatkan sebuah pulpen tersebut.


"Iya Bang. Qila ingin Abang mencatat sejarah bahwa pernah bersama Aqila." Kata Aqila.


"Ayo sayang, jangan sedih. Kita kesana yuk, Abang perkenalkan dengan Mami Papi." Kata Arya.


Mereka berdua berjalan kearah salah satu poto studio yang tidak jauh dari gerbang kampus. Sengaja Arya mengajak Qila berjalan kaki saja, karena untuk naik kendaraan tentulah sangat padat.


Di depan studio sudah terlihat rombongan, beberapa saudara sepupu, tante serta paman dari Arya. Arya menggenggam erat tangan Aqila, agar Qila merasa yakin bahwa ia benar-benar serius.


Arya memperkenalkan Aqila kepada saudaranya. Setelah itu membawa kepada Mami Papinya yang sedang duduk di ruang tunggu studio foto bersama beberapa saudaranya juga.


"Mi, Pi. Kenalkan ini Aqila yang Arya ceritakan kemarin sama Mami." Kata Arya.

__ADS_1


Aqila dengan gugup mengulurkan tangan kearah orang tua Arya. Ia merasa malu saat berhadapan dengan orang yang baru ia kenal.


__ADS_2