Sang Skenario Cinta

Sang Skenario Cinta
Apa Kamu Yakin?


__ADS_3

Seminggu telah berlalu sejak hari wisuda Arya. Aqila minggu ini telah kembali berkuliah seperti semula, karena waktu liburan semester telah selesai.


Ia setiap hari bergelut dengan penelitiannya. Dengan semangat Aqila ingin menyelesaikan perkuliahannya, agar bisa bersanding dengan orang yang sangat ia cintai.


Saat ini ia harus menghadap dosen pembimbingnya. Dia adau Miss Evi, beliau adalah pembimbing pembantu untuk Aqila.


Bertemu dengan beliau, membuat Aqila deg-degan. Hal itu karena Qila sudah sering menjadi pelampiasan dari mood dosen muda tersebut. Dari profilnya Mis Evi adalah seorang dosen tetap sudah hampir sepuluh tahun mengajar di universitas tempat Aqila menambah ilmu.


Pengalaman beliau sudah mumpuni, kecerdasan sang dosen jangan di tanya lagi. Namun beliau belum saja di pertemukan dengan jodohnya. Entah belum mendapat yang cocok atau over selektif dalam memilih. Yang jelas mahasiswa sering menjadi bahan omelannya ketika moodnya sedang buruk.


Suasana hati Mis Evi yang sedang berbunga menjadi doa para mahasiswa yang ingin menghadap kepada beliau. "Bagaimana nasib ku hari ini?" Tanya Aqila dalam hati.


Tersadar dari lamunannya, setelah Aqila bertabrakan dengan seseorang. Aqila terjatuh, yang ia lihat pertama kali adalah sepatu dan celana dari pria yang di tabrak nya.


Pakaian yang rapi dan sepatu yang mengkilat. "Dari pakaiannya sepertinya orang ini bukan mahasiswa strata satu. Kalau nggak mahasiswa S2 mungkin juga dosen." Pikir Aqila.


"Maaf." Ucap Pria tersebut.


Ia segera membantu Aqila berdiri. Saat pria tidak di kenal tersebut membantu Aqila berdiri. Aqila spontan melirik ke arah wajah orang yang di sampingnya sekarang.


Settt


"Dokter Yosef? Kenapa anda di sini?" Aqila kaget.


Ia tida menyangka bahwa yang bertabrakan dengan dirinya baru saja adalah Dokter Yosef. Dokter muda yang pernah menjadi pengisi seminar beberapa bulan yang lalu. "Kenapa Dokter ganteng itu kemari ya? Kenapa juga aku yang kepo." Qila berdialog sendri dalam hati.


"Saya di sini karena ada urusan. Nona tidak sakit lagi? Saya permisi." Kata Dokter muda itu.


Aqila masih tidak sadar dalam lamunannya. Sehingga saat Dokter Yosef melepaskan tangan saat membantunya tadi, Aqila sedikit hilang keseimbangan. Membuat dirinya agak goyang.

__ADS_1


"Hem, cie yang katanya tidak akan terpesona dengan Pak Dokter?"


Teriak seorang gadis dari arah parkiran. Dia adalah Tika sahabat Aqila yang terkadang menyebalkan tapi sangat menyayangi dan pengertian kepada Aqila.


Bagi Qila sahabatnya adalah salah satu keluarga yang bisa membuat harinya ceria. Kadang juga Tika menginap di rumah Aqila dan sebaliknya.


Untuk urusan laki-laki Tika sudah pernah sekali berpacaran dan telah putus saat lulus sekolah menengah, Sedangkan Aqila memang baru-baru ini ada laki-laki mendekatinya yaitu Arya.


Tika mendekat kepada Aqila yang masih berdiri di depan pintu ruang tunggu dekat ruangan dekanat. Ia kemudian menggandeng Qila yang wajahnya mengerucut.


"Apa heh? Qila nggak akan terpesona dengan Dokter itu. Saya kan tipe wanita masa kini yang setia, hanya pria yang beruntunglah yang bisa memiliki Qila nantinya." Kata Aqila sumringah.


"Memangnya siapa sih laki-laki itu?" Goda Tika.


"Ya jelas Bang Arya lah. Tau nggak Tik, Bang Arya sudah melamar Qila di depan orang tuanya. So sweet banget." Kata Qila sambil melompat-lompat kecil.


"Terus kamu terima lamaran dia?" Selidik Tika.


"Hem, masih jauh Non... Apa kamu yakin, Abang mu itu akan setia?" Selidik Tika kembali.


"Yakin 1000%, makanya dukung dong Tik." Kata Qila merajuk.


"Emang kandidat pemilihan? Pakai dukung segala Qila. Tuh nah Mis kutub sudah datang, selamat bersenang-senang dengan Mis kutub." Kata Tika sambil berlalu.


Mis Evi sudah parkir mobil di parkiran Dosen, terlihat dari tempat Aqila dan Tika berdiri. Hari ini terlihat dari wajahnya Mis Evi sedang tidak berbunga-buang. Wajahnya terbilang datar, lebih menunjukan muka sangar.


Aqila sebenarnya ciut ketika harus berhadapan dengan Mis Kutub yang satu ini. Darah Qila seakan berhenti mengalir ketika melirik wajah dosennya tersebut.


Di kalangan mahasiswa Mis Evi ini sudah lazim di panggil Miss kutub, Karena pakaiannya sering menggunakan sweater tebal seperti artis-artis Korea. Kalau di negara atau daerah dingin, boleh jadi sih pakaian seperti itu.

__ADS_1


Namun, untuk negara yang di lewati garis khatulistiwa. Juga kotanya terletak di tepian pantai, lebih hebatnya lagi jarak pinggiran pantai dan kampus Aqila hanya berjarak 500 meter saja. Bayangkan betapa panasnya daerah tersebut, tapi tetap dingin bagi Miss Evi.


"Aqila Putri!" Panggil Miss Evi.


Aqila tidak menghiraukan teriakan Miss Evi. Lebih tepatnya Aqila hanya mendengar samar orang yang memanggilnya dari arah parkiran.


"Aqila Putri!" Teriak Mis Evi.


Kali ini suaranya bukan lagi dari arah parkiran, melainkan tepat dibelakang daun telinga Aqila. Dengan cepat Aqila memutar badannya, ia takut kalau Mis Evi tidak mau melakukan bimbingan pada hari ini. Sedangkan Aqila sedang semangat-semangatnya mengerjakan skripsinya karena Arya.


"I-iya Miss. Ada apa?" Tanya Aqila.


"Nanti siang saya mau pergi ke luar kota untuk satu minggu ke depan. Kamu ingin bimbingan kan hari ini?" Kata Miss Evi.


"Iya Miss, saya hari ini ke kampus memang untuk melakukan bimbingan sama Miss Evi." Jawab Aqila.


"Mari, kita keruangan saya. Saya hanya ada waktu tiga jam ke depan." Kata Miss Evi.


Ia berjalan cepat mendahului Aqila yang masih berdiri mematung. Setelah tersadar, Aqila secepat kilat mengikuti langkah Miss Evi. Qila masih bersyukur dosennya ini ingin melakukan bimbingan sebelum ia pergi keluar kota.


Aqila masuk dan duduk di kursi yang berhadapan dengan meja kerja Miss Evi. Qila segera mengeluarkan tumpukan kertas skripsi dari dalam tas ranselnya.


"Silahkan di buka bab penelitian, berikan satu rangkap kepada saya. Biar saya bisa periksa!" Kata Miss Evi setelah ia meletakkan tasnya ke atas meja.


"Bail Mis." Jawab Aqila.


Bimbingan skripsi Aqila pun di mulai. Koreksi demi koreksi di dapatkan Aqila untuk kebaikan skripsinya. Hampir dua setengah jam lebih Aqila berada di ruangan Miss Evi. Kemudian Aqila keluar meninggalkan ruangan Mis Evi dengan menghembuskan nafas dalam.


Seperti ada kelegaan tersendiri setelah keluar dari ruangan sekitar 4x4 meter tersebut. "Hem, selesai untuk hari ini." Gumam Aqila.

__ADS_1


Setelah dari ruangan Mis Evi, Aqila memutuskan untuk pulang ke rumah. Ia menunggu angkot di bangku tunggu yang berjejer di halaman kampus. Di atasnya ada pohon-pohon tempat berteduh yang sengaja di tanam oleh pihak kampus.


Sekitar lima belas menit Aqila menunggu, melihat kendaraan yang hilir mudik. Tiba-tiba ada yang membuyarkan fokusnya.


__ADS_2