Sang Skenario Cinta

Sang Skenario Cinta
Menepati Janji


__ADS_3

Arya sudah rapi menambah kegantengannya yang sudah ada sejak lahir. Di lengkapi dengan aksesoris jam tangan dan sepatu yang mengkilat menjadikan Arya semakin tampan. Menatap dirinya sebentar di depan cermin. Kemudian meraih kontak motornya dan melesat dari rumah.


Hari ini Arya berencana menepati janji pada sang kekasih. Arya akan mengajaknya jalan-jalan ke persawahan yang ada di tengah kota.


Melakukan motor dengan kecepatan tinggi saat berkendara seorang diri, bukanlah hal yang sulit bagi Arya. Saat sudah terlihat tembok rumah Sang Pujaan Hati, ia perlahan mengurangi kecepatan motornya.


Arya berhenti tepat di depan pintu pagar rumah minimalis tersebut. Setelah mengucap salam dan di persilahkan tuan rumah masuk. Arya menunggu Aqila berganti pakaian terlebih dulu.


"Ma, Qila pergi sebentar ya." Kata Aqila berpamitan.


"Iya sayang, Mama titip Aqila ya Nak Arya." Pinta Mama Tita.


Arya bersalaman tanda pamit dan permisi. Ia juga berjanji akan menjaga Aqila saat sedang bersama dirinya. Mama Tita mengantar mereka berdua sampai teras rumah.


Kuda besi berwarna putih tersebut dengan gagahnya membawa sang tuan melaju membawa ke suatu tempat. Tempat di mana orang bisa melihat proses menguningnya salah satu sumber energi bagi manusia.


Tempat dimana bagi sebagian orang bisa menenangkan pikiran yang sudah penat. Begitu juga dengan Aqila, di atas kuda besi kekasihnya yang sedang menderu. Ia terus membayangkan keindahan yang akan memanjakan mata.


Membayangkan betapa menyenangkan hidup sederhana dengan sang kekasih suatu hari nanti. Seakan di pelupuk mata Aqila, membuat ia tidak sadar kalau mereka telah melewati beberapa hamparan sawah.


Arya memberhentikan motornya, mereka telah sampai di sebuah bangunan yang di sebut anjung. Bangunan tersebut lebih tepatnya di sebut rumah panggung semi permanen yang di bangun di tengah sebidang sawah.


Di depan bangunan tersebut sudah ada jalanan dari rabat beton yang di bangun oleh pemerintah kota. Sawah itu adalah peninggalan milik keluarga Arya, pada saat ini sedang di garap oleh paman Herman adik kandung dari orang tua Arya.


"Sayang sudah sampai, yuk turun." Kata Arya lembut.


"Oh, iya maaf." Jawab Aqila.

__ADS_1


"Maaf untuk apa? Tadi kamu ngelamun, apa yang sedang kamu pikirkan sayang?" Tanya Arya menyelidik.


"E-enggak, Qila hanya takjub aja dengan pemandangan di sini. Seandainya Qila bisa hidup di sini sama Abang." Kata Aqila.


Ia berbicara pelan bahkan sangat pelan, namun Arya benar-benar memperhatikan bibir Qila saat ia berbicara. Oleh karena itu Arya bisa dengan jelas mendengar ucapan Aqila. Mendengar harapan indah dan sinar mata yang tulus dari gadis tersebut membuat hati Arya luluh seketika membuatnya yakin memilih gadis ini, Arya ingin setelah mereka lulus nanti. Ia akan meminang gadis pujaannya ini.


"Ya udah sayang, tunggu dulu di teras yaa. Abang ambil perlengkapan. Sekalian kita mancing sambil main layangan di sana." Kata Arya.


Seraya menunjuk ke arah hamparan padi yang mulai menguning. Di sebelah timur ada sungai yang sangat jernih airnya. Arya akan mengajak Aqila mancing di sana. Ia tau Aqila sudah beberapa minggu ini, tidak pernah keluar rumah.


Hal itu di sebabkan karena kondisi kesehatannya belum pulih dan juga di tambah harus mengerjakan perbaikan skripsi milik Arya. Sudah seharusnya Ia sedikit melegakan pikirkan gadis yang mengisi hatinya saat ini.


Arya kembali dengan joran yang sudah ada di tangan dan ember kecil berisi cacing tanah. Sedikit ia taburi dengan tanah kering, agar cacing di dalam tidak kabur, nantinya cacing tersebut akan dijadikan Arya sebagai umpan pada mata kail.


Beberapa layangan memang sudah ada di gantung di dinding. Rupanya memang sering anak-anak bermain layangan di sekitar sini. Demikian juga para wisatawan yang ingin merasakan keindahan natural hamparan sawah.


Ada juga pasangan yang akan melakukan prewedding, juga rombongan pemain film yang membutuhkan tampilan suasana pedesaan dan persawahan.


"Bang, sudah? Oh ya, paman dan bibi ke mana? Kok, sepi dari tadi?" Tanya Aqila.


"Oh iya, maaf lupa memberitahu sayang. Kemarin paman menelepon, kalau mereka tidak bisa menyambut kedatangan kita. Dikarenakan mertua paman, ibu dari bibi tiba-tiba masuk rumah sakit. Mereka juga menitip salam untuk makasih Abang yang cantik ini." Kata Arya.


"Oh, begitu." Jawab Aqila mengangguk-angguk.


"Ya udah, ayo turun. Kita duduk di bawah ke layar dekat sungai." Kata Arya.


Aqila segera turun dari teras rumah yang hanya memiliki empat anak tangga saja. Setelah memijak anak tangga terakhir, Aqila dengan semangat melompat.

__ADS_1


"Hati-hati sayang." Kata Arya.


Namun, ucapan Arya bukannya di jawab oleh Aqila. Ia malah tersenyum manis di hadapan Arya, memamerkan deretan giginya yang putih. Arya dengan sigap memasangkan topi lebar pada kepala Aqila.


"Hem, romantisnya."


Seorang pria setengah bule lewat di jalan yang berjarak hanya beberapa meter saja dari tempat Arya dan Aqila saling beradu tatap. Setelah Arya dan Aqila melihat ke arah sumber suara secara bersamaan, secepat kilat juga pria tersebut mengabadikan momen tersebut melalui sebuah potret.


Pria tersebut menghampiri Arya, serta mengulurkan tangan memberikan potret yang sudah otomatis tercetak dari kamera. Arya melihat poto mereka yang sedang tidak siap tapi menggemaskan.


"Thank you, Sir." Kata Arya melihat lawan bicaranya seperti orang asing.


"Iya, Sama-sama. Kenalkan saya Aris, saya sedang mengerjakan proyek di sini sebagai fotografer." Kata pria tersebut memperkenalkan diri.


"Saya Arya, dan ini calon saya Aqila. Kami hanya berkunjung kemari, kebetulan sawah ini adalah milik keluarga saya." Kata Arya.


"Oh, begitu. Selamat menikmati hari. Saya permisi dulu mencari tempat yang bagus di potret." Kata Pria tersebut.


"Baiklah, semoga hari Tuan menyenangkan." Kata Aqila menimpali.


Setelah melihat punggung pria itu perlahan menjauh. Aqila dan Arya saling berpandangan penuh arti, kemudian bersama tersenyum. Lama mereka berpandangan, akhirnya Arya menggenggam tangan Qila menuju tepian sungai.


Ia terus menggenggam tangan Qila melewati pematang sawah. Saat melihat bunga rumput liar di pinggiran sawah, Arya memberhentikan sejenak langkah kaki mereka. Ia meminta Qila menghadap belakang. Dengan secepat mungkin Arya menyulap bunga liar tersebut menjadi sebuah mahkota, meletakkannya di atas kepala sang kekasih.


Arya perlahan memutar tubuh Aqila dan meraih tangan kanan Qila. Ia memasangkan sebuah cincin yang bermata bunga berwarna kuning segar.


"Sayang, semoga kamu menjadi ratu di hati Abang selamanya. Sampai cincin dari bunga ini menjadi cincin beneran yang mengikat cinta kita." Kata Arya dengan tulus.

__ADS_1


__ADS_2