
Dokter Yosef segera mengambil selimut yang di bawanya tadi. Membersihkan darah yang masih di wajah Aqila.
"Lupakan masalah jaket. Sekarang kamu tidak baik-baik saja, bagaimana jika orang tua mu tau? Bagaimana kalau Dokter Derwan tau kamu nggak menjaga kesehatan kamu?" Kata Dokter Yosef mencoba mengingatkan kembali.
"Jangan beritahu ya Dok." Aqila menangkupkan kedua tangannya.
Dokter Yosef teringat saat itu Aqila juga menangkupkan untuk laki-laki di duga adalah kekasihnya. Sebenarnya Yosef tidak tega melihat orang yang baru-baru ini mengisi relung hatinya yang terdalam. Ketika melihat penyemangat hidupnya terus merasakan kesakitan.
"Baiklah, tapi ada syaratnya." Kata Dokter Yosef.
"Apa syaratnya Dok?" Tanya Aqila.
"Ponsel kamu, saya yang pegang." Kata Dokter Yosef.
"Tapi Dok,"Jawab Aqila ragu.
Dokter Yosef membawa kepala Aqila ke dadanya. Ia sudah tidak peduli kalaupun ada keluarga pasien ataupun teman sejawatnya yang melihat. Ia tidak sanggup melihat Aqila menanggung kesedihannya sendiri.
"Maaf Dok, nanti kena darah lagi." Kata Aqila melepas pelukan Dokter Yosef.
"Oke, bagaimana? Kalau tidak, saya akan bilang kalau kamu tidak mau nurut saran Dokter. Kamu selalu bermain ponsel dan lebih parahnya, kamu nggak kasih tau keadaanmu yang sebenarnya." Ancam Dokter Yosef.
"Baiklah Dokter, tapi kalau Bang Arya telepon. Tolong kasih tau saya ya." Kata Aqila.
"Iya." Jawab Dokter Yosef.
Meskipun entah mengapa hatinya perlahan sakit ketika Aqila menyebut nama itu di hadapannya. Aqila memberikan ponselnya ke tangan Dokter ganteng tersebut.
"Katanya Dokter mau pulang. Kalau mau ada sweater Qila di dalam, nanti jaket Dokter saya cuci dulu." Kata Aqila memberi solusi.
"Tidak usah." Jawab Dokter Yosef singkat.
"Sweater nya besar kok, gak kaya sweater cewe." Kata Aqila kemudian.
"Saya tidak bisa pakai barang orang. Kita kan nggak tau kebersihannya seperti apa." Kata Dokter Yosef keceplosan.
__ADS_1
"Benar juga sih, apalagi orang sakit kayak Qila. Pantes saja Bang Arya nggak mau lagi menjalin hubungan dengan Qila." Jawab Aqila merasa dirinya rendah.
"Hem, bukan gitu Qila. Pakaianmu mungkin sedikit yang di bawa kemari, jadi Saya tidak mau memakainya takutnya kamu butuh." Jawab Dokter Yosef menjelaskan.
Aqila sedikit memberi jarak dari Dokter muda tersebut. Ketika ia menjauh, sebuah pulpen jatuh dari dalam kantong dasternya.
"Ini pulpennya, kenapa menjauh?" Ucap Dokter Yosef.
"Takutnya sakit saya ini menular Dok, lagi pula Saya sudah sangat lama tidak mandi." Jawab Aqila dengan polosnya.
Dokter Yosef merasa dirinya terhina jika sudah seperti ini. Jangankan berdekatan duduk, bertukar saliva pun ia akan sangat menikmatinya. Sedari tadi Dokter muda itu masih takut kalau ada orang yang melihat apa yang ia lakukan kepada pasiennya. Namun keberadaan Aqila telah mematikan logikanya. Dengan cepat kilat Dokter Yosef telah menempelkan bibirnya dengan milik Aqila.
"Maaf." Kata Dokter muda tersebut.
"Dokter mencuri ciuman pertama saya yang seharusnya untuk Bang Arya." Kata Aqila, ia tidak bisa marah karena kekuatannya terasa mulai melemah.
Dokter Yosef merasa senang, ia akan menjadikan dirinya indah di mata Aqila. Ia ingin memberikan hari-hari yang indah mulai dari sekarang.
"Maaf ya, habisnya kamu bilang kalau Saya merasa jijik sama kamu. Sudah saya buktikan, dan yang paling penting hidup kamu itu berharga, bagi dirimu sendiri dan orang lain." Jawab Dokter Yosef kemudian.
"Kok Bang Arya belum telepon ya Dok, kalau seperti ini rasanya Aqila ingin tidur selamanya saja." Kata Aqila.
Dokter Yosef telah berjalan keruang perawat yang sedang piket malam. Ia akan menyuruh perawat membangunkan orang tua Aqila untuk menjemput Aqila yang keras kepala.
"Selamat malam Dok. Apa ada yang bisa kami bantu? Apa ada pasien yang harus di tangani mendadak, sehingga Dokter harus datang di luar jam dinas." Kata seorang perawat.
"Saya tadi sekedar mampir, tapi melihat pasien kalian keluar sendirian. Kenapa kalian tidak menjaganya? Tolong panggil keluarganya, bawa anak itu kembali ke kamar." Kata Dokter Yosef.
"Baik Dok." Kata Perawat tersebut.
Perawat tersebut kembali bersama Mama Tita di belakangnya. Ia kelihatan sekali sedang mengantuk. Mereka menghampiri Dokter Yosef yang sedang melihat-lihat lembaran di atas meja perawat.
"Maaf Dok kami ketiduran, Aqila dimana?" Kata Mama Tita.
"Itu putri Ibu di jembatan samping." Kata Dokter Yosef.
__ADS_1
"Terimakasih Pak Dokter." Jawab Mama Tita.
Mama Tita mendekati Aqila segera membawa menuju ruangan perawatan. Ketika melewati Dokter Yosef yang sedang duduk di meja perawat, Aqila hanya menunduk.
Aqila tidak membawa selimut dan jaket Dokter Yosef. Darah yang ada di dasternya di tutup menggunakan syal yang di bawanya dari ruangan perawatan.
"Tolong ambilkan obat ini untuk pasien tadi." Kata Dokter Yosef memberikan selembar resep.
"Baik Pak." Jawab seorang perawat.
"Nanti antar ke ruangan, saya tunggu di sana." Kata Dokter Yosef.
"Baik Dok." Jawab mereka.
Ketika perawat tadi pergi, Dokter Yosef di temani seorang perawat laki-laki yang lain. Dokter tersebut mengeluarkan ponsel Aqila dari dalam sakunya. Ia perlahan menggeser dan memilih membuka galeri. Ia melihat beberapa foto dengan pria bernama Arya, memang kelihatannya pria tersebut sangat romantis.
Namun, sesaat kemudian Dokter muda itu menarik nafas panjang. "Dia ganteng, tapi saya sepertinya lebih ganteng. Dia romantis, saya juga bisa lebih romantis. Sepertinya kali ini harus lebih seperti ABG gayanya hehe." Kata Dokter Yosef dalam hati. Ia tersenyum kecil kemudian memasukan kembali ponsel tersebut kedalam sakunya.
Dokter tersebut masuk ke ruang rawat pasien. Ia menjatuhkan diri di sofa yang tersedia di sana. Salah satu laki-laki dari keluarga Ibu Naya, menyapa Dokter Yosef.
"Dokter mau ngecek keadaan Ibu?" Tanya pria tersebut.
"Bagaimana keadaan Bu Naya, kenapa bisa di rawat kembali?"Tanya Dokter Yosef.
"Ibu susah sekali diatur kalau masalah makanan. Semua mau beliau makan." Kata Putra dari Ibu Naya tersebut.
"Harus di kontrol Pak makanannya. Biar cepat sehat. Saya lagi ngecek pasien sebelah, habis memberikan resepnya." Kata Dokter Yosef.
"Oh, iya Dok." Jawab Putra Ibu Naya.
Seorang perawat datang dengan membawa obat di tangannya. Ia memberikan obat tersebut kepada Dokter Yosef, lalu menawarkan diri kalau ada yang bisa di bantu. Namun, Dokter muda itu menolaknya dan membawa sendiri beberapa obat kepada Aqila.
"Permisi Bu, Pak." Kata Dokter Yosef.
"Iya Dok." Jawab Mami Tita dan Pak Pindri.
__ADS_1
"Ini resep yang harus di minum oleh pasien sekarang. Saya sudah berkonsultasi dengan Dokter Derwan." Kata Dokter Yosef.
Dokter Yosef melirik sekilas ke arah Aqila yang berbaring dengan posisi miring. Ia memegang pulpen yang tadi terjatuh. "Apa istemewahnya pulpen itu?" Tanya Dokter Yosef dalam hati.