Sang Skenario Cinta

Sang Skenario Cinta
Hadiah


__ADS_3

Pria itu tidak lain adalah dokter Yosef. Sebelum berangkat kerja, ia tidak sempat sekedar menikmati sarapan di rumah. Oleh karenanya, Dokter muda itu mampir untuk membeli makanan dan minta di bungkus kan.


Memang sering kali Dokter Yosef membawa makanan ke kantor. Kebiasaannya yang susah sekali di bangunkan pada pagi hari, membuat ia sangat terburu-buru berangkat kerja. Kadang juga memang ada kondisi pasien yang harus segera di lakukan tindakan dalam keadaan gawat darurat.


Namun hal yang tidak ia sangka, akan melihat pemandangan yang mengejutkan tepat di depan netra nya. Saat itu juga Dokter Yosef langsung mengabadikan momen yang di anggapnya tidak berkelas itu.


"Bagaimana mungkin bisa terlintas penghianatan saat seorang kekasih sedang berjuang untuk hidupnya. Bagaimana mungkin seseorang dengan tega membiarkan orang lain berharap, tanpa ada kejelasan dalam suatu hubungan? Masih lanjut atau sudah berakhir? Menggantungkan perasaan orang lain yang hidupnya benar-benar di ujung tanduk." Batin Dokter Yosef mengumpat kesal.


Setelah mendapatkan gambar tersebut, Dokter muda itu tidak berniat lagi membeli makanan di sana. Ia langsung masuk ke dalam mobil dan melaju pelan untuk m nyari tempat membeli makanan yang lain.


Kurang dari lima ratus meter Dokter Yosef kembali memarkirkan mobil. Ia memilih makanan yang akan di belinya, lalu meminta di bungkus dia porsi dalam dua kotak.


Melajukan kendaraannya dengan kecepatan di atas rata-rata, dan telah parkir di area rumah sakit. Ia melangkah gontai masuk ke dalam rumah sakit menenteng kantong yang bertulisan selamat menikmati. Setelah sampai di ruangan, asistennya Sela sudah ada di sana. Ia menjelaskan daftar pasien dan daftar kerja yang harus di selesaikan hari ini.


"Dok, ini daftar kerja yang harus di selesaikan hari ini." Kata Sela.


"Ok, hari ini jam berapa selesai?" Tanya Dokter Yosef.


"Seperti biasa jam 16.00WIB, tapi ada waktu dari jam makan siang sampai jam 14.00WIB. Juga hari ini poli masuk jam 10.00WIB." Kata Sela menjelaskan jam kerja Dokter Yosef.


"Baiklah, berarti masih ada satu jam setengah lagi. Hem, pikir hari ini masuk jam delapan." Gumam Dokter Yosef.


"Apa Dok? Ada yang bisa saya bantu? Kalau tidak adak lagi saya izin keluar." Kata Sela.


"Tidak ada, silahkan." Kata Dokter Yosef.


Dokter Yosef beranjak dari tempat duduknya, beliau berdiri dan menghirup dalam-dalan oksigen yang ada di sekitar. "Bagaimana gadis itu ya?" Pikir Dokter Yosef.


Saat ia sedang membayangkan dalam lamunan. Tiba-tiba ada seseorang yang mengetuk ruangan kerjanya.

__ADS_1


"Ya, silahkan masuk." Kata Dokter Yosef.


"Permisi Dok, saya mengantarkan pakaian yang di laundry tempat kami kemarin." Kata Laki-laki tersebut.


"Oh iya, terimakasih. Berapa biayanya?" Tanya Dokter Yosef.


"Sudah di bayar di muka kemarin Dok, Saya permisi." Katanya lagi.


"Oh, terimakasih Pak." Jawab Dokter Yosef kemudian.


Dokter muda itu memandang kearah bungkusan transparan yang masih rapi. Jelas terlihat di sana ada jaket dan selimut yang di pakai oleh Aqila, pasiennya kemarin. "Iya, Saya harus memberikan ini kepada gadis itu. Saya akan menjaga mu Aqila Putri, ini janji seorang Yosef Rananta." Gumam Dokter Yosef.


Dokter Yosef membuka bungkusan tersebut, lalu mengambil bantar dan selimut yang memang satu set. Ia memasukan barang tersebut ke dalam paper bag, kemudian keluar dari ruangan kerjanya.


Langkahnya terhenti sejenak saat masih di depan pintu. Dokter Yosef berpikir jika nanti hanya Aqila yang di bawakan hadiah, tentu sebagai pasiennya Ibu Naya merasa di abaikan. Sedangkan Aqila adalah pasien dari Dokter Derwan. Dokter Yosef terlihat menghubungi seseorang.


"Halo, ada apa bro? Aduh saya sedang sibuk nih, ada urusan di kantor Mami." Kata Randa dari sambungan telepon.


"Ran, sebentar saja deh. Atau suruh supir elu buat beli buket bunga." Kata Dokter Yosef.


"Bunga apa? Yang warna apa? He, pasti mau ngasih pasien lo yang tua itu kan? Sudah Adikmu ini bilang, Abang ku sayang.Cari pasien yang mudaan dikit kenapa sih?" Tanya Randen sudah seperti Introgasi dari sambungan telepon.


"Terserah deh, bunga bangkai kalau bisa. Emangnya selamatkan orang bisa pilih-pilih." Kata Dokter Yosef.


"Sabar, bentar lagi Kang Wawan antar." Kata Randen.


"Oke." Jawab Dokter Yosef lalu mematikan sambungan telepon.


Hanya butuh waktu sekitar sepuluh menit saja. Kang Wawan, supir Randen yang di maksud sudah ada di hadapan Dokter Yosef dengan membawa sebuah buket bunga di tangannya.

__ADS_1


"Ini Den bunganya." Kata Kang Wawan membuyarkan lamunan Dokter Yosef.


"Yosef aja Kang, kayak jaman kerajaan saja. Oke, terimakasih bunganya." Kata Dokter Yosef.


"Iya Den, Eh-Yos. Saya permisi dulu." Kata Kang Wawan memutar badannya ingin pergi.


"Tunggu Kang, ini untuk tambahan jajan anak Kang Wawan." Dokter Yosef melipat kecil dia lembar berwarna pecahan uang kedalam genggaman Kang Wawan.


"Lho, Nak Yosef. Saya sudah mendapat gaji dari Den Randen." Kata Kang Wawan menolak.


"Itu rasa terimakasih Saya karena sudah m membantu. Lagi pula Saya memberikan untuk anak Kang Wawan." Kata Dokter Yosef.


"Terimakasih Nak Yosef. Kalau begitu Saya permisi dulu." Kata Kang Wawan.


Setelah punggung Kang Wawan menghilang di balik tembok. Dokter Yosef segera menuju ruang perawatan Aqila dan Ibu Naya.


Matahari memang sudah menembus kaca jendela setiap ruangan. Petugas kebersihan sudah menyapu dan mengepel di setiap sudut dari ruangan di rumah sakit ini. Membuat semangat setiap pasien menyambut pagi.


"Selamat Pagi Ibu, apa kabar hari ini? Ini Saya bawakan hadiah untuk Ibu Naya." Kata Dokter Yosef.


"Terimakasih Nak Dokter, sangat baik sekali. Ibu bersyukur di rawat oleh Dokter Yosef." Kata Ibu Naya menerima buket bunga dari tangan dokter ganteng itu.


Sesekali Dokter Yosef melirik ke arah Aqila yang terbaring sendirian. Memegang sebuah pena di tangannya. Sedang Ayah Ibunya tidak nampak dari saat Dokter Yosef masuk ruangan. Karena penasaran Dokter Yosef mencoba bertanya dengan keluarga Ibu Naya.


"Maaf Kak, keluarga pasien Pak Derwan ini kemana ya?" Tanya Dokter Yosef.


"Keluarga Qila Pak maksudnya?" Tanya anak perempuan Ibu Naya.


"Iya." Jawab Dokter Yosef singkat.

__ADS_1


"Ayahnya keluar sebentar ngantar pakaian ke laundry. Ibunya lagi ke kamar mandi di luar. Tadi mereka minta tolong jaga dengan kami. Kasian ya Dok anak itu." Kata Putri Ibu Naya.


"Iya Kak, Saya ke sana sebentar ya Kak. Siapa tau dia mau ngobrol." Kata Dokter Yosef tetap jaga sikap.


__ADS_2