Sang Skenario Cinta

Sang Skenario Cinta
Hanya Kasihan


__ADS_3

Sambungan ponsel di matikan sepihak oleh Dokter Yosef membuat Aqila terdiam sejenak. Sartika yang sedari tadi memperhatikan ekspresi dari sahabatnya, Ia segera mencairkan suasana. Sartika membuat Aqila tidak mengalihkan fokusnya.


"Hey, kok ngelamun? Apa Yang di katakan Dokter itu tadi?" Tanya Sartika.


"Dia mau handphone ini di kembalikan. Kamu tau kan kalau handphone ini milik Dokter tersebut." Jawab Aqila menjelas.


"Oh, handphone kamu belum di kembalikan juga kan?" Tanya Tika lagi.


"Iya Tik, tapi kalau ada handphone itu, Qila ingat sama Bang Arya Tik. Lebih baik handphone Qila hilang deh." Kata Aqila. Raut mukanya berubah menjadi sedih.


"Sudahlah, ayok kita pulang Qil. Tuh mobil Om Pindri udah di parkiran." Sartika menunjuk kearah mobil orang tua Aqila yang baru datang.


Belum dia menit setelah Sartika melihat mobil berwarna silver itu datang di parkiran. Kemudian ponsel yang ada di dalam tas Aqila benar-benar bergetar. Dia sahabat itu langsung mendekati dan masuk kedalam mobil.


Saat mereka tiba di rumah, Mama Tita sudah menyambut di depan pintu. Wanita itu juga menyapa hangat sahabat Aqila.


"Nak Tika, selamat ya sayang sekarang kamu sudah menjadi sarjana muda." Kata Mama Tita memeluk sahabat putrinya tersebut.


"Terimakasih Tan." Jawab Sartika membalas pelukan wanita tersebut.


"Yuk masuk Nak. Tante udah siapkan makan sian spesial untuk kalian." Kata Mama Tita.


Aqila menggandeng Sartika sahabatnya masuk kedalam rumah. Menuju kamar Aqila untuk meletakkan barang dan tas yang mereka bawa, kemudian langsung menyerbu meja makan.


Sedangkan Pak Pindri baru terlihat mau masuk rumah setelah memasukan mobil ke garasi yang ada di samping kanan rumah.


"Yah, hari ini Ayah kemana? Temani Mama ke pasar yuk." Kata Mama Tita menyambut kedatangan suaminya.


"Iya, nanti agak sore ya Ma. Qila mana? Suruh mereka makan Ma." Kata Pak Pindri.


"Tuh lagi makan mereka Yah." Kata Mama Tita.


"Syukurlah kalau gitu. Ayah mau istirahat dulu Ma, nanti bangunkan kalau Ayah lupa." Kata Pak Pindri.


"Siap Yah." Mama Tita berbalik menuju meja makan. Sedangkan Pak Pindri masuk ke kamar untuk beristirahat tidur.


***


Di tempat yang berbeda Dokter Yosef menjadi gelisah, karena melihat postingan persiapan H-2 pernikahan Arya dan Monita. Ia takut kalau acara pernikahan nantinya bisa di ketahui Aqila, terlebih lagi kalau hal itu mengganggu kesehatan gadis yang ia cintai.


Dokter Yosef telah menghubungi Aqila dan bermaksud mengambil handphone nya untuk sementara waktu. Namun masih sore nanti, siang ini Dokter Yosef akan pergi ke rumah Arya untuk menepati janjinya.


Janji untuk meminta Arya kembali kepada Aqila, walaupun seandainya Arya kembali akan membuat hatinya semakin sakit. Dengan tarikan napas kasar Dokter Yosef membulatkan tekadnya untuk menemui Arya sebelum hari pernikahan mereka.

__ADS_1


Dari balik pintu yang sedikit terbuka, Mami Dina melihat kalau putranya sedang tidak baik-baik saja. Beliau mencoba mendekat dan masuk kedalam kamar putra semata wayangnya.


Belum sempat tangan Mami Dina meraih gagang pintu kamar putranya. Beliau di kagetkan oleh sang suami, Papi Roni.


"Ada apa sih Mi? Ngendap-ngendap di depan pintu kamar putra sendiri? Kan bisa masuk langsung." Kata Pak Roni penasaran kenapa istrinya melakukan hal yang tidak biasa.


"Papi, tuh lihat anak kita gelisah seperti itu kenapa?" Tanya Mami Dina.


"Yaah, mana Papi tau Mi. Kan biasanya juga Mami lah yang ceplas-ceplos bertanya pada Yosef tentang masalah pribadi anak itu. Kok sekarang berbeda, Mami aneh deh?" Papi Roni menyelidik, menatap sudut mata istrinya mencari kebenaran.


"Papi tapi sekarang berbeda, putra kita sudah menemukan tambatan hatinya. Udahlah, Mami tanya dulu, nanti cerita lagi." Kata Mami Dina.


"Iya Mi, Papi berangkat dulu ya." Kata Pak Roni.


Pria bertubuh tegap itu menyodorkan tangannya. Kemudian Mami Dina menyalami suaminya dengan mencium tangan laki-laki tersebut. Pak Roni tidak lupa memberikan kecupan manis di pucuk kepala Sang istri.


Mami Dina akhirnya memutuskan untuk menemui putranya dan bertanya langsung tentang apa yang sedang di rasakan oleh anaknya saat ini.


"Osef boleh Mami masuk Nak?" Tanya Mami Dina.


"Boleh Mi, emangnya kenapa Mi? Biasa kan Mami kalau mau masuk ke kamar Osef nggak izin juga." Kata Yosef Rananta dari dalam kamar.


Mami Dina mendorong pintu kamar putranya. Beliau duduk di pinggir tempat tidur Dokter Yosef. Sebagai wanita yang telah melahirkan insan tersebut, tentu Mami Dina paham akan sifat putranya.


"Kenapa Mi? Mami kok gelisah seperti itu?" Tanya Yosef Rananta.


"Sekarang Mami tanya sama kamu Sef. Kamu sedang memikirkan apa Sayang? Belum pernah Mami lihat wajah kamu seserius itu dan Mami lihat kamu mondar-mandir sedari tadi. Kenapa sih?" Tanya Mami Dina.


"Hem, Mami khawatir sama Osef ya?" Tanya Yosef lagi.


"Iya Sayang, Mami belum pernah lihat kamu seperti tadi. Biasanya kan anak Mami ini santai dan jarang sekali menampakkan muka seperti itu. Terakhir saat Tiara pergi mengkhianati kamu kan?" Selidik Mami Dina.


"Mami, Tiara tidak sebanding dengan masalah ini. Mami mau tau?" Tanya Yosef Rananta.


"Mau. Apa Sayang? Coba cerita sama Mami." Kata Mami Dina.


"Ternyata penyakit Mami belum sembuh ya Mi? Penyakit kepo." Ledek Yosef Rananta.


"Osefff?" Kata Mami menjewer telinga putranya.


"Ini rahasia Mi, nanti Osef ceritanya. Sekarang Osef pergi dulu ya Mi, selamat siang Mami sayang." Kata Yosef.


Ia menarik tangan Mami Dina kemudian menciumnya lalu pergi tanpa melihat ekspresi wajah Sang Mami. Keluar dari kamar dan menuju garasi, kemudian melaju seperti terburu-buru. "Nanti saja pulangnya mampir ke rumah My Love." Gumam Dokter Yosef.

__ADS_1


Kurang lebih satu jam perjalanan, Dokter muda tersebut telah parkir di depan sebuah gedung yang telah di hias. Sekitar 85% persiapan dekorasi gedung tersebut sudah selesai.


Dokter Yosef dengan penuh percaya diri masuk kedalam gedung. Ia mengaku kepada satpam gedung sebagai teman Arya yang akan memberikan support kepada calon pengantin baru tersebut.


Dokter Yosef belum melihat keberadaan Arya maupun tunangannya. Ia menghampiri seorang wanita yang terlihat sebagai petugas wedding organizer.


"Maaf Mba, Tuan Arya nya dimana?" Tanya Dokter Yosef.


"Belum datang, kemungkinan sebentar lagi. Silahkan duduk dulu Tuan." Kata wanita tersebut.


"Baiklah." Jawab Dokter Yosef.


Belum sempat Dokter Yosef berpindah tempat duduk. Wanita yang sedang mengobrol dengannya sedikit terkejut dan memberitahu kalau mobil Arya dan calonnya sudah datang.


"Nah, itu mereka sudah datang Tuan. Silahkan di tunggu." Kata wanita itu.


Arya masuk bergandengan tangan dengan Monita, tunangannya. Namun ketika melihat Dokter Yosef berdiri dengan kedua tangan di dalam saku celana, Arya segera melepaskan tangan mereka yang sedang bergandengan.


"Selamat sore. Maaf Saya datang tanpa di undang." Kata Dokter Yosef.


"Selamat sore, tidak apa-apa. Selamat datang, Kakak putranya Tante Dina kan? Mami Saya sangat mengidolakan Kakak loh." Kata Monita terlihat ramah.


"Iya, terimakasih. Boleh Saya ngobrol dengan tunangan mu sebentar?" Kata Dokter Yosef menjaga kesopanan.


"Silahkan, Saya ke sana dulu." Kata Monita sambil berlalu meninggalkan Dokter Yosef dan Arya.


"Duduk dulu Bang Arya, jangan terlalu tegang." Kata Dokter Yosef menuju kursi tamu yang telah tersedia.


Arya terpaksa mengikuti Dokter itu dan duduk berhadapan. Ia canggung melihat wajah Dokter Yosef sudah berubah seperi mau menerkam.


"Masih ingat Aqila kan?" Tanya Dokter Yosef to the point.


"Ya." Jawab Arya singkat.


"Kamu tau kan kalau dia sangat mencintai mu?" Tanya Dokter Yosef kembali.


"Saya tau itu, tapi semua tidak mungkin. Sekarang dia sakit dan belum sembuh juga." Jawab Arya.


"Seandainya dia sudah sembuh, apa kamu mau kembali padanya?" Tanya Dokter Yosef kemudian.


"Maaf sekarang saya sudah menemukan penggantinya yang jauh lebih baik dari gadis itu. Kamu sendiri tentu dapat melihatnya sendiri, bukan? Sebenarnya dulu Saya hanya kasihan kepada Aqila karena dia belum pernah pacaran dan terlalu polos." Kata Arya tanpa basa-basi lagi.


"Baiklah, Saya hanya seorang Dokter dan Psikolog. Saya hanya ingin mengetahui sebab Aqila sering mengigau dan drop karena mengingat mu. Tapi harus kamu ketahui bahwa Aqila sangat mencintaimu. Saya permisi!" Kata Dokter Yosef.

__ADS_1


"Sudah Saya jelaskan!" Jawab Arya.


Dokter Yosef segera pergi dengan menahan emosi. Ia tidak ingin membuat ribut di depan banyak orang.


__ADS_2