
Melewati hari-hari perkuliahan yang tentunya butuh keseriusan bagi Aqila. Orang tuanya tentu tidak mau kalau kesehatan anaknya sampai tidak stabil.
Pak Pindri meminta istrinya untuk menemani Qila, dan membawanya ke dokter jika demamnya berlanjut. Setelah bersiap-siap Mama Tita langsung berangkat dengan menyetir sendiri.
Ia datang karena di telepon putrinya yang mengatakan kurang sehat sore kemarin. Karena jarak antara kota rumah keluarga Pak Pindri tidak terlalu jauh, hanya sekitar du jam perjalanan saja.
Pagi ini Aqila masih bersembunyi di balik selimut tebal. Mama Tita membuka jendela kamar putri semata wayangnya tersebut.
"Bangun sayang? Apa kamu masih sakit?" Tanya Mama Tita.
Tanpa ada satu jawaban yang terdengar dari Aqila. Ia sengaja mempererat selimut yang menutupi tubuhnya. Melihat sang putri masih belum mau beranjak dari tempat tidur, Mama Tita mengembuskan napas kasar.
"Ya, sudah sayang kalau belum mau bangun. Mama buatkan susu hangat dulu untuk kamu." Kata Mama Tita beranjak meninggalkan Aqila di kamarnya.
Beberapa menit kemudian, Mama Tita telah kembali dengan membawa segelas susu lengkap dengan rotinya. Ia kembali mendekati Aqila, mengelus lembut rambut putrinya.
"Bangunlah sayang, ini sudah siang loh." Kata Mama Tita.
Aqila menyibak selimutnya, memandang ke arah luar jendela. Benar saja cahaya telah menerobos masuk ke dalam kamarnya. Aqila berusaha bangun dan duduk di atas kursi yang ada di dalam kamarnya.
"Mama tolong telepon dosen Qila, bilang kalau hari ini Aqila tidak bisa masuk mata kuliah karena sakit." Kata Aqila.
"Iya, nanti Mama telepon. Sekarang kamu sarapan dulu sayang." Kata Mama Tita.
"Iya Ma." Jawab Qila.
Ia mengambil roti yang sudah tersedia di piring. Mencoba menikmatinya tetapi saliva nya terasa pahit. Qila mencoba meminum susu yang di buat oleh Mama Tita, namun sama saja juga terasa tidak enak di lidah Qila.
"Sayang, sudah Mama izin kan kamu sama Pak Warman tadi. Kamu cepat sehat ya Nak, biar bisa mengejar ketertinggalan kamu dalam belajar." Kata Mama Tita.
"Iya Ma, tapi kenapa makanan terasa pahit di lidah Qila Ma." Kata Aqila.
"Biasa begitu sayang kalau kita lagi nggak enak badan." Kata Mama Tita.
__ADS_1
Aqila sudah kembali ke dalam selimut. Melihat putrinya yang sedang sakit, Mama Tita berinisiatif untuk membawa Qila ke dokter untuk berobat. Tapi membujuk Qila untuk meminum obat sangatlah susah.
"Ma sepertinya tubuh Qila meriang." Kata Aqila.
"Bangunlah kita berobat sayang." Kata Mama Tita.
"Hem, Qila malas minum obat Ma. Bisa nggak di suntik saja tanpa di kasih obat." Kata Aqila menunduk lemas.
"Nggak bisa sayang, kalau sudah di dokter harus ada obatnya. Paling juga bisa nggak di suntik hanya di kasih obat." Kata Mama Tita.
Aqila masih mempertimbangkan antara segera berobat seperti kata Mamanya. Atau menunggu sebentar siapa tau bisa sembuh tanpa berobat, sebenarnya itulah yang di inginkan Aqila.
Beberapa saat Aqila diam, akhirnya Aqila menyetujui untuk di bawa berobat. Dengan resiko obatnya harus di minum dengan di hancurkan, karena Aqila sejak dulu tidak bisa menelan tablet penyembuh tersebut.
"Baiklah Ma, kita ke dokter sekarang." Kata Aqila kepada Mamanya.
"Nah gitu dong, anak Mama harus sehat terus. Tapi tumben nih cepat mau diajak ke dokter tanpa drama panjang? Tanpa ada permintaan atau persyaratan terlebih dahulu?" Selidik Mama Tita.
Sebenarnya bukan mata kuliah yang di pikirkan oleh Aqila. Melainkan ia baru ingat dengan setumpuk kertas yang ia Terima dari Arya kemarin. Aqila sudah berjanji akan memperbaiki skripsi Arya dengan jarak waktu dua gmhari saja.
Setelah memasangkan jaket ke tubuh Aqila. Mama Tita menyisir dan mengikat rambut sang putri agar terlihat lebih rapi. Mama Tita mengambil tas kecilnya dan membantu putrinya ke mobil yang ada di halaman rumah. Ia menempatkan Aqila di samping dirinya menyetir.
Hanya sekitar lima belas menit saja, mobil yang di kendarai Mama Tita sudah sampai di depan sebuah klinik. Mama Tita membopong Aqila untuk mendaftar di meja tamu klinik. Karena klinik terbilang sepi, hanya ada beberapa orang menjaga pasien yang sedang di rawat. Aqila langsung bisa bertemu dan di periksa oleh dokternya.
Dokter Tantri adalah seorang dokter umum di klinik tersebut. Ia memeriksa dengan teliti sesuai dengan keluhan yang di alami oleh Aqila.
"Bagaimana dengan putri saya Dok?" Tanya Mama Tita.
"Putri Ibu sejauh ini hanya demam biasa. Mungkin karena cuaca di luar atau karena perubahan suhu tubuh dan makanan yang di konsumsinya. Saya akan memberikan anti biotik, penurun panas, dan vitamin saja. Selebihnya jangan lupa harus banyak minum air putih." Kata Dokter Tantri menjelaskan.
"Iya Bu Dokter, syukurlah kalau begitu. Saya berterimakasih kepada Ibu." Kata Mama Tita.
"Tapi kalau sakitnya berulang atau belum sembuh dalam satu minggu. Tolong bawa ke sini lagi, kita akan lakukan observasi lanjutan." Kata Dokter Tantri kemudian.
__ADS_1
"Iya Dok, pasti-pasti. Kalau begitu kami permisi dulu." Kata Mama Tita.
Aqila di bantu dengan perawat asisten dokter Tantri, untuk turun dari ranjang pemeriksaan pasien. Ia mengantar Aqila sampai depan pintu. Kemudian posisinya di gantikan oleh Mama Tita sampai ke dalam mobil.
Setelah mengantar Aqila masuk, Mama Tita kembali untuk menebus obat dan membayar administrasi. Sesudah itu kembali menemui Aqila yang sudah bersandar di kursi mobil.
"Obatnya dapat Ma?" Tanya Qila.
"Iya sayang, nanti sampai rumah makan dulu baru obatnya di minum." Kata Mama Tita.
Mama Tita segera melakukan mobilnya dengan pelan. Ia ingin segera sampai rumah dan memberikan obat tersebut kepada putrinya. Melihat sang putri lemas dengan muka tidak ceria adalah beban tersendiri bagi semua orang tua.
Sesampainya di rumah, Aqila tidak sabar ingin meminum obat. Ia makan sedikit nasi kemudian langsung menyeduh obatnya dengan air. Karena Mama Iren sudah meminta agar obatnya di hancurkan terlebih dahulu.
Glek
Satu bungkus obat yang sudah di campur sedikit air sudah habis di telan Aqila. Ia sangat bersemangat meminum obat tersebut.
Aqila menyandarkan tubuhnya di tepi ranjang. Menunggu reaksi obat di dalam tubuhnya. Setelah dua puluh menit, Aqila merasakan seluruh tubuh nya mulai membaik.
Aqila mencari tas kuliahnya dan mengeluarkan sesuatu dari sana. Ia tidak lupa mengambil flashdisk dan laptop dalam tas yang berbeda.
"Apa itu sayang? Tugas kuliah?" Tanya Mama Tita.
"Iya Ma, tugas kuliahnya teman. Aqila sudah janji akan membantu." Jawab Aqila.
Dengan cepat jari-jari Aqila suda menari di atas keyboard laptop miliknya. Matanya kadang beralih kepada kertas yang telah di coret, sebagian di lingkari di depan Aqila duduk. Ia ingin semaksimal mungkin menggunakan waktu saat tubuhnya sedang membaik seperti ini.
Saat Ica sedang fokus dengan aktivitasnya. Sedang Mama Tita sesekali mengajaknya berbicara sambil duduk meminum teh di belakang Aqila.
Tok Tok Tok
"Assalamulaikum." Suara laki-laki dari luar.
__ADS_1