Sang Skenario Cinta

Sang Skenario Cinta
Rencana Jahat


__ADS_3

Hari ini pagi menyambut dengan senyuman. Memberikan kehangatan bagi seluruh makhluk yang ada di planet bumi. Sayangnya suasana perkotaan tidak ada lagi sambutan kicau burung dan suara khas dari berbagai macam hewan. Jika itu masih ada pasti akan menambah indah suasana alam.


Pagi ini di rumah kediaman keluarga Pak Pindri, Aqila sudah siap dengan koper besarnya. Keluarga calon suami akan menjemputnya karena hari pernikahan dilaksanakan esok hari.


Sartika datang ke rumah sahabatnya itu tadi malam. Ia akan menemani Aqila pergi ke rumah kediaman Dokter Yosef. Sambil menunggu jemputan Aqila dan Sartika bermain ponsel di atas sofa ruang tamu.


"Kalian udah sarapan sayang?" Mama Tita muncul dari arah dapur.


"Udah Tante." Jawab Sartika dengan cepat.


"Ya udah kalian santai aja dulu. Tante mau masak untuk makan nanti siang. Kalau jemputannya udah datang, jangan lupa panggil tante ya." Mama Tita mengingatkan.


"Siap Ma." Jawab Aqila.


"Iya Tante." Ucap Sartika.


Wanita tersebut berlalu dari ruang tamu untuk mengerjakan tugasnya sebagai istri dan ibu. Ia akan memasak ayam kecap saos pedas manis untuk suaminya siang nanti.


Berjarak sekitar setengah jam, mobil yang di kendarai Randen untuk menjemput Aqila sudah parkir halaman rumah Pak Pindri. Mendengar suara mobil di depan rumahnya, Aqila berjalan menuju pintu depan.


"Selamat siang nyonya Yosef." Goda Randen sambil mengulurkan tangan.


"Apaan sih Kak? Silahkan masuk dulu, biar Qila panggil mama dan ayah." Jawab Aqila.


Gadis itu berbalik memutar badannya menuju dalam rumah, Randen mengikuti dari belakang. Pria muda itu duduk di bagian sofa ruang tamu tanpa menyadari ada Sartika yang juga selonjoran di sana. Randen tidak sengaja menduduki kaki milik Sartika.


"Aduh, sakit." Sartika meringis.


"Eh, ada orang. Maaf, maaf." Ucap Randen.


"Ish orang ini." Jawab Sartika.


"Maaf ya sayang, habis nggak ngomong sih kalau kamu ada disini." Randen membela dirinya.


"Sayang dari mana?" Sartika gak habis pikir.


"Habis Bang Yosef menikah, kan giliran kita hehe." Jawab Randen cengengesan.


Percakapan keduanya terhenti karena Aqila sudah kembali bersama kedua orang tuanya. Dua orang tua Aqila tersebut duduk di hadapan Sartika, sedangkan Randen di sebuah sofa ukuran single di samping mereka.


"Pak Bu, saya di sini mewakili Bang Yosef untuk menjemput Aqila, karena beliau sekarang sedang dalam masa pingitan. Mami dan Papi juga sangat sibuk dengan persiapan mereka." Randen membuka percakapan.

__ADS_1


"Iya Nak, tidak apa-apa. Nanti Aqila ditemani oleh Sartika sampai besok, takut dia kesepian gak ada kawannya." Kata Pak Pindri.


"Gitu juga lebih baik Pak, biar Aqila ada temannya." Ucap Randen sopan.


"Biar Qila yang ada teman, atau biar Kak Randen bisa pendekatan." Goda Aqila.


"Udah-udah, berangkatlah. Nanti keluarga di sana sudah menunggu, mungkin ada yang harus di persiapkan." Kata Mama Tita menimpali.


"Kalau begitu kami pamit dulu Tante." Ucap Randen sambil bersalaman.


Pria itu membawa koper Aqila yang memang sebelumnya ada di samping Randen duduk. Aqila dan Sartika sudah masuk kedalam mobil, sedangkan Randen memasukkan barang kedua gadis tersebut kedalam bagasi.


"Kami berangkat, Om Tante." Pamit Randen sebelum masuk kedalam mobil.


"Iya Nak hati-hati. Om, Tante dan keluarga Aqila yang lain berangkat besok, pagi-pagi. Sampaikan salam kami kepada mami dan papi." Kata Pak Pindri.


"Baik Om. Saya pamit dulu." Ucap Randen sedikit membungkuk tanda hormat.


Laki-laki tersebut duduk di depan kemudi dan melajukan kendaraan dengan kecepatan standar. Mereka hanya berdiam diri, hanya sesekali Randen melirik ke arah Sartika. Sampai mereka tiba di rumah kediaman orang tua Dokter Yosef.


Randen membukakan pintu mobil untuk kedua gadis yang beruntung saja tiba bersamanya. Kemudian mempersilahkan mereka masuk ke rumah. Aqila dan Sartika duduk di sofa ruang tamu dengan sopan.


"Eh, tuh calon mu di bawah." Kata Randen.


"Mami Papi mana?" Yosef menggulung kemejanya setengah lengan.


"Nggak tau, katanya mau pesan kue pernikahan dan kekantor sebentar." Jawab Randen kemudian.


Dokter Yosef menuruni anak tangga untuk menemui calon istrinya. Ia tersenyum dari jauh melihat gadis belia itu memandang lukisan yang ada di dinding. Lalu duduk di sofa yang ada di sebelah Tika dan Aqila duduk.


"Hy, selamat datang. Mau minum apa Tika?" Tanya Dokter Yosef.


"Air mineral aja Kak, haus banget soalnya." Jawab Sartika.


"Qila nggak di tawari." Ucap Aqila menggerutu.


"Kan ini rumahmu juga sayang. Jadi seharusnya kamu lah yang ambilkan minum." Jawab Yosef dengan senyum cool nya.


Aqila hanya melempar senyum kecil pada Yosef yang beranjak ke dapur. Setelah Dokter Yosef berlalu, Sartika mendekati Qila yang membolak balik layar ponselnya. Ia membisikkan sesuatu kepada temannya itu.


"Qil, ternyata calon suamimu kaya banget ya." Bisik Sartika.

__ADS_1


"Tapi kan harta tidak menjamin kita bahagia di dalamnya." Jawab Aqila.


"Iya sih tidak menjamin, tapi kan salah satu sarana untuk menuju kesana Qil." Jawab Sartika.


"Ehem, apa sih yang kalian obrolkan? Nampaknya seru sekali." Ujar Dokter Yosef sudah kembali dengan dua botol air mineral di tangannya. Sedangkan toples makanan ringan memang sudah tersedia di atas meja.


"Bersyukur sekali sahabatku ini mendapatkan pria tampan dan mapan." Jawab polos Sartika membuat Aqila kaget dan malu.


"Oh, itu. Biasa aja Tik, semua sudah ada takarannya dan pasti setiap manusia di ikuti dengan rintangannya masing-masing." Jawab Dokter Yosef.


"Iya deh Kak." Jawab Sartika.


"Kamu kan bentar lagi jadi bagian dari keluarga di sini juga. Itu pun kalau kamu nya mau lho Tik." Ujar Dokter Yosef.


"Kok bisa gitu Bang? Ada apa sih sebenarnya?" Selidik Aqila.


"Besok kan acara pertunangan mereka juga." Jawab Dokter Yosef.


"Hah?" Aqila dan Sartika kaget.


"Iya Tik, kita sudah di jodohkan sejak kecil. Ternyata Mami Papi mu adalah sahabat orang tua kami, sama-sama datang dari benua seberang. Mereka juga yang ikut membesarkan perusahaan Mami.


Namun mereka menolak untuk di berikan setengah dari saham perusahaan yang di pegang Papi sekarang. Mereka menyetujui perjodohan ini, kalau kamu tidak keberatan." Jawab Randen yang baru muncul dari tangga.


"Aih, Tika benar-benar tidak mengerti." Jawab Sartika seolah berpikir keras.


Randen berlutut sambil membuka kotak kecil berbentuk love dari dalam sakunya. Di hadapan Sartika untuk menyatakan cinta dan keseriusan.


"Will you marry me?" Ucap Randen memegang tangan Sartika.


"Gimana Qil?" Sartika malahan bertanya pada sahabatnya itu.


"Ikut kata hatimu Tik. Kalau saya mendukung 1000 persen." Aqila sambil mengelus pundak Sartika, karena sahabatnya itu belum bisa menormalkan detak jantungnya.


"Iya, Tika mau." Jawab Tika sambil tersenyum.


Randen memasangkan cincin di jari manis gadis pujaannya tersebut. Ia tidak menyangka perjodohan yang harusnya di tujukan pada Yosef sebelumnya, akan menjadi takdirnya. Dokter Yosef dan Aqila melihat mereka berpelukan dengan penuh haru.


***


Di tempat yang berbeda seorang wanita sedang menyusun strategi untuk menggagalkan pernikahan Yosef dan Aqila yang di laksanakan esok hari. Ia mengetahui Yosef akan menikah dari undangan yang di terima oleh tantenya dari Pak Roni dan istrinya.

__ADS_1


__ADS_2