
"Waalaikumsalam." Jawab Mama Tita dari dalam rumah.
Mama Tita membukakan pintu untuk tamunya. Setelah pintu terbuka, nampak seorang pemuda dengan kegantengan di atas rata-rata berdiri tegap di depan pintu.
"Maaf Tante, Aqila nya ada?" Tanyanya dengan sopan.
Arya mengulurkan tangan kepada Mama Tita. Dengan spontan Mama Tita pun membalas uluran tangan, Arya sehingga mereka saling berjabat.
"Ada Nak, mari silahkan masuk dulu. Ibu panggilkan sebentar." Kata Mama Tita.
Arya duduk di ruang tamu. Sedang Mama Tita telah pergi untuk memanggil putrinya di dalam kamar.
"Qila, itu ada teman mu laki-laki datang." Kata Mama Tita.
"Siapa Ma?" Tanya Qila.
"Hm, Mama lupa nanya namanya. Temui langsung gih sana." Kata Mama Tita kemudian.
"Baik Ma." Jawab Qila.
Kepala Qila masih terasa berat. Memang ia sedikit memaksakan mengerjakan perbaikan skripsi Arya. Aqila tidak ingin mengecewakan pujaan hati yang baru ia kenal itu. Ia ingin menunjukan kesan baik kepada Arya. Walaupun seharusnya tidak bisa di benarkan juga apa yang ia lakukan saat ini.
Sedang Mama Tita ke arah dapur membuatkan tamu anaknya minum. Sebenarnya Mama Tita baru kali ini melihat teman laki-laki Qila yang datang langsung ke rumah, sendirian pula. Ia ingin mengenal teman anaknya lebih jauh, jangan sampai anaknya salah bergaul nantinya. Namun rasa penasaran tersebut harus di pendam terlebih dulu. Mama Tita akan menanyakannya ketika tamu sudah pulang.
"Oh, Bang Arya. Abang dari kampus tadi?" Tanya Aqila.
"Nggak sih, memang mau main ke sini." Kata Arya.
"Bang Arya mau mengambil perbaikan skripsi abang ya? Maaf sedikit lagi belum selesai. Tapi malam nanti pasti Qila usahakan selesai." Kata Qila merasa bersalah.
"Iya nggak apa-apa Qil. Abang juga kesini bukan karena skripsi." Kata Arya pelan.
"Jadi karena apa Bang?" Tanya Qila.
"Karena Abang kangen sama kamu Qil." Kata Arya.
"Bang Arya bisa aja." Kata Qila.
"Dari tadi Abang perhatikan sepertinya kamu kurang sehat Qil? Udah berobat belum?" Tanya Arya.
__ADS_1
"Iya Bang, dari kemarin badan saya sering menggigil makanya Mama datang kemari. Tapi syukurlah tadi setelah minum obat, pusingnya lumayan berangsur pulih. Jadi bisa ngerjain tugas Abang deh." Kata Aqila semangat.
"Yak ampun Qila, Abang sangat bersyukur bisa mengenalmu. Gadis cantik yang tulus ingin membantu Abang. Tidak ada penolakan lagi, mulai sekarang Abang mau Qila menjadi kekasih Abang bersama selamanya." Kata Arya menatap mata indah Qila.
"Hm, iya Bang. Qila juga bahagia kalau berada di dekat Abang." Kata Qila malu-malu.
"Mulai sekarang kita resmi pacaran ya. Ah, betapa indahnya." Kata Arya kemudian
Mendengar kata demi kata yang Arya ucapkan membuat hati Aqila berbunga. Ia selama ini belum pernah mendapatkan kata cinta kecuali dari kedua orang tuanya yang mengatakan hal tersebut hampir setiap hari.
Di tengah obrolan mereka, Mama Tita muncul dari balik tirai pembatas ruang tamu dan ruang keluarga. Ia membawa satu gelas teh susu dan empat toples yang berada dalam sebuah nampan. Menyuguhkannya di hadapan Qila dan Arya.
"Silahkan di minum Nak." Kata Mama Tita.
"Terimakasih Tante." Jawab Arya.
"Oh iya, kamu teman satu kampusnya Aqila Nak?" Tanya Mama Tita kemudian.
"Tidak Tante, kampus kami dan Qila bersebelahan." Kata Arya sopan.
"Iya ya, Kalian ngobrol saja dulu. Mama mau ngambil jahe di belakang rumah buat minuman Qila. Maaf ya Nak, siapa namanya? Tante tinggal sebentar." Kata Mama Tita.
Setelah kepergian Mama Tita, Arya duduk di samping Qila. Ia menempelkan telapak tangannya kening gadis itu, seperti memastikan suhu tubuh kekasihnya tersebut.
"Sayang, kalau belum kuat biarlah nanti saja di kerjakan skripsi Abang itu." Kata Arya.
Ia sudah kembali duduk di tempat semula. Sedangkan Aqila selonjoran dengan bantal besar menopang punggung dan kepalanya.
"Tapi Bang, pasti dosen Abang marah lagi." Kata Qila.
"Aish, itu sudah biasa Qila. Tidak terlalu Abang perhitungkan dosen tua cerewet itu. Kesehatan kamu yang paling utama." Kata Arya.
"Nanti Qila kerjakan sehabis minum obat. Tapi janji ya Bang, kalau saya sudah sembuh kita main terompet dari batang padi dan main layangan di sawah tengah kota, yang kita lihat dari jalan waktu itu." Pinta Aqila.
"Iya sayang sembuh lah dulu, Abang janji! Kalau seperti ini Abang sedih melihat sayang." Kata Arya.
Arya menyesap minuman yang sudah di hidangkan oleh ibunya Qila. Ia ingin melihat sang kekasih kembali ceria seperti semula.
Menikmati keindahan alam bebas tersisa di tengah gemerlapnya kota. Tentu akan menarik bagi mereka berdua yang memiliki kesamaan hobi dan pandangan tentang bahagia.
__ADS_1
"Bang besok saya sudah sehat." Kata Aqila.
"Belum sayang, Mama tentu belum mengizinkan kamu untuk keluar jalan-jalan. Kamu yang sabar ya." Kata Arya.
"Tapi Bang, saya merasa stres kalau harus di ruangan terus menerus." Kata Aqila menyampaikan keberatannya.
"Baiklah, kalau nanti malam kamu sudah sembuh sampai besok pagi. Nah, besok lusa Abang bawa kamu jalan-jalan." Kata Arya.
"Abang janji?" Tanya Aqila.
"Iya, janji." Kata Arya lagi.
"Baiklah, saya pasti lebih cepat sembuh." Jawab Qila dengan semangat.
Ketika mereka sedang asik berbincang, Mama Tita datang dari arah belakang. Ia membawa segelas ramuan berbahan jahe, madu dan gula merah untuk Qila.
"Wah, sedang asik ngobrol nih. Mama datang jadi ganggu." Kata Mama Tita.
"Tidak Tante, Arya dari tadi menunggu Tante datang untuk berpamitan." Kata Arya.
Arya kembali berjabat tangan dengan ibunya Aqila sebagai tanda permisi. Arya juga tidak lupa mengatakan agar Aqila cepat pulih kembali. Kemudian Mama Tita mengantar Arya sampai depan pintu.
Setelah berbalik badan, dari kejauhan Mama Tita mendapati wajah putri semata wayangnya tersebut begitu sumringah. Ia merasakan bahwa teman pria yang datang tadi lebih dari teman biasa di hati putrinya.
"Eh, Putri Mama kok senyum-senyum sendiri." Goda Mama Tita.
"Nggak Ma, biasa aja. Ayo Ma, temani Qila kembali ke kamar." Kata Qila.
"Yang benar biasa aja? Kamu tau nggak di depan tadi ia di jemput pacarnya." Kata Mama Tita.
Aqila terlonjak kaget, ia spontan bangun dari atas sofa. Membuat air jahe yang sudah di dalam mulutnya tersembur keluar.
"Apa iya Ma?" Tanya Qila.
"Kok wajahnya seperti itu? Katanya biasa saja." Goda Mama Tita.
"Iya deh Mam, Bang Arya itu pacar Qila sekarang. Baru tadi jadiannya, Mama nih kepo tingkat dewa sebel Qila." Kata Qila merajuk.
"Ya sudah, Mama minta maaf ya." Kata Mama Tita.
__ADS_1
Mama Tita senang memandang putrinya yang sangat bahagia. Ia bisa merasakan bagaimana perasaan mengenal cinta pertama kali nya. Ia juga cemas jika nanti putrinya harus patah hati, "Semua tidak ada yang abadi bukan?" Kata Mama Tita dalam hati. Namun doa yang terbaik untuk sang putri, semoga Arya adalah cinta pertama dan terakhir Aqila.