
Dokter Yosef mengambil jaketnya. Kemudian ia mencari Mami Dina untuk berpamitan. Ternyata Mami tercinta sedang membuat masker berbahan timun di dapur.
"Mi, Osef berangkat dulu jemput Anden." Kata Yosef meraih tangan Mami nya.
"Memangnya Anden kenapa Sayang?" Tanya Mami Dina khawatir.
"Tidak apa-apa Mi, sekali-kali juga Osef mau nongkrong juga melepas penat." Jawab Yosef Rananta.
"Jadi gitu. Hati-hati ya Nak." Jawab Mami Dina.
Wanita itu mengantar putranya sampai ke halaman depan. Sedangkan Dokter Yosef melambaikan tangan ke arah Mami nya saat mobil telah berjalan pelan keluar dari garasi. Mobil yang di kendarai Dokter Yosef melaju dengan kecepatan tinggi saat sudah keluar dari komplek perumahan Asri Jaya.
***
"Hey, kok pada diem? Kalian sudah makan cantik?" Tanya Randen.
"Sudah tadi Kak, paling nanti masak mie instan dan telur." Jawab Sartika.
"Kita makan diluar yuk. Kebetulan Kakak tadi bawa kendaraan. Nanti Kakak antar ke sini lagi." Kata Randen menawarkan.
Saat Randen memberi tawaran tersebut Sartika melirik kepada Aqila meminta persetujuan sahabatnya itu. Namun dengan sopan Aqila menolak.
"Terimakasih Kak tawarannya. Tapi kami sudah makan dari rumah tadi. Rumah kami juga dekat kok dari sini." Tolak Aqila.
"Baiklah. Kebetulan sepupu saya mau jemput sebentar lagi. Saya titip jajanan ke dia saja." Kata Randen.
Tidak menunggu persetujuan dari dua gadis tersebut, Randen kembali menelepon. Ia ingin Yosef membelikan camilan untuk mereka, karena di dalam hutan kota ini tidak di perbolehkan berjualan makanan. Hal itu di lakukan guna menjaga kebersihan alam yang ada.
"Bang, tolong belikan camilan di alf*mart nanti." Kata Randen.
"Baiklah, Baiklah. Kalian yang ngedate, saya yang direpotkan. Sering-sering aja ya seperti ini." Jawab Dokter Yosef dari sambungan telepon.
"Siap Bos, tenang nanti Randen pijit Abang sampai tidur. Asal mau bantu Anden kali ini saja." Jawab Randen.
Dari kecil mereka bersama, Randen sudah sangat tau sifat kakaknya. Walaupun beliau adalah orang paling tegas saat waktu kerja, namun juga beliaulah yang paling memanjakan Randen selama ini. Tidak pernah ada perselisihan diantara mereka berdua.
"Oke, sampai tidur ya." Kata Dokter Yosef mengingatkan.
"Iya Abang jomblo." Jawab Randen semakin menjadi.
__ADS_1
Randen segera mematikan sambungan telepon. Pria berusia seperempat abad itu kembali fokus memperhatikan Sartika, kecantikan gadis lokal yang berkulit kuning langsat yang ada di sampingnya.
"Tik sebentar ya, gue mau ambil jaket ke tenda dulu. Kamu mau ikut nggak? Eh, tunggu aja di sini biar Qila ambilkan jaket Neng Geulis. Kasihan Kakak gantengnya kalau di tinggal." Kata Aqila tersenyum pada keduanya.
"Terimakasih Uncil." Kata Sartika.
Ia sedikit berteriak karena Aqila sudah pergi ke arah tenda. Uncil adalah panggilan kecil Aqila saat ia masih kecil, dalam bahasa keseharian Uncil menunjukan gadis kecil yang tidak suka makan.
Berakibat tubuhnya kecil, sebenarnya memang anak-anak kadang belum nampak pertumbuhannya ketika berumur balita. Saat usia taman kanak-kanak juga ada yang belum nampak pertumbuhan yang pesat.
"Kalian berteman atau keluarga?" Tanya Randen.
"Sama Qila?" Tanya Tika.
"Iya, gadis tadi." Tanya Randen kembali.
"Kami bersahabat sejak kecil. Sudah sangat dekat, bahkan lebih dari keluarga." Kata Sartika.
"Oh, tapi kok mirip...," Kata Randen, tapi terlihat dari wajahnya, ia juga ragu.
"Mirip siapa Kak?" Tanya Sartika penasaran.
Saat mereka sedang ngobrol di bangku pinggir kolam. Dokter Yosef datang membawa kantong plastik penuh dengan berbagai macam makanan ringan di tangannya.
"Wah, ada yang kencan dadakan nih." Ucapan Dokter Yosef mengagetkan Randen dan Sartika.
"Dokter?" Sartika kaget.
"Kalian saling mengenal?" Tanya Randen tidak kalah kaget.
"Iya, kami kenal waktu di rumah sakit. Sahabat mu mana?" Tanya Dokter Yosef pada Sartika, karena dari tadi matanya tidak bertemu dengan sosok gadis pujaannya.
"Qila lagi ambil jaket di tenda kami, di sebelah sana Dok." Kata Sartika.
"Nggak udah panggil Dok, kalau kamu nggak lagi di rawat. Panggil Kak Yos aja. Oh ya, udah ada panggilan spesial belum kalian berdua nih? Udahlah Nden bilang saja." Goda Dokter Yosef.
"Apaan sih Bang, ya ya. Berarti saya nggak salah lihat, teman mu tadi siapa namanya?" Tanya Randen mengarah pada Sartika.
"Aqila Kak, memangnya kenapa Kak?" Tanya Tika penasaran.
__ADS_1
"Ya ya, gadis itu yang ada di wallpaper handphonenya dia. Di dinding kamar juga. Ayo ngaku katanya hanya teman? Tapi di bela-belain kesini.
Dari awal saya sudah yakin Bang seribu persen, nggak mungkin Abang ke sini kalau hanya mau jemput Anden. Mustahil, kecuali saya sakit." Kata Randen seakan mau skak mati saudaranya.
"Iya deh, saya ngaku. Kalian lanjut aja ya, saya kesana dulu. Jangan mau di gombalin sama kadal Tik." Kata Dokter Yosef.
Yosef Rananta berlalu menuju tenda yang di tunjuk oleh Sartika tadi. Betapa senang hatinya bisa menghabiskan waktu dengan orang yang ia cintai. Rasanya malam ini seperti mimpi bisa bertemu dengan Aqila walaupun mungkin hanya sebentar.
Dokter Yosef memperhatikan tenda tersebut dari jauh, namun ia tidak melihat Aqila di sana. Ia berjalan dengan hati-hati untuk memberi suprise pada gadis calon kekasihnya.
Setelah jarak Dokter Yosef dengan tenda semakin dekat. Ia melihat Aqila sedang sibuk di balik tenda, rupanya gadis itu sedang memasak. Entah apa yang Aqila masak, Dokter Yosef belum tau pada saat itu.
Dokter Yosef mendekat dari arah belakang Aqila. Kerinduan yang ada dalam dirinya telah mematahkan perasaan takut kalau gadis itu marah. Dokter Yosef sengaja melingkarkan tangannya di perut Aqila dari belakang.
"Masak apa Sayang?" Tanya Dokter Yosef lembut.
"Aduh panas! Siapa sih, gila orang gak sopan." Teriak Aqila.
Tanpa melihat siapa orang yang memeluknya, Aqila mencoba meraih bel yang ada di dalam tenda. Namun Dokter Yosef menariknya ke dalam pelukan hangatnya.
Mendengar teriakan Aqila, beberapa orang pengunjung mendekati mereka. Dokter Yosef masih tetap memeluk Aqila dengan erat, ia seakan tidak mau lari dari tanggung jawab apabila orang-orang menghakimi mereka nanti.
"Mau berbuat mesum disini?" Kata seorang pengunjung laki-laki berperawakan tinggi besar.
"Maaf Pak, saya adalah tunangannya. Tapi calon istri saya sedang lupa ingatan karena baru sembuh dari sakit." Kata Dokter Yosef.
Pengunjung tersebut tidak ada yang mengenali Dokter Yosef memang karena suasana lampu yang remang. Beberapa menit kemudian Sartika dan Randen datang mendekat ke lokasi tenda. Mereka terkejut karena melihat Aqila dan Dokter Yosef sepertinya sedang di hakimi beberapa pengunjung.
"Ada apa ini bapak-bapak?" Tanya Randen tanpa gentar.
Memang untuk urusan seperti ini Randen sangat bisa di andalkan. Pria campuran itu diam-diam memiliki geng preman yang cukup di takuti.
"Mereka ini mau berbuat mesum disini Pak." Kata seorang dari mereka.
"Dia kakak saya, mereka memang sudah bertunangan. Tapi calon kakak ipar sedang sakit." Kata Randen.
Pria setengah bule itu, mengeluarkan benda putih mengkilat selebar lingkaran gelas. Benda itu seperti menyala, terlihat tulisan R2. Namun tanpa di sangka, pengunjung yang melingkari mereka pergi satu persatu.
"Mau di peluk juga?" Tanya Randen melihat Sartika sangat erat memegang tangan baju ia kenakan.
__ADS_1
"Maaf." Sartika jadi salah tingkah.