
Suara gemericik air aliran sungai menambah kesan natural sebuah bola Sang Pemilik Semesta. Tempat tinggal segala macam dan bentuk serta ukuran makhluk hidup yang tinggal di dalamnya. Bola raksasa yang dinamakan bumi hanya la segelintir kecil dari ciptaan yang menakjubkan dalam alam semesta.
Diantara jutaan manusia dan diantara berlaksa-laksa makhluk hidup yang diciptakan. Dalam satu titik derajat astronomis, dua remaja yang sedang merangkai lukisan sejarah terindah. Berharap hari-hari ke depan berpihak kepada mereka berdua.
Menatap lekat bola mata dalam pandangan yang sedang beradu. Qila tersenyum bahagia ketika sang pujaan hati mengutarakan perasaannya ingin bersama sampai nanti. Ia menjawab pelan dengan dada berdebar ungkapan dari Arya.
"Qila pun berharap begitu Bang. Bila Tuhan berkehendak dan jika kita boleh meminta." Jawab Aqila bergetar.
"Amin, sayang." Jawab Arya.
Tidak terasa ada bulir bening jatuh dari sudut kedua mata, namun ia segera menghapusnya. Sebenarnya bukan ingin meragukan Tuhan lewat doa yang di ucapkannya tadi. Tapi terlalu berat baginya jika kenyataan bahwa keduanya harus terpisah.
Sepasang kekasih sedang menikmati hari yang indah. Dalam hati masing-masing menginginkan waktu jangan cepat berlalu.
Arya berkali melemparkan jorannya, ia telah mendapat dia ekor ikan emas sekitar empat jati orang dewasa. Ia juga mendapat satu ikan gabus dan satu ikan gurame.
Sedangkan Aqila sibuk dengan layangan yang sedang berada diantara awan. Layangan tersebut terbang tinggi, setinggi harapan seorang insan yang sedang menggenggam erat tali layangan.
"Sayang, udah dapat nih. Apa kita belum pulang? Nanti Mama cariin kamu." Kata Arya mengingatkan.
Aqila tersadar dari lamunannya. Namun seakan enggan cepat kembali ke rumah, Qila masih ingin menikmati sore hari di sekitar persawahan.
"Nanti saja Bang, sebentar lagi. Sore ini sangat cerah, sayang kalau di lewatkan. Nanti pasti banyak capung dan kupu-kupu berterbangan di atas hamparan padi ini." Jawab Aqila.
"Baiklah sayang, tapi sebaiknya telepon Mama dulu, nanti beliau khawatir." Jawab Arya mengingatkan.
Aqila mendekati tempat duduk Arya, karena ponsel ada di dalam tas kecil miliknya. Sebelum bermain layangan, tadi Aqila meletakan tasnya di batu samping Arya duduk.
Setelah meraih tas kecilnya, Aqila langsung menghubungi Sang Mama. Aqila meminta maaf kalau hari ini ia pulang agak sore. Namun Aqila meyakinkan mamanya, sebelum waktu magrib datang ia sudah tiba di rumahnya.
__ADS_1
Selesai menelepon, Aqila kembali melanjutkan menarik ulur layangannya. Saat ia menelepon tadi sempat Arya yang memegang tali layangan Aqila.
Tidak ingin melewatkan momen, beberapa kali Aqila memotret dirinya dengan kamera menyorot Arya yang ada di belakang. Berjarak sekitar 2-3 meter saja dengan tempat Aqila berdiri.
Jarum jam sudah berputar, benar saja sekarang banyak muncul berterbangan kupu-kupu dan capung di atas padi yang sedang menguning. Pemandangan seperti inilah yang selalu di rindukan oleh Aqila saat kepalanya lagi suntuk.
Seakan merasakan apa yang dirasakan oleh Aqila dan Arya. Rombongan kupu-kupu dan capung tersebut seakan menari di atas luasnya hamparan sawah.
Beberapa menit kemudian di tengah cerahnya suasana sore hari, tanpa diundang tiba-tiba saja gerimis halus datang. Gerombolan kupu-kupu dan capung seakan mengerti dengan alam. Mereka pergi satu persatu entah kemana.
"Gerimis sayang, ayo berteduh dulu." Kata Arya.
"Iya Bang." Jawab Aqila singkat.
Arya dengan cepat menarik jorannya dan menggulung tali joran. Sedangkan Aqila juga bergegas menarik tali layangan. Tidak sampai hitungan menit mereka telah selesai beberes, dan segera berjalan melewati pembatas sawah.
Gerimis masih ada, tapi suasana terlihat lebih cerah. Aqila melihat sekeliling, "Sangat indah." Gumamnya. Tanpa di sadari matanya tertuju pada lengkungan warna-warni yang membuat siapa saja bisa terpukau.
Ia segera mengeluarkan ponselnya untuk memotret. Sedangkan Arya masih melihat arah yang di tunjuk Aqila tanpa suara.
"Bang, kita foto bareng yuk backgroundnya ada pelangi." Kata Aqila antusias.
Ia berlari berbalik badan mendekati Arya. Selangkah lagi mau sampai, tanpa di duga kaki Aqila terpeleset di pematang sawah. Hanya sedikit gores dan keseleo, ia tidak ingin kehilangan momen indah di hadapannya.
Arya yang cemas spontan membantu. Dengan berbagai pose, Aqila sangat bersemangat. Setelah menyudahi aksi posenya, Arya menggandeng Qila melewati pematang sawah. Katanya agar Aqila tidak lagi terjatuh.
Aqila berhenti sejenak, ia merasa seperti ingus yang ingin keluar mengucur. Padahal dari tadi ia tidak sedang pilek.
"Kenapa hidung banyak berdarah sayang?" Tanya Arya spontan panik.
__ADS_1
Arya segera melepas kaos putih yang ia gunakan. Dengan hati-hati Arya mengelap darah yang keluar dari hidung Qila.
"Gak apa-apa Bang, biasa juga. Paling mimisan." Jawab Aqila.
"Kayaknya kamu kecapekan sayang, Abang merasa bersalah sama Tante Tita." Kata Arya lagi.
"Bukan salah Abang, ini sudah biasa kok. Jangan dipikirin." Jawab Aqila santai.
"Nih pegang kaosnya sayang." Kata Arya.
Aqila menerima kaos tersebut, dan terus menutupi hidungnya. Dengan cepat Arya menggendong tubuh Aqila yang seperti kelimpungan, karena sebenarnya Aqila tidak bisa kalau melihat darah.
Arya meletakkan Aqila di kursi teras rumah panggung milik keluarganya tersebut. Ia segera mengambil kunci dari dalam kantong celananya. Kunci tersebut tergantung di kontak kendaraannya.
Setelah membuka pintu rumah, Arya segera menggendong Aqila membawanya ke tempat tidur yang biasa ia gunakan ketika menginap di sini.
"Sayang, kita beristirahat sebentar di sini ya. Sampai kepala kamu tidak pusing lagi baru nanti kita pulang. Jujur Abang khawatir kalau kita pulang sekarang." Kata Arya.
"Iya Bang, tapi beneran kok Qila tidak apa-apa." Jawab Aqila.
Aqila masih terus mengelap darah yang masih keluar. Memang tidak sebanyak tadi, tapi kepalanya terasa sangat pusing.
"Sayang, Abang cari daun sirih di belakang sejenak ya." Kata Arya.
Tanpa menunggu jawaban dari Aqila, Arya sudah melesat ke arah belakang bangunan semi permanen tersebut. Ia akan berusaha mengobati kekasihnya dengan daun sirih, di tempel pada hidung dan juga daun sirih di rebus lalu untuk di minum.
Setidaknya itulah cara yang ampuh untuk menghentikan sejenak pendarahan hidung alias mimisan. Arya mengambil beberapa daun sirih yang muda dan segar serta tidak bercacat, seperti berlobang dan mengkerut.
Lalu ia kembali membawa daun sirih tersebut ke rumah dengan melewati Aqila. Lagi-lagi tanpa kata Arya berlalu telan di depan Aqila. Rupanya gadis kekasihnya tersebut sedang memejamkan mata, entah mungkin sedang tertidur atau mungkin hanya sedang memejamkan mata karena kepalanya pusing.
__ADS_1
Satu hal yang pasti, Arya akan berusaha semampunya untuk membuat Sang Kekasih sembuh dan ceria, seperti beberapa menit yang telah mereka lewati. Sambil menyiapkan ramuan daun sirihnya, Arya terus memohon kepada Tuhan kesembuhan untuk Aqila.