Sang Skenario Cinta

Sang Skenario Cinta
Izin Cuti


__ADS_3

"Saya terima nikahnya Aqila Putri binti Pindri Hermawan dengan mas kawin emas seberat 250gram." Kata Arya akhirnya bisa bernapas lega.


Arya mencium pucuk kepala Aqila dengan lembut. Aqila meraih tangan Arya dan membalasnya dengan ciuman di tangan pria yang sudah sah menjadi suaminya tersebut.


"Terimakasih Bang." Ucap Aqila sambil tersenyum. Seakan seisi dunia ini adalah miliknya.


Ternyata khayalan tentang hidup bersama dengan Arya, pria yang menjadi cinta pertamanya telah menjadi obat mujarab pada detik itu.Memandangi wajah sang kekasih, membuat Aqila seperti melupakan rasa sakitnya.


Aqila tersenyum-senyum sendiri memandangi pria yang duduk di sampingnya tersebut. Sampai beberapa detik kemudian Arya melambaikan tangan di depan wajah Aqila.


"Hey, sayang," Kata Arya.


Namun tetap saja Aqila tidak menggubris Arya yang menyadarkan lamunannya. Arya tidak berhenti untuk menyadarkan kekasihnya tersebut. Ia mencubit sedikit pipi Aqila kekasihnya, membuat Aqila sangat kaget.


"Sayang kamu melamun ya?" Kata Arya.


"Hem, Abang menggangu saja." Jawab Aqila.


"Sayang, Abang pulang dulu soalnya masih ada kerjaan yang harus di kumpul besok pagi." Kata Arya kemudian.


"Yaah Abang, cepat sekali pulangnya." Kata Aqila merajuk.


"Iya deh, lima menit lagi sayang." Kata Arya tidak tega meninggalkan kekasihnya yang sudah memasang muka masam.


"Terimakasih ya Bang." Jawab Aqila.


Detik demi detik terasa sangat singkat bagi Aqila. Ia tidak lepas sedikitpun memandangi wajah kekasihnya seperti harus berpisah besok hari saja.


Sekitar sepuluh menit berlalu, Arya mengelus rambut Aqila untuk berpamitan pulang. Arya juga berpamitan kepada kedua orang tua Aqila.

__ADS_1


"Sayang, Abang pulang dulu ya. Semoga cepat sehat." Kata Arya.


Mendengar Arya berpamitan dengan putrinya. Mama Tita beranjak dari duduknya di tikar plastik. Ia menghampiri putrinya.


"Tan, saya permisi pulang dulu. Semoga Aqila cepat sehat, kalau sedang nggak sibuk kerja pasti Arya mampir kemari." Kata Arya sambil menyalami Mama Tita.


"Iya Nak, terimakasih atas perhatiannya kepada Qila." Ucap Mama Tita.


Arya juga berpamitan kepada Pak Pindri yang sedang mengobrol dengan keluarga Ibu Naya dia atas sofa. Mama Tita mengantar Arya sampai depan pintu ruang dimana Aqila di rawat.


Pukul menunjukan 7.30 waktu setempat. Belum lama Arya pulang, terlihat dua orang Dosen dan rombongan teman satu angkatan Aqila datang membesuk. Terlihat juga di antara mereka Sartika sahabatnya, membawa parsel yang berisi buah-buahan.


"Selamat malam Pak Bu, maaf mengganggu waktunya sebentar. Kami ingin menjenguk Aqila Putri salah satu mahasiswi kami." Kata salah satu Dosen Aqila tersebut.


Mendengar bahwa yang datang adalah tamu mereka. Pak Pindri dan Mama Tita menghampiri rombongan tersebut yang sudah ada di dekat pintu.


Pak Pindri mempersilahkan Dosen Aqila untuk duduk di sofa yang ada di dalam ruangan tersebut. Sedangkan semua teman Aqila di persilahkan mendekat ke ranjang tempat Aqila berbaring.


Tika dan yang lain seperti di beri aba-aba, mereka menyerbu ke arah ranjang Aqila di rawat. Mereka bercanda guna sedikit menghibur Aqila. Benar saja, Aqila menyunggingkan senyumnya kepada teman-teman yang sudah menyempatkan berkunjung.


"Pak Bu, Saya Irfan. Kami mewakili dosen dan semua mahasiswa datang membesuk setelah mendengar Aqila putri di rawat di rumah sakit ini." Kata Dosen laki-laki yang bernama Irfan tersebut.


"Iya Pak, Kami sebagai orang tua Aqila mengucapkan banyak terimakasih kepada Bapak, Ibu dan teman-teman Aqila semuanya." Jawab Pak Pindri.


"Bagaimana keadaan Aqila Bu? Apa sudah ada perubahan yang membaik?" Tanya Dosen Tenten.


"Yaah begitulah Bu Dosen, baru saja kemari dia drop lagi. Kami sebagai orang tua ingin bertanya kepada Bapak dan Ibu selaku Dosen Aqila.


Menurut dokter Aqila seharusnya tidak berpikir keras dulu, karena yang bermasalah adalah bagian otak kirinya. Apa kira-kira Aqila sebaiknya mengambil masa cuti dulu sampai sembuh seperti kata dokter?" Tanya Mama Tita.

__ADS_1


"Hem, memang seharusnya Aqila ambil masa cuti dulu Pak, Bu. Hal itu agar biar bisa lebih tenang dan lebih fokus untuk berobat dulu." Kata Dosen Tenten.


"Kami memohon agar Ibu dan Bapak bisa menguruskan izin cuti putri kami." Kata Mama Tita.


"Baiklah Bu, nanti saya akan membantu mengurusnya." Kata Dosen Tenten.


Ketika orang tua Aqila mengobrol dengan dosen mereka. Teman-teman Aqila mencoba menghibur Aqila dengan sebuah permainan kecil yaitu injit-injit semut.


Tangan mereka bertumpuk, berurutan mencubit tangan yang ada di bawah tangan mereka. Tangan semua teman Aqila berada di atas perut Aqila, berjarak sekitar delapan sentimeter.


Di saat Aqila tersenyum melihat teman-teman mereka. Sartika sahabat Aqila menyuguhkan minuman dan makanan ringan seadanya kepada Dosen dan orang tua Aqila. Setelah itu ia mengupas buah yang mereka bawa untuk sahabatnya yang terbaring sakit.


"Sudah, sudah dulu mainnya kawan-kawan. Nanti Qila nya sakit lagi. Ini saya kupas buah untuk kamu Qil." Kata Tika.


Teman-teman mereka satu persatu duduk di atas tikar yang ada terbentang di lantai. Sedangkan Tika dan satu teman mereka yang perempuan masih betah di samping Aqila. Aqila mencoba mengambil buah yang di letak Tika di atas perutnya yang berselimut.


"Terimakasih ya Tik, kalian sangat baik kepada saya." Kata Aqila, air matanya perlahan mengalir di pelipisnya.


"Udah-udah, sini biar gue yang suappin." Kata Tika kepada sahabatnya itu.


Tanpa menunggu jawaban dari Aqila Tika telah mengambil satu potong buah pear dan menyuapkannya kepada Aqila. Memang Sartika sangat menyayangi sahabatnya tersebut. Sedangkan teman perempuan mereka yang bersama dengan Aqila, membantu memegang piring buah tersebut.


Sedang teman-teman Aqila asik mengobrol, Dosen Tenten memberi kode kepada mahasiswa-mahasiswinya untuk segera berpamitan.


"Bapak Ibu, karena hari telah hampir larut, kami meminta izin dulu untuk berpamitan pulang ke rumah masing-masing. Ini ada sedikit untuk membantu biaya berobat Aqila dari teman-temannya semua." Kata Bu Dosen Tenten.


"Iya Pak Bu, kami berdoa semoga Aqila Putri cepat di beri kesembuhan. Supaya bisa berkumpul dan melanjutkan skripsinya kembali." Kata Pak Irfan menimpali.


"Terimakasih banyak Bapak, Ibu dan teman-teman Aqila yang sudah menyempatkan menjenguk putri kami. Sebagai orang tua, tentunya kami sangat merasa senang." Kata Pak Pindri.

__ADS_1


Semua teman Aqila akhirnya bersalaman satu persatu, mereka tidak lupa memberikan kata-kata support kepada temanya yang sedang terbaring tersebut. Setelah itu teman-teman bergiliran berpamitan juga kepada orang tua Aqila.


Sedangkan Tika sendiri tinggal di rumah sakit, sebelum berkumpul di Universitas tadi Tika sudah membawa pakaian ganti dan perlengkapan lainnya. Ia akan menginap di rumah sakit karena besok tidak ada jadwal untuk bertemu dosen bimbingan skripsi.


__ADS_2