Sang Skenario Cinta

Sang Skenario Cinta
Tidak Terima


__ADS_3

"Memangnya sakit apa Aqila itu?" Tanya Mami Reni tanpa mau mengiyakan keinginan putranya terlebih dahulu.


"Menurut dokter Mi, Aqila mengidap pembengkakan yang mana otak sebelah kirinya membengkak, dan otaknya tersebut di selimuti cairan. Mengenai penyebabnya, para dokter masih mendalaminya. Itulah mengapa Aqila masih di rumah sakit sampai saat ini, selain itu kesehatannya sangat lemah." Arya memberi penjelasan kepada orang tuanya.


"Terus kamu masih ingin melamar gadi itu juga? Kamu mau hidup bersama orang yang sakit-sakitan seumur hidupmu?" Cecar Mami Reni.


"Tapi Mi, bukannya Aqila sudah banyak sekali membantu Arya. Mami sendiri kan yang bilang Aqila telah membawa perubahan bagi diri Arya?" Bela Arya mempertahankan pendapatnya.


"Tapi Arya, Mami tidak mau memiliki menantu gadis sakit-sakitan. Apa kata orang nantinya, lagi pula akan menguras banyak uangmu kalau nanti tanggung jawab sudah beralih sama kamu. Seandainya benar kamu menikahinya." Cecar Mami Reni kemudian.


Arya hanya menunduk, mempertimbangkan perkataan wanita yang telah melahirkannya itu. Satu sisi dirinya telah menaruh hati bahkan menyayangi kekasihnya, di sisi lain benar juga yang di katakan oleh Ibunya bahwa perjalanan masih panjang.


Arya tidak ingin menjalani hari-hari ke depan hanya kesedihan, karena melihat orang yang sakit setiap hari. Arya juga berpikir seorang anak laki-laki harus berbakti kepada orang tua yang telah membesarkan dia.


Melihat putra mereka hanya menunduk, Pak David mencoba memberi penjelasan. Sedangkan, Mami Reni diam seribu bahasa setelah mengeluarkan segala kekesalannya.


"Coba kamu pikirkan lagi Arya, Papi sangat memahami perasaanmu kepada gadis itu. Papi sangat berterima kasih juga kepadanya. Tapi, mengenai pernikahan itu bukan tentang rasa kasihan ataupun balas budi saja, atau hanya tentang perasaan saja.


Harus Papi katakan, kita menikah juga tentang masa depan keturunan kita. kebahagian kita nanti jika bersama-sama. Kalau begini jangankan tentang keturunan, bahagia pun akan sulit kamu dapatkan. Yang ada kamu harus mengeluarkan uang terus menerus untuk biaya pengobatan." Jelas Pak David seperti sangat bijaksana.


"Pokoknya Mami tidak setuju kalau kamu masih ingin menikahi gadis itu. Mending Mami akhiri saja hidup Mami." Kata Mami Reni mengancam putranya. Ia memijit kepala yang sudah terasa pusing.


"Baik lah Mi, sebagai anak Arya akan mengikuti apa kata Mami. Mengenai siapa yang menurut Mami cocok untuk Arya jadikan istri, silahkan Mami dan Papi pilihkan. Tapi bagaimana dengan Aqila yang masih menunggu Arya di rumah sakit Mi?" Kata Arya ragu.


Tidak terasa air mata Arya menetes ketika mengucapkan nama Aqila. Kebersamaan yang mereka lewati hari yang lalu telah menjadi kenangan.

__ADS_1


Sebenarnya hal inilah yang menjadi pertimbangkan Arya beberapa waktu ini tidak menemui Aqila. Ia takut kalau pada akhirnya Mami melarang Arya berhubungan lagi. Arya hanya ingin menjauh perlahan dari kehidupan Aqila.


"Mengenai anak itu biarlah, suatu hari ia pasti mengerti bahwa memang tidak pantas ia bersanding dengan kamu. Putra Mami yang ganteng dan tidak ada kekurangan. Masa iya Mami rela menikahkan anak kesayangan dengan gadis penyakitan seperti Aqila itu." Kata Mami Reni.


"Sudahlah Mi, jangan di bahas lagi. Kasihan orang lain di omongin kekurangannya terus." Kata Pak David meredam emosi istrinya.


"Mengenai siapa yang cocok untuk kamu, besok Mami kenalkan dengan gadis cantik anak teman Mami." Jawab Mami Reni.


"Baik Mi, atur saja sama Mami." Jawab Arya.


"Baiklah sayang, terimakasih. Kamu tidak akan menyesal." Jawab Mami Reni.


"Mi Pi, Arya capek banget nih. Mau mandi dan istirahat dulu." Kata Arya.


Arya langsung beranjak menuju kamarnya yang berada di lantai atas. Arya melangkah gontai dengan memegang tas kerja dan jaketnya.


"Siap Mi." Jawab Arya setengah berteriak.


***


Malam semakin larut, sebagian pasien sudah tertidur. Begitupun dengan keluarga yang setiap waktu di rumah sakit, karena menjaga anggota keluarga yang sedang sakit sangat mempengaruhi kesehatan orang-orang yang terkasih dalam menemani proses penyembuhan pasien.


Bagi pasien yang sudah di rawat dalam jangka waktu yang lumayan, atau bagi mereka yang sering bolak baik di opname. Tentu rumah sakit sudah seperti rumah kedua bagi mereka.


Mama Tita dan Pak Pindri sudah tidur di kasur angin yang mereka bawa dari rumah, ketika mereka datang mengetahui Aqila di rawat di rumah sakit ini. Tidur di kursi samping Aqila berbaring membuat kaki Mama Tita sedikit membengkak, oleh karena itulah orang tuanya terkadang memutuskan tidur di tempat tidur yaitu kasur angin tersebut.

__ADS_1


Ketika orang tuanya sudah terlelap, Aqila perlahan turun dari tempat tidurnya. Ia pelan-pelan mendorong tiang tempat cairan infonya menggantung. Menuju jembatan kecil yang menghubungkan antara satu gedung dan gedung lainnya bagian dari rumah sakit ini.


Aqila duduk di sebuah kursi yang ada di sana. Sambil ia mengeluarkan benda pipih miliknya dari saku daster yang melekat di tubuhnya. Mengharap ada sebuah panggilan masuk dari sang kekasih. Hal ini telah menjadi kebiasaannya setiap hari, memandangi layar ponsel tanpa menyentuhnya.


Dalam kebimbangannya Aqila memutuskan untuk menghubungi Arya duluan. Ia sudah menunggu dari sore hari, tetapi tidak kunjung menerima telepon dari kekasihnya tersebut.


Setelah menemukan kontak ponsel Arya, Aqila langsung memencet ikon berwarna hijau yang akan menghubungkan dirinya dengan Arya. Namun, beberapa saat kemudian terdengar suara wanita yang mengatakan nomor kekasihnya sudah tidak dipakai.


Pupus sudah harapan Aqila untuk mendengar suara Arya malam ini. Angannya seperti menjatuhkan dalam sebuah kenyataan pahit. Aqila menahan air matanya yang seakan tidak bisa terbendung lagi.


Menarik napas panjang berulang kali dan membuangnya. Kemudian Aqila memejamkan mata indahnya untuk waktu yang cukup lama. Aqila berharap ini adalah mimpi buruk dan Arya akan membangunkannya dengan kenyataan indah. Namun, sampai beberapa detik mata indah Aqila terpejam tidak ada Arya yang membisikan kata hangat di telinganya.


Aqila perlahan mendengar langkah ke arahnya. Aqila sudah seakan abai dengan siapapun di sekitarnya sekarang. Jika tempat ini bukan rumah sakit, ia ingin berteriak sekeras mungkin. Jika bisa, ia ingin berlari sejauh-jauhnya sampai kakinya lelah.


Mata Aqila masih terpejam, ia merasa ada sebuah tangan mengelus pucuk kepalanya dengan lembut. Aqila berusaha agar tidak terlihat sedang bersedih ketika membuka mata.


"Hay, manis." Tanya suara berat itu kepada Qila.


"Dok-Dokter, kenapa Dokter ke rumah sakit malam-malam?" Tanya Aqila.


"Saya kerja di rumah sakit ini, ini ponsel kamu jatuh." Ucap Dokter Yosef dingin.


"Iya, terimakasih." Jawab Aqila.


Dokter muda itu berlalu menghilang di balik dinding. Ia memang sedang tidak menggunakan almamater seorang dokter di badannya. Aqila tetap merenungi takdirnya yang disia-siakan Arya.

__ADS_1


"Ini untukmu, mau nangis? Nih nangis saja." Kata Dokter Yosef yang telah duduk tepat di samping Aqila. Ia menepuk-nepuk pundaknya yang gagah.


"Kenapa Dokter ke sini lagi? Ganggu aja tau!" Kata Aqila dengan tangis yang di tahannya.


__ADS_2