Sang Skenario Cinta

Sang Skenario Cinta
Ikuti Kata Hati


__ADS_3

"Tapi untuk apa kita menikah, kamu tidak mungkin mencintai saya juga. Saya akan menolak jika mereka meminta pernikahan, saya sudah ikhlas kalau harus di berhentikan secara tidak hormat." Kata Dokter Yosef.


"Abang." Jawab Aqila.


Gadis itu terharu, Aqila tiba-tiba memeluk Dokter Yosef yang sedang menyetir. "Bagaimanapun resikonya dokter ini masih memikirkan perasaannya." Pikir Aqila.


Sedangkan Dokter Yosef dalam hatinya sangat senang. Ia mau melihat Aqila luluh dengan kebaikannya, dan mau menerima pernikahan mereka nanti dengan tidak terpaksa.


"Udah, nggak usah terlalu di pikirkan. Turun dulu yuk, kita makan sebentar." Ajak Dokter Yosef.


Dokter Yosef memberhentikan mobilnya di depan sebuah kafe. Ia turun dari mobil, lalu membukakan pintu untuk wanita pujaannya tersebut.


"Kamu pesan apa Qil?" Tanya Dokter Yosef.


"Sama aja." Jawab Aqila.


"Hem." Gumam Dokter Yosef.


Dokter muda itu sengaja memesan makanan berat untuk mereka siang hari ini, setelah banyak tenaga terkuras dan pikiran juga. Ia memesan bebek panggang kecap plus nasi putih, ia sudah menahan lapar sedari tadi.


Tidak perlu menunggu lama, makanan yang mereka pesan terhidang juga di depan mata. Aqila menatap makanan yang di sajikan dengan membelalakkan mata, melihat porsi yang di pesan Dokter Yosef.


"Kita hanya berdua saja Bang?" Tanya Aqila.


"Memangnya ada siapa lagi?" Tanya Dokter Yosef.


Dua ekor bebek panggang sudah di lumuri kecap tersaji rapi di hadapan mereka. Tanpa bersuara lagi Dokter Yosef melahap makanan yang sudah terhidang, bahkan ia tidak memperhatikan Aqila yang hanya makan sedikit .


"Kenapa nggak makan Qil? Nanti sakit." Kata Dokter Yosef.


"Qila masih ingat kejadian tadi Bang. Gimana lah nasib kita ini?" Kata Aqila merenung.


"Nggak usah terlalu di pikirin. Makanlah dulu biar abang antar pulang." Kata Dokter Yosef.


"Qila udah selesai Bang." Kata Aqila.


"Nambah lagi, kasihan bebeknya." Kata Dokter Yosef lagi.


"Udah Bang, Qila udah kenyang sekali." Jawab Aqila.

__ADS_1


Setelah membayar, Dokter Yosef dan Aqila kembali ke mobil. Dokter muda itu akan mengantar Aqila pulang ke rumah calon mertua.


Selama di perjalanan dia insan itu seakan kelu. Tidak ada yang membuka percakapan sedikitpun, hanyut di dalam pikiran masing-masing.


Dokter Yosef memarkirkan mobilnya si pekarangan rumah Pak Pindri. Sudah terlihat Mama Tita dan Tika ngobrol di ruang tamu.


"Wah, sudah datang Nak?" Sapa Mama Tita.


"Iya Tante, saya mengantar Aqila." Jawab Dokter Yosef.


"Silahkan masuk Nak Dokter, tante buat minum dulu." Kata Mama Tita.


"Nggak usah Tan. Terimakasih, tapi saya masih ada urusan. Saya pamit dulu." Jawab Dokter Yosef.


"Ya sudah kalau seperti itu, terimakasih sudah mengantar Aqila." Kata Mama Tita.


Dokter Yosef menyalami Mama Tita untuk ber pamitan. Kemudian pria muda itu mau masuk ke dalam mobil, ia melihat wajah Aqila yang tidak seceria tadi. Dokter Yosef kasihan juga melihat Aqila jika seperti ini terus-menerus.


Dokter Yosef melihat tas Aqila ketinggalan. memanggil gadis itu untuk mendekat, karena Dokter Yosef telah berada di depan kemudi.


"Qil, tas kamu tertinggal nih." Kata Dokter Yosef sambil mengangkat tas milik Aqila tersebut.


Aqila mengambil tas kecil dari tangan dokter muda itu. Mama Tita sudah kembali masuk ke dalam rumah.


"Jangan banyak pikiran ya sayang. Abang pulang dulu." Kata Dokter Yosef.


"Iya." Jawab Aqila singkat.


Gadis itu memutar tubuhnya, sedangkan mobil yang di kendarai Dokter Yosef melaju dengan pelan. Setelah keluar dari gang rumah Aqila, Dokter Yosef memacu kecepatan kendaraannya. Ia tiba ke rumah keluarga Roni Rananta tersebut kurang dari tiga puluh menit perjalanan.


Dokter Yosef menghembuskan napas kasar, kemudian mengusap wajahnya berulang kali. Rasa gelisah yang tadi ia tutup rapat di hadapan Aqila, kini seakan ingin meledak.


Ia masuk kedalam rumah langsung menuju kamar. Meletakan almamater kebanggaan dan tas kerja di atas kursi kamarnya. Kemudian membersihkan diri agar pikiran lebih terbuka.


Dokter Yosef turun dari kamar untu mencari Mami Dina yang dari tadi tidak nampak. Ternyata wanita yang menjadi cinta pertamanya itu sedang memasak, karena tercium dari wangi khas masakan favoritnya, ayam bakar kecap plus sambal terasi cabe rawit.


"Mi dimana?" Panggil Dokter Yosef seolah tidak tau keberadaan Mami nya.


Dokter Yosef mendekati Mami Dina yang sedang memasak. Ia duduk di kursi yang ada di dapur rumahnya.

__ADS_1


"Selamat datang sayang, Mami lagi masak nih. Randen belum pulang?" Tanya Mami Dina.


"Kami tadi nggak bareng Mi." Jawab Dokter Yosef.


"Oh gitu. Kamu sudah mau makan sayang?" Tanya Mami Dina.


"Belum Mi, masih kenyang tadi makan di jalan. Memangnya Bi Ani dan Bi Ningsih kemana Mi?" Tanya Dokter Yosef.


"Mereka Mami suruh ke pasar Nak. Memangnya kenapa sayang? Tumben menanyakan mereka." Ujar Mami Dina.


"Karena nggak kelihatan aja Mi." Jawab Dokter Yosef.


Pria bergelar doktor dan dokter tersebut memperbaiki posisi duduknya. Ia bersiap-siap jika kejujurannya kali ini membuat wanita yang sudah melahirkannya itu marah.


"Mi, seandainya Osef melakukan kesalahan yang sangat fatal. Apa yang akan Mami dan Papi lakukan sama Osef?" Tanya Dokter Yosef.


"Ya tergantung sayang. Memangnya kamu melakukan kesalahan apa Nak? Sepertinya wajahmu serius sekali." Selidik Mami Dina.


"Maafkan Yosef Mi, Osef telah melakukan kesalahan besar yang akan mencoreng almamater dan profesi. Bagaimana Mi? Papi pasti sangat kecewa dengan Osef." Kata Dokter Yosef.


Dokter muda tersebut berlutut di dekat kaki seorang ibu yang telah melahirkan dirinya. Ia juga menangis, bukan karena takut kehilangan pekerjaan dan almamater kebanggaannya. Namun yang paling Dokter Yosef takutkan sebenarnya kalau Aqila mau menikah dengannya hanya karena ingin membuat dirinya aman dari masalah ini, bukan karena cinta.


Dokter muda itu menceritakan secara rinci kesalahan yang telah ia perbuat dan telah melibatkan seorang gadis. Ia juga menceritakan bahwa dalam waktu dekat, Dokter Derwan akan datang untuk membicarakan hal ini.


"Sudahlah Nak, toh semua sudah terjadi. Nanti Mami coba bilang sama Papi kamu." Kata Mami Dina.


"Terus bagaimana solusinya Mi?" Tanya Dokter Yosef.


"Kita lihat aja nanti sayang, tapi kemungkinan kamu akan diminta menikahi gadis itu demi menyelamatkan nama baik kita pada juga." Jawab Mami Dina.


"Mami nggak marah sama Osef Mi?" Tanya Dokter Yosef.


"Mami marah karena kamu melakukan hal yang memalukan, apalagi di tempat kamu kerja. Diruang kerja dan mencoreng profesi yang sangat mulia. Namun untuk gadis pilihan mu Mami tidak mau ikut campur." Jawab Mami Dina.


"Kalau Osef sudah yakin Mi, Osef mencintainya. Tapi Osef takut menikah dengan orang yang tidak mencintai Osef, nanti bisa keduanya menderita." Jawab Dokter Yosef menunduk.


"Kalau itu, ikuti kata hatimu Nak. Mami doakan kamu bisa melewati hari-hari yang berat. Sekarang kamu makan dulu sedikit masakan Mami." Kata Mami Dina mengelus pundak anaknya.


"Baik Mi." Jawab Dokter Yosef singkat. Ia beranjak duduk di meja makan, di temani oleh Mami Dina. Makan sedikit walaupun susah di telan.

__ADS_1


__ADS_2